𝘽𝙮. 𝙂𝙪𝙚 & 𝙡𝙤
Jakarta, 14.32. SCBD. Langit mau jebol.
*Theo Laurent* keluar dari lift kantor Laurent Group lantai 40. Setelan Armani hitam, muka datar, aura -50°C. Asistennya, Pak Dharma, udah apal: radius 2 meter dari Pak Theo harus steril. Terutama dari perempuan.
Soalnya Theo Laurent, 29 tahun, CEO Laurent Group Indonesia, punya alergi aneh. *Haphephobia*. Sentuhan dari perempuan non-keluarga = sesak napas, mual, pandangan gelap. Dokter bilang psikomatis. Trauma masa kecil. Tapi efeknya nyata.
“Pak, meeting dengan Butik Montclair jam 3,” kata Pak Dharma. “Owner-nya mau _collab_ untuk _launching_ parfum baru kita.”
Theo ngerut kening. “Cewek?”
“Ya, Pak. Namanya Celestine Montclair. Umur 26. _Single_.”
Theo berhenti jalan. “_Reschedule_. Suruh manajer _marketing_ yang _handle_.”
“Tapi Pak, Nyonya Laurent dari Paris minta Anda yang turun langsung. Katanya ini _legacy project_.”
Nyonya Laurent = mamanya. Theo gak bisa nolak. Dia narik napas. “Siapin ruangan steril. Kasih pita pembatas. Jarak 3 meter.”
*Pukul 15.00. Ruang Meeting Lotus.*
Pintu kebuka. Masuk perempuan pake _midi dress_ sage green, rambut coklat bergelombang, senyum 100 watt. Ramah. Sinar matahari banget.
*Celestine Montclair*. Pemilik Butik Montclair di Kemang. Isi butiknya: _dress_ rancangan sendiri, parfum, _tea house_. Rating 4.9. Review: “Mbak Celine ramah banget kayak malaikat.”
Celestine ngulurin tangan. “Pak Theo? Saya Celine. _Nice to meet you_.”
Theo refleks mundur 1 langkah. Pita pembatas bergoyang. Mukanya makin dingin. “Duduk. Jangan dekat.”
Celestine bengong. Tangannya nggantung di udara. Terus dia ketawa kecil, nurunin tangan. “Oh, oke. Maaf ya, Pak. Saya kebiasaan salaman.”
Pak Dharma keringet dingin. “Jadi gini, Bu Celine. Pak Theo punya... kondisi khusus. Beliau kurang nyaman dengan kontak fisik.”
“Oh!” Mata Celestine membulat. “_Social anxiety_? _No problem_, Pak. Kita jaga jarak aja.” Dia duduk, jarak 3 meter, tapi senyumnya gak ilang.
Meeting jalan. Theo presentasi. Dingin. Arogan. Setiap Celestine nanya, jawabnya pendek.
“Kenapa _packaging_ harus hitam, Pak?”
“_Branding_.”
“Kalo dikasih pita gold gimana?”
“Norak.”
Celestine diem. Tapi tetep nyatet.
Selesai meeting, Celestine berdiri. Map-nya jatoh. Dia reflek nunduk ambil, Theo reflek nolong. Jari mereka... bersentuhan. Sedetik.
Theo kaku. Nunggu sesak. Nunggu mual. Nunggu gelap.
Gak ada.
Cuma anget. Dari ujung jari Celestine yang kena punggung tangannya.
Celestine angkat muka. “Eh, makasih Pak.” Matanya khawatir. “Bapak gapapa? Kok pucet?”
Theo narik tangan. Jantungnya lari maraton. “Keluar.”
Celestine bingung, tapi nurut. Pintu ketutup.
Theo napas ngos-ngosan. Bukan sesak. Kaget. 12 tahun. Baru kali ini sentuhan cewek gak bikin dia drop.
Pak Dharma panik. “Pak? _Inhaler_?”
Theo ngangkat tangan. “Gak usah. _Cancel_ semua jadwal. _Background check_ Celestine Montclair. Sekarang.”
Malamnya, di apartemen Theo, Senopati.
Laporan Pak Dharma: _Celestine Montclair. Lahir Paris, 12 Oktober. Pindah ke Jakarta umur 7 tahun. TK-SD di Sekolah Cinta Kasih Kemang. Ibunya orang Indonesia, Ayahnya Prancis. Yatim piatu sejak 15 tahun, dibesarkan sama Oma. Buka butik umur 22._
Theo berhenti di baris: _TK-SD di Sekolah Cinta Kasih Kemang_.
Dia juga sekolah di situ. Umur 5-7 tahun. Sebelum dipaksa balik ke Paris karena bokapnya meninggal.
Memori kabur muncul. Bocah cewek rambut dikuncir dua, bagi bekal _croissant_ ke dia. Bocah cewek yang megang tangannya pas dia nangis karena dibully. Bocah cewek yang...
Theo buka brankas. Ngeluarin kotak kayu kecil. Isinya foto lama. Foto kelas 2 SD.
Di pojok, ada dia. Theo kecil, muka datar. Di sebelahnya, bocah cewek senyum lebar, tangan mereka bergandengan. Di belakang foto, tulisan pensil anak-anak: _Theo + Celine = Teman Selamanya_.
Celine. Celestine.
Teman masa kecil yang dia lupa. Yang dulu jadi satu-satunya cewek yang bisa megang dia tanpa bikin dia sesak. Sebelum traumanya kejadian. Sebelum... insiden tante tirinya.
Theo remas foto itu. Jadi, _suddenly_ alerginya gak kumat karena dia Celestine?
Seminggu _project_ jalan. Theo maksa _meeting_ tiap hari. Alasan: _supervise_. Aslinya: ngetes.
Setiap Celestine gak sengaja nyenggol dia. Ngasih _sample_ parfum, naruh _draft_, ngambil pulpen barengan. Gak ada sesak. Cuma jantung Theo yang berisik.
Celestine bingung. CEO ini dingin, tapi kok makin sering manggil dia?
“Bu Celine, _revisi_.”
“Bu Celine, _coffee_.”
“Bu Celine, ikut saya survey pabrik.”
Sampai hari itu. Celestine denger gosip dari _office girl_.
“Pak Theo mah emang gitu. Deketin cewek buat _project_, abis itu buang. Dulu sekretarisnya juga gitu. Dikasih harapan, terus dipecat.”
Celestine diem. Pantes. Pantes Theo aneh. Ternyata dia cuma _project_.
Sore itu, di pabrik parfum. Theo jelasin proses _distilasi_. Jarak mereka deket. Celestine mundur.
“Kenapa?” Theo nyadar.
Celestine angkat dagu. “Pak Theo, saya mau _resign_ dari _project_ ini. _Hand over_ ke tim saya aja.”
Theo kaku. “Alasan?”
“Saya bukan sekretaris yang bisa Bapak permainkan,” jawab Celestine, nahan geter. “Saya _partner_. Kalo Bapak cuma mau manfaatin saya buat... buat sentuhan gak sengaja, mending stop.”
Theo bengong. “Maksud lo?”
“Semua orang tau Bapak alergi sentuhan. Tapi ke saya enggak. Bapak sengaja, kan? Buat ngetes? Atau buat mainin?” Mata Celestine berkaca. “Saya capek, Pak. Saya kira kita temen.”
_Temen_. Kata itu nusuk. Theo inget foto SD.
Dia maju. Celestine mundur sampe mentok dinding kaca pabrik.
“Lo pikir gue mainin lo?” Suara Theo rendah. Bahaya.
“Terus apa? Kenapa cuma ke saya Bapak normal?” Celestine tantang.
Karena lo Celine. Karena lo satu-satunya rumah gue. Tapi Theo gak bisa ngomong. 12 tahun jadi es.
Dia malah ngeluarin jurus arogan. “Iya. Gue ngetes. Puas?”
Plak.
Celestine tampar pipinya. Gak kenceng. Tapi cukup buat sedunia Theo berhenti.
Tangisan Celestine pecah. “Aku benci kamu, Theo Laurent!” Dia lari.
Theo diem. Pipinya panas. Tapi dadanya lebih panas. Dia alergi sentuhan. Tapi tamparan Celestine... gak bikin sesak. Cuma bikin sakit. Di hati.
Celestine _block_ semua akses. _Project_ mangkrak. Mamanya Theo dari Paris telpon.
“Theo, kamu apakan Celine? Dia anaknya sahabat Mama. Kalian temenan dari kecil!”
Theo tutup mata. “Aku ngusir dia, Ma.”
Malam itu, Theo ke Butik Montclair. Hujan. Butik tutup. Tapi lampu lantai 2 nyala. Itu apartemen Celestine.
Dia naik. Ketok pintu. Gak ada jawaban. Dia dorong. Gak dikunci.
Celestine duduk di lantai, dikelilingi album foto. Nangis. Di tangannya foto yang sama: Theo kecil + Celine kecil.
“Aku udah tau dari minggu lalu,” lirih Celestine tanpa noleh. “Oma kasih tau. Kamu Theo. Theo yang dulu bagi _croissant_ ke aku. Yang aku janjikan bakal jaga.”
Theo lututnya lemes. Dia jalan, duduk di depan Celestine. Jarak 10cm.
“Terus kenapa lo pergi?” suara Theo pecah.
“Karena Theo yang sekarang kejam,” Celestine angkat muka. Mata bengkak. “Theo yang dulu anget. Kamu... kamu pake traumamu buat nyakitin orang.”
Theo mau bantah. Tapi dadanya tiba-tiba sesak. Beneran sesak. Lama. Gelap. _Inhaler_ gak ada.
Dia tumbang. Kepalanya jatuh di pangkuan Celestine.
Celestine panik. “Theo? Theo! _Asthma_ kamu?” Tangannya panik megang pipi Theo, leher Theo, nyari napas.
Sentuhan. Banyak. Seharusnya Theo makin drop.
Tapi pas tangan Celestine nempel, sesaknya... hilang. Pelan-pelan. Kayak disedot.
Theo buka mata. Nemu mata Celestine. Basah. Takut. Sayang.
“Lo...” bisik Theo. “Obat gue.”
Celestine bantu Theo duduk. Masih nangis. “Kamu kenapa? Dokter mana?”
Theo genggam tangan Celestine. Erat. Gak sesak. “Gak perlu dokter. Perlu lo.”
“Jangan bercanda.”
“Gue gak bercanda,” Theo narik Celestine deket. Hidung ketemu hidung. “12 tahun gue alergi sentuhan. Karena pas umur 7, tante tiri gue... nyoba lecehin gue. Sejak itu, sentuhan cewek = bahaya. Kecuali lo. Dari dulu, cuma lo yang aman, Celine.”
Celestine diem. Air mata baru jatoh. “Terus kenapa kamu jahat ke aku?”
“Karena gue takut,” aku Theo jujur. Pertama kali. “Takut lo tau gue rusak. Takut lo pergi lagi kayak dulu pas gue dipaksa ke Paris. Jadi gue duluan yang nyakitin.”
Hening. Hujan di luar. Detak jam di dalam.
Celestine ngusap pipi Theo. Bekas tamparannya. “Maaf...”
Theo ketawa pait. “Harusnya gue yang minta maaf. 1000x.” Terus dia maju. Ragu. “Boleh?”
Celestine ngangguk. Pelan.
Theo nyium dia. Hati-hati. Kayak takut Celestine pecah. Ciuman pertama Theo 12 tahun. Gak ada sesak. Ada candu. Ada rumah. Ada Celine.
Ciuman berhenti karena Celestine narik diri. Nampol dada Theo. Pelan. “Tapi kita berantem dulu.”
Theo bengong. “Hah?”
“Kamu bilang ngetes aku,” Celestine nyubit pipi Theo. Gemes. “Kamu arogan. Kamu ngusir aku. Jadi kita berantem. 1x24 jam. Gak boleh baikan.”
Theo narik Celestine ke pelukannya. “Gak bisa. Gue udah telat 12 tahun, Celine. Gak mau telat sedetik lagi.”
“Harus!” Celestine meluk balik, tapi tetep ngomel. “Aku cewek. Aku mau _play hard to get_.”
“Lo udah dapet gue dari SD, Celine,” Theo bisik di kupingnya. “_Play_-nya udahan.”
Celestine ketawa di dada Theo. Lega. Sakit. Bahagia. “Dasar CEO arogan.”
“Iya. CEO arogan yang alergi semua cewek... kecuali pemilik Butik Montclair.” Theo kecup kepalanya. “_Suddenly_, it’s you. Dari dulu. Cuma kamu.”
3 Bulan Kemudian. _Launching_ Parfum _Laurent x Montclair: Suddenly_.
Di panggung, Theo gandeng Celestine. Pak Dharma nangis di pojok. “Pak Theo sembuh...”
Wartawan nanya: “Apa rahasia _collab_ sesukses ini, Pak Theo?”
Theo liat Celestine. Celestine senyum, nginjek kaki Theo pelan karena gugup.
Theo gak sesak. Dia malah senyum. Langka. Se-SCBD heboh.
“Rahasianya?” Theo angkat tangan Celestine, kecup punggung tangannya. Depan kamera. Depan dunia. “Saya alergi dunia. Tapi dia... antidot saya.”
Flash kamera. Celestine mukanya merah sampe kuping.
Malamnya, di apartemen Theo. Celestine masak _indomie_ jam 1 pagi. Theo meluk dari belakang, dagu di bahu Celestine.
“Theo,” Celestine muter, kompor masih nyala. “Kalau suatu hari aku gak ada gimana? Kambuh lagi dong alerginya?”
Theo diem. Terus dia senyum. Sedih dikit. “Enggak. Karena lo udah sembuhin akar gue, Celine. Dulu gue takut sentuhan karena takut ditinggal. Sekarang gue tau... sekalipun lo pergi, lo pernah tinggal. Di sini.” Dia nunjuk dada.
Celestine mata berkaca. “Ih, kok jadi sad.”
“Tapi kan happy,” Theo matiin kompor, angkat Celestine ke _kitchen island_. “Soalnya lo gak akan pergi. Iya kan?”
Celestine kalungin tangan di leher Theo. “Enggak. Aku janji. _Teman selamanya_, inget?”
“Teman. Pacar. Istri. Terserah lo,” Theo kecup bibirnya. Lama. Dalam. _No more allergy_.
Di luar, Jakarta hujan lagi.
Di dalam, Theo Laurent akhirnya pulang.
Ke rumah. Ke Celestine.
_Suddenly_, 12 tahun luka... sembuh cuma karena satu sentuhan.
_Suddenly_, teman masa kecil... jadi masa depan.
_Suddenly, it’s you_. Selalu kamu, Celine.
---
---
*EPILOG: SUDDENLY, I DO*
*2 Tahun Kemudian. Bali, The Ungasan. Sunset.*
200 tamu undangan. SCBD + Kemang jadi satu. Mamanya Theo terbang dari Paris. Omanya Celestine nangis dari H-7.
*Arkan Volkov* berdiri di altar. Jas putih, kacamata hitam, megang _ring box_. Jobdesc: _Best Man_. Realita: _Tukang spoiler_.
“Bro,” bisik Arkan ke Theo yang udah berdiri kaku di altar. “Tenang. Ini bukan sidang kasus. Ini sidang cinta. Kalo gugup, inget aja: lo dulu alergi cewek, sekarang alergi jauh dari Celine.”
Theo, jas navy, rambut klimis, natap Arkan datar. “Volkov, diem. Atau lo gue pecat dari _best man_.”
“Gak bisa, Bro. Gue satu-satunya yang tau rahasia lo: lo nangis pas nonton video _pre-wed_ sendiri.”
Theo noleh. “Lo juga.”
Musik mulai. Pintu kapel kebuka.
*Celestine Montclair* jalan bareng Omanya. Gaun _A-line_ satin putih, _veil_ selutut, rambut disanggul rendah + _baby breath_. Senyumnya 1000 watt. _Aura cwe_ maksimal.
Theo lupa napas. Bukan karena alergi. Karena cantik.
Celestine sampe di altar. Omanya nyerahin tangan Celine ke Theo.
“Jaga cucu saya,” bisik Omanya, bahasa Indonesia logat Jawa. “Dulu dia bagi _croissant_ ke kamu. Sekarang bagi hidup.”
Theo genggam tangan Celestine. Erat. Gak sesak. Gak gemeter. Cuma... _rumah_.
Pendeta: “Theo Laurent, apakah kamu bersedia mengambil Celestine Montclair sebagai istri, dalam susah maupun senang, dalam alergi maupun sembuh—”
Arkan nyamber: “EH BENTAR, PAK. KALIMAT TERAKHIR GAK ADA DI _SCRIPT_.”
Satu kapel ketawa. Celestine nutup muka. Theo natap Arkan. “Volkov.”
“Siap salah, Pak CEO,” Arkan hormat. “Lanjut, Pak Pendeta. _Sorry_ ya, _pure love_.”
Pendeta senyum, lanjut. “Theo Laurent, apakah kamu bersedia?”
Theo natap Celestine. Mata biru abu-abu yang dulu nenangin dia pas TK. Yang sekarang nyembuhin dia pas dewasa.
“_I do_,” jawab Theo. Suaranya gak dingin. Anget. “_Suddenly_, dari umur 7 tahun sampai sekarang. _It’s always you_, Celine.”
Giliran Celestine. Suaranya geter. “_I do_. Dulu aku janji jaga kamu. Sekarang janji nyembuhin kamu... tiap hari. _Suddenly, it’s you too_, Theo.”
Tukar cincin. Arkan ngasih _ring box_ sambil bisik: “Bro, ini platinum. Anti-alergi. Gue yang milih.”
Theo: “..._Thanks_, Volkov.”
Ciuman pengesahan. Theo narik Celestine pelan, kecup bibirnya. Gak ada sesak. Gak ada trauma. Ada tepuk tangan, ada Oma nangis, ada Mama Theo ngelap mata.
Pas lepas, Celestine bisik: “Sembuh beneran?”
Theo senyum, lesung pipi keluar. “Enggak. Aku masih alergi... alergi jauh dari kamu.”
Arkan di belakang: “WOY KALIAN UDAH SAH. BISA PELUKAN NANTI? GUE LAPAR.”
*Malam Hari. After Party, Private Beach.*
Celestine udah ganti _dress_ putih selutut, kaki telanjang di pasir. Theo kemeja putih digulung, jas dikalungin di bahu Celestine.
Arkan Volkov naik panggung, bawa mic. “Oke, sebagai _Best Man_, gue mau _speech_.”
Theo: “Jangan.”
Arkan: “Dulu, 2 tahun lalu, gue disuruh Pak Dharma _background check_ Celestine Montclair. Hasilnya: TK SD Cinta Kasih Kemang, teman sebangku Theo Laurent. Waktu itu Theo bilang ‘_Cancel_ semua’. Gue kira dia mau batalin _project_. Ternyata...”
Arkan angkat gelas. “Ternyata dia mau _cancel_ hidup jomblo-nya. Karena _suddenly_, dia ketemu obatnya. Teman masa kecil yang dulu bagi _croissant_, sekarang bagi nama belakang. _To Theo & Celine!_”
_Cheers_. Kembang api.
Theo rangkul Celestine dari belakang, dagu di bahu. Bisik: “Nyesel gak nikah sama CEO arogan?”
Celestine ketawa, senderin kepala. “Nyesel. Nyesel gak nikah dari SD aja.”
“Telat 20 tahun,” Theo kecup pelipis. “Tapi gue bayar lunas. Selamanya.”
Celestine muter, kalungin tangan di leher Theo. “Janji?”
“Janji,” Theo nunduk, kening ketemu kening. “Gue alergi dunia, Celine. Tapi sama kamu...”
“Aku antidot,” Celestine potong. Senyum. “Aku tau. Kamu bilang itu 200x.”
“Dan bakal gue bilang 2000x lagi,” Theo ngecup bibirnya. Pelan. Dalam. Di bawah kembang api, di depan laut, di depan semua orang.
Arkan dari panggung: “WOY KAMERA MANA KAMERA. MOMEN LANGKA: CEO ES BATU MELELEH!”
*Jam 00.00. Villa Honeymoon.*
Celestine rebahan, masih pake _dress_ putih. Theo duduk di pinggir ranjang, buka dasi.
“Theo,” panggil Celestine.
“Hm?”
“Besok kita ke mana?”
Theo naik ke ranjang, narik Celestine ke pelukannya. “Ke mana aja. Asal sama lo. Paris? Kemang? TK Cinta Kasih?”
Celestine ketawa. “_Deal_. Tapi sekarang...” Dia nunjuk bibir Theo. “Alergi ciuman udah sembuh belum?”
Theo senyum miring. Arogan-nya keluar dikit. “Coba aja. _Test clinical trial_ seumur hidup.”
Celestine nyubit pipi Theo. “Dasar CEO mesum.” Tapi dia yang duluan nyium.
Di luar, ombak Bali. Di dalam, Theo Laurent akhirnya _full recovered_.
Diagnosis: _Chronic Celestine Addiction_.
Obat: _Sentuhan Celine, tiap hari, tanpa dosis_.
Efek samping: _Bahagia_.
_Suddenly_, bukan cuma _It’s You_.
_Suddenly_, _It’s Us_.
_Suddenly_, _Forever_.
*12 Tahun Luka → 1 Sentuhan → Seumur Hidup.*
---
*EPILOG: SUDDENLY, I DO* 💍
Theo Laurent udah sembuh, Celestine Montclair udah jadi antidot. Sekarang tinggal _side effect_: Nikah. Arkan Volkov diundang jadi _Best Man_ tapi malah rusuh.
---
*EPILOG: SUDDENLY, I DO*
*2 Tahun Kemudian. Bali, The Ungasan. Sunset.*
200 tamu undangan. SCBD + Kemang jadi satu. Mamanya Theo terbang dari Paris. Omanya Celestine nangis dari H-7.
*Arkan Volkov* berdiri di altar. Jas putih, kacamata hitam, megang _ring box_. Jobdesc: _Best Man_. Realita: _Tukang spoiler_.
“Bro,” bisik Arkan ke Theo yang udah berdiri kaku di altar. “Tenang. Ini bukan sidang kasus. Ini sidang cinta. Kalo gugup, inget aja: lo dulu alergi cewek, sekarang alergi jauh dari Celine.”
Theo, jas navy, rambut klimis, natap Arkan datar. “Volkov, diem. Atau lo gue pecat dari _best man_.”
“Gak bisa, Bro. Gue satu-satunya yang tau rahasia lo: lo nangis pas nonton video _pre-wed_ sendiri.”
Theo noleh. “Lo juga.”
Musik mulai. Pintu kapel kebuka.
*Celestine Montclair* jalan bareng Omanya. Gaun _A-line_ satin putih, _veil_ selutut, rambut disanggul rendah + _baby breath_. Senyumnya 1000 watt. _Aura cwe_ maksimal.
Theo lupa napas. Bukan karena alergi. Karena cantik.
Celestine sampe di altar. Omanya nyerahin tangan Celine ke Theo.
“Jaga cucu saya,” bisik Omanya, bahasa Indonesia logat Jawa. “Dulu dia bagi _croissant_ ke kamu. Sekarang bagi hidup.”
Theo genggam tangan Celestine. Erat. Gak sesak. Gak gemeter. Cuma... _rumah_.
Pendeta: “Theo Laurent, apakah kamu bersedia mengambil Celestine Montclair sebagai istri, dalam susah maupun senang, dalam alergi maupun sembuh—”
Arkan nyamber: “EH BENTAR, PAK. KALIMAT TERAKHIR GAK ADA DI _SCRIPT_.”
Satu kapel ketawa. Celestine nutup muka. Theo natap Arkan. “Volkov.”
“Siap salah, Pak CEO,” Arkan hormat. “Lanjut, Pak Pendeta. _Sorry_ ya, _pure love_.”
Pendeta senyum, lanjut. “Theo Laurent, apakah kamu bersedia?”
Theo natap Celestine. Mata biru abu-abu yang dulu nenangin dia pas TK. Yang sekarang nyembuhin dia pas dewasa.
“_I do_,” jawab Theo. Suaranya gak dingin. Anget. “_Suddenly_, dari umur 7 tahun sampai sekarang. _It’s always you_, Celine.”
Giliran Celestine. Suaranya geter. “_I do_. Dulu aku janji jaga kamu. Sekarang janji nyembuhin kamu... tiap hari. _Suddenly, it’s you too_, Theo.”
Tukar cincin. Arkan ngasih _ring box_ sambil bisik: “Bro, ini platinum. Anti-alergi. Gue yang milih.”
Theo: “..._Thanks_, Volkov.”
Ciuman pengesahan. Theo narik Celestine pelan, kecup bibirnya. Gak ada sesak. Gak ada trauma. Ada tepuk tangan, ada Oma nangis, ada Mama Theo ngelap mata.
Pas lepas, Celestine bisik: “Sembuh beneran?”
Theo senyum, lesung pipi keluar. “Enggak. Aku masih alergi... alergi jauh dari kamu.”
Arkan di belakang: “WOY KALIAN UDAH SAH. BISA PELUKAN NANTI? GUE LAPAR.”
*Malam Hari. After Party, Private Beach.*
Celestine udah ganti _dress_ putih selutut, kaki telanjang di pasir. Theo kemeja putih digulung, jas dikalungin di bahu Celestine.
Arkan Volkov naik panggung, bawa mic. “Oke, sebagai _Best Man_, gue mau _speech_.”
Theo: “Jangan.”
Arkan: “Dulu, 2 tahun lalu, gue disuruh Pak Dharma _background check_ Celestine Montclair. Hasilnya: TK SD Cinta Kasih Kemang, teman sebangku Theo Laurent. Waktu itu Theo bilang ‘_Cancel_ semua’. Gue kira dia mau batalin _project_. Ternyata...”
Arkan angkat gelas. “Ternyata dia mau _cancel_ hidup jomblo-nya. Karena _suddenly_, dia ketemu obatnya. Teman masa kecil yang dulu bagi _croissant_, sekarang bagi nama belakang. _To Theo & Celine!_”
_Cheers_. Kembang api.
Theo rangkul Celestine dari belakang, dagu di bahu. Bisik: “Nyesel gak nikah sama CEO arogan?”
Celestine ketawa, senderin kepala. “Nyesel. Nyesel gak nikah dari SD aja.”
“Telat 20 tahun,” Theo kecup pelipis. “Tapi gue bayar lunas. Selamanya.”
Celestine muter, kalungin tangan di leher Theo. “Janji?”
“Janji,” Theo nunduk, kening ketemu kening. “Gue alergi dunia, Celine. Tapi sama kamu...”
“Aku antidot,” Celestine potong. Senyum. “Aku tau. Kamu bilang itu 200x.”
“Dan bakal gue bilang 2000x lagi,” Theo ngecup bibirnya. Pelan. Dalam. Di bawah kembang api, di depan laut, di depan semua orang.
Arkan dari panggung: “WOY KAMERA MANA KAMERA. MOMEN LANGKA: CEO ES BATU MELELEH!”
*Jam 00.00. Villa Honeymoon.*
Celestine rebahan, masih pake _dress_ putih. Theo duduk di pinggir ranjang, buka dasi.
“Theo,” panggil Celestine.
“Hm?”
“Besok kita ke mana?”
Theo naik ke ranjang, narik Celestine ke pelukannya. “Ke mana aja. Asal sama lo. Paris? Kemang? TK Cinta Kasih?”
Celestine ketawa. “_Deal_. Tapi sekarang...” Dia nunjuk bibir Theo. “Alergi ciuman udah sembuh belum?”
Theo senyum miring. Arogan-nya keluar dikit. “Coba aja. _Test clinical trial_ seumur hidup.”
Celestine nyubit pipi Theo. “Dasar CEO mesum.” Tapi dia yang duluan nyium.
Di luar, ombak Bali. Di dalam, Theo Laurent akhirnya _full recovered_.
Diagnosis: _Chronic Celestine Addiction_.
Obat: _Sentuhan Celine, tiap hari, tanpa dosis_.
Efek samping: _Bahagia_.
_Suddenly_, bukan cuma _It’s You_.
_Suddenly_, _It’s Us_.
_Suddenly_, _Forever_.
*12 Tahun Luka → 1 Sentuhan → Seumur Hidup.*
---
*-THE END-*