Aroma tanah basah sesudah hujan—petrichor—selalu punya cara magis menyelinap masuk melalui celah jendela, membawa serta tumpukan kenangan yang entah mengapa terasa puitis di ruang tamu rumah tipe tiga puluh enam itu. Arini menyesap teh melati hangatnya pelan, membiarkan uapnya menghangatkan ujung hidungnya yang dingin. Di pangkuannya, sebuah undangan pernikahan berwarna rose gold tergeletak pasrah. Itu undangan dari Sekar, teman sebangkunya saat SMA, yang akan melangsungkan pernikahan keduanya setelah bercerai tiga tahun lalu.
Di layar ponsel yang menyala di meja, notifikasi grup WhatsApp alumni masih riuh. Foto-foto Sekar dengan calon suaminya yang baru, lengkap dengan caption "Alhamdulillah, Allah kumpulkan lagi yang terpisah," bertebaran. Arini tersenyum, jari-jarinya menari di atas layar, mengetikkan doa tulus: "Selamat ya, Kar. Semoga kali ini sakinah, mawaddah, warahmah. Bahagia selamanya." Tidak ada jeda ragu saat ia menekan tombol kirim. Tidak ada sesak yang mendesak di dadanya, tidak ada rasa "tertinggal" yang biasa menghantui wanita seusianya.
"Nuk, itu undangan dari Sekar sudah kamu baca?" Ibu muncul dari balik tirai dapur, membawa sepiring pisang goreng yang masih mengepul. Rambut peraknya sedikit berantakan, tapi matanya yang teduh selalu memancarkan kehangatan yang sama.
"Sudah, Bu. Arini baru saja ucapkan selamat di grup," jawab Arini, meletakkan ponselnya dan bergeser memberi ruang untuk Ibu duduk di sofa beludru maroon yang mulai memudar warnanya.
Ibu menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang Arini tahu maknanya tanpa perlu bertanya. "Ibu kadang mikir, Nduk. Sekar saja sudah mau dua kali. Kamu... usia tiga puluh tiga ini bukan main-main untuk seorang perempuan."
Arini meletakkan cangkir tehnya. Ia tahu pembicaraan ini akan datang, cepat atau lambat, seperti ombak yang pasti menghantam bibir pantai. Ia menggenggam tangan Ibunya yang mulai keriput, tangannya yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Bu," suara Arini lembut namun tegas, seperti alunan melodi piano yang menenangkan. "Kalau Ibu tanya Arini khawatir atau enggak, jawabannya jujur, Bu: Arini enggak khawatir. Sama sekali enggak."
Ibu menatapnya, ada keraguan di matanya. "Tapi teman-temanmu... anak-anak mereka sudah ada yang masuk SD, Nduk."
Arini tersenyum, sebuah senyuman yang lahir dari kedalaman jiwanya yang paling damai. "Iya, Arini tahu. Arini ikut bahagia melihat mereka. Tapi Ibu, Arini selalu menanamkan satu hal di sini," ia menyentuh dadanya pelan. "Kalau sekarang Arini belum dipertemukan sama jodoh Arini, ya berarti ini yang terbaik yang ditakdirkan Allah buat Arini saat ini. Arini percaya, Bu, Allah itu penulis skenario yang paling hebat. Naskah hidup kita sudah ditulis dengan tinta emas, tidak ada yang salah cetak, tidak ada yang kebetulan."
Ia membiarkan jeda sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati Ibunya. "Mungkin," lanjut Arini, matanya menerawang ke luar jendela, menembus rintik hujan yang mulai mereda, "Mungkin Allah mau Arini lanjut S3 dulu. Ibu tahu kan, gelar Doktor itu impian Arini dari dulu? Allah memberi Arini waktu dan kesempatan untuk belajar lagi, mengasah ilmu, supaya nanti Arini bisa jadi ibu yang lebih berilmu untuk anak-anak Arini. Allah juga mungkin mau Arini makin memperbaiki ibadah Arini, memperlama sujud, memperbanyak zikir, tanpa perlu buru-buru bangun karena ada anak yang menangis atau suami yang perlu dilayani."
Di ruang tamu yang tenang itu, Arini memaparkan visi hidupnya dengan begitu indah, bak menyusun puzzle yang satu per satu menemukan tempatnya. Ia bercerita tentang keinginannya untuk mengikuti seminar relationship dan parenting, bukan karena ia sudah punya pasangan, tapi karena ia ingin siap. Ia ingin ketika Allah memberikan amanah itu, ia tidak gagap. Ia ingin belajar mengelola emosi, memahami psikologi anak, dan membangun fondasi hubungan yang kuat berdasarkan ilmu, bukan sekadar naluri.
"Dan Ibu," Arini menatap mata Ibunya lekat-lekat, kilauan air mata kebahagiaan mulai menggenang di sudut matanya, "Yang paling Arini syukuri saat ini adalah, Allah memberikan Arini waktu kualitas yang tak terbatas sama Ibu. Bayangkan kalau Arini sudah menikah dan punya anak, mungkin Arini nggak bisa setiap saat ajak Ibu kulineran, jalan-jalan ke Bandung cuma buat beli siomay kesukaan Ibu, atau sekadar duduk berdua seperti ini tanpa gangguan. Allah sayang sama kita, Bu. Dia memberikan Arini kesempatan untuk berbakti sepenuhnya sama Ibu sebelum Arini membagi hati dan waktu Arini untuk orang lain."
Hati Ibu perlahan melunak, seperti lilin yang terkena panas api. Ketakutan dan kekhawatiran yang selama ini bersarang di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa bangga yang membuncah. Ia melihat putrinya bukan sebagai wanita tua yang belum laku, melainkan sebagai sosok yang tangguh, bijaksana, dan penuh iman.
"Arini juga mau meningkatkan finansial dan aset, Bu," tambah Arini dengan semangat yang menular. "Supaya kelak anak-anak Arini bahagia, berkecukupan, dan tidak kekurangan satu apa pun. Arini ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, dari hasil kerja keras Arini sendiri."
Sore itu, di tengah aroma petrichor dan kehangatan teh melati, Arini dan Ibunya tidak lagi membahas tentang kapan pernikahan itu akan datang. Mereka membahas tentang rencana perjalanan mereka bulan depan, tentang buku-buku yang ingin Arini baca, dan tentang mimpi-mimpi yang ingin mereka wujudkan bersama.
Dalam hatinya, Arini mengunci sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan. Jodoh akan datang di waktu yang tepat, di saat ia sudah menjadi versi terbaik dari dirinya, dan di saat sang belahan jiwa pun sudah siap menerimanya. Dan kalaupun ternyata, dalam skenario Allah yang paling rahasia, jodohnya tidak ada di dunia, ia tidak akan menyesal. Karena bagi Arini, yang paling penting adalah selama proses menunggu itu, ia terus berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia, menjadi manfaat untuk sesama, dan mempersiapkan diri, entah untuk bertemu jodoh atau bertemu maut duluan.
Dengan semangat yang membara dan hati yang tenang, Arini siap melangkah, menyambut setiap detik takdir Allah dengan senyuman dan rasa syukur yang tak terhingga. Karena ia tahu, Allah selalu punya kejutan terindah untuk hamba-hamba-Nya yang bersabar dan percaya.