Pada pagi hari yang sangat cerah, ada seorang gadis yang memiliki kulit kaca, mata cokelat, dan berambut panjang. Gadis ini masuk ke kelas untuk pertama kalinya sebagai mahasiswi yang berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat berjalan menuju ke kelas, ada banyak orang yang berjejer di depan pintu kelas yang takjub melihat paras cantiknya seperti berada di dunia khayangan bahkan semua mata laki-laki tak berpaling dari kecantikannya.
Laki-laki yang takjub melihatnya paras cantiknya, berkata “ Wahhh… cantik sekali dia, dia memiliki kecantikan yang tidak ada di cewek lain. Mata cokelat, kulit bening seperti kaca, dan rambut panjang.”
Gadis cantik jelita tersebut bernama Sofia.
Ketika Sofia sudah masuk ke ruang kelas, semua mata teman-temannya plonga plongo dan kagum melihat Sofia masuk ke kelas. Namun, ada tiga orang mahasiswi bernama Melati, Tata, dan Chelsea yang berada di dalam kelas itu iri kepada Sofia karena semua pandangan laki-laki di dalam kelas itu hanya melihat Sofia.
“Iiiihhhh…. Gadis itu siapa sih? Kok baru pertama kali yahhh kita melihat gadis itu” ujar Melati dengan ekspresi marah dan cemberut.
“Iya yaa… kok dia lebih cantik daripada kita bertiga. Mel, hati-hati pacarmu terpicut dengan paras cantik gadis itu. HAHAHAHAHA……” saut kedua temannya untuk memanaskan keadaan.
Melati pun marah kepada kedua temannya dan berkata “DIAMMMMM... AWAS AJA KALIAN BERDUA”
Lalu, datanglah Pak dosen muda dengan membawa tas hitamnya, dan memegang buku. Ketika masuk, banyak mahasiswi dan mahasiswa terkejut melihatnya karena dosen itu seperti mahasiswa baru, padahal seorang dosen yang mengajar di mata kuliah bahasa Indonesia.
Saat memulai jam pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia, dosen tersebut meminta para mahasiswa untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Singkat cerita, tibalah waktu Sofia memperkenalkan diri. “Perkenalkan saya Sofia, saya berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia”.
Tiba-tiba Pak dosen memuji-muji Sofia di depan banyak mahasiswa dan berkata “ Kamu yang bernama Sofia ya?.. pantasan kecantikannya seperti bidadari selaras dengan namanya Sofia”. Lalu, Sofia pun tertawa manis karena mendengar perkataan dosen tersebut.
Tetapi, tiga orang mahasiswi yang iri dengki tersebut merasa kesal dan tidak menerima bahwa hanya Sofia saja yang sangat cantik di kelas itu dan dipuji oleh dosen karena seperti bidadari.
Pada minggu kedua, Pak dosen membagi enam kelompok untuk nilai akhir tugas. Pada pembagian kelompok, Sofia pun mendapatkan kelompok 2 sebagai ketua kelompok, Melati mendapatkan kelompok 1 sebagai ketua kelompok, sedangkan Tata dan Chelsea sebagai anggota kelompok yang berada di kelompok 3 dan kelompok 4.
Namun, Sofia dan teman-teman termasuk Tata yang berasal dari jurusan yang sama terlambat datang ke kelas karena pada pertemuan sebelumnya ada mata kuliah yang harus diselesaikan.
Ketika masuk ke kelas, Sofia dan beberapa temannya termasuk Tata merasa kebingungan karena di dalam kelas itu sudah dibagikan posisi kursi di kelompok masing-masing.
Pak dosen berkata “ Silakan di cari kelompoknya masing-masing yahhh..”
Setelah itu, teman-teman Sofia yang terlambat datang ke kelas itu mencari kelompoknya masing-masing dan telah mendapatkan dimana posisi kelompok mereka. Tetapi, tersisa hanya Sofia saja yang bingung mencari posisi kelompoknya berada.
Pak dosen berkata “ Kasihan yang satunya tidak tau dimana kelompoknya”. Teman-teman sekelas pun tertawa terbahak-bahak karena mendengar perkataan Pak dosen tersebut. Akhirnya, Sofia pun mendapatkan keberadaan posisi kelompoknya yang ternyata posisi kelompoknya ada di barisan paling belakang.
Kemudian, dimulailah pembelajaran bahasa Indonesia dan pak dosen memberi tugas setiap kelompok dengan materi yang berbeda. Kelompok pertama materinya adalah membahas diksi, kelompok kedua adalah membahas kalimat efektif, kelompok ketiga adalah membahas Proposal, kelompok keempat adalah membahas teks akademik dan non akademik, kelompok kelima adalah membahas teks paragraf, dan kelompok keenam adalah membahas teks laporan.
Setelah penentuan kelompok dan materi, Pak dosen menyuruh para mahasiswa itu untuk mencari materi masing-masing kelompok terlebih dahulu selama 10 menit dan perwakilan kelompok yang akan menyampaikan pandangannya masing-masing.
Waktu 10 menit mencari materi sudah habis. “Sekarang waktunya teman-teman menyampaikan pandangan masing-masing dari kelompoknya yahh” ujar Pak dosen. Lalu, Pak dosen membuat spin untuk urutan penampilan kelompok. Penampilan pertama adalah kelompok 3, penampilan kedua adalah kelompok 6, penampilan ketiga adalah kelompok 5, penampilan keempat adalah kelompok 4, penampilan kelima adalah kelompok 1, dan penampilan terakhir adalah 2.
Singkat cerita, setelah penempilan pertama hingga keempat sudah mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Saatnya kelompok 1 untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya yang akan diwakili oleh Melati. Melati yang sikapnya sombong, jahat, mempunyai sifat benci dan merasa paling pintar di kelas itu, dia terlihat sepele karena mata kuliahnya ini sangat gampang.
“ Untuk apa kita belajar dan mencari tahu materi ini” tanya melati dengan nada seperti menggurui.
“ Siapa ketua kelompok 1?” tanya Pak dosen.
“Saya pak..” ujar Melati dengan tangan diangkat.
“ Ok, mohon maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya”.
“Baik, Pak” ujar melati sambil berdiri dari kursinya dan maju ke depan.
Saatnya Melati mempresentasikan hasil diskusinya, Melati membuka presentasi hasil diskusi kelompoknya dengan gugup, terbata-bata bahkan banyak kesalahan dalam penyampaian kata dan masih melihat teks buku.
Teman-teman menertawakan melati karena merasa sok pintar.
“Katanya pintar, kok banyak yang salah sih dalam presentasinya. Aku sih malu yahh sebagai ketua kelompok kalau seperti Melati mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. HAHAHAHAHA……”
Melati pun berteriak “Apaan sihhh…emang kalian sehebat apa?”
Permasalahan yang semakin tegang itu, Pak dosen melerainya dengan cara mengatakan
“ Udahhh…kita semua disini masih belajar. Jangan ada menjelek-jelekkan satu sama lain.”
Kemudian, Pak dosen menunjuk kelompok 2 untuk menyampaikan pandangannya. Ketua kelompok 2 yaitu Sofia berjalan ke depan dan menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. “Perkenalkan saya Sofia sebagai ketua kelompok 2, pada kesempatan kali ini saya akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok 2 tentang kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kejelasan dari segi makna dan tidak mubazir kata.”
Semua teman sekelasnya pun bertepuk tangan karena penyampaian hasil diskusi kelompokmya Sofia sangat bagus dan tidak melihat teks buku berbeda dengan kelompok 1.
“Wahhhh… sangat bagus presentasinya Sofia. Udah cantik, pintar lagi. Beri tepuk tangannya sekali lagi teman-teman.” Ujar Pak dosen. Pak dosen ketika melihat dan mendengarkan presentasinya yang sangat luar biasa tersebut, memberikan senyuman manis dan tepuk tangan yang sangat keras.
“ Ok teman-teman, waktu pembelajaran kita pada hari ini sudah habis. Nanti saya kirimkan tugas individu bahasa Indonesia di WhatsApp. Kumpulkan pada hari Senin di minggu ketiga yaa..” ujar Pak dosen.
Melati pun mulai iri dan sangat membenci Sofia karena Melati kini tidak dianggap cantik dan pintar di kelas. Akhirnya melati menyusun rencana busuknya untuk minggu depan.
“ Awass kau Sofia … Lihat saja pembalasan ku” ujar Melati.
Saat tiba hari Senin pada minggu depan, Melati menjalankan rencana busuknya yaitu menyembunyikan tugas bahasa Indonesianya Sofia yang akan dikumpulkan.
Melati berkata dalam hati sambil tertawa jahat.
“ Mampuss kau Sofia, lihat saja apakah kau masih dianggap pintar dan rajin.”
Pembelajaran dimulai, Pak dosen melanjutkan materinya dan menyuruh para mahasiswa mengumpulkan tugas yang telah diberikan. Ketika Sofia ingin mengumpulkan tugasnya, ia terkejut karena dia merasa benar-benar buku tugasnya itu sudah dimasukkan ke dalam tas dan tugasnya telah dia kerjakan dalam waktu semalaman. Sofia pun menangis hingga membuat warna matanya merah sekali dan bercucuran banyak sekali air mata karena tugasnya tiba-tiba raib dalam sekejap dan tidak tau siapa yang mengambil buku tugasnya.
Sofia mengadu kepada Pak dosen dengan mata berkaca-kaca dan suara isak.
“ Pakk… Pak… buku tugas saya hilang Pak. Saya semalam sudah benar-benar melihat dan memasukkan tugas saya ke dalam tas. Tetapi, saat masuk kelas ini, tiba-tiba buku saya raib dalam sekejap.”
“ Bagaimana bisa Sofia? Buku mu tiba-tiba hilang” Tanya pak dosen
“Saya tidak tahu Pak, saat masuk kelas buku saya tiba-tiba hilang begitu saja”.
Pak dosen terdiam sejenak untuk memikirkan solusinya. Kemudian, Pak dosen melihat sudut-sudut tembok kelas. Apakah ada CCTV atau tidak, dan ternyata ada CCTV di dalam kelas itu. Pak dosen pun menghubungi pihak Security Center dan mengajak Sofia untuk melihat rekaman CCTV. Setelah rekaman CCTV dapat diakses, terbongkarlah bahwa Melati merupakan dalang utama dari kejadian ini, Sofia yang melihat rekamannya tersebut menangis terjerit.
Sofia dan Pak dosen pun kembali ke kelas dan membawa bukti rekaman CCTV. Lalu, Pak dosen berkata “Teman-teman, saya telah mendapatkan bukti rekaman yang sangat jelas dan kita akan melihat siapa dalang utama dibalik kejadian ini.” Setelah itu, Pak dosen menayangkan rekaman CCTV itu di hadapan semua mahasiswa di dalam kelas itu. Melati yang melihatnya pun sangat panik, takut ditangkap polisi dan hanya bisa terdiam. Para mahasiswa yang melihatnya juga tidak menyangka bahwa Melati dalang utama dari kejadian ini.
“ Mohon maaf Pak dan Sofia, saya adalah pelaku kejadian ini karena saya membenci Sofia” ujar Melati.
Pak dosen yang bingung pun langsung menanyakan alasan Melati melakukan perbuatan jahat ini kepada Sofia.
“ Kenapa kamu melakukan perbuatan ini Melati?”
Melati pun menjawab “ Saya melakukan ini karena ketika pertama kali Sofia masuk ke kelas, semua orang hanya tertuju dan memuji-muji Sofia dan saya tidak terima itu Pak.”
Setelah mendengar jawaban Melati, Pak dosen memberikan pencerahan kepada Melati bahwa “Tindakan mengambil milik orang lain, apalagi sebuah buku tugas, bukan sekadar pencurian barang fisik, melainkan pencurian nilai intelektual dan kerja keras sesama mahasiswa. Di universitas, kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar tentang etika dan kejujuran. Tanpa integritas, gelar sarjana yang kamu kejar nantinya tidak akan memiliki makna apa pun di mata masyarakat.”