Di bawah langit Agra yang memucat, di mana matahari terbenam seperti tetesan darah yang mulai mengering di atas hamparan sungai Yamuna, aku berdiri. Aku adalah musafir tanpa arah, seorang peziarah yang membawa tasbih dari butiran air mata yang tak kunjung usai. Di hadapanku, Taj Mahal berdiri dengan segala kemegahan marmer putihnya—sebuah puisi yang dipahat dari kesedihan seorang Kaisar, sebuah doa yang dibekukan dalam batu, sebuah makam yang lebih hidup daripada detak jantungku sendiri.
Angin berhembus membawa aroma melati yang layu dan debu dari daratan Hindustan. Aku melangkah perlahan, menyeret bayang-bayangku yang terasa lebih berat dari tubuhku. Di sini, cinta bukan sekadar kata; cinta adalah arsitektur dari sebuah kehilangan. Aku teringat pada lantunan jiwa yang pernah dituliskan Khalil Gibran, bahwa cinta tidak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri, dan tidak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki, dan tidak pula dimiliki. Namun, di hadapan monumen ini, aku merasa cinta adalah pencuri yang paling mahir; ia mencuri bahagiaku dan meninggalkan aku dengan kekosongan yang megah.
Relakan seseorang yang kamu cintai, bisik angin di telingaku, adalah proses panjang yang perlahan mengikis bahagia dalam dirimu. Aku menyentuh dinding marmer yang dingin, merasakan guratannya seperti menyentuh luka lama. Bukan karena cintamu kurang kuat, wahai musafir, tapi karena semesta seolah tak pernah berpihak. Aku melihat bayangan Mumtaz Mahal dalam kabut imajinasiku, dan aku melihat wajahmu di antara lengkungan kubah yang sempurna itu. Kamu adalah doa yang kupanjatkan dengan air mata yang jatuh diam-diam di malam-malam yang sunyi, di mana hanya Tuhan yang menjadi saksi betapa hancurnya seorang hamba karena sebuah nama.
Aku duduk bersimpuh di pelataran yang luas, membiarkan duniaku menyempit hanya pada titik di mana rindu ini bermuara. Seperti Rabindranath Tagore yang bernyanyi tentang pertemuan di tepian sungai keabadian, aku pun menunggumu di sini, di persimpangan antara ingatan dan kenyataan. Aku pernah berharap setiap harinya hanya tentang kamu. Aku pernah menyusun rencana-rencana kecil di bawah cahaya bulan, tentang bagaimana kita akan menua seperti senja di sungai Gangga. Namun, di Taj Mahal ini, aku disadarkan bahwa tidak semua rasa layak diperjuangkan sampai habis-habisan. Ada saatnya tangan yang menggenggam harus melonggar, bukan karena ia lelah, tapi karena ia tahu bahwa yang digenggamnya adalah udara yang ingin terbang bebas.
Kamu mulai belajar menerima, walau hatimu menolak dengan teriakan yang paling sunyi. Aku berjalan mengitari makam ini, tujuh kali putaran layaknya thawaf seorang pecinta. Setiap langkah adalah upaya untuk menjauh, walau jiwaku ingin tetap tinggal di sisimu selamanya. Aku mulai belajar tersenyum di tengah luka yang tak pernah bisa kusembuhkan sendiri. Lihatlah aku sekarang, berpura-pura menjadi pengembara yang tangguh di depan para turis yang tertawa, padahal di dalam kepalaku namamu masih berisik seperti pasar-pasar di Delhi. Suaramu masih terngiang di antara kumandang adzan yang menyayat dari menara-menara tinggi, dan senyummu masih kuingat dengan jelas melampaui keindahan kaligrafi ayat-ayat suci yang terukir di pintu masuk makam ini.
Aku mencoba menghapus kenangan, tapi kenangan adalah ukiran yang dipahat sedalam fondasi bangunan ini. Tak bisa dibuang begitu saja. Aku mencoba mencintai orang lain, mencari pelarian di mata-mata asing yang kutemui di perjalanan, tapi tak ada yang mampu menggantikan tempatmu. Kamu adalah kiblat dari segala rinduku. Aku mencoba membenci ketidakadilan takdir ini, aku mencoba membenci kepergianmu, tapi hatiku tetap lembut jika bicara tentang kamu. Seperti marmer ini yang tetap terlihat putih bersih meski dihantam badai dan debu selama berabad-abad, begitulah cintaku padamu; tak tersentuh oleh amarah.
Di antara semua itu, aku tetap mencintai dalam diam, dalam jarak yang sejauh Agra ke tempatmu berada, dalam rindu yang tak bisa kutunjukkan pada dunia. Aku belajar mengikhlaskan tanpa menghapus rasa, sebuah paradoks yang lebih rumit dari pola geometri Islam yang menghiasi dinding-dinding ini. Belajar menerima tanpa benar-benar rela, dan belajar berjalan sendiri tanpa arah yang jelas. Mungkin inilah bentuk paling sunyi dari cinta, ketika aku harus melepaskan seseorang yang aku tahu adalah satu-satunya yang ingin kugenggam selamanya.
Malam mulai turun menyelimuti Taj Mahal. Cahaya bulan memantul pada permukaan marmer, membuatnya tampak seperti hantu yang cantik. Aku teringat pesan dari sufi-sufi masa lalu, bahwa cinta sejati adalah ujian tentang ketiadaan. Aku tetap berdoa agar kamu bahagia, walau bukan denganku. Aku tetap berharap kamu baik-baik saja, meski aku sendiri tidak pernah benar-benar baik semenjak kehilangan kamu. Hatiku adalah reruntuhan yang coba kubangun kembali menjadi sebuah kuil pengabdian.
Akhirnya, di bawah kubah besar yang menggantungkan sunyi, aku sadar bahwa cinta bukan selalu soal memiliki. Cinta adalah keberanian untuk melepaskan, saat tetap bersamamu hanya membuatku terluka lebih dalam setiap harinya. Aku adalah musafir yang kini harus meninggalkan gerbang Taj Mahal. Aku melangkah keluar, membelakangi kemegahan itu, membawa luka yang kini telah menjadi bagian dari identitasku.
Biarlah rindu ini tetap ada, tersimpan rapat di balik lipatan sajadah dan di setiap tarikan nafasku. Aku tidak akan membuang cintaku, aku hanya akan menyimpannya di tempat yang paling dalam, di mana dunia tak bisa lagi menyakitinya. Selamat tinggal, kekasih yang tak pernah bisa kumiliki. Aku pergi mencari Tuhan, sambil membawa secuil namamu dalam saku jubahku yang usang. Di hadapan keabadian, kita hanyalah debu yang merindukan cahaya, dan mungkin di sana, di tempat di mana tak ada lagi perpisahan, kita akan benar-benar mengerti mengapa semesta pernah begitu kejam memisahkan kita. Kini, biarlah aku berjalan dalam sunyi, mengikhlaskanmu dalam setiap detak jantung yang masih tersisa.