Semarang tahun 1980-an adalah kota yang tenang, namun menyimpan rahasia di balik uap lembap pelabuhan dan bayang-bayang gedung kolonialnya. Bagi Rusli Baharudin, pria Jakarta dengan ambisi setinggi langit, Semarang hanyalah titik persinggahan karier. Ia tak pernah menyangka bahwa malam pertamanya di "Kota Atlas" akan menjadi memori yang tak sanggup ia ceritakan pada anak-cucunya tanpa rasa merinding di tengkuk.
---
Rusli datang di jam mati, saat kereta api melambat, decit besi beradu dengan rel mengakhiri perjalanan panjang dari Jakarta. Rusli melangkah turun di Stasiun Tawang. Jarum jam menunjukkan pukul 01.30 pagi. Udara dini hari itu terasa ganjil; dingin yang menusuk tulang, namun ada aroma melati yang samar berbaur dengan bau pesing stasiun.
Hanya ada satu taksi yang menunggu di luar. Sopirnya, seorang pria tua dengan topi lusuh yang menutupi separuh wajahnya, hanya mengangguk saat Rusli bertanya, "Pak, hotel mana yang paling dekat dengan Simpang Lima? Saya lelah sekali."
"Ada satu, Mas. Hotel S. Dekat, megah, tapi... tenang," jawab sopir itu dengan suara serak.
Rusli tidak peduli dengan nada bicara si sopir yang janggal. Di kepalanya hanya ada bantal dan selimut. Taksi melaju menembus jalanan Semarang yang mati. Lampu jalan kuning temaram memberikan efek bayangan panjang yang seolah mengikuti mobil mereka.
Ketika mobil berhenti, Rusli menatap bangunan di depannya. Hotel S Sebuah bangunan megah bergaya kolonial-modern yang tampak sedikit kusam di bawah cahaya bulan. Anehnya, meski lokasinya sangat strategis menghadap Simpang Lima, gedung itu tampak gelap gulita. Hanya lobi yang berpendar redup.
"Ini yakin buka, Pak?" tanya Rusli.
"Buka, Mas. Memang sedang sepi pengunjung," sahut si sopir sambil menerima lembaran uang tanpa menatap mata Rusli. Begitu Rusli turun, taksi itu menderu pergi dengan kecepatan yang tidak wajar.
---
Resepsionis tanpa suara ada di
lobi hotel yang begitu luas. Marmer lantainya dingin, memantulkan bayangan Rusli dengan distorsi yang aneh. Di balik meja resepsionis, seorang pria berseragam rapi berdiri kaku. Kulitnya pucat, sepucat lilin yang hampir habis.
"Satu kamar. Lantai dua," ucap Rusli singkat.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan kunci kuningan berat dengan gantungan kayu bertuliskan 204.
"Lift sedang mati, Bapak bisa lewat tangga," hanya itu kata yang keluar, dingin dan tanpa intonasi.
Rusli mendaki tangga kayu jati yang berderit setiap kali dipijak. Di lantai dua, koridor panjang membentang dengan karpet merah yang sudah memudar warnanya. Lampu-lampu dinding berkedip tidak stabil, menciptakan irama detak jantung yang tak beraturan.
Saat melewati kamar-kamar lain, Rusli merasa ada yang salah. Kamar-kamar itu tertutup rapat, namun dari balik pintu-pintu kayu itu, ia mendengar bisikan-bisikan halus yang berhenti setiap kali langkah kakinya mendekat.
---
Apakah ada Tamu Tak Diundang di Balik Tirai Kamar Mandi? Rusli bergidik!
Kamar 204. Rusli memutar kunci. Cklek. Bau apak langsung menyambutnya. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas tempat tidur king size yang tertutup sprei putih kaku. Ia sangat mengantuk, matanya perih. Namun, tepat saat ia hendak merebahkan diri, ia mendengar sesuatu.
Grojok... grojok...
Suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Rusli tertegun. Ia yakin tadi tidak menyalakan keran. Ia berjalan perlahan, mencoba berpikir positif. Mungkin pipa bocor, pikirnya.
Ia membuka pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Uap air yang panas memenuhi ruangan kecil itu. Di balik tirai plastik buram, terlihat bayangan seseorang sedang berdiri di bawah pancuran. Sosok itu diam, membelakangi tirai.
"Halo? Siapa di situ?" tanya Rusli, suaranya sedikit bergetar.
Suara air tiba-tiba berhenti. Hening yang mencekam menyelimuti. Rusli memberanikan diri menyibakkan tirai. **Kosong.** Lantai kamar mandi itu kering kerontang. Tidak ada setetes air pun, meski tadi telinganya dengan jelas menangkap suara gemericik air yang deras.
Rusli mengusap wajahnya. "Aku hanya kelelahan," gumamnya menenangkan diri.
---
Terdengar langkah Kaki di Luar Pintu dan membuat Rusli kembali ke tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit.
Tuk... tuk... tuk...
Suara langkah kaki di koridor luar. Bukan satu orang, tapi seperti puluhan orang yang sedang berjalan terburu-buru. Suaranya berat, seperti sepatu bot tentara yang menghantam lantai kayu. Rusli bangkit dan mengintip melalui lubang kunci.
Di luar, koridor itu kosong. Tapi suara langkah itu terus terdengar, semakin keras, seolah-olah segerombolan orang sedang berbaris tepat di depan pintunya. Kemudian, suara itu berubah. Dari langkah kaki menjadi suara cakaran kuku di permukaan kayu pintunya.
Sreeet... sreeet...
Rusli mundur selangkah. Ia orang yang logis, ia tidak percaya hantu. Ia mencoba mengabaikan suara itu dengan menutupi telinganya menggunakan bantal. Di tengah kegilaan suara itu, Rusli justru jatuh ke dalam tidur yang berat karena kelelahan yang luar biasa.
---
Terasa ini adalah Subuh yang Mistis!
Pukul 04.30 pagi. Adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Rusli terbangun, napasnya tersengal. Kamarnya terasa sangat dingin, hingga napasnya mengeluarkan embun.
Ia berjalan menuju jendela besar di ujung kamar. Dengan tangan gemetar, ia menyibakkan tirai tebal itu. Pemandangan Simpang Lima yang legendaris terhampar di depannya. Di seberang sana, Hotel Ciputra berdiri megah dengan lampu-lampunya yang mulai padam menyambut fajar.
Melihat keindahan Semarang di waktu fajar, rasa takut Rusli sedikit luruh. Ada sebuah dorongan aneh dalam hatinya, sebuah firasat yang kuat. Ia menangkupkan kedua tangannya, berdo'a dalam hati.
"Ya Allah, jika memang di sini tempatku mencari nafkah, jadikanlah kota ini rumah keduaku. Lindungilah aku."
Anehnya, tepat setelah do'a itu selesai, suasana kamar yang mencekam tiba-tiba berubah hangat. Suara-suara aneh itu hilang total.
---
Pukul 07.00 pagi, telepon di atas nakas berdering.
"Halo, Pak Rusli? Ini saya, Anto," suara bawahannya di kantor Semarang terdengar cemas. "Bapak menginap di mana?"
"Di Hotel S, To. Kenapa?" jawab Rusli sambil merapikan kemejanya.
Hening sejenak di ujung telepon. "Pak... Bapak serius? Tolong, Bapak jangan kemana-mana. Saya jemput sekarang juga. Kita pindah hotel!"
Sepuluh menit kemudian, Anto sudah sampai di depan lobi. Wajahnya pucat pasi saat melihat Rusli keluar dengan santai. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Anto langsung tancap gas seolah-olah sedang dikejar setan.
"Kenapa sih, To? Hotelnya bagus kok, cuma agak sepi aja," Rusli tertawa kecil.
Anto menatap Rusli dengan pandangan tidak percaya. "Pak... Hotel S itu sudah berhenti beroperasi sejak tahun lalu karena sengketa dan rentetan kejadian bunuh diri. Seharusnya hotel itu sudah digembok total dari luar. Tidak ada resepsionis, tidak ada tamu."
Rusli terdiam. Tawanya membeku.
"Lagipula, Pak," lanjut Anto dengan suara gemetar, "Kamar 204 yang Bapak tempati... itu kamar tempat seorang tamu ditemukan tewas di dalam bak mandi yang airnya terus mengalir sampai meluap ke koridor. Itulah alasan hotel itu ditutup selamanya."
Rusli menoleh ke belakang, ke arah gedung Hotel S yang semakin menjauh. Di salah satu jendela lantai dua, ia melihat tirai tersibak sedikit. Sebuah tangan pucat melambai pelan ke arahnya.
---
Rusli Baharudin hanya tertawa menanggapi cerita Anto setelah sampai di kantor. Baginya, ketakutan adalah hal yang bisa dikalahkan oleh kerja keras. Namun, ia tak pernah lupa dinginnya air yang tak terlihat dan suara langkah kaki di koridor itu.
Sesuai do'anya saat subuh di kamar berdarah itu, Semarang benar-benar menjadi rumah keduanya. Empat puluh tahun berlalu sejak malam jahanam di Hotel S, Rusli kini menetap di sana, membangun keluarga dan masa depan.
Kadang, saat ia melewati kawasan Simpang Lima yang kini sudah sangat modern, ia akan melirik ke arah bangunan tua yang kini terbengkalai dan ditutupi ilalang itu. Ia tahu, di dalam sana, "penghuni" kamar 204 masih setia menunggu tamu berikutnya yang tersesat di jam mati.