Di ujung selatan Pulau Sulawesi, tersembunyi di balik bukit-bukit hijau yang tertutup kabut tebal, terdapat sebuah kota kecil bernama Witera. Dulu, kota ini pernah hidup dan ramai, menjadi pusat perdagangan dan persinggahan penting pada masa penjajahan. Namun, sejak puluhan tahun lalu, Witera perlahan mati. Penduduknya pergi satu per satu karena cerita-cerita misterius, kejadian aneh di malam hari, hingga kabar bahwa kota ini dikutuk. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua yang reyot, jalanan berumput tinggi, dan keheningan yang menusuk tulang itulah sebabnya orang-orang sekitar menyebutnya Kota Hantu Witera.
Suatu sore di pertengahan musim hujan, sebuah mobil jeep tua berhenti di tepi jalan masuk Witera. Pintu terbuka, dan turunlah seorang wanita muda berpenampilan berbeda dari penduduk setempat. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam lurus panjang, dan matanya yang tajam namun lembut memiliki ciri khas orang Negeri Sakura. Namanya Aiko Tanaka, gadis berusia dua puluh tujuh tahun yang datang jauh-jauh dari Jepang hanya untuk satu tujuan: mencari jejak masa lalu kakeknya, seorang tentara Jepang yang pernah ditempatkan di Witeru semasa Perang Dunia Kedua.
Kakeknya sering bercerita tentang kota ini saat Aiko masih kecil. Ia bilang Witeru adalah tempat yang indah namun menyimpan banyak rahasia, tempat ia pernah jatuh hati pada seorang gadis lokal, dan tempat ia harus meninggalkan banyak kenangan yang tak bisa dibawa pulang ke negaranya. Sebelum meninggal, kakeknya memberikan sebuah kotak kayu kecil berisi surat-surat tua, peta usang, dan sebuah kalung perak bergambar bunga melati. "Pergilah ke Witera, Aiko," pesan kakeknya waktu itu. "Selesaikan apa yang belum selesai. Temukan kebenaran yang tersembunyi di balik keheningan kota itu."
Itulah sebabnya Aiko ada di sini sekarang. Ia memanggul tas punggung besar, berisi perlengkapan dan barang-barang peninggalan kakeknya, lalu melangkah masuk ke dalam kota yang sepi itu. Angin berhembus pelan, membawa suara gemerisik dedaunan dan suara gesekan ranting pohon yang bergoyang, seolah ada mata-mata tak terlihat yang mengawasi setiap langkahnya. Bangunan-bangunan tua dengan dinding yang mulai runtuh, jendela-jendela pecah yang menganga seperti mulut orang berteriak, dan atap-atap yang lapuk oleh waktu, memberikan suasana mencekam namun sekaligus memikat hati Aiko.
Ia berjalan mengikuti peta usang kakeknya, menyusuri jalanan yang dulu pasti penuh hiruk-pikuk orang berlalu-lalang, suara pedagang, dan tawa anak-anak. Sekarang, hanya ada keheningan. Namun, Aiko tidak merasa takut. Ada rasa akrab yang aneh di hatinya, seolah ia pernah ada di sini sebelumnya, seolah jiwanya terhubung dengan tempat ini.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, ia sampai di sebuah bangunan bekas kantor administrasi yang cukup besar, dikelilingi pohon-pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar ke mana-mana. Menurut catatan kakeknya, di tempat inilah markas pasukan Jepang berada dulu. Aiko masuk perlahan lewat pintu samping yang rusak. Di dalamnya, debu tebal menutupi lantai dan perabotan tua yang tersisa. Cahaya matahari masuk lewat celah-celah atap, membentuk sorot cahaya yang indah di tengah ruangan yang redup.
Di sudut ruangan, di balik tumpukan papan kayu lapuk, Aiko menemukan sesuatu: sebuah meja kerja tua yang masih utuh. Di atas laci meja itu, terukir tulisan tangan Jepang yang samar namun masih terbaca jelas: “Untuk Sesen, gadis dari Witera yang mengajarkanku arti kedamaian.”
Jantung Aiko berdebar kencang. Itu tulisan tangan kakeknya. Sesen itulah nama wanita yang selalu disebut-sebut kakeknya, wanita yang membuatnya tidak ingin pulang ke Jepang, wanita yang harus ditinggalkannya saat perang berakhir. Aiko membuka kotak kayu peninggalan kakeknya, mengeluarkan surat-surat itu, dan mulai membacanya pelan di tempat itu, di mana semuanya pernah terjadi.
Dari surat-surat itu, ia tahu betapa sulitnya masa itu. Kakeknya adalah tentara muda yang dipaksa berperang, jauh dari keluarga, penuh ketakutan dan beban. Namun di Witera, ia bertemu Sesen, gadis sederhana yang tinggal di pinggir kota, yang sering membawakannya makanan, berbicara dengannya, dan mengajarkannya tentang kebaikan hati yang melampaui batas bangsa dan perang. Mereka saling mencinta, namun takdir berkata lain. Saat Jepang menyerah dan pasukan harus pulang, kakeknya tidak bisa membawa Sesen, dan Sesen tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka berjanji akan bertemu lagi, namun janji itu tak pernah terpenuhi.
Aiko beranjak dari meja itu, mengikuti petunjuk terakhir yang ada di surat-surat itu: “Jika kau datang ke sini, pergilah ke bukit di ujung kota, tempat kami sering duduk melihat matahari terbenam. Di sana aku menanam pohon, dan menyimpan sesuatu untukmu.”
Aiko berjalan menuju bukit itu. Semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasakan suasana kota ini bukanlah seram karena hantu atau makhluk halus, melainkan seram karena kesedihan yang menumpuk. Witera menjadi kota hantu bukan karena dikutuk, tapi karena perpisahan, kehilangan, dan kenangan yang tertinggal begitu saja tanpa pernah diselesaikan.
Sesampainya di puncak bukit, Aiko melihat sebuah pohon kelapa yang tumbuh kokoh, terlihat lebih tua dan besar dari pohon-pohon lainnya. Di bawah pohon itu, ada tumpukan batu yang tersusun rapi, seperti tanda makam sederhana. Di dekatnya, tertanam sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.
Aiko mengeluarkan kotak itu, membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, ada sepucuk surat lain yang ditulis oleh Sari, yang ternyata diselipkan di sana tak lama setelah kakeknya pergi. Surat itu bertuliskan dalam bahasa Indonesia yang sederhana namun penuh perasaan:
"Untuk kekasihku dari seberang laut. Aku tahu kau tidak akan kembali, tapi aku akan tetap menunggumu. Aku tidak meninggalkan kota ini meski semua orang pergi, karena di sini ada kenangan kita. Biarlah Witera menjadi kota sunyi, asal kenangan kita tetap hidup di sini. Jika suatu hari ada orang yang datang mencarimu, sampaikan padanya bahwa aku bahagia pernah mencintaimu, dan aku menunggumu di sini selamanya."
Air mata menetes di pipi Aiko. Ia akhirnya mengerti mengapa kakeknya selalu terlihat sedih hingga akhir hayatnya, dan mengapa ia sangat ingin Aiko datang ke sini. Bukan hanya untuk mencari jejak, tapi untuk menyatukan kembali dua hati yang terpisah oleh jarak, waktu, dan perang.
Matahari mulai terbenam, menyinari seluruh kota Witera dengan cahaya jingga keemasan yang indah namun menyedihkan. Dari puncak bukit itu, Aiko bisa melihat seluruh kota hantu itu terbentang luas di bawahnya. Bangunan-bangunan tua itu kini terlihat bukan lagi menyeramkan, melainkan seperti penjaga kenangan yang setia.
Aiko mengeluarkan kalung perak peninggalan kakeknya, lalu meletakkannya di atas tumpukan batu itu, di samping kotak besi milik Sesen. Ia berdoa dalam hati, berharap arwah kedua orang itu akhirnya bisa bersama, dan damai.
Malam mulai turun, dan kabut kembali turun menyelimuti Witera. Namun kali ini, keheningan kota itu terasa berbeda. Tidak lagi kosong dan menyeramkan, tapi terasa hangat, seolah ada dua bayangan samar yang berdiri di bawah pohon kelapa itu, saling menggenggam tangan, menatap matahari terbenam bersama-sama seperti dulu.
Keesokan harinya, saat Aiko meninggalkan Witera, ia membawa serta sebuah cerita yang akan ia ingat seumur hidupnya. Kota hantu ini, di ujung Sulawesi ini, ternyata menyimpan kisah cinta yang abadi, kisah antara seorang gadis lokal dan seorang pemuda dari Jepang, yang meski terpisah oleh segalanya, tetap bersatu lewat kenangan yang mereka tinggalkan di tempat ini.
Dan sejak hari itu, penduduk desa sekitar sering bercerita bahwa kadang kala, saat kabut tebal turun dan suasana sangat hening, terdengar suara tawa lembut dan percakapan dua orang dari arah bukit itu. Mereka bilang, itu bukan suara hantu, melainkan suara dua kekasih yang akhirnya berkumpul kembali, di kota Witera kota hantu yang tak pernah benar-benar mati, karena cinta di dalamnya tetap hidup selamanya.