Di sebuah kota kecil yang tidak terlalu ramai, ada seorang remaja bernama Nara yang baru saja pindah rumah bersama ibunya. Rumah mereka sederhana, berdinding putih kusam, berada di ujung jalan yang jarang dilewati orang.
Hari-hari awal terasa biasa saja sampai Nara mulai memperhatikan satu hal aneh: setiap kali ia pulang sore, selalu ada gang kecil di samping rumahnya yang tidak pernah ia ingat sebelumnya.
Gang itu sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan. Di ujungnya terlihat sebuah pintu kayu tua yang warnanya sudah menghitam, seperti terlalu lama terkena hujan dan waktu.
Yang membuat Nara bingung, setiap kali ia mencoba mengingat kapan gang itu ada, pikirannya selalu kosong. Seolah gang itu baru muncul saat ia tidak melihatnya.
Suatu sore, rasa penasaran mengalahkan pikirannya. Ia berjalan mendekati gang itu. Semakin dekat, udara terasa lebih dingin, meski matahari masih terang.
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kayu itu.
Tidak ada gagang. Tidak ada kunci. Hanya permukaan kayu yang penuh goresan seperti bekas kuku.
Dan di tengah pintu, ada tulisan yang sudah hampir hilang:
“Jangan buka jika kamu ingin tetap diingat.”
Nara menelan ludah.
“Apa maksudnya…” gumamnya pelan.
Angin tiba-tiba berhenti.
Bukan hanya angin—suara burung, kendaraan jauh, bahkan detak jantungnya sendiri terasa seperti dipelankan.
Pintu itu… bergerak sedikit.
Seperti ada sesuatu di dalamnya yang sadar ia sedang diperhatikan.
Nara mundur satu langkah. Tapi rasa ingin tahunya justru semakin besar, seperti ada sesuatu yang menariknya dari dalam dada.
“Kalau ini cuma pintu biasa, kenapa aku takut?” pikirnya.
Ia menyentuh kayu itu.
Dingin.
Terlalu dingin untuk benda yang terkena matahari seharian.
Saat jarinya menempel, tiba-tiba suara muncul dari balik pintu.
Bukan suara keras. Lebih seperti bisikan yang sangat dekat dengan telinganya.
“Masih ada satu orang yang ingat aku…”
Nara langsung menarik tangannya.
“Siapa itu?!” katanya gugup.
Tidak ada jawaban.
Tapi pintu itu kini terbuka sedikit, tanpa disentuh lagi.
Di dalamnya bukan ruangan rumah.
Bukan juga lorong.
Yang terlihat adalah ruang gelap seperti langit tanpa bintang, tetapi di dalam kegelapan itu ada banyak bayangan bergerak perlahan, seperti orang-orang yang sedang berjalan tanpa arah.
Nara mundur panik.
Namun saat ia menoleh ke belakang… gang itu sudah tidak ada.
Yang ada hanya dinding rumahnya sendiri.
Seolah gang tadi tidak pernah ada.
Jantungnya berdegup kencang.
“Ini mimpi…” katanya mencoba meyakinkan diri.
Tapi saat ia menoleh lagi ke pintu…
pintu itu masih ada.
Dan kini terbuka lebih lebar.
Dari dalamnya, satu tangan keluar perlahan.
Tangan manusia… tapi transparan seperti asap.
Tangan itu menunjuk ke arah Nara.
Dan suara yang sama terdengar lagi.
“Tolong jangan biarkan aku dilupakan sepenuhnya…”
Nara tidak tahu kenapa, tapi air matanya tiba-tiba jatuh.
Seperti ada rasa sedih yang bukan miliknya sendiri.
Dengan tangan gemetar, ia mendekat lagi.
“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya pelan.
Suara itu menjawab:
“Aku adalah tempat yang dulu dihuni banyak orang… sampai semua berhenti percaya aku ada.”
Nara terdiam.
“Kalau kamu membuka pintu ini,” lanjut suara itu, “aku akan kembali… tapi kamu akan menjadi satu-satunya orang yang mengingat bahwa aku pernah ada.”
Nara menatap pintu itu lama.
Di dalamnya, bayangan-bayangan itu semakin jelas. Seperti orang-orang yang tersenyum, berbicara, hidup… lalu perlahan menghilang seperti gambar yang terhapus.
Ia mengerti satu hal sederhana tapi berat:
Apa pun di balik pintu ini… sedang hilang dari dunia.
Dan hanya dia yang masih bisa mengingatnya.
Tangannya perlahan naik.
Gemetar.
Lalu berhenti tepat di depan pintu.
Hening.
Sampai akhirnya, ia berbisik:
“Kalau aku satu-satunya yang ingat… berarti aku juga bagian dari kamu.”
Ia mendorong pintu itu terbuka.
Cahaya gelap menelan segalanya.
Dan saat itu terjadi, dunia di sekitar Nara tetap terlihat sama…
tapi gang itu tidak pernah hilang lagi.
Karena sejak hari itu, setiap orang yang lewat di samping rumahnya selalu merasa ada sesuatu yang “pernah ada di sana”.
Mereka tidak tahu apa.
Tapi Nara tahu.
Dan setiap malam, dari ujung gang yang tidak pernah benar-benar terlihat lagi oleh orang lain, sebuah pintu kayu tua masih berdiri…
menunggu seseorang yang cukup berani untuk mengingatnya.