Di balik pintu kamar yang separuh bisu, malam merebahkan gulita pada bahu seseorang yang terlalu lama memeluk nestapa.
Rembulan menggantung pucat di sela jendela berdebu, sementara tangis luruh perlahan menjadi aksara sunyi yang tak sanggup diterjemahkan dunia.
Di ruang sempit itu, air mata jatuh seperti hujan pada musim kehilangan pelan, namun mampu menenggelamkan seluruh isi dada.
Bantal menjadi lautan rahasia, tempat segala lara dikuburkan agar fajar esok tak mencurigai betapa remuknya hati yang berusaha tersenyum.
Tak ada pelukan, tak ada suara yang menenangkan, hanya desir angin malam dan detak jam yang terdengar seperti luka yang diulang berkali-kali.
Ia menangis tanpa suara, karena semesta terlalu sering mengajarkan bahwa kesedihan harus disembunyikan serapi mungkin.
Padahal di balik tatapan yang tampak setegar cakrawala, ada jiwa yang perlahan karam di lautan pikirannya sendiri.
Dan saat dini hari memeluk kamar dengan dingin, ia menatap langit-langit sambil berharap, semoga suatu hari nanti ada seseorang yang mampu membaca tangisnya bahkan ketika bibirnya memilih diam.
Sebab tidak semua luka mencari perhatian, sebagian hanya ingin dipahami tanpa harus menjelaskan.
Hanya Puisi Singkat🥀