“Selamat pagi semuanya. Namaku Athanu Chacha. Aku pindahan dari sekolah yang... ah, aku lupa namanya. Tapi bukankah itu tidak penting?"
Langkah kaki Athanu Chacha terdengar ringan, hampir seperti melayang, saat ia berjalan menuju kursi kosong di barisan belakang. Seragamnya tampak terlalu rapi, sementara senyumnya—sebuah lengkungan yang tidak mencapai mata—membuat seluruh isi kelas 12-IPA 1 mendadak senyap.
Bayu, sang ketua murid yang duduk di barisan depan, berdeham keras. Ia menatap Chacha dengan dahi berkerut, lalu melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Di layar itu, sebuah aplikasi bernama Purity sedang memuat data baru.
"Selamat datang, Chacha," ujar Bayu dengan nada berwibawa yang dipaksakan. "Di sini, kami punya aturan. Kamu sudah mengunduh aplikasinya?"
Chacha memiringkan kepalanya. "Aplikasi? Untuk apa?"
"Untuk menentukan nilaimu sebagai manusia," sahut Riska, gadis yang duduk di sebelah Bayu. "Di SMA Harapan Bangsa, kami tidak hanya dinilai dari angka matematika. Purity adalah sistem peringkat sosial. Siapa yang paling bersih, paling jujur, dan paling berjasa, dia yang memimpin. Dan Bayu? Dia pemegang skor tertinggi."
Chacha tertawa kecil. Suaranya seperti denting lonceng di tengah pemakaman. "Wah, menarik sekali. Jadi, kalau skornya rendah, apa yang terjadi?"
"Kamu akan menjadi sampah," jawab Bayu dingin. "Dan sampah harus dibersihkan. Sekarang, duduklah. Jangan buat masalah."
Chacha hanya tersenyum lebih lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih sempurna. "Aku suka sampah. Baunya jujur."
Istirahat pertama dimulai dengan ketegangan yang merayap di kantin. Chacha duduk sendirian, namun matanya tidak lepas dari layar ponselnya yang baru saja ia pasang aplikasi Purity. Di sana, nama Athanu Chacha muncul dengan skor dasar: 50. Sementara nama Bayu Pratama bertengger di puncak dengan skor 99,8.
"Hei, murid baru," sapa Bayu, menghampiri meja Chacha bersama pengikutnya. "Skor kamu turun jadi 45. Tahu kenapa?"
Chacha mendongak, masih tersenyum. "Kenapa ya? Padahal aku belum melakukan apa-apa."
"Karena kamu tidak menyapa senior dengan benar," Riska menimpali sambil menyilangkan tangan. "Aplikasi ini mendeteksi sentimen publik. Jika orang-orang di sekitarmu merasa tidak nyaman, skormu akan merosot."
"Oh, begitu cara kerjanya?" Chacha bangkit berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu. "Lalu, bagaimana kalau aplikasi ini tahu kalau kau sering menghabiskan waktu di ruang OSIS setelah jam pulang sekolah dengan... siapa itu? Oh, guru kimia kita, Bu Sarah?"
Suasana kantin mendadak senyap. Bayu membeku. Tangannya yang memegang ponsel gemetar sedikit.
"Apa yang kamu bicarakan, Chacha?" tanya Bayu dengan suara rendah yang mengancam.
"Hanya bertanya," sahut Chacha santai. "Apakah itu masuk dalam penilaian 'kemurnian'? Memberi nilai tambahan untuk murid kesayangan sebagai imbalan atas... perhatian ekstra?"
"Jangan bicara sembarangan!" teriak Riska. "Bayu itu teladan!"
"Benarkah?" Chacha tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Ayo kita tanya aplikasinya."
Chacha menekan sesuatu di layar ponselnya. Tiba-tiba, notifikasi serentak berbunyi dari seluruh ponsel siswa di kantin.
[Notifikasi Sistem: Bukti Baru Diunggah - Kategori Skandal Moral]
Sebuah video mulai terputar secara otomatis di layar semua orang. Rekaman CCTV buram namun jelas menunjukkan Bayu dan Bu Sarah di ruang OSIS yang gelap. Bayu tidak terlihat seperti korban; ia terlihat seperti manipulator yang sedang menegosiasikan kunci jawaban ujian nasional.
"Itu... itu editan!" teriak Bayu. Wajahnya pucat pasi. "Chacha, apa yang kamu lakukan?!"
"Aku? Aku hanya membantu sistemmu bekerja lebih cepat, Bayu," bisik Chacha. "Bukankah kamu bilang sampah harus dibersihkan?"
Di layar ponsel, skor Bayu mulai terjun bebas.
99,8...
75,0...
40,0...
10,2...
[Status: Ternoda]
"Lihat," Chacha menunjuk layar besar di kantin yang biasanya menampilkan pengumuman sekolah. "Sekarang kamu bukan lagi pemimpin. Kamu adalah... target."
Para siswa yang tadinya memuja Bayu mulai berbisik. Tatapan mereka berubah dari hormat menjadi jijik. Beberapa orang mulai melempar kotak susu kosong ke arah meja Bayu.
"Kenapa kalian melihatku begitu?!" Bayu berteriak panik. "Aku yang membuat sistem ini untuk melindungi kalian!"
"Melindungi kami atau melindungimu, Bayu?" tanya seorang siswa dari sudut ruangan.
"Turunkan dia!" teriak yang lain. "Hapus akunnya!"
Chacha duduk kembali, menyesap jus kotaknya dengan tenang. "Menarik, ya? Dalam hitungan detik, pahlawan bisa jadi penjahat. Hanya karena satu video pendek."
Bayu menatap Chacha dengan mata merah karena amarah. "Kamu sengaja, kan? Kamu datang ke sini untuk menghancurkanku!"
"Aku hanya tamu, Bayu," Chacha mengedipkan mata. "Kalian sendiri yang membangun panggungnya. Aku hanya menyalakan lampunya."
Sore itu, suasana sekolah terasa mencekam. Bayu ditemukan meringkuk di pojok perpustakaan, mencoba menghapus aplikasi tersebut, namun layar ponselnya terkunci pada gambar wajah Chacha yang sedang tertawa.
"Kasihan. Tidak bisa dihapus, ya?"
Chacha muncul dari balik rak buku, memegang sebuah penggaris besi yang ia ketuk-ketukkan ke telapak tangannya.
"Pergi kamu! Kamu iblis!" maki Bayu.
"Iblis? Itu sebutan yang kasar untuk seseorang yang baru saja memberimu kejujuran," ujar Chacha. "Bayu, kamu tahu apa yang paling lucu dari manusia? Mereka sangat suka menghakimi, asalkan bukan mereka yang ada di kursi terdakwa."
"Aku akan melaporkanmu ke polisi karena peretasan!"
"Silakan," Chacha mempersilakan dengan gerakan tangan yang dramatis. "Tapi sebelum itu, mungkin kamu ingin melihat pembaruan terbaru dari Aplikasi Purity."
Chacha menunjukkan layar ponselnya. Di sana, peringkat nomor satu sekarang diduduki oleh... Athanu Chacha dengan skor 100,0.
"Bagaimana mungkin?!" Bayu merampas ponsel itu. "Kamu baru di sini! Kamu tidak melakukan apa pun untuk sekolah ini!"
"Oh, aku melakukan sesuatu," Chacha mendekat, suaranya kini terdengar seperti bisikan dingin yang menusuk tulang. "Aku memberikan apa yang kalian semua inginkan. Kekacauan yang dibungkus dengan keadilan. Lihatlah ke luar jendela."
Bayu melihat ke arah lapangan. Di sana, para siswa sedang saling serang. Riska sedang menangis karena skornya turun akibat rahasia tentang operasi plastik wajahnya terbongkar. Dua orang atlet sedang berkelahi karena skor salah satu dari mereka naik setelah melaporkan penggunaan doping suplemen temannya.
Aplikasi Purity telah berubah menjadi ajang saling lapor. Setiap rahasia terkecil menjadi komoditas untuk menaikkan skor pribadi dengan cara menjatuhkan orang lain.
"Kamu menghancurkan sekolah ini," bisik Bayu gemetar.
"Tidak, Bayu. Aku hanya mempercepat prosesnya," sahut Chacha. "Kalian sudah hancur sejak kalian setuju untuk dinilai oleh aplikasi. Kalian hanya butuh seseorang untuk menekan tombol 'Mulai'."
Chacha berjalan menuju pintu keluar, namun ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Bayu, ada satu rahasia lagi yang belum terungkap di aplikasi itu," kata Chacha dengan senyum misterius.
"Apa lagi?!" teriak Bayu putus asa.
"Tentang ayahmu. Kepala yayasan sekolah ini. Kamu tahu dari mana dia mendapatkan uang untuk membangun gedung semewah ini?"
Bayu terdiam. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Jangan... jangan lakukan itu."
"Kenapa tidak? Bukankah kejujuran itu sangat indah?" Chacha mengeluarkan ponselnya lagi. "Aplikasi ini sangat haus, Bayu. Ia butuh makan. Dan makanan favoritnya adalah kebenaran yang pahit. Dan orang-orang yang butuh validasi."
"Aku mohon, Chacha! Aku akan melakukan apa saja! Aku akan keluar dari sekolah ini! Aku akan menghapus aplikasinya!"
Chacha tertawa, sebuah tawa yang menggema di seluruh lorong perpustakaan yang sepi. "Menghapus? Kamu tidak bisa menghapus dosa hanya dengan menekan tombol, Sayang."
Tiba-tiba, sirene polisi terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat menuju gerbang sekolah.
"Itu bukan untuk menangkapku, kan?" tanya Bayu dengan suara serak.
"Itu untuk ayahmu," jawab Chacha santai. "Dan tentu saja, sebagai anak yang berbakti, kamu akan ikut terseret karena tanda tanganmu ada di semua dokumen pencucian uang itu. Ah, jabatan ketua murid ternyata punya banyak kegunaan ya?"
Bayu jatuh terduduk. Ia menatap layar ponselnya yang kini berwarna merah menyala dengan tulisan besar: [DIHAPUS].
Chacha berjalan keluar, melewati kerumunan siswa yang masih sibuk dengan layar ponsel mereka, saling mencaci dan menghakimi. Tak ada yang menyadari kehadirannya, seolah ia adalah hantu yang baru saja lewat.
Di gerbang sekolah, Chacha berhenti. Ia menatap ke arah kamera CCTV, seolah tahu ada seseorang yang sedang menonton di balik layar.
"Sangat menyenangkan, bukan?" gumam Chacha pada diri sendiri.
Tiba-tiba, seorang siswi kelas 10 berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah. Siswi yang selama ini selalu di peringkat rendah karena jelek dan tidak mencolok.
"Kak! Kak Chacha!" teriak gadis itu.
Chacha menoleh perlahan. "Ya? Ada apa, manis?"
"Skorku... skorku tiba-tiba jadi 90! Aku tidak tahu kenapa! Apa yang harus aku lakukan supaya tetap di atas?" tanya gadis itu dengan mata yang memancarkan ambisi sekaligus ketakutan.
Chacha mengelus pipi gadis itu dengan lembut, lalu membisikkan sesuatu yang membuat gadis itu mematung.
"Kamu hanya perlu memastikan semua orang di bawahmu tidak pernah naik lagi," bisik Chacha.
Gadis itu menelan ludah, lalu perlahan sebuah senyum licik muncul di wajahnya. Ia segera berbalik dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin sebuah fitnah atau rahasia temannya sendiri.
Chacha melihat itu dengan kepuasan yang mendalam. Ia melangkah keluar dari gerbang sekolah, seragamnya tetap rapi, rambutnya tertiup angin sore yang dingin.
"Keserakahan manusia memang tidak pernah mengecewakan," gumamnya.
Ia mengambil ponselnya, melihat daftar sekolah lain di daerah itu. Jarinya menari-nari di atas layar, mencari target berikutnya.
"Nah, SMA Garuda," ucapnya sambil tersenyum. "Kudengar mereka punya kamera ilegal 'Pengintip Rok Siswa'."
Chacha melangkah pergi, menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan SMA Harapan Bangsa yang kini sedang terbakar oleh ego dan teknologi buatannya sendiri.
Di dalam perpustakaan, Bayu masih menatap ponselnya yang mati total. Ia mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia berharap itu adalah guru atau bantuan, namun yang ia temui hanyalah Riska dengan wajah penuh amarah dan ponsel di tangan.
"Bayu, gara-gara video itu, beasiswaku dibatalkan," ujar Riska dengan nada datar yang mengerikan.
"Riska, aku bisa jelaskan..."
"Tidak perlu," potong Riska. "Aku baru saja mengunggah lokasimu di aplikasi. Anak-anak yang lain sedang menuju ke sini."
Bayu gemetar. "Apa? Untuk apa?"
Riska tersenyum, sebuah senyum yang tampak sangat mirip dengan senyum Chacha tadi.
"Untuk mendapatkan poin tambahan dengan 'membersihkan' sampah, tentu saja."
Bayu mencoba bangkit, namun pintu perpustakaan sudah didobrak oleh sekumpulan siswa yang membawa spidol permanen, gunting, dan ponsel yang terus merekam.
"Tunggu! Kita bisa bicarakan ini!" teriak Bayu.
Suara teriakan Bayu tenggelam oleh sorak-sorai para siswa yang merasa sedang melakukan hal yang benar. Di kejauhan, Chacha menoleh sekilas ke arah gedung sekolah, lalu tertawa kecil untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi.
"Apakah kalian sudah merasa murni sekarang?"
~TAMAT~