Di dalam hujan, kurengkuh tubuhnya yang dingin dengan erat. Semua orang menatap kami iba. Aku menggeleng ribut, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk semata. Mata indah yang selalu menatapku kini terpejam erat. Bibir yang selalu tersenyum kini terkatup pucat.
Mereka mencoba melepaskan pelukanku. Aku meraung, memberontak, memohon untuk tetap bersamanya. Tangisku tak pernah berhenti saat tubuhnya lenyap dibalik pintu ruang operasi.
Aku mencoba menggapainya, mencoba mengikatnya tetap bersamaku dengan harapan yang tak kunjung sirna. Tidurku tak pernah lelap, hariku tak pernah berjalan. Aku terdiam menatap tubuhnya yang terbaring lemah diatas ranjang, dengan alat alat penopang hidup sebagai jiwanya.
Waktu berjalan dengan lambat, menyisakan ruang yang tak pernah siap melepasnya. Kutatap sendu wajahnya yang tertidur lelap dan tak kunjung bangun.
"Kamu pasti bisa... aku tunggu, ya," bisikku setiap harinya
Seolah olah Tuhan tahu, jiwaku tengah terombang ambing di ruang gelap, menunggu setitik cahaya datang. Ia berbaik hati, membukakan mata indah yang kini menatapku dengan binar kecil yang kurindukan. Senyumnya menyapaku, membuatku menangis haru dalam diam.
Kupeluk tubuhnya erat, tak ingin kulepaskan lagi. Tangannya yang lembut mengusap wajahku penuh kasih. Tubuhnya tak sekuat dulu, wajahnya menirus membuat ku menatapnya sendu. Meski begitu, ia selalu tersenyum, menyapa hangat hari hariku seperti biasa.
Hidupku mulai berjalan kembali.
Mentari kurasakan lagi hangatnya dan senja menunjukkan kembali keindahannya. Waktu kugunakan dengan lebih baik, kuhabiskan bersamanya setiap saat, seolah tak ada hari esok lagi.
"Jangan terus bersedih," ujarnya lirih.
Kuanggukkan kepalaku tanpa mengerti arti sebenarnya yang ia ucapkan. Kugenggam tangannya, kurekam semua keindahannya dalam penglihatanku selama mungkin. Takut takut jika aku hanya bermimpi. Namun jika benar, aku harap tak pernah bangun dalam mimpi ini.
"Aku seperti bermimpi melihat mu di sampingku lagi."
Dia terdiam, hanya tersenyum lembut, mengusap rambutku pelan. Banyak tempat yang kita kunjungi, dengan gelak tawanya yang membuat hariku kembali berwarna. Di sebuah taman, kita terdiam saling bergandeng tangan, melihat langit biru yang tenang. Aku memeluknya sangat erat, merasakan hangat tubuhnya yang mungkin tak bisa lagi kurasakan.
Hari berganti hari, tubuhnya semakin melemah yang membuat hatiku terasa tersayat. Setiap terbangun, aku menoleh kearahnya, memastikan jika ia masih berada di sampingku. Pada malam hari, kupeluk erat tubuhnya tanpa melepasnya sedikit pun. Dia membelai punggungku, merasakan kegelisahan yang selalu hingga di setiap tidurku.
"Jangan meninggalkanku lagi," ucapku lirih, tanpa sadar air mataku turun membasahi tengkuk lehernya.
"Jika seandainya waktuku tak lama lagi, jangan terlalu bersedih. Jalani hidupmu dengan baik, oke?" aku menggeleng ribut, semakin menangis dibuatnya.
"Kau tahu, jika semua orang akan pergi, bukan? Maka, ayo bersiap untuk melapangkan hati agar suatu saat hidup kita tak terlalu berat."
"Ingatlah aku dengan senyuman terindahmu."
Sejak awal dia bangkit dari rasa sakitnya hanya untuk menyuruhku hidup dengan baik, tidak harus memaksa untuk bahagia hanya cukup untuk menjalani hari kedepannya. Kadang kala aku selalu merasa marah kepada Tuhan. Kenapa di kehidupan yang sekali ini, kita tak bisa bersama lebih lama?
Hilangnya menciptakan luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. Setiap kali merasa kehilangan arah, gema tawanya datang membisik, membuatku merasa lebih baik. Setiap waktu, aku mencoba menjalani hidup tanpa arah, tanpa rumah yang membuatku merasa aman.
Sering kali aku membawakan mawar putih untuknya, meletakkan dengan senyuman terbaik yang kupunya. Aku bersyukur kala Tuhan memberiku kesempatan untuk kita saling berpamitan, memberikan kenangan yang menjadi penopang untukku bertahan hidup didunia tanpa kamu didalamnya.
"Hiduplah dengan baik, aku akan menunggumu disini."
Aku tak tahu hidup baik seperti apa yang ia maksud, aku hanya hidup seperti biasanya-bekerja, pulang, kemudian tertidur setiap harinya. Ada kalanya aku menangis dan ada kalanya aku juga tersenyum kecil.
Hadirmu ternyata seberarti itu ya? hilangmu menciptakan ruang kosong dalam diriku. Ruang yang membuatku bahkan tak mampu untuk sekadar tertawa. Setiap kali hujan datang, aku menangis tanpa henti agar tangisku tak terdengar olehmu. Banyak kata yang belum sempat terucap... bahwa aku orang beruntung yang menjadi bagian kecil dari kisahmu.
Selamat tinggal kekasihku...
Jika memang kehidupan selanjutnya benar benar ada...
Mari bertemu kembali, merangkai kisah indah yang sempat terhenti...
Dan
Sampai jumpa kembali di lain waktu, jiwaku...