"Kursi Kosong di Wisuda"
Aku Dara. Hari ini wisuda.
Toga kebesaran. Make up ku minta ke MUA paling mahal. Soalnya kata Mama, "Foto wisuda cuma sekali seumur hidup, Ra."
Iya, Ma. Sekali. Makanya Dara pengen Mama ada.
Jam 06.00
Gue kirim foto ke nomor Mama. Ma, Dara cantik kan?
Centang satu. Dari 2 tahun lalu centang satu terus.
Mama meninggal pas gue semester 3. Kecelakaan. Pulang nengok gue yg tipes di kost.
Kata terakhir Mama di telpon: "Dara makan ya, Mama otw bawa sup."
Supnya nyampe. Mamanya nggak.
Jam 08.00 di GSG
Semua bawa ortu. Papah-mamah, buket bunga, balon "Congrats".
Gue bawa 1 kursi kosong. Gue booking dari panitia. Sebelah gue.
Temen nanya: "Ra, itu buat siapa?"
Gue: "Buat Mama. Dia janji dateng."
Anak-anak diem. Dosen wali peluk gue. "Kuat ya, Ra."
Nama gue dipanggil.
"Dara Ayu Lestari, S.Kom, Cumlaude."
Gue jalan. Tiap langkah berat. Soalnya biasanya Mama yg teriak paling kenceng.
Sampe panggung. Rektor salamin. Kasih map.
Gue noleh ke kursi kosong di barisan ortu. Gue lambaikan map itu.
"Ma, Dara lulus cumlaude. Sesuai janji Dara pas Mama di ICU. Dara nggak ngulang matkul. Dara dapet beasiswa. Dara... kangen."
Plong. Lega. Tapi kok makin sesek.
Selesai acara.
Anak-anak foto keluarga. Gue foto sama kursi kosong. Gue taruh toga, map, buket bunga dari temen di atas kursi itu.
"Ma, ini bunga pertama Dara. Dara taruh sini ya. Biar Mama bisa cium dari surga."
Tiba-tiba ada yg nepuk bahu.
Bapak kost. Pakde Jono. Bajunya batik nggak disetrika. Bawa plastik isi sup ayam.
"Ra, Ibumu nitip ini. Katanya kamu pasti belum makan dari pagi."
Gue bengong. "Pakde dapet dari mana?"
"Semalem Ibumu dateng ke mimpi Bapak. Bilang: 'Tolong Jono, besok anterin sup ke wisuda anakku. Dia pasti nggak sarapan. Dia maag.' Terus resepnya juga dibisikin."
Plastik sup itu anget. Persis kayak sup Mama. Ada wortel bentuk bunga. Cuma Mama yg motong wortel gitu.
Gue peluk Pakde Jono. Nangis kenceng. Pertama kali setelah 2 tahun.
Di kursi kosong, map wisuda gue ketiup angin. Kebuka.
Di dalemnya, ada sticky note kecil nyelip. Tulisan tangan Mama:
"Pinter banget anak Mama. Mama nonton dari paling depan, Ra. Bangga. -Mama"
Gue nggak pernah naro sticky note itu.
Hari itu gue tau: Mama nggak absen. Mama cuma duduk di kursi yg nggak keliatan manusia.
[TAMAT]