Scoups mendecih malas. Matanya menatap tajam ke arah jendela kelas yang terbuka lebar. Bola futsalnya baru saja melesat masuk ke sana, mendarat tepat di barisan meja depan.
"Sengaja banget itu si Behel buka jendela, padahal AC nyala," gerutu Scoups sambil berjalan mendekat.
Ini bukan pertama kalinya. Yena, cewek dengan kawat gigi yang menurut Scoups terlihat aneh sekaligus menarik itu, memang target empuk untuk dijahili. Ada kepuasan tersendiri saat melihat Yena mengomel sampai rel kawat di giginya gemetar.
"Woi, Behel! Woi! Bola gue masuk tuh. Ambilin gih!" teriak Scoups dari pinggir lapangan.
Yena yang sedang sibuk menghapus papan tulis menoleh. Wajahnya langsung ditekuk. "Berisik! Ambil bola lo sendiri sini. Dan nama gue Yena. Bukan Behel! Gila lo ya!"
Scoups tidak peduli. Dia melompat melewati jendela dengan gesit. "Pfft... Yena-ena? Nama lo susah sih, mending Behel. Santai aja kali, nggak usah bacot. Awas nanti gigi lo geter kalau ngomel terus. Kasihan itu rel kawat udah dipasang biar rapet, jangan sampai rontok."
"Ih! Apaan sih lo!" Yena mencoba mendorong Scoups, tapi cowok itu justru bergerak mengambil bola di bawah kaki Yena.
Sambil memegang bola, Scoups sengaja mengacak rambut hitam panjang Yena dengan kasar. "Diem, jangan galak-galak."
"Lo kalau mau ngacak, rambut lo sendiri sana! Jangan rambut orang! Ambil tuh bola, terus pergi!" Yena menendang bola itu menggunakan ujung sapu yang dia pegang.
"Kaya gini maksud lo?" Scoups malah menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, memamerkan jidatnya yang lebar. Dia tersenyum sok ganteng, membuat beberapa siswi yang masih di kelas tertahan napasnya.
"Dih, najis. Ada ya orang narsis kayak lo! Awas kaki! Gak lihat apa gue lagi nyapu!" Yena menyodorkan ujung sapu ke arah sepatu Scoups, mengusirnya secara terang-terangan.
"Apa sih... nggak usah ngambek, nanti kawat gigi lo patah loh." Scoups merunduk, mencondongkan wajahnya sangat dekat ke wajah Yena.
Dia menunggu. Biasanya, cewek-cewek akan blushing kalau ditatap seintens ini. Tapi Yena? Dia malah menunjukkan ekspresi garang seperti ingin menggigit hidung Scoups.
"Pfft, galak amat Kak Ros. Udah ah Behel, cowok keren mau lanjut main bola dulu. Jangan kangen ya!" Scoups melompat keluar jendela lagi, meninggalkan Yena yang masih mengumpat tertahan.
Matahari sudah hampir tenggelam saat Scoups menuntun motor R25 miliknya menuju gerbang sekolah. Di halte, dia melihat sesosok gadis kecil yang tampak kesepian. Yena lagi.
"Neng ojek yuk? Hehe," ledek Scoups sambil menghentikan motornya tepat di depan Yena.
Yena mengibaskan tangannya kasar. "Gue nggak mau dianter sama lo, sorry."
"Siapa juga yang mau anterin lo gratis? Gue nawarin ojek. Lo gue anter, tapi tetep bayar. Motor gue kan makan bensin, bukan makan ucapan makasih," sahut Scoups sambil menepuk-nepuk jok belakangnya yang nungging.
"Gue nggak pakai celana. Pakai rok begini nggak bisa ngangkang, bego!" Yena menghampiri Scoups dan memukul bahu cowok itu sekali.
Scoups malah menyengir lebar. Pukulan Yena barusan tidak sakit sama sekali, justru terasa menggemaskan di matanya. "Ya udah, gue tungguin sampai bus lo dateng. Lo lihat kan, udah nggak ada manusia lagi di sekolah. Mau diculik setan? Entar dikira gigi lo keramat sampai dipagerin gitu. Hahaha!"
"Ih lo rese banget! Ya udah, tungguin sana kalau berani!" Yena berdiri tegak di trotoar, membelakangi Scoups.
Satu jam berlalu. Jam tangan Scoups menunjukkan pukul tujuh malam. Bus yang ditunggu Yena tak kunjung lewat. Jalanan mulai sepi dan lampu jalan berpijar kekuningan.
"Woi, Behel... Udah nyerah aja. Naik ojek gue sini. Pegel kan kaki lo berdiri mulu?" tanya Scoups, kali ini nadanya sedikit lebih rendah.
Yena menghela napas panjang. Dia menoleh ragu. "Ya udah deh. Gue bareng lo. Naik motor butut lo ini ya?"
"Butut-butut gini harganya lebih mahal dari behel lo!" Scoups membantu Yena naik. "Nih, pakai jaket gue. Tutupin paha lo, biar nggak masuk angin. Mau peluk nggak?"
"Ih! Apaan sih lo! Modus ya!" Yena mencubit pinggang Scoups keras-keras.
"Aduh! Apaan sih, gue cuma nawarin doang, Behel. Ke-pede-an banget jadi cewe. Udah rata, galak lagi."
"Diem atau gue jewer!"
"Siap, Bunda Ratu." Scoups tersenyum simpul di balik helmnya. Dia melajukan motornya pelan, menikmati pegangan erat tangan Yena pada jaket di pinggangnya.
Begitu sampai di depan pagar rumah Yena, Scoups membantu gadis itu turun. Dia menahan tangan Yena sebentar agar gadis itu tidak limbung.
"Ini motor susah banget sih, naik susah turun susah! Oh ya... Berapa uang ojeknya?" Yena merogoh dompetnya sambil menatap Scoups.
"Karena gue lagi baik, ojeknya gratis. Gue cuma takut behel lo hilang diambil rampok kalau nunggu sendirian tadi. Hehehe," goda Scoups.
"Masih aja! Terus aja lo panggil gue Behel, dasar kunyuk!"
"Biarin. Gue bakal manggil lo Behel terus-terusan. Dadah, Cantik!" Scoups mengacak rambut Yena sekali lagi, lalu menarik gas motornya meninggalkan Yena yang terpaku di depan pagar.
Keesokan harinya, kantin sedang ramai-ramainya. Scoups duduk di meja pojok, tapi matanya tetap terfokus pada Yena yang sedang makan bersama kedua temannya, Nana dan Miso.
"Eh, Ena, kenapa sih si Sekop itu demen banget gangguin lo terus? Lo nggak merasa aneh gitu?" tanya Nana sambil mengaduk ramennya.
"Gak. Gue cuma merasa kesel. Denger namanya aja mau muntah. Orangnya nyebelin banget," sahut Yena ketus.
"Hahaha, tapi lo sadar nggak? Dia cuma gangguin lo doang, Na. Kayaknya nih... dia suka sama lo deh," timpal Miso sambil mencubit pipi Yena.
Yena tersedak bakso. Dia terbatuk-batuk sebelum akhirnya tertawa keras. "Hahaha! Najis! Najis tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh jalan tol! Gue mah amit-amit sama itu orang!"
Dari kejauhan, Scoups mendengarnya. Dia hanya tersenyum miring sambil memainkan sedotan minumannya. Kita lihat nanti, Behel, batinnya.
Tak lama kemudian, Yena bangkit dan berjalan menuju arah meja Scoups. Wajahnya sudah berubah menjadi mode "penagih utang".
"Heh, bayar! Bayar!" Yena menggebrak meja Scoups sambil mengadahkan tangan.
"Dih, apaan dah, Behel? Bayar apaan? Gue nggak ada utang sama lo."
"Utang lo ke kelas! Mana uang kas? Lo nunggak udah empat bulan, tahu nggak!"
Scoups memasang muka memelas yang dibuat-buat. "Oh, uang kas... Entar deh. Gue ngutang dulu. Kasihan motor gue kalau gue bayar kas sekarang, dia nggak dapet jatah makan hari ini."
"Alasan lo motor mulu! Bayar kek sekali-sekali. Ini udah empat bulan, Scoups!"
"Ya gue nggak punya duit, gimana dong? Mau bayar pakai apa? Lo talangin dulu deh, jual tuh kawat behel lo buat bayarin gue uang kas. Hehe."
"Ya ampun! Sini HP lo! Gue sita sampai lo bayar lunas!" Yena mencoba meraih HP Scoups di meja.
Scoups tiba-tiba berdiri tegak. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Yena kehilangan keseimbangan karena terkejut. Tubuh Yena limbung ke belakang. Dengan sigap, Scoups menarik tangan Yena dan merengkuh pinggangnya.
"Tuh kan... kualat sama yang lebih ganteng. Nagihnya yang sopan makanya. Nih, hampir aja pantat lo nyium lantai," bisik Scoups tepat di telinga Yena.
Posisinya sangat dekat. Scoups bisa mencium aroma stroberi dari rambut Yena. Gadis itu mematung, wajahnya memerah padam.
"A-apaan sih! Lepas! Awas lo ya kalau nggak bayar segera!" Yena melepas pelukan itu dengan kasar dan lari meninggalkan kantin.
Scoups hanya menyeringai, kembali duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Dasar Behel."
Hujan deras mengguyur sekolah saat jam pulang. Yena masih setia berdiri di halte yang atapnya mulai bocor. Dia memeluk dirinya sendiri, kedinginan.
Sebuah mobil silver berhenti di depannya. Kaca jendela turun, menampakkan seringai Scoups. "Neng... Grab, Neng."
"Gak pesen," sahut Yena singkat.
"Masa nggak pesen? Ini atas nama Mbak Yena kan ya?"
"Dih, lo lagi. Hobi banget sih gangguin gue? Syuh, syuh! Jauh-jauh sana!"
"Hobi banget nunggu sendirian di halte. Entar diculik kolor ijo tahu rasa lo."
"Biarin kolor ijo daripada diculik jaket ijo, lebih ngeri!" sindir Yena.
Scoups tertawa. "Ya udah, gue tungguin sampai bus lo dateng. Mobil gue baru nih, sayang kalau didudukin makhluk kayak lo."
Petir menyambar, diikuti hujan yang makin lebat. Air mulai menciprati baju putih Yena hingga sedikit transparan. Scoups yang melihat itu langsung mengubah ekspresinya.
"Udah puas nunggunya? Sini masuk ke mobil gue. Baju lo udah basah semua tuh," perintah Scoups.
"Berisik! Pulang aja sana!"
Scoups menyandarkan dagunya di pintu mobil yang terbuka. "Gue bukan perhatian sama lo ya. Gue cuma sakit mata aja. Baju lo nerawang, terus... dada lo yang rata itu jadi kecetak jelas. Lo masih pakai mini set ya? Kecil banget."
"BRISIK LU!" Yena langsung berlari masuk ke dalam mobil Scoups karena malu dan takut.
Di dalam mobil, suasananya hening. Scoups mematikan AC, tapi Yena masih menggigil hebat. Giginya beradu, menimbulkan suara gemeretak kecil dari kawat giginya.
"Behel, nih." Scoups melemparkan jaket bomber hijaunya ke wajah Yena.
"Ih, pelan-pelan dong!" Yena memakai jaket itu, tapi tubuhnya tetap gemetar. "A-achi!" Dia bersin berkali-kali.
"Yah, kotor deh mobil gue kena ingus lo. Hati-hati, pas bersin mulut ditutup, takut goyang itu behel lo. Hahaha."
Yena diam saja. Dia terlalu lemas untuk membalas. Scoups melirik, merasa ada yang tidak beres. Dia memarkirkan mobilnya secara mendadak di bahu jalan.
"Woi, Behel... Diem aja nggak asik lo. Dingin banget ya?"
"Iyalah! Pakai nanya lagi!" sahut Yena dengan suara bergetar.
Tanpa aba-aba, Scoups menarik Yena ke dalam pelukannya. Dia memeluk gadis itu erat-erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya. Yena sempat memberontak, tapi akhirnya menyerah dan meremas kemeja Scoups.
"Makanya dibilang masuk dari tadi kan ngeyel. Behel nakal," bisik Scoups sambil mengelus punggung Yena. Dia memberikan kecupan singkat di kening Yena, berkali-kali.
"Masih dingin?" tanya Scoups lembut.
Yena mendongak. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. "E-enggak... Yuk lanjut jalan. Gue ngeri lo kena tilang."
Yena mencoba menjauh, tapi Scoups menahan kedua pundaknya. Tatapan cowok itu berubah serius, tidak ada lagi kilat jahil di matanya.
"Behel... lo masih kedinginan nggak?"
"Enggak, bacot!" Yena mencoba galak, tapi pipinya yang merona mengkhianati ucapannya.
Scoups tidak menjawab. Dia perlahan mendekatkan wajahnya. Yena memejamkan mata saat bibir Scoups menyentuh bibirnya. Ciuman itu awalnya lembut, namun perlahan menjadi dalam.
Scoups bisa merasakan tekstur kawat gigi Yena saat lidahnya menyapu barisan gigi gadis itu. Rasanya unik, bercampur dengan aroma ceri dari lip balm Yena. Yena sendiri mulai membalas, tangannya merambat ke leher Scoups, menghisap aroma maskulin yang bercampur sedikit bau rokok.
Setelah beberapa saat, Scoups melepaskan pagutan itu dengan napas tersengal.
"Kasihan lo menggigil, takut behelnya jatuh. Udah nggak dingin kan?" goda Scoups lagi, mencoba mencairkan suasana yang sangat panas tadi.
"Enggak ih..." bisik Yena pelan sambil menunduk dalam, meremas roknya yang masih lembap. "Udah... pulang... gue mau pulang... ngantuk!"
Scoups tertawa renyah. Dia mengelus pipi Yena dengan ibu jarinya, menatap wajah gadis itu dengan binar yang berbeda.
"Yaudah sih jangan tegang gitu kenapa. Ok deh, Behel... kita pulang sekarang."
Mobil kembali melaju menembus hujan. Scoups meraih tangan Yena dan menggenggamnya erat di atas persneling.
"Gue suka sama lo nih kayaknya. Mau jadian nggak?"
~TAMAT~