Hujan turun deras malam itu. Jalanan kecil di belakang pasar tampak sepi, hanya lampu kuning redup yang berkedip seperti hampir mati. Di ujung gang berdiri tiga rumah kontrakan tua, Dua rumah masih berpenghuni, Satu lagi kosong bertahun-tahun.
Rumah nomor tiga.
Kata orang-orang sekitar, rumah itu angker.
Tapi masalahnya, Damar tidak punya pilihan lain.
“Aku cuma numpang hidup, bukan numpang kaya,” gumamnya sambil mengangkat kardus mie instan ke dalam rumah.
Damar baru lulus SMA, Ia datang ke kota untuk bekerja di toko fotokopi milik pamannya. Gajinya pas-pasan, Karena tak enak terus tinggal di rumah saudara, ia mencari kontrakan murah. Dan tentu saja, yang paling murah adalah rumah nomor tiga.
“Mas yakin mau tinggal di situ?” tanya ibu pemilik kontrakan waktu itu.
“Kenapa? Bocor?”
“Bukan.”
“Listriknya mati?”
“Bukan juga.”
“Terus?”
Ibu itu menelan ludah. “Yang tinggal di situ biasanya nggak betah.”
Damar tertawa kecil. “Saya juga nggak betah miskin, Bu. Jadi ya udah.”
Akhirnya ia resmi pindah.
Hari pertama masih aman, Hari kedua juga biasa saja, Sampai malam ketiga.
Jam menunjukkan pukul 01.13
Damar sedang tidur ketika terdengar suara kursi digeser dari ruang tamu.
SREEETTT…
Matanya langsung terbuka.
Ia menatap langit-langit kamar sambil diam membeku.
SREEETTT…
Suara itu terdengar lagi.
“Ada maling?” bisiknya.
Dengan gemetar, Damar mengambil sapu. Bukan karena berani, Tapi karena cuma itu benda panjang yang ada di dekatnya.
Ia melangkah pelan menuju ruang tamu,
Gelap.
Hanya cahaya bulan masuk dari jendela,
Tak ada siapa-siapa.
Tapi kursi plastik biru yang tadi berada di dekat meja kini berpindah ke tengah ruangan.
Damar langsung merinding.
“Oke… mungkin tadi aku lupa posisi awalnya…”
Ia mencoba berpikir positif
Lalu…
KREEEK…
Pintu dapur terbuka sendiri
Damar refleks lari ke kamar dan mengunci pintu.
“Mama… aku pengen pulang…”
Padahal usianya sudah delapan belas tahun.
Malam itu ia tidak tidur sampai pagi.
Besoknya, saat bekerja di toko fotokopi, wajahnya pucat seperti belum bayar utang.
“Kenapa mukamu kayak ikan asin dijemur?” tanya temannya, Rian.
“Aku diganggu di kontrakan.”
Rian langsung antusias. “Serius? Setannya gimana? Rambut panjang? Melayang? Kakinya terbalik?”
“Belum lihat.”
“Yah… kurang seru.”
“Kurang seru apanya? Aku hampir pipis di celana!”
Rian malah tertawa.
Karena penasaran, malam itu Rian ikut menginap.
“Tenang aja,” katanya sok berani. “Kalau ada setan, aku ajak ngobrol.”
Jam sebelas malam mereka masih main kartu sambil makan gorengan.
“Kalau aku mati muda,” kata Rian sambil menggigit bakwan, “tolong hapus riwayat pencarianku.”
“Emang isinya apa?”
“Rahasia negara”
Mereka tertawa.
Namun suasana berubah saat lampu tiba-tiba padam.
Klik.
Gelap total.
“Heh… jangan bercanda,” kata Rian.
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
Angin dingin tiba-tiba masuk dari dapur.
Lalu terdengar suara perempuan tertawa kecil.
“Hihihih…”
Rian langsung memegang tangan Damar.
“Katanya mau ngajak ngobrol?” bisik Damar.
“Aku berubah pikiran.”
Suara langkah kaki terdengar pelan dari lorong.
Tok… tok… tok…
Mereka membeku.
Dan dari arah dapur muncul sosok perempuan tua memakai baju putih kusam, Rambutnya panjang menutupi wajah, Jalannya lambat sambil menyeret kaki.
Rian langsung membaca doa campur aduk.
“Bismillah… Al-Fatihah… Indonesia Raya…”
“WOI!”
Perempuan itu berhenti tepat di depan mereka.
Pelan-pelan ia mengangkat wajah.
Matanya kosong.
Kulitnya pucat.
Lalu ia berkata dengan suara serak…
“Rice cooker kalian belum dicabut.”
Sunyi.
Damar dan Rian saling menatap.
“Hah?”
Perempuan itu menunjuk dapur.
“Asapnya keluar.”
Mereka berdua buru-buru lari ke dapur,
Dan benar saja.
Rice cooker tua milik Damar mengeluarkan asap tipis karena lupa dimatikan.
Saat mereka menoleh lagi…
Perempuan itu hilang.
“HOLY” Rian hampir jatuh.
Malam itu mereka tidak tidur sama sekali.
Besoknya mereka menemui Pak Karim, penjaga musala dekat gang.
Pak Karim sudah tua, Janggutnya putih semua, Tapi matanya teduh.
“Rumah nomor tiga ya…” katanya pelan.
“Emang ada apa di situ, Pak?” tanya Damar.
Pak Karim diam sebentar sebelum menjawab.
“Dulu ada seorang nenek tinggal di situ sendirian, Namanya Mak Sulastri.”
“Dia meninggal?”
Pak Karim mengangguk.
“Sudah lama, tidak ada yang sadar beliau meninggal sampai tiga hari.”
Damar merinding.
“Beliau nggak punya keluarga?”
“Punya, tapi sibuk semua.”
Sunyi.
Hujan mulai turun di luar musala.
Pak Karim melanjutkan, “Mak Sulastri orang baik, Sering masak buat tetangga. Tapi waktu tua, semua orang pelan-pelan lupa datang.”
Damar menelan ludah.
“Katanya…” Pak Karim tersenyum tipis, “kadang beliau masih ada di rumah itu.”
Rian langsung pucat.
“Pak, kalau kami pindah nggak apa-apa kan?”
“Kalau takut, pindahlah.”
Damar terdiam.
Entah kenapa, setelah mendengar cerita itu, rasa takutnya berubah sedikit. Masih takut, tentu saja. Tapi ada rasa kasihan juga.
Malam berikutnya, Damar pulang lebih awal.
Ia membeli bunga melati kecil dan meletakkannya di ruang tamu.
“Kalau memang masih ada…” katanya pelan,
“maaf ya kalau kami ribut.”
Tak ada jawaban.
Namun malam itu rumah terasa lebih tenang.
Sampai sekitar pukul dua pagi.
Tok tok tok.
Ada suara ketukan dari luar kamar.
Damar langsung duduk tegang.
Tok tok tok.
“Siapa…?”
Tak ada jawaban.
Pelan-pelan ia membuka pintu,
Kosong.
Namun di depan kamar ada sepiring pisang goreng hangat.
Damar langsung merinding setengah mati.
“AKU DIKIRIM MAKANAN DARI DUNIA LAIN!”
Besok paginya ia cerita ke Rian.
Rian malah mengambil satu pisang goreng.
“Enak.”
“WOI! Jangan dimakan!”
“Sayang kalau dibuang.”
“Tapi itu dari setan!”
Rian mengunyah santai. “Kalau setannya bisa masak seenak ini, aku rela kerasukan.”
Tiga hari berlalu.
Gangguan makin aneh tapi tidak menyeramkan.
Kadang sapu berpindah sendiri.
Kadang piring sudah dicuci padahal Damar lupa mencuci.
Pernah juga Damar bangun dan menemukan bajunya sudah dilipat rapi.
“Ini setan atau ibu kos?” gumamnya.
Namun suatu malam, semuanya berubah.
Saat hujan deras mengguyur kota, Damar mendengar suara tangisan dari dapur.
Pelan.
Sedih sekali.
Ia memberanikan diri mendekat.
Dan di sana…
Sosok Mak Sulastri duduk di kursi,
Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Tua, Lelah, Matanya penuh kesepian.
Damar gemetar.
Tapi ia tidak lari.
“Mak…”
Sosok itu menatapnya.
“Aku capek sendiri…” bisiknya lirih,
Suara itu bukan menyeramkan.
Justru terdengar sangat manusia.
Damar perlahan duduk di depan sosok itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berbicara dengan hantu sambil menahan ingin pingsan.
“Mak… kenapa belum pergi?”
Mak Sulastri diam lama.
Lalu berkata pelan, “Rumah ini terlalu sepi.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa terasa berat sekali.
Damar tiba-tiba teringat ibunya di kampung.
Ibunya sering menelepon, tapi ia kadang malas menjawab karena capek kerja.
Ia teringat neneknya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Dulu neneknya sering mengajaknya makan bersama, tapi semakin besar, ia lebih sibuk bermain ponsel daripada mendengarkan cerita nenek.
Tiba-tiba dadanya sesak.
Banyak orang takut pada kematian.
Padahal mungkin yang lebih menakutkan adalah dilupakan saat masih hidup.
Air mata Mak Sulastri jatuh perlahan.
“Aku cuma ingin ditemani…”
Malam itu Damar tidak tidur.
Ia duduk di ruang tamu sambil berbicara dengan Mak Sulastri sampai subuh.
Tentang masa muda beliau, Tentang suaminya yang sudah meninggal duluan, Tentang anak-anak yang jarang pulang.
Dan untuk pertama kalinya, rumah nomor tiga terasa hangat.
Besoknya, Damar mulai berubah.
Ia lebih sering menelepon ibunya.
Ia mengunjungi Pak Karim membawa makanan.
Ia mulai menyapa tetangga sekitar,
Rian sampai heran.
“Kenapa kau jadi rajin hidup?”
Damar menjawab sambil menyapu halaman, “Aku nggak mau jadi orang yang cuma dicari pas udah nggak ada.”
Rian terdiam sebentar.
Lalu berkata, “Dalem juga.”
“Iya.”
“Tapi serius, boleh nggak aku minta resep pisang goreng setannya?”
“RIAN!”
Waktu terus berjalan.
Gangguan di rumah mulai berkurang,
Suasana jadi damai.
Sampai suatu malam terakhir.
Damar terbangun karena mencium aroma melati, Ia keluar kamar dan melihat Mak Sulastri berdiri di dekat pintu depan.
Penampilannya berbeda, Lebih cerah, lebih tenang.
Sosok itu tersenyum kecil.
“Terima kasih ya…"
Damar menunduk pelan.
“Mak… hati-hati di jalan.”
Mak Sulastri terkekeh kecil mendengar itu.
Lalu perlahan sosoknya memudar bersama angin malam.
Hilang.
Benar-benar hilang.
Rumah nomor tiga kembali sunyi.
Tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.
Melainkan sunyi yang damai.
Beberapa bulan kemudian, Damar tetap tinggal di sana. Ia mengecat ulang rumah itu, menanam bunga di depan teras, dan membuat suasana jadi hidup lagi.
Orang-orang sekitar mulai berani lewat depan rumah nomor tiga.
Bahkan kadang Rian datang menginap.
Walau tetap takut kalau lampu mati.
Suatu malam Rian bertanya, “Menurutmu, kenapa hantu itu muncul ke kita?”
Damar berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Mungkin…”
“Apa?”
“Mungkin manusia memang sesederhana itu.”
“Maksudnya?”
“Kita cuma pengen ditemani, Didengar, Diingat.”
Rian diam.
Lalu berkata pelan, “Kayak aku yang pengen ditraktir bakso tapi kau lupa terus?”
Damar melempar sandal ke arah wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, suara tawa memenuhi rumah nomor tiga.