Hujan deras turun malam itu.
Air menetes dari ujung atap rumah seperti tangisan yang ditahan terlalu lama.
Vinca duduk di dekat jendela kamarnya sambil memeluk lututnya. Di ruang tamu, suara televisi menyala keras. Papanya ada di sana dan seperti biasa, beliau sedang duduk diam di depan televisi dengan wajah lelah sepulang kerja.
Ada satu hal yang selalu membuat dada Vinca sesak.
Papanya selalu ada di rumah.
Tapi tidak pernah benar-benar hadir untuknya.
Vinca mencoba mendekatinya, meskipun ada rasa takut di hatinya.
Takut kembali dikecewakan.
“Pa…” panggil Vinca suaranya kecil.
“Hmm?” sahut Papa tanpa menoleh.
“Aku besok tampil nyanyi di sekolah.” ucap Vinca penuh harap.
Ia sangat berharap Papanya akan merespon dengan bahagia.
Tapi Papanya tidak menoleh sama sekali. Matanya tetap fokus ke layar televisi.
“Iya.”
Hanya itu responnya
Tidak ada senyum bangga.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada, kata “Jam berapa acaranya?” atau “Papa boleh datang ya.”
Vinca menunduk pelan sambil menggigit bibirnya.
“Kalau papa sibuk gapapa kok…aku bisa berangkat sendiri.” ucapnya
“Papa capek, Vinca.”
Kalimat itu terdengar lagi.
Kalimat yang lebih sering ia dengar dibanding kalimat “Papa sayang kamu.”
Vinca tersenyum kecil meski matanya mulai panas.
“Iya pa…” ucapnya lalu kembali ke kamarnya dengan rasa kecewa.
Malam itu ia kembali tidur sambil memeluk bantal dan membayangkan rasanya dipeluk oleh Papanya sendiri.
Sejak kecil, Vinca selalu iri pada anak-anak lain.
Ia iri melihat teman-temannya dijemput ayah mereka sambil digendong.
Iri melihat mereka tertawa bersama ayah mereka.
Iri mendengar cerita sederhana seperti, “Papa tadi ngajarin aku naik sepeda.” atau "Papa ajak aku nongkrong di cafe."
Karena Vinca tidak punya kenangan itu, Vinca hanya diam saja.
Papanya memang membiayai sekolahnya.
Membelikan makan.
Memberi uang saku.
Tapi kasih sayang?
Kosong.
Papanya seperti tembok besar yang dingin.
Hari pentas pun tiba.
Vinca berdiri di belakang panggung sambil berkali-kali melihat ke pintu aula sekolah.
Ia berharap Papanya datang.
Ia sangat berharap Papanya hadir dan menyaksikan penampilannya.
“Mungkin papa datang telat…” gumamnya pelan
Tangannya dingin.
Matanya terus mencari sosok laki-laki yang paling ingin ia lihat.
Sampai akhirnya acara dimulai.
Dan kursi untuk wali murid miliknya tetap kosong.
Iya kosong.
Persis seperti hatinya.
Saat naik ke atas panggung, Vinca tetap tersenyum.
Ia bernyanyi pelan dengan suara bergetar.
Di tengah lagu, matanya tiba-tiba menangkap seorang ayah di barisan depan yang merekam anaknya yang menari sambil tersenyum bangga.
Dadanya langsung sesak.
Nada terakhir lagu itu pecah bersama air matanya.
Seluruh aula mengira Vinca menangis karena terharu.
Padahal sebenarnya…
Ia hanya lelah karena merasa tidak dicintai.
Malamnya Vinca pulang lebih dulu
Pialanya ia taruh di meja makan agar Papanya tahu bahwa ia menang.
Papanya baru pulang satu jam kemudian.
“Apa ini?” tanya Papanya singkat saat melihat pisla itu.
“Aku juara satu lomba nyanyi loh Pa.” jawab Vinca Antusias
“Oh.”
Lagi-lagi hanya itu tanggapan Papanya.
Tidak ada kalimat "Selamat ya sayang!" Atau "Papa bangga banget sama kamu."
Vinca menatap papanya lama sekali sambil menahan tangis.
“Papa…” panggilnya
“Ada apa?” Papa menoleh kearahnya
“Kalau aku hilang… papa bakal nyariin aku gak?” tanya Vinca dengan suara pelan.
Papa menghela napas kasar.
“Jangan ngomong aneh-aneh Vinca! Papa capek.”
Hati Vinca runtuh saat itu juga ketika mendengar jawaban Papanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar…
Mungkin Papanya memang tidak pernah menginginkannya.
Mungkin Papanya membencinya karena ia sangat mirip dengan Mamanya.
Kedua orang tua Vinca memang memutuskan untuk bercerai karena cinta pertama Mamanya telah kembali. Saat itu usianya baru 3 tahun dan ia tidak ingat apa-apa.
Sejak saat itu ia tinggal bersama Papanya karena sang Mama tidak mau memrawatnya.
Setiap harinya ia ditemani oleh Bi Sumi dan Oma, tetapi ketika usianya 10 tahun Oma meninggal dunia karena sakit. Dan sejak hari itu tidak ada lagi yang menemaninya di malam hari saat Papanya belum pulang.
.........
Hari-hari setelah kejadian itu rumah berubah makin dingin.
Vinca jadi lebih pendiam, dan lebih sering mengurung diri di kamar.
Di sekolah ia tetap ceria.
Bercanda dengan teman-temannya.
Tetap tersenyum
Tapi setiap pulang ke rumah, matanya kembali kosong.
Suatu malam ia demam tinggi.
Tubuhnya menggigil hebat.
Sedari pulang sekolah ia hanya makan beberapa suap saja dan setelah itu ia hanya berbaring di tempat tidurnya.
Kebetulan hari itu Bi Sumi ijin karena beliau ingin menjenguk anak perempuannya yang baru saja melahirkan.
“Pa…” panggilnya lirih dari kamar.
Ia merasa haus, tapiia tidak sanggup untuk bangun.
Tak ada jawaban.
Papanya tertidur di sofa karena terlalu lelah bekerja.
Vinca mencoba bangun sendiri dan mengambil air minum.
Namun langkahnya goyah.
Dan.....
BRUK!!
Tubuh kecil itu jatuh di lantai.
Suara gelas pecah membuat Papa terbangun.
“Vinca?!”
Suaranya itu terdengar panik, saat ia melihat anak perempuannya terbaring di lantai dengan wajah pucat dan dengan napas tersengal.
Papa segera membopong tubuh lemah Vinca dan membawanya ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Vinca segera dibawa ke IGD dan Dokter segera memeriksanya dan meminta Papa untuk menunggu di luar.
Suasana rumah sakit itu mendadak terasa begitu sunyi.
Sesekali Papa mondar mandir di depan pintu IGD dengan wajah cemas
Beberapa menit kemudian Dokter keluar dengan wajah serius.
“Anaknya sudah terlalu lama sakit dan kelelahan secara mental. Kondisinya menurun drastis.” Dokter menjelaskan dengan detail.
Papa terpaku.
“Kelelahan… mental?”
Dokter menatapnya sebentar lalu melanjutkan penjelasannya.
“Anak ini menyimpan banyak tekanan sendirian dan.....”
Kalimat itu menghantamnya telak.
Setelah itu ia tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan Dokter.
Pikirannya kalut dan ada rasa sesal di hatinya.
Malam itu Papa duduk di samping ranjang rumah sakit dan menemani Vinca.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan wajah anak perdmpuannya.
Wajah pucat itu.
Tangan kecil yang dingin itu.
Mata sembab yang bahkan saat tidur pun terlihat sedih.
Tiba-tiba ingatan demi ingatan datang menghantam di benaknya.
Tentang Vinca kecil yang selalu menunggu untuk dipeluk.
Tentang Vinca yang sering membawa gambar untuk diperlihatkan padanya.
Tentang Vinca yang berkali-kali mencari perhatiannya.
Dan semuanya…
Selalu ia abaikan.
Dadanya mulai sesak.
“Vinca…” gumam Papa suaranya pecah.
Anak itu membuka mata perlahan.
“Papa…" gumamnya dan untuk pertama kalinya lelaki yang ia panggil "Papa" itu menggenggam tangannya erat-erat.
“Maafin papa…” bisik Papa dengan suara bergetar.
Vinca melihat air mata yang jatuh dari mata lelaki yang selama ini terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaan sayangnya.
“Papa salah… papa pikir cari uang itu cukup…” kata Papa disela isakannya.
Vinca menatapnya lama.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku cuma pengen dipeluk, sama Papa…” ucapnya dengan suara lemah.
Papa menunduk dan terisak pelan.
Kalimat sederhana itu mampu menghancurkan seluruh pertahanan hatinya.
Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya di depan anak perempuannya.
Ia memeluk tubuh Vinca erat.
“Papa sayang Vinca… papa sayang banget sama Vinca…” bisiknya di telinga putrinya
Tubuh kecil itu akhirnya tersenyum.
Senyum yang selama ini selalu ia tunggu.
“Papa…”
“Iya nak…”
“Aku seneng akhirnya papa kembali…”
Tangisan lelaki itu makin pecah.
“Papa di sini… papa gak akan pergi lagi…” bisiknya
Namun monitor di samping ranjang tiba-tiba berbunyi panjang.
Vinca telah menutup matanya dan menghembuskan nafas terakghirnya di pelukan Papanya.
“Vinca?”
“Vinca?!”
Papa terus berteriak dan memanggil namanya.
Dokter dan perawat berlari masuk ketika mendengar teriakan itu.
Papa terdorong mundur ketika Dokter memeriksa kondisi Vinca.
Ia melihat tubuh kecil putrinya tak lagi bergerak.
“Tidak… tidak… Vinca!!” Jerit Papa. Tangannya gemetar hebat. “Vinca bangun… Papa di sini… Papa udah kembali Nak…”
Tapi semuanya terlambat.
Sangat terlambat.
Vinca sudah pergi untuk selamanya.
Meninggalkan penyesalan yang begitu dalam di hati Papanya.
Beberapa minggu kemudian, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada lagi suara langkah kaki kecil.
Tidak ada lagi suara nyanyian dari kamar Vinca.
Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Di meja makan itu masih ada piala milik Vinca.
Dan di kamar anak itu, Papanya menemukan sebuah buku harian kecil yang terletak di atas meja belajar.
Di halaman terakhir tertulis:
“Aku selalu berharap suatu hari Papa bakal meluk aku dan bilang kalau papa sayang sama aku.
Walaupun cuma sekali…
Karena buat orang lain mungkin itu hal biasa.
Tapi buat aku… itu adalah impian terbesar.”
Malam itu lelaki itu kembali menangis sambil memeluk buku harian itu di lantai kamar putrinya.
Dan ia sadar bahwa anaknya tidak pernah meminta terlalu banyak.
Vinca hanya ingin dicintai dan ingin dekat dengan Papanya sendiri.
Dan ia sangat terlambat untuk menyadarinya.
"Maafin Papa sayang" bisik Papa sambil memeluk buku harian itu.