Waktu itu aku berumur sembilan tahun.
Mama sedang hamil besar.
Perutnya sudah membuncit dan katanya beberapa bulan lagi aku akan punya adik perempuan.
Aku senang sekali.
Sore itu aku duduk di lantai ruang tamu sambil menggambar keluarga kecil kami memakai crayon.
Aku menggambar Papa yang paling tinggi.
Mama memakai dress panjang warna kuning.
Aku dan adik bayi digambar berdiri di tengah-tengah mereka.
“Lucu banget gambarnya,” kata Mama sambil tersenyum.
Mama duduk di sofa sambil mengusap perutnya pelan. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap cantik.
“Adek tadi nendang lagi?” tanyaku semangat.
Mama tertawa kecil. “Iya. Kayaknya adek aktif banget.” jawab Mama
Aku langsung menempelkan telinga ke perut Mama.
“Dek, cepet keluar ya. Kakak mau main sama adek.” ucapku
Mama mengusap rambutku lembut.
Rasanya hangat banget.
Rumah terasa tenang sore itu.
Sampai terdengar suara pintu pagar terbuka dari luar.
Senyum Mama perlahan memudar.
Pasti Nenek Linda datang.
Aku berlari ke ruang tamu dan membuka pintu utama.
Beliau masuk ke rumah tanpa permisi, tanpa senyum sambil membawa tas hitam besarnya.
“Mama kamu di rumah?” tanyanya dingin padaku.
Aku mengangguk kecil lalu aku melihat Mama buru-buru berdiri.
Entah kenapa aku selalu takut kalau Nenek Linda datang.
Pasti akan ada ucapan-ucapan beliau yang bikin Papa terpengaruh.
“Ma…” sapa Mama
Nenek Linda melirik perut Mama sebentar lalu duduk tanpa menjawab sapaan itu.
“Ada teh?” tanyanya
Mama langsung berjalan ke dapur dan membuat teh.
Aku ikut masuk karena suasana ruang tamu tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Saat Mama membuat teh, Nenek Linda tiba-tiba bicara cukup keras dari ruang tamu.
“Perempuan sekarang pinter ya cari muka sama laki-laki.”
Mama masih diam.
Tangannya tetap menuang teh walau gerakannya sedikit gemetar.
Aku menatap Mama bingung.
“Nggak semua perempuan beruntung bisa masuk keluarga baik-baik.” lanjut Nenek
Mama masih diam.
Aku mulai tidak suka.
Kenapa Nenek selalu bicara aneh ke Mama?
Tak lama kemudian suara motor Papa terdengar dari depan rumah.
Papa pulang kerja.
Biasanya Mama akan langsung tersenyum dan menyambut beliau.
Tapi kali ini wajah Mama malah terlihat cemas.
Papa masuk sambil melepas jam tangannya.
“Mama datang?” sapa Papa pada Nenek
“Iya,” jawab Nenek Linda cepat sebelum Mama sempat bicara.
Papa duduk di sofa.
Mama keluar dari dapur dan membawa teh dengan pelan lalu menaruhnya di atas meja.
Dan semuanya mulai berubah saat Nenek Linda berkata santai pada Papa “Kamu udah cek kandungan istrimu baik-baik belum?”
Papa mengernyit. “Maksud Mama?” tanyanya
Nenek Linda menyeruput tehnya sebentar.
“Cuma heran aja. Wajah bayi di hasil USG kemarin kok nggak ada mirip-miripnya sama keluarga kita.”
Wajah Mama langsung pucat.
“Ma…”
“Tanggal HPLnya juga aneh,” lanjut Nenek Linda tanpa rasa bersalah. “Cepat sekali.”
Aku melihat tangan Mama mulai gemetar.
Papa menatap Mama.
Tatapan yang perlahan berubah menjadi tatapan dingin.
“Kamu mau bilang apa, Ma?” tanya Papa pada Nenek
Nenek Linda mendengus kecil.
“Ya takutnya kamu terlalu percaya sama perempuan.... yah, siapa tahu dia hamil dengan pria lain.”
Suasana ruangan itu mendadak sunyi.
Aku tidak terlalu mengerti waktu itu.
Tapi aku tahu… sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Mama langsung menggeleng cepat.
“Mas… aku nggak pernah macam-macam.” kata Mama
Papa berdiri.
“Terus kenapa Mama ngomong begini?” tanya Papa dengan nada tinggi
“Aku nggak tahu…”
“Jangan bohong!”
Suara bentakan Papa memotong ucapan Mama dan itu membuatku tersentak.
Mama sampai mundur selangkah sambil memegang perutnya.
“Aku serius… ini anak kamu.” ucap Mama
Papa terlihat semakin emosi.
“Hamil secepat ini terus Mama bilang aku harus percaya sama kamu begitu aja?!” bentaknya
Air mata Mama mulai jatuh.
“Aku nggak pernah selingkuh…”
“Cukup!”
BRAK.
Papa membanting gelas di meja.
Aku langsung ketakutan.
Mama menangis sambil mencoba mendekati Papa.
“Aku....”
Plak.
Suara tamparan itu terdengar jelas sekali.
Mama terjatuh ke lantai.
Tangannya refleks melindungi perutnya.
Aku membeku.
Crayon di tanganku jatuh satu per satu ke lantai.
Mama menangis pelan sambil memegang pipinya yang memerah.
Dan yang paling membuatku takut…
Papa masih berdiri dengan napas kasar seperti orang yang belum selesai marah.
“Papa…”Aku memanggilnya. Suaraku kecil sekali.
Papa menoleh.
Aku mulai menangis.
“Papa jangan sakitin Mama…”
Untuk sesaat wajah Papa berubah.
Seperti baru sadar aku juga ada di sana dan melihat semuanya.
Tapi sebelum Papa bicara, Nenek Linda lebih dulu mendengus.
“Makanya jadi perempuan jangan murahan.”
Aku langsung memeluk Mama erat sambil menangis keras.
Aku tidak mengerti soal orang dewasa.
Aku masih tidak mengerti soal tuduhan Nenek.
Tapi sore itu aku tahu satu hal bahwa Mama terluka.
Dan orang yang melukainya adalah Papa..... suaminya sendiri.
Mama masih menangis di lantai.
Aku memeluk tubuhnya erat sambil menangis.
Tanganku kecilku terus mengusap perut Mama, takut sesuatu terjadi pada adikku.
Papa berdiri beberapa langkah dari kami dengan rahang mengeras.
Sedangkan Nenek Linda… masih duduk tenang di sofa.
Seolah semua ini adalah hal yang biasa baginya.
“Lihat,” katanya pelan sambil menggeleng. “Perempuan kalau ketahuan salah pasti nangis.”
Mama langsung mengangkat kepala.
“Ma, saya nggak pernah selingkuh…”
“Kalau nggak merasa, kenapa panik?” kata Nenek Linda sambil tersenyum puas.
“Aku beneran nggak pernah…”
“Cukup!” bentak Papa lagi.
Tubuhku langsung mengecil ketakutan.
Mama menangis makin keras.
Aku bisa lihat bibir Mama gemetar, tapi beliau tetap mencoba menjelaskan.
“Aku cuma punya kamu…”
Namun Papa seperti tidak mendengar.
Harga dirinya sudah terlalu terbakar.
Dan Nenek Linda terus menuang minyak ke api itu.
“Dari awal Mama memang nggak suka perempuan ini,” katanya sinis. “Mukanya aja udah keliatan nggak bener.”
Aku mengepalkan tangan kecilku.
Dadaku panas.
Aku benci cara Nenek bicara tentang Mama.
“Mama kamu terlalu lembek,” lanjutnya sambil melirik ke arahku. “Makanya sekarang anaknya juga jadi manja.”
Aku berdiri pelan di depan Mama.
Walau kakiku gemetar.
“Jangan ngomong gitu ke Mama…” ucapku
Nenek Linda langsung menatapku tajam.
“Hah?”
Aku menahan tangis.
“Mama nggak salah…”
“Nayla…” suara Mama langsung panik.
Tapi aku sudah terlalu kesal.
“Mama baik… Mama nggak pernah bohong…bukan sepertimu!” bentakku pada Nenek Linda
Papa langsung membentak, “Diam!”
Aku tersentak keras.
Tapi untuk pertama kalinya… aku tidak mau diam.
“Nenek jahat!”
Suasana langsung hening.
Udara di rumah mendadak terasa berat sekali.
Wajah Nenek Linda langsung berubah dingin.
“Apa kamu bilang?”
Aku menangis sambil tetap berdiri melindungi Mama.
“Nenek selalu bikin Papa marah sama Mama…”
Plak.
Tamparan itu mendarat begitu cepat di pipiku.
Aku langsung terjatuh ke lantai.
Kepalaku berdenging.
Untuk beberapa detik aku bahkan tidak sadar apa yang terjadi.
Papa… memukulku.
Karena lebih percaya sama omongan ngawur Nenek?
Mataku langsung dipenuhi air mata.
Pipiku panas sekali.
Mama menjerit panik. “NAYLA!”
Mama langsung merangkak dan memelukku.
“Mas, jangan pukul anak kita…” kata Mama pada Papa
Tapi Nenek Linda malah berdiri sambil menunjukku dengan marah.
“Kurang ajar! Anak kecil berani melawan orang tua!”
Aku menangis di pelukan Mama.
Tubuhku gemetar hebat.
Dan kalimat berikutnya…
menjadi sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan seumur hidupku.
“Pantes aja kelakuannya begitu,” kata Nenek Linda dingin. “Anak haram memang begitu.”
Dunia terasa berhenti berputar.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Mama langsung pucat. “Ma jangan ngomong begitu…”
Tapi Nenek Linda tertawa kecil sinis.
“Siapa tahu memang bukan anak dati keluarga ini.”
Aku menatap Papa.
Aku berharap… setidaknya kali ini Papa membela kami.
Atau marah karena Nenek berkata seperti itu.
Tapi Papa hanya diam.
Yap
DIAM...
Dan diamnya Papa jauh lebih menyakitkan daripada tamparannya.
Air mataku jatuh makin deras.
“Pa…” Suaraku kecil sekali.
Papa memalingkan wajahnya dariku.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya aku merasa mungkin Papa memang tidak menginginkanku sejak awal.