> *Dunia selalu menuntut kita untuk memiliki koordinat yang pasti, namun malam ini, Hana Seoul tampak seperti lautan cahaya tanpa tepi bagi dua remaja yang lelah berlari. Di atas balkon lantai sepuluh, di antara tumpukan buku Biologi dan aroma sisa rice bowl pedas, Evan dan Rev menyadari satu hal: terkadang, cara terbaik untuk menemukan diri sendiri adalah dengan membiarkan kompas itu hilang sejenak.*
Setelah Evan kembali dari toilet, suasana ruang tamu terasa lebih intim. Sekarang waktunya curhat malam. Di bawah langit Hana Seoul yang berwarna ungu pekat, lampu-lampu kota mulai terbangun. Rev duduk sendirian di sofa, menatap kerlap-kerlip jalanan Gangnam yang tak pernah tidur. Angin malam yang sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma musim gugur yang mulai mendekat. Di tangannya, sebuah kaleng soda yang sudah mendingin menjadi teman bisunya.
Evan melangkah keluar, membawa sebungkus keripik kentang. "*Mian, neomu neujeotji?* (Maaf, lama ya?)" katanya sambil nyengir. Evan mengambil posisi di samping sahabatnya, siap melanjutkan obrolan yang tertunda.
"Jadi, bagian mana dari hidup ini yang mau kau bedah sekarang?" tanya Evan sembari menghempaskan diri ke bantal sofa. "Tentang rencana setelah lulus nanti? *Malhaebwa* (Ceritalah)."
Rev menghela napas panjang. "Aku cuma merasa... semua orang seperti sudah punya peta, Van. Sedangkan aku, aku bahkan tidak tahu apakah aku sedang memegang kompas yang benar." Suaranya terdengar parau, mencerminkan beban ekspektasi yang ia simpan rapat.
Evan mendengarkan tanpa memotong. Ia memandang langit, mencari bintang yang jarang terlihat karena polusi cahaya kota. "Tahu tidak? Kadang-kadang, tidak punya peta itu berarti kita bebas memilih jalan mana pun yang kita suka. *Gwaenchana* (Tidak apa-apa)."
Evan menyodorkan keripiknya ke arah Rev—sebuah gestur sederhana yang berarti 'aku di sini bersamamu'. Rev mengambil segenggam dengan senyum kecil. "Aku sering berpikir kalau aku harus menjadi sehebat orang-orang di papan iklan itu," lanjut Rev, menunjuk layar LED besar di kejauhan. "Tapi malam ini, duduk di sini bersamamu, semuanya terasa lebih sederhana."
"Seoul itu luas, Rev. Dan kita masih punya banyak waktu untuk tersesat dan menemukan jalan pulang," kata Evan sambil menepuk bahu sahabatnya.
---
**(Sisi Lain: Treadmill yang Tak Pernah Berhenti)**
Malam semakin larut, rintik hujan mulai membasahi jendela. Kini giliran Evan yang bercerita. "Rasanya seperti berlari di *treadmill* yang tidak pernah berhenti," bisiknya pelan. "Setiap hari kita cuma dituntut jadi angka di kertas ujian, seolah apa yang kita rasakan nggak ada artinya. *Jinshiya* (Sungguh)."
Evan mengambil buku catatan tua dari bawah meja, memperlihatkan sketsa-sketsa rahasianya. "Orang tuaku mau aku jadi dokter, tapi tiap kali aku pegang pensil, aku ngerasa lebih hidup daripada saat belajar Biologi."
Rev menoleh ke arah jendela yang basah. "Gue takut kalau milih jalan yang mereka mau, gue bakal kehilangan diri sendiri di tengah jalan. *Naega nugu-inji ijjeobeorilkka bwa* (Aku takut lupa siapa diriku)."
"Setidaknya gue nggak sendirian yang ngerasa tersesat, kan?" Evan mencoba tersenyum tipis.
Rev meletakkan tangan di pundak Evan, menggenggamnya kuat. "Kita bakal cari jalannya bareng-bareng, Van. Kalaupun kita tersesat, setidaknya kita tersesat di arah yang kita pilih sendiri. *Hamkke gaja* (Ayo jalan bareng)."
---
**(Keputusan Menginap)**
"Eh, *btw* Van, sudah pukul 22.00 saja. Aku mau pulang ya!" pamit Rev sambil merapikan tasnya.
Evan menahan lengan sahabatnya. "Tapi Rev, dari tadi kamu sudah menguap terus. *Neo neomu pigonhae boyeo* (Kamu kelihatan sangat capek). Kenapa kamu tidak menginap di sini saja?"
"Besok aku ganti seragam putih-abunya pakai punya siapa? Kamu tahu sendiri rumahku lumayan jauh," ragu Rev.
Evan tertawa. "Tenang, Rev! Aku punya baju seragam putih-abu tiga pasang! Kamu bisa pakai punyaku besok. *Geokjongma* (Jangan khawatir)."
Rev terdiam sejenak, lalu meletakkan tasnya kembali. "Ya sudah deh... toh kayaknya ortuku besok sore baru pulang juga. *Gomawo*, Van."
> *Jam dinding terus berdetak menuju pagi, namun untuk malam ini, waktu seolah membeku di ruang tamu Evan. Tidak ada peta yang perlu dibaca, tidak ada jalur yang harus dipaksakan. Di bawah atap yang sama, dua seragam putih-abu yang disiapkan untuk esok menjadi saksi bahwa meski masa depan masih berupa kabut tebal, mereka tidak keberatan untuk tersesat sedikit lebih lama—asalkan ada sahabat yang melangkah di sisi yang sama. "Tidurlah, Rev. Besok kita hadapi 'treadmill' itu lagi bersama-sama."