Wonu berdiri di depan cermin toilet restoran bintang lima, merapikan tatanan rambutnya yang sudah sempurna untuk kesepuluh kalinya malam ini. Ia mengedipkan sebelah mata pada bayangannya sendiri, senyum miring tersungging di bibirnya yang sering mengeluarkan rayuan maut.
"Gue emang keajaiban dunia kedelapan," gumam Wonu sambil menyemprotkan parfum oud mahal ke lehernya. "Siapa pun cewek yang dijodohin sama gue malam ini, dia pasti sujud syukur di depan balai kota."
Wonu melangkah keluar dengan kepercayaan diri setinggi langit. Di meja nomor sembilan, orang tuanya sudah duduk manis bersama sepasang suami istri lain yang terlihat sama elegannya. Tapi ada satu kursi kosong di sana.
"Mana calon istri Wonu, Ma? Masih dandan di salon dari subuh?" tanya Wonu sambil menarik kursi dengan gerakan slow motion yang ia pelajari dari drama Korea.
"Bentar lagi sampai, Won. Tadi katanya ban motornya bocor," jawab Mamanya santai.
"Motor?" Wonu mengerutkan kening. "Cewek zaman sekarang naik skutik lucu gitu ya? Gemes deh."
Tiba-tiba, pintu kaca restoran terbuka dengan dentuman keras. Seorang gadis masuk dengan langkah lebar. Ia mengenakan jaket kulit yang penuh coretan spidol permanen, celana jeans robek di bagian lutut, dan sepatu bot yang nampaknya baru saja melewati medan lumpur. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ada noda oli di pipi kirinya.
Gadis itu menarik kursi di depan Wonu, menimbulkan suara decit nyaring yang membuat tamu lain menoleh.
"Sori telat. Tadi ada jambret di perempatan, gue hajar dulu bentar," ucap gadis itu tanpa dosa.
Wonu melongo. "Ini... calon gue?"
Gadis itu menatap Wonu dari bawah ke atas, lalu mendengus. "Lo yang namanya Wonu? Kok wangi lo kayak toko bunga berjalan sih? Pusing idung gue."
"Heh, ini parfum mahal! Lo sendiri... lo habis mandi di bengkel?" balas Wonu, egonya mulai tersenggol.
"Namanya Arin, Won. Dia memang agak... aktif," Papa Wonu mencoba menengahi dengan tawa canggung.
"Aktif? Ini mah preman pasar," bisik Wonu yang masih bisa didengar Arin.
Arin tiba-tiba mengambil garpu di depannya, lalu dalam satu gerakan cepat, ia melempar garpu itu ke arah kepala Wonu. Srek! Garpu itu menancap di sandaran kursi kayu Wonu, tepat satu senti di samping telinganya.
"Mulut lo kalau nggak bisa dijaga, mending gue kasih makan oli samping," ancam Arin dengan tatapan tajam.
"Ma... Pa... ini perjodohan atau hukuman mati?" tanya Wonu dengan suara bergetar.
"Ini perjodohan, Sayang. Minggu depan kalian tunangan," jawab Mamanya sambil asyik memakan steak.
Wonu menelan ludah, menatap garpu yang masih bergetar di samping kepalanya. "Lo... lo nggak bisa giniin gue. Gue ini cowok idaman di seluruh Jakarta Selatan!"
Arin menyeringai, memperlihatkan aura predator yang membuat Wonu merinding. "Gue nggak peduli lo idaman Jaksel atau idaman sekuriti. Di mata gue, lo cuma cowok manja yang butuh diajarin cara jadi manusia."
"Gue bakal bikin lo jatuh cinta dan mohon-mohon sama gue, liat aja!" tantang Wonu, mencoba membalas meski tangannya gemetar.
Arin bangkit dari duduknya, mencondongkan tubuh ke arah Wonu sampai hidung mereka hampir bersentuhan. "Coba aja kalau lo berani, Cantik."
***
Dua hari setelah pertemuan maut itu, Wonu dipaksa menjemput Arin untuk "kencan pertama". Wonu datang dengan mobil sport atap terbuka, kacamata hitam, dan senyum yang ia yakini bisa melelehkan kutub utara.
"Ayo naik, Arin. Gue ajak lo ke tempat paling romantis yang pernah ada," ajak Wonu sambil menyandarkan sikunya di pintu mobil.
Arin keluar dari rumahnya membawa helm full face. "Romantis? Gue nggak butuh candle light dinner. Ikut gue."
"Lho, mau ke mana? Ini mobil gue nyaman banget, ada pemanas joknya!" seru Wonu.
"Simpan mainan lo ini. Naik ke motor gue kalau lo masih punya nyali," tunjuk Arin pada motor trail yang terparkir di halaman.
Wonu mendesah pasrah. Sepuluh menit kemudian, ia berpegangan erat pada pinggang Arin sementara gadis itu memacu motornya seperti orang kesurupan di jalanan Jakarta.
"Arin! Pelan-pelan! Rambut gue berantakan!" teriak Wonu di balik helm yang kekecilan.
"Diem atau gue jatuhin lo di kolong bus!" balas Arin sambil melakukan standing saat lampu hijau.
Mereka sampai di sebuah lahan kosong di pinggiran kota yang ramai dengan raungan mesin. Itu adalah arena balap liar. Arin turun dari motornya dan langsung disambut oleh sekumpulan orang bertampang sangar.
"Woi, Arin! Siapa tuh? Cantik amat bawaannya," teriak salah satu pria bertato.
"Kenalin, asisten baru gue. Tugasnya bawain minum," jawab Arin santai.
"Asisten?! Gue tunangan lo!" protes Wonu sambil mencoba merapikan jasnya yang kini bau asap knalpot.
"Tunangan? Hahaha! Arin, selera lo jadi turun gini?" ledek pria bertato itu.
Wonu yang biasanya sabar kalau soal wanita, kali ini merasa panas. "Eh, denger ya. Biarpun gue dandan begini, gue tetep laki-laki!"
"Oh ya? Kalau gitu, lo gantiin gue balapan malam ini. Lawan si Botak itu," Arin menunjuk pria paling besar di sana.
Wonu menelan ludah. "Balapan? Gue biasanya balapan nyari diskon di mall, Rin."
"Cupu. Ya udah, biar gue aja. Lo duduk manis di sana, jangan sampai bedak lo luntur," ejek Arin sambil memakai sarung tangannya.
Wonu melihat Arin naik ke garis start. Saat bendera dikibarkan, Arin melesat seperti peluru. Ia menikung dengan sangat miring, gerakannya begitu berani dan penuh perhitungan. Wonu tertegun. Di bawah lampu sorot yang remang-remang, Arin terlihat... luar biasa.
"Sial, kok dia keren banget ya?" gumam Wonu tanpa sadar.
Setelah menang dengan selisih waktu jauh, Arin kembali ke arah Wonu sambil membuka helmnya. Keringat mengucur di dahinya, dan ia tersenyum lebar. Senyum tulus yang pertama kali Wonu lihat.
"Gimana? Masih mau ngajak gue ke restoran bintang lima?" tanya Arin sambil menyeka keringat dengan punggung tangannya.
Wonu terdiam sejenak, lalu ia mengambil sapu tangan sutra dari saku jasnya dan mengusap dahi Arin dengan lembut. "Nggak. Tapi gue mau nanya, lo belajar cornering di mana? Ajari gue dong."
Arin terpaku. Ia tidak menyangka Wonu akan melakukan hal semanis itu di depan teman-temannya. "Apaan sih lo, geli tahu nggak."
"Gue serius, Rin. Ternyata lo kalau lagi balapan... cantik juga," bisik Wonu, kembali ke mode playboy-nya tapi kali ini dengan nada yang lebih tulus.
"Lo beneran mau gue hajar ya, Won?"
***
Satu bulan berlalu. Dunia Wonu berubah total. Biasanya, ia menghabiskan malam minggu di klub malam dengan tiga cewek berbeda. Sekarang? Ia sedang jongkok di depan rumah Arin, membantu gadis itu mengganti rantai motor.
"Wonu, itu kunci pasnya salah! Ambil yang ukuran 12!" teriak Arin dari bawah motor.
"Sabar, Rin! Gue lagi nyari! Tangan gue udah item semua nih, mana nanti sore ada photoshoot lagi," keluh Wonu, meski ia tetap melakukan perintah Arin.
"Lo kalau mau pulang, pulang aja. Nggak usah sok bantu," ucap Arin sambil muncul dari balik motor.
"Siapa yang sok bantu? Gue emang pengen di sini. Lagian, kalau gue nggak ada, siapa yang bakal beliin lo es Mixue kalau lo kehausan?" Wonu menyodorkan segelas es cendol yang tadi ia beli.
Arin menerima gelas itu, menatap Wonu dengan heran. "Lo kenapa sih? Sejak kejadian di balapan itu, lo jadi nempel terus kayak perangko. Mana sifat playboy lo yang katanya legendaris itu?"
Wonu duduk di samping Arin, mengabaikan jas mahalnya yang terkena debu. "Udah pensiun. Capek gue tebar pesona ke orang yang nggak peduli. Mending gue fokus ke satu orang yang kalau ngomong suka bikin jantung gue mau copot."
"Maksud lo?"
"Ya lo lah, Macan. Siapa lagi?" Wonu mencolek hidung Arin yang terkena noda oli.
Arin terdiam. Mukanya memerah, tapi ia langsung memalingkan wajah. "Najis, gombalan lo basi."
"Basi tapi lo suka, kan? Ngaku aja," goda Wonu.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Arin. Seorang wanita cantik dengan gaun super ketat keluar dari mobil itu. Itu adalah mantan pacar Wonu yang ke-27, Siska.
"Wonu! Kamu ngapain di sini? Dan siapa cewek dekil ini?" tanya Siska sambil menutup hidungnya.
Wonu berdiri, langsung merangkul bahu Arin yang masih bau bensin. "Sori Siska, gue lagi sibuk. Kenalin, ini Arin. Calon istri gue. Dan dia nggak dekil, dia ini... estetik bengkel."
"Kamu bercanda? Kamu ninggalin aku demi cewek yang bahkan nggak tahu cara pakai eyeliner?" Siska tertawa meremehkan.
Sebelum Wonu bisa membalas, Arin sudah berdiri. Ia memegang kunci Inggris besar di tangannya. "Heh, Mbak Skincare. Mending lo pergi sekarang sebelum mobil mahal lo ini gue modifikasi jadi rongsokan."
Siska ketakutan melihat tatapan Arin yang seperti ingin menelan orang hidup-hidup. "Wonu! Kamu beneran pilih dia?!"
"Seratus persen. Sekarang pergi gih, suara lo ganggu konsentrasi gue nungguin es," usir Wonu santai.
Setelah Siska pergi dengan menghentakkan kaki, Arin menoleh ke Wonu. "Lo beneran nggak malu punya calon kayak gue?"
"Malu? Rin, gue justru bangga. Punya istri yang bisa jagain gue dari mantan-mantan gue yang bar-bar itu adalah sebuah privilege," jawab Wonu sambil tersenyum lebar.
Arin mendengus, tapi kali ini ia tidak meninju Wonu. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Wonu sejenak. "Dasar cowok aneh."
"Tapi sayang, kan?"
***
Hari pertunangan akhirnya tiba. Wonu terlihat sangat tampan dengan tuksedo hitam, sementara Arin... dipaksa memakai kebaya yang membuatnya terlihat sangat tidak nyaman.
"Won, gue rasa gue bakal pingsan. Ini korset kenceng banget, gue nggak bisa napas!" bisik Arin saat mereka berdiri di depan tamu undangan.
"Tahan, Rin. Cuma dua jam. Habis ini kita langsung kabur ke warung pecel lele langganan lo," bujuk Wonu sambil memegang tangan Arin erat.
Acara berjalan lancar sampai seorang tamu pria, yang nampaknya adalah rekan bisnis Papa Wonu, mulai mabuk dan berbuat onar. Pria itu mulai menggoda salah satu pelayan wanita dengan cara yang tidak sopan.
Wonu melihat rahang Arin mengeras. "Rin, jangan. Ini acara kita."
"Gue nggak tahan liat cowok kurang ajar kayak gitu," desis Arin.
Sebelum Wonu bisa mencegahnya, Arin sudah melangkah maju. Dengan anggun—meski memakai kebaya—ia mendekati pria mabuk itu. "Permisi, Pak. Tangannya tolong dijaga atau saya bantu patahkan?"
Pria itu tertawa. "Siapa kamu? Oh, pengantinnya ya? Sini, mending sama saya aja daripada sama cowok cantik itu."
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di perut pria itu. Arin tidak berhenti di situ. Ia menarik kerah baju pria itu dan membisikkan sesuatu yang membuat muka pria itu pucat pasi.
Para tamu terperangah. Wonu justru berdiri di pinggir sambil bertepuk tangan pelan. "Itu baru cewek gue!"
Papa Wonu menepuk dahi. "Aduh, rusak deh acaranya."
"Nggak apa-apa, Pa. Justru ini yang bikin Wonu makin cinta," sahut Wonu bangga.
Setelah keributan mereda dan pria itu diusir oleh keamanan, Arin kembali ke samping Wonu dengan napas terengah. "Sori, Won. Gue ngerusak acara lo ya?"
Wonu mengambil tisu, menyeka keringat di leher Arin dengan penuh kasih sayang. "Ngerusak apaan? Itu hiburan terbaik malam ini. Lo keren banget tadi."
"Gue emang nggak bisa jadi cewek anggun yang lo mau, Won," ucap Arin menunduk.
Wonu memegang kedua bahu Arin, menatap matanya dalam-dalam. "Rin, dengerin gue. Gue nggak butuh cewek anggun yang cuma bisa dandan. Gue butuh lo. Cewek bar-bar yang bisa benerin mesin motor, yang berani hajar orang jahat, dan yang bikin gue ngerasa jadi cowok paling beruntung karena punya 'bodyguard' pribadi seumur hidup."
Arin menatap Wonu lama, lalu perlahan sebuah senyuman muncul. "Lo beneran udah berubah ya? Dari playboy cap kampak jadi bucin cap jempol."
"Demi lo, jadi budak korporat cinta juga gue jabanin," balas Wonu sambil tertawa.
Tiba-tiba, Arin menarik dasi Wonu, memaksa cowok itu mendekat. "Kalau gitu, besok temenin gue ke pasar loak. Gue mau cari knalpot baru."
Wonu menghela napas panjang, tapi senyumnya tidak hilang. "Siap, Bunda Ratu. Apa pun buat kamu."
"Tapi lo yang bayar ya?"
***
Beberapa bulan setelah menikah, kehidupan mereka tetap tidak normal. Rumah mereka lebih mirip bengkel daripada hunian pengantin baru. Ada ban bekas di pojok ruang tamu dan koleksi helm di rak buku.
Wonu baru saja pulang dari kantor saat ia melihat Arin sedang sibuk di garasi, tubuhnya penuh noda oli seperti biasa. Wonu yang masih memakai setelan jas lengkap langsung menghampirinya.
"Sayang, aku pulang," panggil Wonu.
"Bagus. Sini bantuin pegangin kunci inggrisnya. Ini bautnya keras banget," perintah Arin tanpa menoleh.
Wonu meletakkan tas kerjanya, melepas jas dan melonggarkan dasinya. Ia ikut berlutut di samping Arin, tidak peduli kemeja putihnya bakal kotor. "Tadi di kantor banyak yang nanyain, kok sekarang aku jarang ikut nongkrong di bar."
"Terus lo jawab apa?" tanya Arin sambil berusaha memutar baut.
Wonu mengambil alih kunci inggris itu, lalu dengan sekuat tenaga memutarnya sampai baut itu terlepas. Ia menoleh ke arah Arin, mencium pipinya yang kotor dengan oli.
"Aku jawab, bar yang paling asik itu ada di garasi rumah aku sendiri, namanya Bar-bar Arin," goda Wonu.
Arin tertawa lepas, lalu ia mengusap wajah Wonu dengan tangannya yang hitam karena oli. "Muka lo jadi item, Won! Hahaha!"
Wonu melihat cermin di motor dan ikut tertawa. "Nggak apa-apa. Hitam oli itu tanda cinta."
Tiba-tiba, ponsel Wonu berdering. Itu dari Papanya. "Wonu! Ini gawat! Temen Papa mau jodohin adiknya sama kamu, Papa lupa bilang kalau kamu udah nikah!"
Wonu tertawa kecil sambil melirik Arin yang sekarang sedang memegang tang pemotong. "Bilang sama temen Papa, kalau dia mau adiknya selamat, jangan deket-deket aku."
"Kenapa emangnya?" tanya Papanya bingung.
Wonu menatap Arin yang sedang menyeringai ke arah kamera ponselnya. "Soalnya istri aku punya koleksi kunci inggris yang siap melayang kapan aja."
Arin merebut ponsel Wonu. "Halo, Om? Bilangin ke temen Om itu, kalau dia masih berani godain suami saya, saya kirim dia ke bulan tanpa roket!"
Wonu memeluk Arin dari belakang, merasa sangat aman di balik keganasan istrinya itu. "Tuh denger kan, Pa? Udah ya, aku mau lanjut pacaran di bengkel."
"Wonu, lepasin! Gue bau bensin!" protes Arin, meski ia tidak memberontak.
"Biarin. Bau bensin itu sekarang jadi parfum favorit aku," bisik Wonu mesra.
"Lo beneran udah gila ya?"
"Iya, gila karena lo, Arin."
Arin terdiam sebentar, lalu ia berbalik dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Wonu, meninggalkan noda hitam kecil di sana. "Ya udah, sekarang bantuin pasang ban belakang, atau lo tidur di garasi malam ini."
Wonu tersenyum lebar, langsung sigap mengambil ban motor. "Siap, Komandan!"
Kehidupan sang mantan playboy memang sudah berakhir, tapi kehidupan barunya sebagai suami dari gadis paling bar-bar se-Jakarta baru saja dimulai dengan penuh warna—dan oli.
"Eh, Won, kok lo malah pasang bannya terbalik sih?!"
"Waduh, sori Sayang, gagal fokus liat lo cantik banget pakai kaos kutang warna item!"
"WONU!"
~TAMAT~