Di sini, di Bukit Menanti ini, setiap helai rumput, setiap hembusan angin, dan setiap sinar matahari yang jatuh ke tanah seolah menyimpan potongan cerita tentang kita. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan cintaku dengan Hansa—pria baik hati yang datang saat duniaku sedang runtuh, dan pergi saat duniaku baru saja ia bangun kembali.
Dulu, sebelum ia hadir, hidupku terasa seperti lorong gelap tanpa ujung. Aku jatuh, terpuruk, merasa tak ada satu pun orang yang berpihak padaku. Lalu Hansa datang. Ia tidak datang dengan janji duniawi, ia datang dengan ketulusan yang sederhana. Tampan, lembut, sabar, dan penyayang—itulah Hansa. Ia memungut kepingan hatiku yang hancur satu per satu, menyusunnya kembali dengan penuh kehati-hatian, dan mengajarkanku kembali cara mencintai diri sendiri.
Satu tahun bersamanya adalah tahun terindah dalam hidupku. Rasanya seolah Tuhan mengirimkan malaikat pelindung khusus untukku. Kami sering duduk di atas batu di pinggir bukit ini, memandang jauh ke lembah yang beralaskan kabut, bercerita tentang apa saja, tertawa hingga perut sakit, dan diam dalam kebersamaan yang damai.
"Anindya," panggilnya suatu sore, sambil merangkul bahuku erat, matanya menatap lekat ke arahku seolah ingin menyimpan setiap detail wajahku di ingatannya selamanya. "Kamu tahu nggak? Dulu aku berpikir bahagia itu soal punya banyak hal. Tapi sejak ada kamu di sini, aku sadar, bahagia itu cuma satu: cukup melihatmu tersenyum di sampingku setiap hari."
Aku tersipu, menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat. "Kamu ini ya, mulutnya manis banget. Padahal aku cuma wanita biasa, yang banyak kurangnya, yang sering bikin capek dan ribet."
Ia menggeleng pelan, lalu mengusap rambutku dengan lembut. "Bagiku, kamu itu sempurna, Aya. Kamu adalah hal terindah yang pernah Tuhan titipkan buat aku. Kalau nanti ada kehidupan kedua, ketiga, atau seribu kali pun aku lahir ke dunia, aku janji... aku akan tetap mencari kamu, dan tetap memilih kamu. Tak ada yang lain selain kamu."
Kalimat itu selalu membuat hatiku meleleh. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Tak pernah sekalipun aku curiga ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku hanya tahu, kadang ia mengeluh sakit kepala yang cukup hebat, tapi ia selalu bilang itu cuma kelelahan biasa, kurang tidur, atau sekadar masuk angin. Ia selalu bilang, "Nggak apa-apa, Aya, cuma sebentar kok, nanti juga hilang kalau kamu elus-elus kepalaku." Dan aku selalu percaya, sambil menuruti permintaannya dengan penuh kasih sayang, tak tahu bahwa di balik itu, ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa dari penyakit kanker otak stadium lanjut yang dideritanya sendirian.
Suatu sore, cuaca terasa mendung dan angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Kami duduk seperti biasa, tapi hari itu Hansa terlihat lebih diam. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha menutupinya dengan senyum termanisnya. Ia memegang gitar kesayangannya, lalu mulai memetik nada lagu Cancer dari My Chemical Romance—lagu yang menjadi favorit kami, lagu yang sering kami nyanyikan berdua sampai suara kami serak.
Ia mulai bernyanyi dengan suaranya yang berat dan merdu, namun hari ini ada getaran sendu yang belum pernah kudengar sebelumnya.
"Turn away, If you could get me a drink
Of water 'cause my lips are chapped and faded..."
Sambil bernyanyi, ia menatapku dalam-dalam, matanya berkaca-kaca seolah ada air mata yang tertahan kuat-kuat di pelupuk matanya. Aku mengira ia hanya terbawa perasaan oleh lirik lagu yang emosional itu. Aku ikut bernyanyi bersamanya, bersenandung riang, tak menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan adalah gambaran nyata tentang dirinya, tentang rasa sakitnya, dan tentang perpisahan yang sedang ia persiapkan.
Saat lagunya selesai, ia meletakkan gitar itu pelan di sampingnya, lalu menggenggam kedua tanganku. Tangannya dingin, tapi genggamannya sangat erat, seolah tak ingin melepaskanku selamanya.
"Aya..." suaranya terdengar parau dan berat. "Kalau suatu hari nanti... aku udah nggak bisa nemenin Aya lagi, kalau aku udah nggak ada di samping Aya kayak gini lagi... Aya harus janji ya sama Hansa?"
Aku mengerutkan kening, merasa tak nyaman dengan nada bicaranya yang begitu serius dan menyedihkan. Aku mencubit pelan lengannya sambil mengerucutkan bibirku manja, berusaha mengubah suasana. "Kamu kenapa ngomong gitu sih, Han? Aneh banget. Ga boleh ngomong begitu, tau! Kita kan bakal terus bareng-bareng. Kamu janji kan?"
Ia tersenyum sedih, lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya yang lembut. Ia menarikku masuk ke dalam pelukannya, memelukku sangat erat, seolah ingin menyatukan raga dan jiwa kami agar tak terpisahkan.
"Iya, iya... maaf ya, kesayangannya Han. Cuma... Hansa cuma mau bilang, kalau nanti saatnya tiba, Aya jangan terlalu lama larut dalam kesedihan ya? Hansa nggak suka lihat kamu sedih. Dan... kalau Aya kangen banget sama Hansa... ambil gitar ini, mainkan lagu yang tadi kita nyanyikan, dan ingat... Hansa selalu ada di setiap nada yang kamu petik, di setiap kata yang kamu ucapkan."
"Ah, kamu ini ada-ada aja," jawabku sambil tertawa kecil, meski hatiku mulai terasa sesak tak jelas sebabnya. "Pokoknya Hansa harus sehat, harus kuat, dan harus selalu ada buat Anindya. Titik."
Ia hanya diam, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, dan aku merasakan bahunya bergetar pelan. Saat itu aku kira ia hanya kedinginan. Aku tak tahu, saat itu juga, air matanya jatuh membasahi bahuku—air mata perpisahan yang tak ingin ia sampaikan secara langsung.
Hanya dua hari setelah percakapan itu, kabar buruk itu datang. Hansa pergi. Pergi untuk selamanya, meninggalkan dunia ini diam-diam, tanpa sempat mengucapkan kata terakhir yang jelas. Dan saat itulah, kebenaran yang paling menyakitkan terungkap. Aku tahu dari orang-orang terdekatnya bahwa selama ini Hansa menderita kanker otak stadium lanjut. Ia tahu kondisinya sejak lama. Ia tahu waktunya tak banyak. Tapi ia memilih diam. Ia memilih menyembunyikan segalanya dariku. Ia tak ingin aku sedih, tak ingin aku menderita bersamanya, tak ingin aku melihatnya lemah dan menyakitkan. Ia memilih memberiku kebahagiaan penuh selama ia masih ada, meski ia harus menahan rasa sakit itu sendirian di setiap malam, di setiap saat kepalanya terasa seperti terbelah.
Malam ini, aku kembali duduk di sini, di Bukit Menanti ini. Angin berhembus kencang, membawa kabut yang dingin. Di pangkuanku, ada gitar miliknya—peninggalan satu-satunya yang ia tinggalkan. Tanganku gemetar saat mulai memetik senarnya. Nada yang sama, lagu yang sama.
"Call my aunt Marie
Help her gather all my things
And bury me in all my favorite colors,
My sisters and my brothers, still,
I will not kiss you,
'Cause the hardest part of this is leaving you."
Suaraku pecah, tertelan tangis yang tak lagi bisa kutahan. Air mata mengalir deras membasahi pipiku, jatuh ke badan gitar yang dulu sering ia mainkan dengan penuh cinta. Baru sekarang aku paham... Baru sekarang aku sadar makna setiap lirik itu.
Lagu itu bukan sekadar lagu. Itu adalah pesan terakhirnya. Itu adalah cerita tentang dirinya sendiri. Tentang rasa sakit yang ia pendam. Tentang ketakutannya akan kematian. Dan bagian paling menyakitkan dari semuanya... lirik itu bilang, "Bagian terberat dari semua ini, adalah harus meninggalkanmu."
Hansa, bodohnya aku... Dulu aku mengira kamu bernyanyi karena suka nadanya. Padahal kamu sedang berbicara padaku lewat lagu itu. Kamu sedang bercerita tentang rasa sakitmu, tentang kepergianmu yang akan datang, dan betapa beratnya bagimu untuk berpisah dariku. Kamu menyembunyikan segalanya demi kebahagiaanku, demi aku tak perlu merasakan duka sebelum waktunya.
Sekarang kamu sudah pergi, Han. Dan aku di sini, sendirian di tempat kita berjanji untuk selalu bersama. Bukit ini masih sama, anginnya masih sama, tapi sosokmu sudah tak ada lagi di sebelahku.
Kalau benar ada kehidupan kedua, ketiga, atau seribu kali pun kita terlahir kembali... Seperti janjimu dulu, aku pun akan tetap memilihmu. Aku akan mencarimu lebih awal, dan kali ini... aku berjanji akan memegang tanganmu lebih erat, agar kamu tak perlu lagi menahan sakit sendirian.
Terima kasih untuk semua bahagia yang kamu berikan, Hansa. Dan maaf... karena aku baru mengerti arti cintamu yang begitu besar, saat kamu sudah tak ada lagi di sini.