Prolog
Hujan malam itu turun sangat deras.
Lampu kota memantul di jalanan basah, menciptakan kilauan samar di tengah dinginnya malam. Alya berlari kecil sambil memeluk tas kerjanya, berusaha menghindari hujan yang semakin menjadi.
“Kenapa hidupku sial terus…” gumamnya pelan.
Hari itu sangat melelahkan. Deadline pekerjaan menumpuk, atasannya cerewet, dan mantan calon tunangannya baru saja mengirim undangan pernikahan.
Lengkap sudah penderitaannya.
Saat Alya berdiri di tepi jalan untuk mencari taksi, suara rem mendadak terdengar keras.
CIIITTT!
Sebuah motor hampir menabrak seorang anak kecil yang menyeberang sembarangan.
Orang-orang berteriak panik.
Di tengah keributan itu, sebuah mobil patroli berhenti mendadak. Seorang polisi keluar dengan langkah cepat dan tegas.
Tubuhnya tinggi.
Seragamnya rapi.
Wajahnya… sangat tampan.
Namun bukan itu yang membuat Alya membeku.
Melainkan karena ia mengenal pria itu.
Sangat mengenalnya.
“Arka…” bisiknya lirih.
Pria itu menoleh.
Tatapan tajam mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun bercerai…
Alya kembali melihat mantan suaminya.
Bab 1 — Pertemuan yang Menyesakkan
Arka Mahendra.
Nama itu dulu begitu berarti bagi Alya.
Pria yang pernah menjadi cinta pertamanya.
Pria yang ia nikahi di usia muda.
Dan pria yang juga menghancurkan hatinya.
Kini Arka berdiri di bawah hujan dengan seragam polisi lengkap dan pangkat komisaris di pundaknya.
Ia terlihat jauh lebih dewasa.
Lebih dingin.
Lebih sulit ditebak.
“Alya?”
Suara berat itu masih sama seperti dulu.
Membuat dada Alya terasa sesak.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan.
“Aku harus pergi.”
Namun sebelum Alya melangkah, Arka menahan pergelangan tangannya.
Sentuhan hangat itu membuat jantung Alya berdegup kacau.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Arka pelan.
Alya tertawa hambar.
“Lucu sekali. Setelah tiga tahun, pertanyaan pertama yang kamu kasih cuma itu?”
Tatapan Arka berubah rumit.
“Aku mencarimu.”
Kalimat itu membuat Alya terpaku.
“Mencariku?” ulangnya pelan.
Arka mengangguk.
“Tiga tahun.”
Hening.
Suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar di antara mereka.
Alya ingin marah.
Ingin membenci pria di depannya.
Namun sialnya, hatinya masih bergetar hanya karena menatap Arka.
Dan Alya membenci dirinya sendiri karena itu.
Bab 2 — Mantan yang Belum Selesai
“Kamu tinggal di kota ini sejak kapan?”
tanya Arka saat mereka duduk di sebuah kafe dekat jalan.
Alya sebenarnya tidak mau ikut.
Tapi hujan terlalu deras, dan Arka memaksanya berteduh.
“Sudah dua tahun,” jawab Alya singkat.
“Kamu sendirian?”
“Memangnya itu penting?”
Arka menatapnya lama.
“Masih marah?”
Alya langsung tertawa kecil.
“Menurutmu?”
Tentu saja ia masih marah.
Saat mereka menikah dulu, Arka selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Telepon jarang diangkat.
Pulang larut malam.
Dan sering menghilang tanpa kabar karena tugas.
Alya yang saat itu masih muda merasa kesepian.
Mereka terus bertengkar.
Sampai akhirnya Alya memilih pergi.
“Aku minta maaf,” ujar Arka tiba-tiba.
Alya menatapnya kaget.
Selama mereka menikah, Arka hampir tidak pernah meminta maaf.
“Aku terlalu fokus bekerja waktu itu,” lanjut Arka pelan. “Aku pikir selama aku bisa melindungimu dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, semuanya akan baik-baik saja.”
“Tapi aku cuma ingin kamu ada.”
Suara Alya bergetar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, luka lama itu kembali terasa nyata.
Arka terdiam.
Tatapan matanya melembut.
Dan itu justru membuat Alya semakin ingin menangis.
Bab 3 — Rahasia Besar Alya
Keesokan harinya Alya berusaha melupakan pertemuan itu.
Namun nasib seolah tidak berpihak padanya.
Saat makan siang bersama sahabatnya, Rina, layar televisi di restoran tiba-tiba menampilkan berita.
“Komisaris Arka Mahendra berhasil menangkap pelaku pencurian kendaraan…”
Alya spontan menoleh.
Wajah tampan Arka memenuhi layar televisi.
Rina bersiul kagum.
“Ya ampun, polisi sekarang ganteng-ganteng ya.”
Alya langsung minum air.
“Itu mantan suamiku.”
“HAH?!”
Satu restoran menoleh karena suara Rina terlalu keras.
Alya memijat pelipisnya.
“Pelan sedikit bisa nggak?”
Rina masih syok.
“Tunggu… jadi kamu pernah nikah sama polisi seganteng itu?!”
Alya menghela napas panjang.
“Dulu.”
“Tapi serius, kenapa bisa cerai?”
Alya terdiam.
Karena alasan sebenarnya tidak sesederhana itu.
Ada satu rahasia yang belum pernah Arka ketahui.
Rahasia yang membuat Alya memilih pergi.
Tangannya perlahan menyentuh foto kecil di dompetnya.
Foto seorang anak laki-laki berusia dua tahun.
Anaknya.
Anak Arka.
Bab 4 — Anak yang Tidak Pernah Diketahui
Malam itu Alya menjemput putranya di daycare.
“Mama!”
Seorang anak kecil berlari memeluknya dengan riang.
Alya tersenyum hangat.
Namanya Nara.
Mata anak itu sangat mirip Arka.
Tatapan tajam namun hangat.
Selama ini Alya membesarkan Nara sendirian.
Ia tidak pernah memberi tahu Arka tentang kehamilannya dulu.
Karena saat itu hubungan mereka sedang hancur.
Alya takut.
Takut Arka hanya akan merasa terbebani
“Mama sedih?” tanya Nara polos.
Alya mengusap kepala anaknya.
“Enggak.”
“Bohong.”
Alya tertawa kecil.
Anak itu terlalu pintar untuk usianya.
Saat mereka berjalan keluar daycare, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.
Dan Alya langsung membeku.
Arka turun dari mobil itu.
Tatapan pria itu jatuh pada Nara.
Lama.
Sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Wajah dingin Arka terlihat benar-benar terguncang.
“Dia…” suara Arka serak.
Nara balik menatap penasaran.
Alya menggenggam tangan putranya erat.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Karena ia tahu…
Rahasia yang selama ini disembunyikannya akhirnya terbongkar.
Bab 5 — Tatapan yang Sama
Suasana mendadak terasa mencekam.
Alya berdiri mematung sambil menggenggam tangan kecil Nara erat-erat. Sementara Arka masih menatap anak itu tanpa berkedip.
Wajah mereka…
Sangat mirip.
Mata tajam itu.
Bentuk bibirnya.
Bahkan cara Nara memiringkan kepala ketika bingung benar-benar seperti Arka kecil.
“Ma… siapa om polisi ini?” tanya Nara polos.
Suara anak itu membuat Arka seperti tersadar dari lamunannya.
Tatapannya perlahan beralih pada Alya.
“Kamu punya anak?” suaranya pelan namun penuh tekanan.
Alya menelan ludah gugup.
“Iya.”
“Umurnya berapa?”
Alya diam.
Dan diamnya sudah menjadi jawaban.
Rahang Arka menegang.
“Tiga tahun?” tebaknya lirih.
Napas Alya tercekat.
Arka tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana.
Hanya luka.
“Jadi selama ini…” Arka mengusap wajahnya kasar.
“Kamu pergi dalam keadaan hamil?”
Alya buru-buru memalingkan wajah.
“Aku nggak punya kewajiban menjelaskan apa pun.”
“Dia anakku?”
Kalimat itu membuat Alya membeku.
Nara yang tidak mengerti apa-apa hanya memandang mereka bergantian.
Arka melangkah mendekat.
Tatapan matanya memerah menahan emosi.
“Alya, jawab aku.”
Namun Alya justru mundur satu langkah.
“Aku harus pulang.”
“Alya!”
Arka spontan menahan lengannya.
Nara langsung memeluk kaki Alya ketakutan.
“Jangan marahin Mama!”
Suara kecil itu membuat Arka langsung melepaskan tangannya.
Ekspresi wajah pria itu berubah.
Bersalah.
Hancur.
Dan entah kenapa, itu membuat hati Alya ikut sakit.
“Aku nggak marah…” ujar Arka pelan pada Nara.
Untuk pertama kalinya, komisaris polisi yang dikenal dingin itu berjongkok di depan seorang anak kecil dengan tatapan gemetar.
“Siapa namamu?”
“Nara.”
Arka tersenyum tipis.
“Nama lengkap?”
“Nara Mahendra.” DEG.
Dunia Arka seolah berhenti berputar.
Mahendra.
Nama belakangnya.
Tangannya perlahan mengepal.
Alya memejamkan mata frustasi.
Rahasia itu akhirnya benar-benar terbongkar.
Bab 6 — Kemarahan yang Terlambat
Malam itu Arka datang ke apartemen Alya.
Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, pria itu kehilangan kendali.
“Kenapa kamu nggak bilang?!” bentaknya.
Alya ikut emosi.
“Karena waktu itu kamu bahkan nggak punya waktu buat aku!”
“Aku ayahnya, Alya!”
“Ayah?” Alya tertawa sinis. “Kamu bahkan nggak sadar aku hamil waktu itu!”
Kalimat itu menusuk telak.
Arka terdiam.
Karena itu memang benar.
Dulu ia terlalu sibuk bekerja.
Terlalu fokus mengejar karier.
Ia pikir selama kebutuhan rumah tangga tercukupi, semuanya baik-baik saja.
Namun ternyata istrinya merasa sendirian.
Dan saat Alya pergi…
Arka mengira wanita itu hanya lelah dengan pernikahan mereka.
Ia tidak pernah tahu ada seorang anak di antara mereka.
“Aku cari kamu,” ujar Arka lirih.
“Aku datangi rumah orang tuamu. Tapi kamu udah pergi.”
Alya menggigit bibirnya.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu cuma bertahan karena anak itu.”
Tatapan Arka langsung berubah.
Pria itu melangkah mendekat perlahan.
“Aku bertahan karena aku cinta kamu.”
Suasana mendadak hening.
Jantung Alya berdegup cepat.
Kalimat itu…
Kalimat yang dulu sangat ingin ia dengar.
Namun sekarang semuanya terasa terlambat.
Atau mungkin belum?
Bab 7 — Nara Mulai Dekat dengan Arka
Hari-hari berikutnya berubah kacau.
Arka mulai sering datang menemui Nara.
Awalnya Alya menolak.
Namun melihat bagaimana cepatnya Nara akrab dengan Arka, hatinya perlahan luluh.
“Om polisi bisa angkat Nara tinggi-tinggi nggak?” tanya Nara antusias.
Arka tersenyum kecil.
“Bisa.”
Dengan mudah pria itu mengangkat Nara tinggi hingga anak itu tertawa riang.
Alya diam-diam memperhatikan dari dapur.
Dadanya terasa hangat.
Pemandangan itu terlalu indah.
Dan terlalu menyakitkan sekaligus.
Karena itu adalah keluarga yang seharusnya mereka miliki sejak dulu.
“Mama, Om polisi baik ya,” bisik Nara malam itu.
Alya tersenyum kecil.
“Iya.”
“Kalau Om polisi jadi papa Nara boleh?”
DEG.
Alya langsung terpaku.
Sementara di balik pintu dapur, Arka diam membeku mendengar pertanyaan itu.
Tatapan pria itu perlahan tertuju pada Alya.
Lembut.
Penuh harapan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Bab 8 — Wanita dari Masa Lalu
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama.
Suatu sore, Alya datang ke kantor polisi untuk mengantarkan bekal makan siang Nara untuk Arka.
Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita cantik berdiri sangat dekat dengan mantan suaminya.
Wanita itu tersenyum manis sambil merapikan kerah seragam Arka.
“Masih berantakan seperti dulu,” ujarnya lembut.
Alya langsung membeku.
Dan yang lebih membuat dadanya sesak…
Arka tidak menolak sentuhan itu.
Nara yang berdiri di samping Alya ikut menatap bingung.
“Itu siapa, Ma?”
Alya buru-buru menarik tangan anaknya.
“Nggak siapa-siapa. Yuk pulang.”
Namun sebelum mereka pergi, suara Arka memanggil.
“Alya!”
Pria itu segera berjalan mendekat.
Sementara wanita tadi ikut menoleh penasaran.
Tatapan matanya langsung berubah saat melihat Alya.
“Ini… Alya?” tanyanya pelan.
Alya mengenal wanita itu.
Sandra.
Cinta pertama Arka.
Wanita yang dulu hampir dinikahi Arka sebelum pria itu memilih Alya.
Dan sekarang…
Wanita itu kembali muncul.
Alya mulai takut kalau hatinya akan jatuh untuk kedua kalinya pada pria yang sama.