Langit di atas SMA Pelita Bangsa mulai berubah warna menjadi ungu pekat, pertanda latihan klub musik hari itu telah melewati batas waktu yang seharusnya. Di dalam ruang musik yang dindingnya dilapisi busa peredam, hanya tersisa dua orang: Genta, yang masih setia mendekap gitar akustiknya, dan mika, yang duduk diam di depan piano grand hitam yang berkilau di bawah lampu temaram.
Genta memetik senar gitarnya, menciptakan melodi minor yang melayang rendah di udara. "Kamu tahu, Mik? Terkadang aku merasa ruang ini adalah satu-satunya tempat di mana waktu benar-benar berhenti," ucapnya memecah kesunyian. Suaranya sedikit serak, sisa dari latihan vokal yang intens selama tiga jam terakhir.
Mika tidak langsung menjawab. Jemari lenturnya menekan satu tuts piano, menghasilkan nada *C* yang panjang dan jernih. "Mungkin bukan waktunya yang berhenti, Genta. Tapi kita yang akhirnya punya keberanian untuk jujur tanpa takut terdengar oleh dunia luar," sahut Mika tanpa menoleh.
Genta meletakkan gitarnya di stand dan berjalan mendekati piano. Ia bisa mencium aroma tipis kayu manis dari parfum yang biasa Mika gunakan—aroma yang selalu ia asosiasikan dengan ketenangan sekaligus keresahan yang sulit dijelaskan.
Selama hampir tiga tahun mereka berbagi ruang ini, berkomunikasi lewat partitur dan harmoni, namun ada sebuah simfoni yang selalu tertahan di ujung lidah mereka.
"Besok adalah konser terakhir kita sebelum kelulusan," Genta memulai lagi, kini berdiri tepat di samping Mika. "Setelah itu, gedung ini hanya akan jadi memori. Kamu ke Surabaya, dan aku tetap di sini.
Mika akhirnya mendongak. Di bawah lampu neon yang mulai berkedip, Genta bisa melihat pantulan dirinya di mata cokelat gadis itu. Ada kilatan kesedihan yang coba disembunyikan di balik senyum tipis yang dipaksakan.
"Dunia luar itu luas, Genta. Tidak akan sehangat ruang kedap suara ini."
Tanpa aba-aba, Mika mulai memainkan sebuah komposisi. Bukan lagu yang sedang mereka pelajari untuk konser, melainkan sebuah melodi baru yang terasa sangat personal. Temponya lambat, setiap nada ditekan dengan perasaan yang mendalam, seolah ia sedang menceritakan rahasia yang paling dijaganya.
Genta terdiam, ia mengenali perasaan itu. Itu adalah keresahan yang sama yang ia rasakan setiap kali mereka harus mengemasi alat musik dan pulang ke rumah masing-masing. Tanpa diminta, Genta mengambil kembali gitarnya. Ia tidak mencoba memimpin, ia hanya masuk ke dalam celah nada yang ditinggalkan Mika, memberikan ritem pelan yang memperkuat melodi piano tersebut.
Kolaborasi itu mengalir begitu saja. Di ruang yang kedap itu, mereka seolah sedang menumpahkan segala hal yang selama ini tidak sanggup mereka sampaikan melalui kata-kata. Tentang rasa kagum yang tumbuh di balik pujukan untuk berlatih lebih keras, tentang kecemburuan yang tidak beralasan saat salah satu dari mereka berbicara dengan orang lain, dan tentang ketakutan akan kehilangan kehadiran satu sama lain setelah masa sekolah berakhir.
Saat nada terakhir memudar dan menyisakan kesunyian yang tebal, Genta memberanikan diri untuk meraih tangan Mika yang masih berada di atas tuts piano. Jemari mereka bertautan, dingin dan hangat menyatu.
"Aku tidak ingin ini menjadi lagu terakhir kita," bisik Genta dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.
Mika tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam balik tangan Genta, memberikan tekanan yang berarti sebuah kepastian. "Lagu ini tidak berakhir, Genta. Kita hanya akan memainkannya di panggung yang berbeda."
Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela, namun di dalam ruangan itu, segalanya terasa sangat jelas. Tidak ada lagi keraguan yang menggantung. Mereka tahu bahwa meskipun jarak akan memisahkan, frekuensi yang telah mereka bangun di ruang kecil itu telah menetap secara permanen di hati masing-masing.
Malam itu, sebelum lampu ruang musik benar-benar dipadamkan, mereka sepakat untuk tidak lagi bersembunyi di balik kiasan. Di tengah aroma kayu manis dan senar gitar yang masih bergetar, sebuah janji tanpa suara telah diucapkan—bahwa cerita ini bukan tentang bagaimana mereka berpisah, melainkan tentang bagaimana mereka akan selalu menemukan jalan untuk kembali pada harmoni yang sama.
Cerita mereka tamat di sana, di bawah satu lampu yang akhirnya padam, meninggalkan kehangatan yang cukup untuk menghadapi dunia luar yang dingin.