who am i.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Hana berdiri di jembatan penyeberangan orang, menatap aliran lampu kendaraan yang tampak seperti sungai api di bawahnya. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma aspal dan polusi, namun Hana merasa hampa.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah kartu nama berlapis emas: Hana Anindita – Senior Marketing Manager. Sebuah gelar yang diperjuangkannya selama sepuluh tahun, namun kini terasa seperti benda asing yang tidak memiliki arti.
Hilang dalam Keramaian
Hana telah mencapai segalanya yang dunia katakan sebagai "kesuksesan". Apartemen di lantai tiga puluh, mobil mewah, dan pengikut ribuan di media sosial. Namun, pagi itu, saat ia melihat pantulan wajahnya di cermin kamar mandi, ia tidak mengenali wanita itu.
"Siapa kau?" tanyanya pada bayangannya sendiri.
Bayangan itu hanya menjawab dengan lingkaran hitam di bawah mata dan senyum layu yang dipaksakan. Hana menyadari bahwa selama ini ia hanyalah sekumpulan ekspektasi orang lain yang dijahit menjadi satu:
Putri yang penurut bagi orang tuanya.
Pemimpin yang tangguh bagi anak buahnya.
Wanita yang sempurna bagi lingkungan sosialnya.
Tapi di mana Hana yang asli? Hana yang dulu suka memotret bunga liar di pinggir jalan? Hana yang bisa tertawa lepas hanya karena membaca buku puisi di taman?
Suara di Balik Hujan
Malam itu, hujan turun dengan deras, memaksa Hana berteduh di sebuah halte bus tua yang sepi. Di sana, duduk seorang wanita paruh baya yang sedang asyik merajut benang wol berwarna biru cerah.
"Warnanya cantik, ya?" sapa wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari jarum rajutnya.
Hana mengangguk pelan. "Iya. Tapi bukankah itu butuh waktu lama untuk menyelesaikannya?"
Wanita itu tersenyum. "Hidup juga begitu, Nak. Kadang kita terlalu sibuk ingin melihat hasilnya sampai kita lupa menikmati setiap tarikan benangnya. Kita kehilangan arah karena kita hanya melihat peta orang lain, bukan kompas hati sendiri."
Hana terdiam. Kalimat "kompas hati sendiri" bergema di kepalanya. Selama ini, kompasnya selalu menunjuk ke arah utara yang ditentukan oleh orang lain, bukan ke arah yang membuatnya merasa benar-benar hidup.
Menemukan Kembali Serpihan
Keesokan harinya, Hana melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh rekan kerjanya. Ia mengambil cuti panjang yang tak terbatas. Ia meninggalkan ponsel kantornya di laci meja dan pergi ke sebuah desa kecil di kaki gunung, tempat mendiang neneknya dulu tinggal.
Di sana, tidak ada yang memanggilnya "Manager". Penduduk desa hanya mengenalnya sebagai "Hana si cucu nenek".
Hana mulai melakukan hal-hal sederhana:
Menyentuh tanah: Ia mulai menanam sayuran di kebun belakang rumah.
Mendengar sunyi: Ia duduk berjam-jam hanya mendengarkan suara gesekan daun pinus.
Menulis jujur: Ia mulai mengisi jurnalnya bukan dengan strategi pemasaran, tapi dengan perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Definisi Diri yang Baru
Suatu sore, saat matahari terbenam dengan warna jingga yang membakar langit, Hana berdiri di tepi sawah. Ia tidak lagi mengenakan pakaian bermerek atau riasan tebal. Ia hanya Hana, dengan kaos lusuh dan kaki yang sedikit berlumpur.
Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri: "Who am i?"
Jawabannya kini tidak lagi datang dari kartu nama atau saldo bank.
"Aku adalah wanita yang mencintai aroma tanah setelah hujan. Aku adalah jiwa yang butuh waktu untuk bernapas. Aku bukan apa yang aku kerjakan, tapi bagaimana aku mencintai hidupku sendiri."
Hana menyadari bahwa kehilangan arah bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, kita harus benar-benar tersesat untuk bisa menemukan jalan pulang ke diri kita yang paling jujur. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hana tidur dengan nyenyak, tahu persis siapa yang akan ia temui di cermin esok pagi.