Di koridor SMA Pelita Bangsa yang mulai temaram, suara derit sepatu lari terdengar beradu dengan sunyi. Arunika, seorang siswi kelas 11 yang dikenal karena rasa ingin tahunya yang berbahaya, berdiri mematung di depan Loker 404.
Loker itu seharusnya kosong sejak lima tahun lalu, sejak tragedi menghilangnya seorang siswi bernama Clarissa. Namun sore itu, sepucuk surat berwarna merah darah terselip di celah pintunya.
“Cari aku di lab biologi sebelum jam tujuh, atau temanmu tidak akan pernah pulang.”
Napas Arunika memburu. Sahabatnya, Tiara, memang belum terlihat sejak jam pelajaran terakhir berakhir. Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju gedung lama di sayap barat sekolah.
Setiap langkahnya seolah diawasi oleh pasang mata dari balik bingkai foto kepala sekolah yang berderet di dinding. Begitu sampai di depan pintu lab biologi, bau formalin yang menyengat menusuk hidung. Perlahan, ia mendorong pintu yang berat itu.
"Tiara?" bisiknya.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kaca yang berdebu. Di tengah ruangan, sebuah kursi kayu tegak berdiri dengan seseorang yang terduduk lemas di atasnya, kepala tertutup kain hitam.
Arunika mendekat dengan tangan gemetar. Saat ia menyentuh kain itu, sebuah suara tawa kecil terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan.
"Selamat datang di permainan terakhir, Arunika," suara itu terdistorsi, berat dan dingin.
Arunika menyentakkan kain tersebut. Jantungnya hampir copot. Itu bukan Tiara. Itu adalah manekin anatomi manusia yang bagian dadanya dibelah, dan di dalamnya terdapat jam digital yang terus berdetak mundur.
00:59.
00:58.
"Siapa kau?! Di mana Tiara?!" teriak Arunika histeris.
Tiba-tiba, pintu lab tertutup otomatis dan terkunci rapat. Suara gerinda yang berputar tajam terdengar dari bawah lantai kayu yang ia pijak. Ini bukan sekadar misteri sekolah biasa; ini adalah jebakan maut seorang psikopat yang telah mengincar Arunika sejak lama.
Arunika melihat ke sekeliling dengan kalap. Matanya menangkap sebuah pesan tertulis di papan tulis dengan kapur putih: 'Kunci ada di dalam perut 'dia'.'
Arunika menatap manekin itu. Ia harus memasukkan tangannya ke dalam rongga dada manekin yang penuh dengan cairan lengket dan bau busuk untuk mengambil kunci, sementara lantai di bawahnya mulai bergetar hebat, siap untuk terbuka dan menjatuhkannya ke dalam mesin penghancur di bawah sana.
Dengan teriakan tertahan, Arunika merogoh dalam-dalam. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Tepat saat angka menunjukkan 00:01, ia berhasil menarik kunci tersebut dan berlari ke pintu.
Klik! Pintu terbuka tepat saat lantai di belakangnya amblas ke bawah.
Arunika terduduk di koridor, terengah-engah. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Di ujung koridor yang gelap, berdiri sesosok bayangan tinggi menggunakan topeng kelinci yang memegang kapak perak. Di tangan kirinya, ia menyeret pita rambut milik Tiara yang berlumuran darah.
"Babak kedua dimulai," bisik sosok itu tanpa suara, hanya melalui gerakan bibir di balik topeng.
Arunika sadar, malam ini sekolahnya bukan lagi tempat mencari ilmu, melainkan sebuah labirin maut yang dirancang khusus untuknya. Dan ia hanya punya satu pilihan: berlari atau mati.
Mau lanjut?