Lampu-lampu jalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, masih berpijar redup ketika Ridwan terbangun oleh getaran ponsel di atas nakas. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Di luar, suara klakson kendaraan yang melintas di kejauhan menjadi latar belakang sunyi yang mencekam. Ridwan mengucek matanya, mencoba mengusir kantuk yang masih menggelayut berat, lalu membuka notifikasi WhatsApp yang terus memberondong.
Grup "Kantin Utama—Sektor 4" yang baru dibuat kemarin sore kini banjir pesan. Nama Ridwan ditandai berkali-kali oleh akun bernama "Bapak Gunawan—Owner".
"Ridwan, saya tidak mau tahu. Besok jam 11.30 siang, menu Ayam Goreng Serundeng Lengkuas, Sambal Hejo, dan Tumis Buncis Muda harus sudah ready di meja VIP dan meja karyawan. Jangan ada alasan belum belanja atau peralatan belum siap. Saya bayar kamu untuk kerja, bukan untuk alasan. Pastikan 40 porsi tersedia tepat waktu. Titik!"
Ridwan tertegun. Napasnya tercekat. Baru tadi siang ia menjalani interview di kantor megah itu sebagai pengelola kantin sekaligus koki utama. Hasilnya manis: ia dinyatakan lolos dengan tawaran gaji yang cukup untuk melunasi cicilan motor dan membayar tunggakan kontrakan di gang sempit daerah Tebet. Manajer HRD, Pak Aris, bahkan sudah menjabat tangannya dengan hangat, memberitahu bahwa hari pertama hanya diisi dengan bersih-bersih dan inventory alat. Tidak ada jadwal memasak, apalagi menu VIP yang rumit.
Namun, di Jakarta, rencana hanyalah debu di bawah roda mobil para penguasa.
Ridwan mencoba mengetik balasan dengan tangan gemetar. "Mohon maaf Pak Gunawan, untuk dana belanja dan kunci gudang belum saya terima dari Pak Aris. Apakah ada anggaran yang bisa saya ambil malam ini?"
Hanya centang biru. Tidak ada jawaban. Ridwan terduduk di pinggir ranjang, menatap istrinya yang terlelap dengan raut wajah kelelahan. Istrinya baru saja sembuh dari sakit, dan kabar Ridwan diterima kerja adalah obat paling mujarab bagi mereka berdua. Ridwan tidak boleh mengacaukan ini. Ia harus menunjukkan bahwa ia adalah koki yang bisa diandalkan, meski tantangan ini terasa seperti misi bunuh diri.
Pagi buta, pukul lima, Ridwan sudah berdiri di depan gerbang kantor. Jakarta masih berkabut asap knalpot. Ia menunggu dengan cemas. Gerbang baru dibuka pukul enam oleh petugas keamanan yang menatapnya dengan heran. Ridwan masuk ke area kantin yang masih gelap dan berbau debu renovasi. Ia segera menyingsingkan lengan baju, mulai membersihkan kompor gas besar yang berkerak dan mencuci kuali-kuali raksasa yang belum tersentuh air berbulan-bulan.
Waktu terus merayap. Pukul tujuh, delapan, sembilan. Belum ada tanda-tanda Pak Aris atau uang belanja.
"Mana bahannya?" gumam Ridwan panik. Ia memeriksa dompetnya sendiri. Hanya ada lima puluh ribu rupiah, sisa ongkos dan makan siang yang ia hemat mati-matian. Tidak mungkin cukup untuk memberi makan 40 orang dengan menu ayam serundeng.
Barulah pukul 10.15, Pak Aris muncul dengan wajah kusut dan napas terengah. Ia menenteng beberapa kantong plastik besar berisi ayam potong, lengkuas, dan sayuran.
"Maaf, Ridwan! Keuangan baru cair jam sepuluh tadi. Saya langsung lari ke pasar terdekat. Ini bahannya, seadanya dulu. Tolong, Bos sudah marah-marah di atas. Dia ada tamu penting jam setengah dua belas!" ujar Pak Aris sambil meletakkan belanjaan di atas meja stainless yang baru saja dilap Ridwan.
Ridwan melirik jam di dinding. 10.20. Hanya ada satu jam sepuluh menit untuk mengolah ayam mentah, memarut lengkuas, membuat bumbu halus, menggoreng serundeng agar renyah, memasak nasi untuk 40 orang, dan menyiapkan sambal hijau. Secara logika kuliner, ini mustahil.
"Pak, ini mepet sekali. Ayamnya harus diungkep dulu supaya meresap—"
"Lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan, Ridwan! Kalau telat, posisi kita berdua taruhannya," potong Pak Aris sebelum menghilang di balik lift.
Ridwan tidak punya waktu untuk mengeluh. Ia berubah menjadi badai di dapur. Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar seperti rentetan tembakan. Ia memarut lengkuas dengan kecepatan yang membuat buku jarinya nyaris tergores. Kompor tekanan tinggi dinyalakan. Aroma bumbu kuning mulai membumbung, menusuk hidung, memenuhi ruang kantin yang luas.
Keringat bercucuran, membasahi seragam putihnya yang masih kaku. Ridwan tidak sempat mengusap dahi. Ia bergerak dari satu tungku ke tungku lain dengan ketangkasan seorang prajurit di medan laga. Di kepalanya, ia menghitung detik. Ayam masuk penggorengan. Minyak panas memercik, melukai lengannya, namun ia tak bergeming. Serundeng harus cokelat keemasan, tidak boleh gosong.
Pukul 11.30, pintu kantin terbuka. Pak Gunawan masuk bersama tiga orang koleganya yang berpakaian perlente. Mereka duduk di meja VIP. Ridwan melihat dari balik kaca dapur; nasi sudah matang, tapi ayam kloter terakhir masih di penggorengan. Sambal hijau baru saja selesai diulek manual karena blender kantor ternyata mati.
"Ridwan! Mana makanannya?" teriak Pak Gunawan dari meja depan.
"Sebentar lagi, Pak. Sedang plating," jawab Ridwan lantang, meski jantungnya serasa ingin melompat keluar.
Hidangan akhirnya tersaji. Jam menunjukkan pukul 12.50 saat semua karyawan—sekitar 40 orang—akhirnya mendapatkan porsi mereka. Ridwan nyaris pingsan karena dehidrasi dan panas dapur yang menyengat. Namun, ia merasa lega. Ia melihat para karyawan makan dengan lahap. Beberapa orang mengacungkan jempol, memuji rasa serundengnya yang gurih dan ayamnya yang empuk meski dimasak kilat.
Setelah semua tamu selesai, Ridwan tidak langsung istirahat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membersihkan dapur hingga mengkilap kembali. Ia ingin menunjukkan dedikasi total. Ia ingin kontrak kerja itu segera ditandatangani agar ia bisa pulang membawa kabar bahagia.
Sore hari, Pak Aris memanggilnya ke ruangan HRD. Ridwan merapikan pakaiannya yang bau minyak, mencoba tampil seprofesional mungkin. Di atas meja Pak Aris, sudah ada map biru berisi kontrak kerja.
"Duduk, Ridwan," kata Pak Aris. Nadanya tidak sehangat kemarin. Ia tampak kaku.
"Terima kasih untuk hari ini, Pak. Maaf tadi ada keterlambatan sedikit karena bahan baru datang jam sepuluh lewat," ujar Ridwan sopan.
Pak Aris menghela napas, lalu menyodorkan kontrak itu. "Ridwan, Bos sangat kecewa dengan keterlambatan tadi. Tamu-tamunya harus menunggu, dan itu merusak citra perusahaan, katanya."
Ridwan tertegun. "Tapi Pak, Bapak tahu sendiri bahannya baru sampai jam sepuluh—"
"Saya tahu. Tapi Bos tidak mau tahu," Pak Aris memotong dengan dingin. "Karena kejadian tadi, perusahaan melakukan penyesuaian. Gaji yang kemarin saya tawarkan... terpaksa dipotong satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah sebagai bentuk penalti dan masa percobaan baru."
Ridwan merasa bumi di bawah kakinya bergeser. "Dipotong satu juta dua ratus? Pak, itu hampir tiga puluh persen dari angka yang kita sepakati kemarin! Itu tidak adil. Saya bekerja dari jam satu dini hari tanpa uang belanja awal!"
Pak Aris menatap Ridwan dengan tatapan kosong, tipe tatapan orang yang sudah kehilangan empati karena terlalu lama ditekan atasan. "Dengar, Ridwan. Di Jakarta, mencari orang yang bisa masak itu mudah. Ribuan orang di luar sana sedang mengantre untuk posisi ini. Kami hanya bisa memberi sekian. Kalau kamu mau, ya ayo tanda tangan sekarang. Kalau tidak mau ya sudah, tidak apa-apa. Kami cari yang baru besok pagi. Keputusan ada di tanganmu."
Ruangan itu mendadak sunyi. Ridwan menatap pulpen di depan matanya. Ia teringat tagihan kontrakan. Ia teringat wajah istrinya. Tapi ia juga teringat bagaimana tangannya melepuh demi menyajikan makanan terbaik bagi orang-orang yang bahkan tidak sudi mengucapkan terima kasih. Ia teringat bagaimana martabatnya sebagai koki profesional diinjak-injak hanya karena ego seorang pemilik modal yang tak tahu cara menghargai waktu dan proses.
Ridwan berdiri. Ia tidak menyentuh pulpen itu.
"Tadi pagi, saya memasak dengan hati untuk memastikan semua orang di kantor ini kenyang dan bahagia, Pak," suara Ridwan berat namun stabil. "Tapi saya tidak bisa memberi makan keluarga saya dengan uang yang didapat dari ketidakadilan. Kalau perusahaan ini menganggap keterlambatan yang disebabkan oleh kesalahan manajemen sendiri adalah alasan untuk memeras keringat karyawannya, maka tempat ini bukan tempat yang berkah untuk saya."
"Kamu yakin? Kamu tidak punya pekerjaan lain, Ridwan," ancam Pak Aris.
"Saya punya harga diri, Pak. Dan di Jakarta, itu satu-satunya hal yang tidak boleh saya biarkan ikut tergerus kemacetan," jawab Ridwan tegas.
Ia melangkah keluar dari gedung tinggi itu tanpa membawa kontrak. Di luar, Jakarta sedang diguyur hujan deras. Ridwan berjalan menuju halte busway dengan seragam yang masih berbau ayam goreng serundeng. Ia basah kuyup, namun hatinya terasa ringan. Ia mengeluarkan ponsel, menelepon istrinya.
"Halo, Dek... Maaf, sepertinya kita harus cari jalan lain. Tapi jangan khawatir, Mas masih punya tangan yang sehat untuk memasak di tempat yang lebih manusiawi."
Malam itu, di bawah temaram lampu Jakarta yang keras, Ridwan pulang. Ia kehilangan pekerjaan, tapi ia menyelamatkan jiwanya. Ia tahu, di balik gedung-gedung angkuh ini, Tuhan selalu punya cara untuk memberi makan hamba-Nya yang jujur. Dan ayam serundeng buatannya hari itu, akan selalu menjadi saksi bahwa Ridwan adalah koki yang tak bisa dibeli dengan potongan gaji sepihak.