Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk jendela kamar Nara seperti seseorang yang ingin masuk dan membawa kabar buruk. Gadis kecil berusia tiga belas tahun itu duduk memeluk lutut di sudut tempat tidurnya, matanya menatap kosong ke arah halaman rumah yang gelap.
Ia baru saja melihat sesuatu lagi.
Bukan mimpi.
Bukan khayalan.
Melainkan masa depan.
Sejak kecil, Nara selalu bisa melihat potongan kejadian yang belum terjadi pada seseorang. Kadang hanya sekilas, kadang begitu jelas seperti film yang diputar tepat di depan matanya. Awalnya ia mengira semua orang juga mengalaminya. Sampai suatu hari, ketika ia berusia sembilan tahun, ia bermimpi tentang pamannya.
Dalam mimpinya, jalanan malam terlihat basah karena hujan. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Pamannya berjalan pulang dari tempat kerja sambil membawa tas hitam di bahunya.
Lalu tiba-tiba—
Suara klakson terdengar keras.
Sebuah mobil melaju terlalu cepat dari tikungan.
Pamannya menoleh kaget, namun semuanya terlambat.
Tubuh pria itu terpental ke jalan.
Tasnya jatuh. Hujan bercampur darah memenuhi aspal.
Nara terbangun sambil menangis malam itu.
Pagi-pagi sekali ia langsung mencari ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di meja bersama kakak perempuan dan ayah yang sudah duduk di kursi untuk meminum kopinya.
“Ibu... bilang ke Paman jangan pulang lewat jalan raya dekat toko tua...” katanya dengan suara gemetar. “Paman bakal ketabrak mobil...”
Namun orang-orang dewasa hanya saling berpandangan.
Ayahnya menghela napas panjang.
“Jangan bicara aneh-aneh, ra”
Dari arah belakang tempat dia berdiri Pamannya muncul sambil tertawa kecil dan mengacak rambutnya.
“Kamu kebanyakan mikir aneh-aneh ya?”
Nara terus memohon. Bahkan sampai menangis dan memegangi tangan pamannya agar tidak pergi bekerja esok hari. Tetapi tak seorang pun percaya.
Dan keesokan malamnya, kabar itu datang.
Pamannya meninggal tertabrak kereta saat pulang kerja.
Rumah mereka dipenuhi tangisan. Semua orang syok. Semua orang berduka.
Dan Nara hanya berdiri diam di sudut ruang tamu sambil menggigil memeluk dirinya sendiri.
Ia tahu.
Ia sudah tahu sejak awal.
Namun tak seorang pun mendengarkannya.
Mereka hanya menganggap itu kebetulan.
Sejak saat itu, Nara mulai takut pada penglihatannya sendiri.
Namun ketakutan terbesar datang tiga tahun kemudian.
Hari itu ibunya sedang memasak di dapur ketika Nara melihat bayangan aneh muncul di belakang tubuh wanita itu. Sebuah kamar rumah sakit. Bau obat-obatan. Monitor jantung berbunyi pelan. Tangan ibunya terasa dingin dalam genggamannya.
Lalu suara panjang memekakkan telinga.
Nara tersentak.
Gelas yang dipegangnya jatuh dan pecah di lantai.
Ibunya terkejut. “Nara? Kamu kenapa?”
Wajah Nara pucat pasi.
“Ibu...” suaranya bergetar. “Jangan pergi jauh minggu depan... jangan naik mobil malam-malam... tolong...”
Ibunya tersenyum lembut sambil membersihkan pecahan kaca.
“Kamu mimpi buruk lagi?”
“Ini bukan mimpi...” mata Nara mulai berkaca-kaca. “Ibu bakal pergi...”
Malam itu ia mencoba memberitahu kakaknya.
Kakaknya hanya kesal. “Jangan ngomong sembarangan soal Ibu.”
Ia mencoba memberitahu ayahnya.
Ayahnya marah besar.
“Cukup! Jangan bawa-bawa kematian lagi di rumah ini!”
Nara terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kemampuannya adalah kutukan.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan rasa takut yang terus menghantuinya. Ia selalu ingin menghentikan ibunya pergi. Selalu ingin mengatakan lebih banyak. Tetapi setiap kali melihat wajah keluarganya yang lelah dan kesal, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Sampai malam itu tiba.
Telepon rumah berdering saat hujan deras turun.
Ayahnya mengangkat telepon sambil mengernyit.
Lalu wajah pria itu berubah pucat.
Kakaknya berdiri perlahan.
Dan Nara...
Nara sudah tahu sebelum mereka menangis.
Ibunya mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dan tidak berhasil diselamatkan.
Rumah itu kembali dipenuhi tangisan seperti dulu.
Namun kali ini berbeda.
Karena Nara tidak menangis keras.
Ia hanya duduk diam memeluk dirinya sendiri dengan tatapan kosongnya, merasa sesak oleh rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan.
Di pemakaman, kakaknya tiba-tiba teringat sesuatu.
“Dulu... Nara pernah bilang soal Ibu...”
Ayahnya membisu.
Mereka mulai menghubungkan semuanya. Tentang paman. Tentang kecelakaan. Tentang ketakutan di mata Nara selama ini.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Malam setelah pemakaman, ayahnya masuk ke kamar Nara. Wajah pria itu tampak jauh lebih tua dari biasanya.
“Ayah minta maaf...” katanya lirih.
Namun Nara hanya menatap jendela.
Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah berharap orang lain percaya padanya.
“Aku capek...” bisiknya pelan.
Sejak malam itu, Nara berubah.
Ia tumbuh menjadi anak yang pendiam. Tidak pernah lagi menceritakan penglihatannya kepada siapa pun. Bahkan ketika ia melihat kecelakaan kecil, kehilangan, atau kematian seseorang, ia memilih diam.
Bukan karena ia tidak peduli.
Melainkan karena ia tahu rasanya tidak dipercaya.
Dan lebih menyakitkan lagi...
Melihat orang yang ia sayangi pergi, sementara dirinya sudah mengetahui akhirnya sejak awal.