*Novelet: Ruang Kosong di Kepala Arya*
_Tema: anxiety, anhedonia, parentification, broken home_
_Tokoh: Arya Mahendra, Bu Ratna, Dinda, Alana, Bu Wulan_
*Bab 1: 32 Keramik*
Umur 9 tahun, Arya belajar dua hal sekaligus: cara ngunci pintu dua kali dan cara ngitung keramik biar nggak nangis.
Waktu bapaknya pergi, rumah langsung beda. Suaranya jadi pelan. Bu Ratna pulang kerja jam 6 pagi, tidur sampai Zuhur, terus masak, nyuci, berangkat lagi. Dinda masih 1 tahun, popoknya sering bocor.
"Thole, tolong jagain adikmu ya," kata Bu Ratna waktu itu. "Ibu cari duit dulu."
Arya ngangguk. Sejak itu dia jadi alarm, jadi kompor, jadi tanda tangan rapat wali murid.
Umur 17 tahun, Arya juara olimpiade fisika. Tapi tiap malam dia ngitung: 32 keramik dari pintu ke jendela. Genap berarti ibu selamat. Ganjil berarti dia harus ngulang sampai tangannya dingin.
*Bab 2: Payung Pertama*
Alana muncul di halte pas hujan. Bawa _Laut Bercerita_, roknya kecipratan.
"Mau bareng? Payungku gede."
Sedetik Arya ngelirik, hitungan di kepalanya berhenti. Bukan karena deg-degan. Karena bingung. Otaknya nggak punya folder buat "cewek nawarin payung".
"G... gausah. Makasih."
Alana nggak maksa. Dia jalan duluan. Arya pulang basah. Malamnya dia tulis di buku: _Hari ini nggak ngitung sampai selesai. Dadaku sakit. Nggak tau namanya._
*POV Alana*
Alana pindahan dari Solo. Kakaknya bundir dua tahun lalu. Sejak itu Alana belajar satu hal: orang yang keliatan paling anteng biasanya paling ribut di dalam. Arya kayak gitu. Matanya kosong tapi waspada, kayak kucing habis dipukul.
Jadi dia selipin coklat di loker 2-7. _Besok aku bawain dua payung._
Dia nggak berharap dibales. Dia cuma nggak mau nyesel kayak dulu.
*Bab 3: Loker dan Lumer*
Coklat itu lumer di tangan Arya. Tangannya lengket, dadanya enggak.
Bima godain, "Suka ya lu?"
Arya nggak jawab. Gimana jelasin "suka" ke orang yang kamus emosinya dibakar sejak SD?
Dia mulai hindarin halte. Pulang lewat kebon singkong. Bu Wulan manggil ke BK.
"Kamu tau anhedonia, Ar?"
Arya geleng.
"Itu waktu otakmu capek ngerasa, jadi dia milih mati lampu. Bukan selamanya. Tapi lampunya perlu dipancing pelan-pelan."
Arya pulang, nulis lagi: _Apa warna lampu kalau dinyalain? Aku lupa._
*Bab 4: 33 dan Ganjil*
Panic attack datang pas pelajaran matematika. Napas Arya pendek. Angka di papan tulis muter jadi 33. Ganjil. Bahaya.
Dia tumbang di UKS. Bu Wulan nelpon Bu Ratna.
Bu Ratna lari dari pabrik. Masih pakai APD, bau indigo. Dia meluk Arya kenceng.
"Maafin ibu, Le. Ibu kira kalau ibu jadi baja, kamu juga harus jadi baja. Ibu lupa kamu masih anakku."
Malam itu batre jam dinding habis. Nggak ada _tik tik tik_.
Arya ngaku: "Bu, aku kayaknya suka sama temen. Tapi aku kosong."
Bu Ratna nangis. "Ibu juga pernah kosong, Le. Terus ibu isi pakai kamu sama Dinda. Pelan-pelan ya. Nggak usah buru-buru penuh."
Dinda keluar kamar, ikut meluk. "Mas Arya boleh nangis kok. Dinda jagain."
*Bab 5: Senter dan Pintu*
Terapi pertama: Bu Wulan kasih jurnal.
"Tulis apa aja yang kamu rasa. Walau cuma 'hari ini anginnya dingin'."
Arya nulis: _Dinda ketawa. Dadaku anget 2 detik. Itu sedih atau seneng?_
"Terus soal Alana," kata Bu Wulan. "Kamu nggak harus jadi terang sekarang. Buka pintunya aja. Dia bawa senter sendiri."
Arya kebayang: rumahnya gelap. Alana berdiri di depan pintu bawa senter kecil. Nggak maksa masuk. Cuma nunggu.
*Bab 6: Payung Kedua*
Hujan lagi. Arya ke halte. Alana udah di sana. Bawa payung biru dongker sama transparan.
Nggak ada yang mulai ngomong. Lima menit cuma suara air.
"Kenapa nawarin lagi?" tanya Arya akhirnya. "Kan aku nolak."
Alana mainin ujung roknya. "Kakakku dulu juga nolak terus. Aku telat nyadar dia butuh ditemenin diem aja. Jadi sekarang aku nyoba lagi. Nggak jadi pahlawan. Cuma... nemenin."
Arya nerima payung biru. Tangannya masih gemeter.
Mereka jalan. Nggak romantis. Nggak pegangan. Cuma dua orang basah yang arah rumahnya beda.
Pas mau pisah, Arya bisik: "Makasih udah nungguin hujannya reda."
Alana senyum. "Hujan kepala juga, Ar. Santai aja."
*Bab 7: Perlahan-lahan Dimulai*
Malam itu Arya nggak ngitung keramik. Dia buka jurnal.
_Hari ini:_
1. _Dadah ke Alana nggak bikin panik._
2. _Ibu pulang bawa martabak. Dinda rebutan. Aku ketawa 1 detik._
3. _Besok terapi kedua._
Dia nutup buku. Tidur.
Di ruang tamu, Bu Ratna nyetrika seragam Dinda. Dia denger kamar Arya hening. Nggak ada suara langkah bolak-balik ngitung.
Bu Ratna senyum sendiri.
*Ending — tapi baru mulai:*
Seminggu kemudian, Arya ke halte lagi. Nggak hujan. Alana lagi baca.
Arya duduk di sebelahnya. Nggak ngomong. Terus nyodorin buku.
"Ini," katanya kaku. "Jurnalku. Halaman 14. Boleh baca kalau mau tau... gimana rasanya jadi aku."
Alana kaget, tapi nggak lebay. Dia terima bukunya. "Oke. Halaman 14 aja ya. Nggak ngintip yang lain."
Di halaman 14 cuma ada satu kalimat: _Hari ini dadaku anget 5 detik pas liat kamu. Mungkin itu namanya mulai._
Alana nutup buku. Nggak bilang "aku juga". Nggak janjiin apa-apa.
Dia cuma buka payung transparan, walau nggak hujan. "Biar nggak silau, Ar. Katanya kamu baru belajar liat terang."
Arya ngangguk.
Dan di situ, pelan-pelan, sesuatu dimulai. Bukan cinta yang meledak. Bukan sembuh yang instan.
Cuma dua orang yang mutusin buat nggak pulang cepet-cepet waktu langitnya masih abu-abu.
Di kepala Arya, ruang kosongnya masih ada. Tapi sekarang ada senter kecil di pojokan. Nyala redup. Cukup buat liat jalan ke pintu.
*TAMAT — atau lebih tepatnya: MULAI.*
---
*Novelet: Ruang Kosong di Kepala Arya*
*Bab 8: Bapak di Dalam Gudang*
Libur semester, Bu Ratna nyuruh beresin gudang. "Itu kamar bapakmu dulu, Le. Barang-barangnya masih di situ. Kalau udah ikhlas, bantu ibu jual atau buang ya."
Gudang. Kata yang dipakai Bu Ratna buat ganti "kamar bapak" selama 8 tahun.
Arya buka pintu. Debu langsung nyerbu hidung. Ada kasur lipat, lemari kayu jati, sama kardus Indomie. Di dinding masih nempel poster Persis Solo yang pinggirnya udah nguning.
Di atas lemari, ada satu kotak sepatu. Arya kenal. Itu tempat bapak simpen foto.
Tangannya gemeter waktu buka. Isinya foto Arya umur 5 tahun digendong bapak di Stadion Manahan. Foto Dinda baru lahir. Foto keluarga terakhir sebelum bapak bilang "Bapak kerja di Jakarta dulu ya, Le" terus nggak balik.
Dada Arya panas. Selama ini dia ngebekuin bapak di kepala. Bapak = pengkhianat. Titik. Gampang. Nggak ribet.
Tapi di foto itu, bapaknya ketawa. Matanya sayang banget liat Arya.
Malamnya dia tulis di jurnal: _Aku benci bapak. Tapi aku juga kangen. Gimana bisa dua-duanya ada bareng?_
*Bab 9: Terapi dan Amplop Cokelat*
"Arya, marah itu wajar," kata Bu Wulan minggu itu. "Kamu boleh benci bapakmu. Memaafkan bukan berarti ngelupain atau bilang 'yang udah ya udah'. Memaafkan itu kamu yang mutusin lukanya berhenti nyetir hidup kamu."
"Caranya?"
Bu Wulan nyodorin amplop cokelat. "Tulis surat buat bapak. Nggak usah dikirim. Tulis semua. Sumpah serapah juga boleh. Ini ruang aman."
Malem itu Arya nulis 4 halaman. Tangannya sampe kram.
_Pak,_
_Kenapa Bapak pergi? Dinda waktu itu nanya terus. Ibu sampe nggak tidur 3 hari. Aku jadi bapak pas umur 9 tahun. Aku nggak pernah main bola sore-sore karena harus momong. Aku benci Bapak._
_Tapi aku juga inget Bapak ngajarin naik sepeda di alun-alun. Bapak yang beliin es krim kalau aku demam. Jadi aku bingung Pak. Bapak jahat apa enggak?_
_Aku capek ngitung keramik gara-gara Bapak. Aku capek mati rasa. Aku pengen punya bapak lagi, tapi bapak yang dulu, bukan yang sekarang udah punya anak lain._
_Kalau Bapak baca ini, aku cuma mau bilang: aku udah nggak mau nunggu Bapak pulang. Aku mau pulang ke diri sendiri dulu._
Arya nangis. Nggak tanpa suara kayak biasanya. Kali ini ada sesenggukan. Dinda kebangun, terus nyamperin peluk dari belakang. Nggak nanya. Cuma bilang, "Mas udah hebat."
*Bab 10: Alana dan Foto*
Esoknya Arya ke halte. Alana lagi baca.
Dia ngeluarin foto dari kotak sepatu. Foto dia umur 5 tahun sama bapaknya.
"Ini bapakku," katanya. Suaranya serak. Pertama kali dia ngomong kata 'bapak' tanpa muntah emosi.
Alana nggak kaget. Dia liat fotonya baik-baik. "Kamu mirip bapakmu ya. Hidungnya."
Arya ketawa. Pahit. "Iya. Sama-sama ninggalin juga."
"Terus kamu mau ngapain sama miripnya itu?"
Pertanyaan Alana sederhana, tapi nusuk.
Arya diem. Terus jawab, "Aku nggak mau ninggalin Dinda. Nggak mau ninggalin ibu. Nggak mau ninggalin... kamu, kalau kamu nggak keberatan ditemenin orang rusak."
Alana nutup bukunya. "Aku nggak ngajak kamu lari, Ar. Aku ngajak jalan. Pelan-pelan. Kalau kamu capek, kita duduk. Kalau kamu mau balik, aku anter."
Itu pertama kalinya Arya ngerasa "dipilih" tanpa harus jadi sempurna.
*Bab 11: Ketemu Bapak, Tapi Nggak Ketemu*
Tiga bulan kemudian, Pakde-nya Arya nikahan di Karanganyar. Bu Ratna bisik-bisik: "Bapakmu datang, Le. Sama istri barunya. Anaknya udah 3 tahun."
Dada Arya langsung dingin lagi. 32 keramik muter di kepala.
Bu Wulan udah wanti-wanti: "Kamu berhak nggak ketemu. Berhak ketemu juga. Yang penting kamu pegang kendali, bukan emosimu."
Arya dateng ke nikahan. Pake batik. Dinda di sebelahnya, Bu Ratna di depan.
Bapaknya ada di pojok. Gendut dikit, rambut udah putih separo. Gendong anak kecil.
Mata mereka ketemu 2 detik.
Bapaknya kaget. Mau nyamperin.
Arya narik napas. Jantungnya lari. Tapi dia nggak lari. Dia cuma geleng pelan. Terus gandeng tangan Dinda, jalan ke tempat prasmanan.
Nggak ada drama. Nggak ada teriak.
Cuma pilihan.
Malamnya dia nulis: _Hari ini aku liat Bapak. Aku nggak nyapa. Bukan karena benci. Tapi karena aku udah nggak butuh jawaban dari dia buat ngejalanin hidupku. Jawabannya udah aku tulis sendiri di amplop cokelat._
Dia masukin surat 4 halaman itu ke kotak sepatu, terus diikat. Ditulis di atasnya: *Udah.*
Bukan "Selesai". Cuma "Udah". Karena sembuh itu nggak ada garis finish.
*Bab 12: Perlahan-lahan Dimulai, Part 2*
Hujan lagi. Arya sama Alana di halte.
Arya buka payung biru dongker. Terus nyodorin gagang payungnya ke Alana.
"Gantian," katanya. "Sekarang kamu yang diem, aku yang nyari kata."
Alana genggam payungnya. "Kata apa?"
Arya nyari di kepala. Dulu isinya cuma keramik. Sekarang ada rak kecil. Isinya: Dinda ketawa, ibu bawa martabak, Alana bilang 'hujan kepala juga', Bu Wulan bilang 'buka pintunya aja'.
"Aku," kata Arya, pelan. "... lagi belajar ngerasa. Mungkin 5% sehari. Tapi kayaknya... sama kamu, nambah jadi 6%."
Alana nggak ketawa. Nggak lebay. Dia cuma nyenderin kepalanya ke bahu Arya sedetik, terus balik tegak lagi.
"Satu persen itu banyak, Ar. Buat orang yang dulu nol."
Mereka jalan. Payungnya cuma satu, tapi berdua megang.
Di rumah, Arya nggak ngitung keramik. Dia nulis di jurnal halaman 27:
_Hari ini aku nggak maafin bapak buat bapak. Aku maafin bapak buat aku. Biar ruang kosong di kepalaku ada tempat buat hal lain. Kayak Alana. Kayak Dinda minta ditemenin PR. Kayak ibu yang udah mulai kursus jahit biar nggak shift malam terus._
_Mungkin suatu hari aku bisa ngobrol sama bapak. Mungkin enggak. Dua-duanya nggak apa-apa._
_Yang penting, aku udah pulang. Ke aku sendiri._
Dia tutup jurnal. Di luar, hujannya udah reda.
Dan perlahan-lahan, hidup Arya... dimulai.
*TAMAT*
---