Suatu hari, suasana kantor Arumsari terasa lebih hidup dari biasanya. Hari itu, Raka—sepupu Vina yang baru saja lulus S2 dari Singapura—resmi mulai bergabung sebagai staf junior di bagian riset dan strategi.
Vina yang sedang meninjau laporan di ruangannya menerima kabar kedatangan Raka dari sekretaris. Ia tersenyum tipis, sedikit waswas, namun juga senang bisa menyambut keluarga.
Tak lama, Rian yang sedang memeriksa jadwal operasional masuk ke kantor Vina. Matanya langsung menangkap sosok muda yang baru saja melangkah masuk, rapi dan berwibawa, membawa aura percaya diri khas anak yang dibesarkan di Singapura.
“Vina… ini sepupumu, ya?” tanya Rian sambil menatap tajam, setengah penasaran, setengah cemburu.
Vina mengangguk, tersenyum. “Iya, ini Raka. Dia anak Tante Nindya, cucu Eyang Bahrul dan Eyang Arum, sama seperti kita. Umurnya sebaya sama Aruna… eh, maksudku sebaya sama aku,” jelas Vina sambil menahan tawa kecil.
Rian menelan ludah, dadanya berdebar sedikit. Ia mencoba menenangkan diri, tapi rasa cemburu samar muncul—Raka begitu dekat dengan Vina sejak kecil, dan aura internasionalnya membuat Rian merasa tersaingi meski sadar ini sepupunya sendiri.
Raka melangkah dengan sopan, tersenyum hangat ke Vina. “Halo, Vina. Senang akhirnya bisa ketemu langsung,” ucap Raka dengan logat sedikit terdengar Singapura, tapi tetap jelas dan sopan.
“Selamat datang, Raka,” sahut Vina sambil menepuk bahunya. “Kamu bakal betah di sini. Arumsari itu… ya rumah kedua keluarga kita.”
Rian mengangguk singkat, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Namun, matanya terus menatap Raka, memantau setiap gerak-geriknya.
Hari-hari berikutnya, Raka cepat beradaptasi. Ia terlihat rajin dan cerdas, membuat Vina bangga dan sesekali tersenyum sambil mengingat masa kecil mereka bersama. Tapi bagi Rian, setiap tawa Raka yang diarahkan ke Vina menimbulkan rasa cemburu yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Suatu sore, setelah rapat selesai, Vina dan Rian berjalan pulang bersama, sementara Raka masih berada di kantor menyelesaikan beberapa tugas.
“Yang… kamu kenapa sih? Dari tadi tatapanmu nggak lepas dari Raka,” ucap Vina sambil menatap Rian dengan mata menyingkap sedikit rasa penasaran.
Rian menghela napas, setengah tersenyum, setengah kesal pada dirinya sendiri. “Aku… nggak tahu kenapa, Vin. Rasanya… agak terganggu saja. Sepupumu itu terlalu mirip… eh, maksudku… dia terlalu dekat denganmu,” gumam Rian akhirnya, sambil menunduk malu.
Vina tertawa pelan, menggenggam tangannya. “Yang… tenang saja. Aruna dan aku masih milikmu. Raka itu keluarga, dan dia sepupu kita. Tidak ada yang akan menggeser posisi kamu di hati aku atau Aruna,” bisiknya menenangkan.
Malam itu, ketika mereka tiba di rumah, Aruna yang berusia lima tahun langsung berlari memeluk kaki ayahnya. “Pa! Pa! Aku mau cerita tentang Raka!”
Rian tersenyum, memeluk Aruna sambil menatap Vina. Ia sadar, kecemburuan kecil itu hanya sekadar rasa protektif terhadap keluarganya sendiri. Namun, ada satu hal yang pasti—di rumah ini, cinta dan kehangatan selalu menang atas rasa cemas yang muncul sesaat.
---