Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden kamar kontrakan Mitha tidak lagi terasa mengancam. Biasanya, cahaya itu adalah lonceng kematian bagi ketenangannya—pengingat bahwa ia harus kembali menghadapi kenyataan sebagai pengangguran atau, yang lebih buruk, kembali ke neraka pengap di daycare lama. Namun pagi ini berbeda. Televisi di sudut ruangan menyala, menampilkan wajahnya yang tampak lelah namun tegas dalam sebuah cuplikan berita yang diulang berkali-kali.
"Mitha, sarapan dulu. Jangan lihat berita terus, nanti kamu pusing," suara itu berasal dari Bu RT yang tiba-tiba saja menjadi sangat perhatian, membawakan nampan berisi nasi uduk hangat ke kamarnya.
"Terima kasih, Bu. Saya masih merasa ini seperti mimpi," jawab Mitha pelan. Suaranya serak. Sudah tiga hari ia hampir tidak tidur, meladeni panggilan polisi, kesaksian di depan Komisi Perlindungan Anak, hingga melayani wawancara yang tak henti-hentinya datang.
"Bukan mimpi, Nduk. Kamu itu pahlawan. Kalau bukan karena video kamu, entah berapa banyak lagi nyawa anak kecil yang layu di sana. Lihat ini," Bu RT menyodorkan ponselnya, memperlihatkan ribuan komentar di media sosial. Integritas itu mahal, dan Mitha membuktikannya,tulis salah satu akun dengan ribuan tanda suka.
Saat Mitha baru saja hendak menyuap nasi uduknya, ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Ia ragu, namun hatinya mendesak untuk mengangkatnya.
"Halo, ini Paramitha?" suara di seberang sana terdengar berat, berwibawa, namun menyejukkan.
"Iya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?"
"Nama saya Ibu Saraswati. Saya salah satu orang yang tidak bisa tidur nyenyak setelah melihat video yang kamu unggah. Saya memiliki sebuah yayasan sosial dan beberapa properti di pusat kota. Mitha, saya tidak ingin basa-basi. Dunia ini kekurangan orang jujur, dan saya tidak ingin membiarkan orang jujur sepertimu kembali ke jalanan hanya untuk mencari kerja."
Mitha tertegun, sendok di tangannya tertahan di udara. "Maksud Ibu?"
"Saya ingin kamu memimpin sebuah proyek daycare baru. Saya sediakan tempatnya, saya sediakan modalnya, dan kamu yang susun aturannya. Saya ingin sebuah tempat di mana orang tua tidak perlu merasa cemas saat bekerja. Tempat di mana kejujuran menjadi fondasi utama, bukan sekadar dekorasi di dinding. Kamu mau?"
Air mata Mitha jatuh tanpa permisi. "Tapi saya hanya lulusan biasa, Bu. Saya baru bekerja seminggu sebagai pengasuh sebelum akhirnya saya... saya menghancurkan tempat itu."
"Kamu tidak menghancurkan apa pun, Mitha. Kamu membedah bisul yang sudah lama membusuk agar tubuhnya bisa sembuh. Gelar bisa dicari, tapi nurani tidak ada sekolahnya. Besok saya jemput, kita bicarakan detailnya."
Sambungan telepon terputus, meninggalkan Mitha dalam isak tangis yang tumpah. Di luar, tetangga-tetangganya mulai berkumpul, bukan untuk mencibir, melainkan untuk memberikan dukungan. Ada yang membawakan sembako, ada yang sekadar ingin menjabat tangannya. Rezeki memang tidak pernah tertukar alamatnya.
Beberapa bulan kemudian, sebuah gedung berlantai dua dengan cat warna warni berdiri tegak di sudut jalan protokol. Tidak ada pintu kayu ek yang berat dan tertutup rapat. Semua dindingnya menggunakan kaca transparan yang dilapisi film satu arah, namun di dalamnya, setiap sudut dilengkapi layar monitor besar yang memperlihatkan aktivitas di setiap ruangan.
Mitha berdiri di lobi, mengenakan seragam biru muda yang rapi. Ia tidak lagi tampak seperti gadis pengangguran yang kusam. Wajahnya berseri, mencerminkan ketenangan jiwa.
"Pagi, Mbak Mitha!" suara melengking itu membuat Mitha menoleh. Itu Arka. Bocah itu berlari kecil ke arahnya, pipinya sudah kembali *chubby*, tidak ada lagi rona pucat atau mata yang ketakutan.
"Pagi, Jagoan. Sudah makan belum?" Mitha berlutut, menyamai tinggi Arka.
"Sudah! Tadi makan telur orak-arik buatan Bunda," jawab Arka riang sambil menunjukkan otot lengannya yang kecil.
Ibu Arka menyusul di belakang, memberikan pelukan hangat kepada Mitha. "Mbak, terima kasih ya. Sejak Arka di sini, dia tidak pernah mengigau lagi. Dia malah selalu semangat kalau pagi, katanya mau ketemu 'Kakak Baik' di sekolah."
Mitha tersenyum tulus. "Ini semua berkat doa kalian juga, Bu. Tanpa dukungan para orang tua, tempat ini tidak akan pernah ada."
Keajaiban tidak berhenti di sana. Nama Mitha yang viral membawa berkah yang terus mengalir. Berbagai perusahaan produk kebutuhan anak berebut menjadikannya duta atau sekadar memberikan donasi untuk yayasan yang ia kelola. Tabungannya yang dulu hanya berisi recehan, kini cukup untuk menyekolahkan adik-adiknya dan membelikan rumah sederhana untuk orang tuanya di kampung.
Namun, di tengah semua kemewahan dan popularitas itu, ada satu momen yang paling berkesan bagi Mitha. Suatu sore, saat ia sedang mengawasi anak-anak tidur siang di ruangan yang sejuk dengan iringan musik klasik yang lembut, ia melihat salah satu staf barunya sedang menyelimuti seorang bayi dengan sangat hati-hati, lalu mencium kening bayi itu seolah itu adalah anaknya sendiri.
Mitha mendekat dan berbisik, "Terima kasih sudah bekerja dengan hati."
Staf itu tersenyum malu. "Saya belajar dari Mbak Mitha. Kerja itu bukan cuma soal gaji, tapi soal apa yang kita tinggalkan di hati mereka."
Mitha berjalan menuju jendela besar, menatap langit sore yang kemerahan. Ia teringat masa-masa kelam di daycare lama, kaki-kaki yang terikat, dan keringat yang membanjiri tubuh mungil tanpa baju. Semua itu kini telah berubah menjadi tawa dan pelukan.
Ia sadar bahwa rezeki bukan hanya tentang angka di buku tabungan. Rezeki adalah ketika kamu bisa tidur nyenyak tanpa rasa bersalah, ketika namamu disebut dalam doa-doa tulus orang-orang yang kamu bantu, dan ketika kamu bisa berdiri tegak menatap masa depan karena kamu tahu, kamu telah melakukan hal yang benar saat semua orang memilih untuk diam.
"Dunia mungkin penuh dengan kegelapan," gumam Mitha pada dirinya sendiri, "tapi satu lilin kecil yang berani menyala akan selalu bisa menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat."
Mitha menarik napas dalam, menghirup aroma harum kebahagiaan yang memenuhi ruangan itu. Ia bukan lagi sekadar Mitha si pengangguran. Ia adalah penjaga mimpi-mimpi kecil, sang pembawa cahaya di tengah pekatnya dunia. Dan rezeki paling besar yang ia terima adalah kemampuan untuk terus menjadi manusia, di saat kemanusiaan sering kali dijual dengan harga murah.