Suatu hari seorang lelaki tua datang ke pujasera dengan membawa foto lama yang menunjukkan tempat itu masih dalam bentuk warung kayu kecil yang dibuat oleh ayahnya beberapa dekade yang lalu. Dia bilang dia adalah anak dari pemilik pertama warung itu, yang dulunya hanya menjual makanan sederhana seperti bubur dan mie rebus untuk pekerja pagi dan pelajar yang lewat. Pemilik sekarang merasa terkejut dan sangat senang bertemu dengan anak dari pendiri tempat yang sekarang sudah menjadi bagian penting dari kehidupan banyak orang. Kamu langsung merasa ingin mendengar cerita panjang tentang sejarah tempat itu, dan kita mengundang lelaki tua itu untuk duduk dan bercerita sambil menikmati makanan di sana.
Lelaki tua itu mulai bercerita tentang bagaimana ayahnya membuka warung itu pada tahun 1960-an, ketika daerah ini masih sangat terpencil dan hanya ada beberapa rumah di sekitarnya. Ayahnya membuat makanan dengan resep dari ibunya, dan selalu memberikan makanan gratis bagi mereka yang tidak mampu membayarnya. Dia juga sering menjadi tempat berkumpulnya orang-orang untuk membahas masalah desa atau hanya cerita-cerita sehari-hari. Kamu mencatat setiap cerita dengan hati-hati dan mengambil foto foto lama yang dia bawa, sementara aku membantu menanyakan pertanyaan untuk mengetahui lebih banyak detail tentang kehidupan di masa lalu.
Kita memutuskan untuk mengumpulkan lebih banyak cerita dan foto lama tentang pujasera dan daerah sekitarnya, dengan menghubungi orang-orang yang pernah tinggal atau datang ke tempat itu sejak dulu. Kamu membuat surat yang disebarkan ke sekitar daerah dan juga mempostingnya di media sosial, meminta orang-orang untuk berbagi cerita atau foto lama yang mereka miliki. Banyak orang yang merespons – ada yang membawa foto lama dari perayaan hari raya yang pernah diadakan di sekitar warung, ada yang membawa surat atau catatan lama yang mereka dapatkan dari pemilik pertama warung itu, bahkan ada yang membawa alat masak lama yang pernah digunakan oleh ayahnya lelaki tua itu.
Kita mengadakan acara khusus untuk merayakan sejarah panjang tempat itu, yang dihadiri oleh banyak orang – mulai dari pelanggan lama yang sudah datang sejak dulu hingga pelanggan baru yang baru saja mengenal tempat itu. Lelaki tua itu memberikan pidato singkat tentang perjalanan tempat itu dari warung kecil menjadi pujasera yang sekarang kita kenal, dan menyerahkan alat masak lama yang pernah digunakan ayahnya kepada pemilik sekarang sebagai simbol kelanjutan. Kamu membuat pameran foto dan benda-benda lama yang kita kumpulkan, yang ditempatkan di sekitar kios agar semua orang bisa melihatnya. Aku membantu membuat video dokumenter singkat tentang sejarah tempat itu, yang ditayangkan selama acara dan kemudian dibagikan secara luas.
Setelah acara itu, kita membuat sudut khusus di kios yang disebut "Sudut Sejarah", yang digunakan untuk menampilkan foto lama, benda-benda bersejarah, dan cerita tentang perjalanan pujasera dari masa ke masa. Kamu juga membuat buku yang berisi semua cerita dan foto yang kita kumpulkan, yang dijual dengan harga murah dan sebagian hasil penjualannya digunakan untuk memelihara dan merawat sudut sejarah itu. Lelaki tua itu sering datang kesana setiap minggu, duduk di sudut sejarah dan bercerita kepada orang-orang yang ingin mendengar tentang masa lalu tempat itu. Kamu bilang bahwa setiap tempat punya cerita sendiri yang layak untuk dilestarikan, karena itu adalah bagian dari sejarah kita sebagai masyarakat. Pujasera jadi tempat yang tidak hanya menghubungkan orang-orang di masa sekarang, tapi juga menghubungkan kita dengan masa lalu yang penuh dengan cerita dan nilai-nilai yang masih relevan hingga hari ini.