Di tengah hutan pegunungan Sulawesi Tengah, tersembunyi di balik kabut tebal dan pepohonan raksasa, ada tempat yang dikenal orang sebagai Wentira kota yang katanya ada tapi tak selalu bisa dilihat mata biasa. Dulu, saat masa penjajahan Jepang, kota ini pernah ada, hidup, ramai, penuh suara tawa dan aktivitas. Namun setelah perang usai, penduduknya perlahan pergi, bangunan dibiarkan rusak, jalanan tertutup semak belukar. Kini hanya tersisa sisa-sisa bangunan reyot, keheningan menusuk, dan aura misterius yang kental itulah sebabnya semua orang menyebutnya Kota Hantu Wentira.
Suatu sore musim hujan, sebuah mobil tua berhenti di dekat jembatan tua penanda masuk ke kawasan itu. Turunlah seorang wanita muda, kulit putih, rambut hitam lurus panjang, wajah lembut namun tatapannya penuh tekad ciri khas orang Negeri Sakura. Namanya Aino Tan, 27 tahun, datang jauh-jauh dari Jepang hanya demi satu tujuan: mencari jejak kakeknya, Tentara Jepang bernama Hiroshi Tanaka, yang pernah bertugas dan hidup di Wentira sekitar tahun 1943–1945.
Sebelum meninggal, kakeknya selalu bercerita: “Wentira itu kota ajaib, Nak. Indah, tenang, tapi penuh rahasia. Di sana aku bertemu seseorang yang mengubah seluruh hidupku. Aku harus pergi karena perang, tapi hatiku tertinggal di sana. Kalau kau sempat, pergilah ke sana… selesaikan apa yang belum selesai.” Bersama pesan itu, ia wariskan kotak kayu berisi surat-surat lama, peta usang, dan kalung perak bermotif bunga melati.
Aino menganggul tas besar berisi perlengkapan, melangkah masuk melewati gerbang tua yang sudah berkarat. Angin berhembus pelan, membawa suara gesekan daun dan suara air sungai di kejauhan. Bangunan-bangunan bekas kantor, rumah, gudang, hingga bekas barak tentara masih berdiri meski dinding retak, jendela pecah, atap berlubang. Kabut turun perlahan, membuat suasana makin suram namun sekaligus ada rasa akrab yang aneh di hati Aino — seolah ia pernah berjalan di sini ribuan kali sebelumnya.
Ia ikuti peta usang itu, menyusuri jalan setapak yang dulu pasti ramai dilalui orang. Di salah satu bangunan besar di tengah kota, dulunya markas komandan pasukan, ia masuk pelan-pelan. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kayu lapuk dan debu tebal, ia temukan meja kerja tua yang masih utuh. Di laci meja itu, terukir tulisan tangan Jepang yang masih jelas terbaca:
“Untuk Sedy, gadis Wentira yang mengajarkanku arti damai dan cinta sejati. Meski terpisah samudra dan waktu, kenangan ini abadi.”
Jantung Aiko berdebar kencang. Itu tulisan kakeknya. Sedy nama yang selalu disebut-sebut dalam cerita kakeknya, wanita pribumi yang ia cintai, yang tak bisa dibawanya pulang saat pasukan Jepang harus mundur dan meninggalkan Indonesia.
Aiko duduk di sana, mulai membaca surat-surat satu per satu. Tertulis betapa berat masa itu: Hiroshi muda, dipaksa perang, jauh dari keluarga, penuh ketakutan dan beban. Namun di Wentira, ia bertemu Sedy gadis sederhana, berhati lembut, sering membawakannya makanan, berbicara tentang hutan, sungai, dan kehidupan damai di sana. Mereka saling jatuh cinta, berjanji akan tetap saling ingat, namun takdir berkata lain. Saat perang berakhir, Hiroshi harus pulang ke Jepang, Sedy tak mau meninggalkan tanah kelahirannya. Perpisahan itu menyakitkan, janji bertemu kembali tak pernah terwujud.
Di surat terakhir tertulis petunjuk: “Pergilah ke bukit tertinggi di ujung kota, tempat kami sering duduk menatap matahari terbenam. Di sana aku tanam pohon, dan sembunyikan sesuatu untuknya, selamanya.”
Aiko bangkit, berjalan menuju bukit itu. Semakin jauh ia melangkah, semakin ia paham: Wentira jadi kota hantu bukan karena dikutuk, bukan karena makhluk halus, tapi karena penuh kenangan yang tak selesai, perpisahan yang menyakitkan, dan cinta yang terputus di tengah jalan. Keheningan itu bukan kosong, tapi penuh rasa rindu yang menumpuk puluhan tahun.
Sesampainya di puncak bukit, ia melihat pohon kelapa besar, kokoh, lebih tua dari pohon lain di sekitarnya. Di bawahnya ada tumpukan batu rapi, seperti tanda tempat khusus. Di sampingnya, tertanam kotak besi kecil berkarat. Ia gali pelan, buka perlahan. Di dalamnya ada surat tulisan tangan bahasa Indonesia, sederhana namun penuh rasa, dari Sedy:
“Untuk Hiroshi, kekasihku dari seberang laut. Aku tahu kau takkan kembali. Semua orang pergi meninggalkan Wentira, tapi aku tetap tinggal di sini. Di sini kita pernah tertawa, di sini kita pernah berjanji. Biarlah kota ini mati dan sepi, asalkan kenangan kita tetap hidup di sini. Jika suatu hari ada orang yang datang mencarimu, sampaikan padanya: aku bahagia pernah mencintaimu, dan aku menunggumu di sini, sampai kapan pun.”
Air mata menetes di pipi Aino. Akhirnya ia paham: kakeknya tak pernah benar-benar pulang. Bagian jiwanya tertinggal di sini, di Wentira, bersama cinta pertamanya. Dan tugas Aino datang ke sini bukan sekadar mencari jejak, tapi menyatukan kembali dua hati yang terpisah waktu dan jarak.
Matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga keemasan, menyinari seluruh kota Wentira yang terhampar indah namun menyedihkan di bawah sana. Bangunan-bangunan tua itu tak lagi terlihat seram, melainkan seperti penjaga setia kenangan.
Aino keluarkan kalung perak peninggalan kakeknya, letakkan di atas tumpukan batu itu, di samping surat Sedy. Ia berdoa dalam hati: “Sudah selesai sekarang. Kalian sudah berkumpul kembali lewat kenangan ini. Damailah, di sini, selamanya.”
Malam turun, kabut kembali menyelimuti Wentira. Namun kali ini suasana berbeda: tak lagi dingin atau mencekam, tapi terasa hangat, damai, seolah ada dua bayangan samar berdiri di bawah pohon itu, bergandengan tangan, menatap matahari terbenam persis seperti dulu.
Keesokan harinya saat Aino pergi meninggalkan Wentira, ia bawa cerita ini selamanya di hatinya. Penduduk desa sekitar sampai sekarang masih sering bercerita: kadang saat kabut tebal turun, terdengar suara tawa lembut dan percakapan dua orang dari arah bukit itu. Katanya itu bukan hantu, tapi dua kekasih yang akhirnya bersatu kembali, di kota Wentira kota hantu yang tak pernah benar-benar mati, karena cinta di dalamnya tetap hidup abadi.
Dan sejak hari itu, nama Wentira bukan lagi sekadar legenda seram. Tapi menjadi bukti: cinta sejati tak pernah hilang, meski terpisah perang, samudra, waktu, dan kematian.