Halo namaku Tina Aku seorang gadis manis berusia 7 tahun. Aku memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai tentara angkatan Laut. Aku tinggal bersama ayah dan nenek di kota tercinta kami Purworejo. Saat ayah pergi bertugas aku akan tinggal bersama nenek di rumah. Ibuku adalah seorang penjual pecel keliling, sayangnya beliau telah meninggal saat umurku 5 tahun. Saat itu beliau ditabrak sebuah truk sehabis berjualan pecel. Aku memiliki hobi menggambar dan membuat puisi. Menggambar hewan-hewan di sekitarku adalah hal yang paling kusuka dan hal yang paling sering aku lakukan. Bagiku menggambar adalah dunia kecil dari sebagian duniaku. Goresan pensil yang ke sana kemari membuatku merasa terhanyut dalam suatu suasana yang memabukkan. Menggambar adalah sebuah candu yang sulit dilepaskan saat sudah memulainya. Selain aku menghabiskan waktu dengan melakukan hobiku, aku juga menghabiskan waktu bersama sahabatku yaitu Eva dan Doni. Kami biasanya akan main ke ke sekeliling desa atau membuat gubuk sederhana di kebun milik nenek.
Cukup perkenalan singkat tentangku, di sini aku akan menceritakan sebuah kisah yang tidak akan pernah aku lupakan. kisah yang selalu membekas di dalam ingatanku.
Kala itu aku amat sangat kesepian, ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan aku selalu ditinggal sendirian di rumah. Rasanya hampa, walau ada nenek beliau juga sibuk dengan dunianya, nenek selalu menghabiskan waktu di dapur dengan membuat kue-kue bolu pesanan orang. Aku dibiarkan sendiri tanpa diperhatikan oleh siapapun. Kehidupanku juga monoton bangun pagi, pergi ke sekolah, lalu pulang, bermain, belajar, dan tidur, seperti itu setiap harinya. Aku sangat bosan, rasanya memuakkan, kehidupan monoton yang minus perhatian. Kupandangi bingkai-bingkai foto yang terpasang di dinding kamarku. Saat mataku memfokuskan pada sosok wanita itu hatiku merasa ngilu. Sosok hangat yang kurindu-rindukan, senyumnya manis membuat siapapun terpesona. Aku rindu aroma itu. Aku rindu pelukan itu. Andai saja Tuhan tidak memisahkan kami. Aku sangat kesepian andai saja ibu masih ada. Setelah kepergian ibu di wajah ayah seperti ada yang kurang. Senyumnya tidak seriang dulu. Rasanya semangat hidup juga berkurang. Ayah jadi sering bergadang dan dan pola makannya tidak teratur.
Aku selalu berusaha mengingatkan ayah tapi tetap saja diabaikannya nasehat ku. rasanya seperti aku berbicara dengan batu, tidak didengarkan sama sekali.
"TINAAA NGAJI YOKKKK!!!" teriak nyaring dari luar rumah membuat pandanganku ambyar dari bingkai-bingkai foto itu.
"Ndog... itu teman-temanmu sudah datang, cepat berangkat" ucap nenek dari ruang tamu.
"Iya nek" jawabku singkat, lalu bergegas pergi keluar rumah.
"ekhem..." kudengar daheman dari nenek, badanku otomatis berhenti lalu menoleh ke belakang.
"Kenapa utii?" tanyaku kebingungan.
"Ndok kamu belum slaim sama utii"
"Oh iyaaa hehehe..." Aku terkekeh lalu berjalan menuju nenekku untuk salim. setelah itu aku berlari kecil menuju ambang pintu.
Oh ya aku memiliki satu rutinitas lagi, yaitu mengaji. Biasanya aku pergi mengaji bersama sahabatku. Kami berangkat pukul 17.00 dan pulang pukul 19.30 sore.
sepanjang jalan berangkat kami selalu bergurau entah itu menertawakan lelucon konyol ataupun kejahilan kecil terhadap orang-orang yang lewat. sesampainya di sana lagi berjalan dengan lancar seperti biasa kami diajari Pak Budi ustaz termasyhur di desa kami. selama mengaji aku dapat mengikuti dengan lancar tanpa kendala apapun. saat itu aku sudah sampai Alquran juz 5. tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 di mana waktunya melaksanakan salat isya. seperti biasa kami melaksanakan salat isya kemudian setelah salat kami pulang ke rumah masing-masing.
hari ini aku pulang sendiri karena Doni dan Eva dijemput orang tuanya. rasanya takut tapi jika tidak pulang orang rumah akan khawatir. kubulatkan tekad untuk melewati jalan gelap itu. langkah demi langkah kulalui berjalan menyusuri rimbun pohon di kanan kiri jalan.
"Krek" kudengar suara aneh dari semak-semak di kananku. Aku tampak penasaran tapi di sisi lain aku juga takut, bagaimana kalau itu hantu. rasa penasaranku lebih besar dari rasa takut, jadi aku datangi semak-semak itu, dan...
Wushhh... sesuatu benda menghasilkan angin ke arahku . sontak mataku terpejam saat hembusan angin itu mengenai mata. perlahan kubuka mataku, di depan sudah ada sebuah bola api berwarna ungu yang sangat amat menyilaukan. bukannya takut aku malah kagum akan keindahan warna pada bola api. kupandang terus benda asing itu. bola itu kini seperti hidup berputar-putar mengelilingi badanku lalu ke atas ke bawah saat aku menyunggingkan senyum.
"kamu ini benda apa?" ujarku lirih
bola itu sepertinya tidak bisa berbicara, dia malah bergerak seakan ingin mengajakku ke suatu tempat. tanpa babibu aku mengikuti benda asing itu. benda asing itu menuntunku pada suatu jalan setapak yang mengarah ke waduk sermo. jalan demi jalan kulalui tak terasa Aku sudah di tepian waduk sermo. kupandangi sekeliling, sunyi dan menyeramkan.
kini pandanganku beralih lagi pada bola api ungu itu. bola itu nampak pergi ke atas waduk sermo lalu melempar percikan percikan api ungu di atas waduk. entah itu sihir atau apa, tiba-tiba sebuah tangga ke atas waduk terbentuk, di ujung tangganya ada sebuah pintu putih bercahaya. kupandangi heran bola ungu itu, bola itu kini terdiam di ujung pintu. aku tahu maksudnya, bola ini menginginkanku menaiki tangga menyeberangi pintu itu. dengan ragu aku menaiki anak tangga itu hingga mencapai ujung pintu. jemariku sedikit gemetar saat ingin membuka tuas pintu itu. rasanya sangat asing dan aneh. kutariklah gagang pintu secara perlahan. pintu mulai terbuka, sebuah cahaya terang terpancar dari balik pintu. aku masuk perlahan ke dalam pintu asing itu
aku kagum saat melihat diriku di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga harum nan indah. yang membuat janggal ternyata di balik pintu ini seperti siang hari. cerah dan tidak menakutkan seperti balik pintu itu. pandanganku kembali fokus pada api ungu itu. api ungu itu semakin membesar-membesar lalu Boommm...
refleks aku menutup telinga dan mata.
"Halowww" suara lembut seorang anak perempuan.
kubuka mataku, saat itu juga aku melihat seorang gadis cantik mengenakan dress warna pink bertabur renda-renda pita di roknya. rambutnya blonde seperti bule-bule di Malioboro. gadis itu tampak seumuran denganku.
"Hi perkenalan aku Lilia, siapa kamu?" tanya gadis itu padaku.
dengan ragu Aku pun menjawab "namaku Tina"
Dengan sigap Rose menjabat tanganku
"Senang berkenalan denganmu Lala"
Aku masih terkesan dengan keindahan taman yang kudapatkan, lalu Rose membawaku berjalan-jalan di dimensi orang mati. Kami berjalan melewati jalan yang berbeda-beda, ada yang sunyi dan gelap, ada yang terang dan indah.
"Hai Lala, aku akan memperkenalkanmu ke beberapa daerah di sini," kata Rose dengan senyum.
Kami pertama kali tiba di Tempat Roh yang Terlupakan. Tempat ini sangat gelap dan sunyi, tidak ada suara apapun. Aku melihat banyak sekali orang-orang yang duduk di tanah, mereka tidak bergerak dan tidak berbicara.
"Ini adalah tempat roh-roh yang terlupakan atau tidak ada keluarga," jelas Rose. "Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke alam lain karena tidak ada yang mendoakan mereka."
Aku merasa sedih melihat pemandangan itu. Rose membawaku ke tempat berikutnya, Dunia Roh Orang Jahat. Tempat ini sangat menakutkan, ada banyak sekali roh-roh yang berteriak dan menangis, tetapi mereka masih berbuat jahat di dunia roh.
"Ini adalah tempat roh-roh orang jahat, mereka yang melakukan kejahatan di dunia dan tidak bertaubat," kata Rose. "Mereka masih berbuat jahat di sini, tetapi mereka akan dihukum setelah gilirannya."
Aku melihat roh-roh jahat itu saling menyakiti dan berbuat kejahatan, tetapi mereka tidak bisa dihukum sekarang. Rose menjelaskan bahwa roh-roh itu masih memiliki kesempatan untuk bertaubat sebelum dihukum.
Rose membawaku ke tempat terakhir, Dunia Roh Orang Baik. Tempat ini sangat indah dan terang, ada banyak sekali roh-roh yang bernyanyi dan menari.
"Ini adalah tempat roh-roh orang baik, mereka yang melakukan kebaikan di dunia dan bertaubat," jelas Rose. "Mereka akan mendapatkan hadiah di sini dan melanjutkan perjalanan ke alam lain."
Aku merasa bahagia melihat pemandangan itu. Tiba-tiba, aku melihat seorang wanita yang sangat familiar, dengan senyum yang manis dan mata yang lembut.
"Ibu..." Aku berlari menuju wanita itu dan memeluknya erat.
Ibu aku tersenyum dan memelukku kembali. "Aku sangat merindukanmu, sayang," katanya.
Aku merasa bahagia dan sedih sekaligus. Aku tidak ingin melepaskan ibuku lagi.
"Aku tidak ingin kembali ke dunia manusia, Ibu," kataku. "Aku ingin tetap di sini denganmu."
Ibu aku tersenyum dan mengusap rambutku. "Aku juga ingin, sayang, tapi kamu masih memiliki tugas di dunia manusia. Ayahmu masih membutuhkanmu, dan kamu masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan."
Aku merasa tidak ingin, tapi aku tahu bahwa ibuku benar. Aku memeluk ibuku erat sekali lagi, lalu melepaskannya.
"Aku akan kembali, Ibu," kataku. "Aku akan selalu mengingatmu."
Ibu aku tersenyum dan mengangguk. "Aku akan selalu menunggumu, sayang."
Rose muncul kembali dan membawakanku kembali ke taman tempat kami bertemu.
"Aku harus pergi sekarang, Lala," kata Rose. "Aku berharap kamu bisa kembali ke dunia orang hidup dengan selamat."
Aku mengangguk dan memeluk Rose. "Terima kasih, Rose. Aku tidak akan melupakanmu."
Dengan itu, aku kembali ke dunia orang hidup, tetapi kenangan tentang ibuku dan dimensi orang mati akan selalu membekas di ingatanku.
~Hehehe tugas sekolah dadakan