Rumah sederhana di tepi sungai dengan penerangan cahaya yang minim. Halaman terlihat tidak terawat, rumput liar mulai tumbuh menjalar memenuhi dinding sebelah barat. Di dalam rumah terlihat perabot di tata rapi dan bersih, tetapi di sudut lain ruangan, tepatnya di kamar kecil terlihat seorang wanita duduk melamum,di tangannya terdapat secarik kertas yang terus di pegangnya, sementara di tangan satunya mendekap baju berwarna pink.
Husain hanya bisa menghela napas panjang, melihat kelakuan istrinya yang masih terus bersikap demikian, bahkan sudah hampir satu bulan istrinya masih belum bisa menerima kenyataan yang tengah mereka berdua hadapi. Husain menyibak kelambu berwana coklat muda, mendekati Nurma istrinya, duduk disamping Nurma, memeluknya untuk memberi ketenangan, sikap yang sudah hampir satu bulan ia lakukan.
"Kita istirahat yuk," ajak Husain lembut, ajakan yang membuat Nurma terkejut, seketika menyusut matanya yang sudah mengembun, bahkan membuat matanya bengkak.
Nurma hanya menggeleng, menatap suaminya seketika tangis Nurma kembali pecah.
"Aku tidak mau tidur Mas, aku takut jika aku terlelap, Intan akan pergi," isaknya dengan suara parau.
"Nurma, Intan ... Intan tidak akan pergi, dia masih bersama kita," bujuk Husain sabar.
Husain membeku menatap istrinya iba, bahkan kondisi istrinya sudah banyak berubah menjadi semakin kurus dan tidak terawat. Husain makin erat memeluk tubuh istrinya. "Baik, tetapi apa? Kamu bisa membantu menidurkan Intan? Lihat dia masih menunggumu di ujung ranjang," bujuk Husain, kalimat yang tidak berubah hampir satu bulan untuk membujuk istrinya.
Nurma sontak menoleh ke ranjang kecil milik Intan, bibirnya tersenyum lebar dan di sinilah rasa sakit yang Husain rasakan. Wajah Nurma seketika berubah tenang, menatap teduh ke arah ranjang, melangkah dengan bahagia, merentangkan dua tangannya seolah menyambut Intan penuh cinta dan mengajaknya berbaring di ranjang. Husain hanya bisa mengumpat kesal dalam hati, rahangnya mengeras menyimpan kesal yang bertubi.
"Nurma, bagaimana aku menjelaskan padamu, berkali-kali aku sudah berbohong dan membuat terus bersikap seperti ini," sesal Husain, memperhatikan Nurma dari tempatnya duduk, tangan Nurma seolah memeluk tubuh mungil dan tangan satunya mengusap lembut kepala Intan penuh kasih dan lambat lain netra Nurma terlelap dengan wajah bahagia.
Husain menangis dalam diam, mengusap wajahnya kasar, mengikis netranya yang berembun dan beberapa saat yang terdengar hanya helaan napas panjang, mengatur dadanya yang tengah bergemuruh sedih.
"Nurma, Mas harap besok ada hal baik yang bisa aku lihat," lirihnya mengecup kening istrinya, berbaring di samping Nurma, menatapnya dengan berbagai pikiran yang bergejolak di otaknya.
Jam sudah menunjukkan satu dini hari, Husain belum juga bisa terlelap, netranya menatap langit-langit kamar nanar hingga telingannya menangkap satu gerakan aneh di sebelah ranjang. Husain memperhatikan dengan seksama, mengusap matanya untuk kesekian kalinya, seakan ingin memastikan jika penglihatannya tidaklah salah.
'Tidak mungkin.' Husain bangkit, perlahan menuruni ranjang hati-hati.
Husain kembali mengusap netranya, di depannya duduk seorang gadis kecil tengah bersenandung lirih, tangannya sibuk memainkan boneka beruang dan sesekali melihat ke arah Nurma yang tengah tertidur pulas. Gadis kecil bergerak aktif, menegang semua mainan yang ada, sesekali bibirnya tersenyum, bersenandung lirih dan tidak lama gadis kecil ini meletakkan semua mainannya, melihat ke arah Husain dan Nurma bergantian, kaki kecilnya berjalan mendekati ranjang dan kembali melihat ke arah Husain dengan senyum manis, kemudian mendekati Nurma, mengecup pipi Nurma penuh kasih.
Gadis kecil perlahan menghilang, tanpa mengucapkan satu katapun dan hanya lewat tatapan matanya, tatapan yang mengisyaratkan satu hal untuknya.
"Intan!" teriak Husain, saat bayangan gadis kecil menghilang, keringat dingin membasahi tubuh Husain, bahkan dadanya masih berdegub kencang saat ia tersadar.
"Mas. Kenapa Intan?" Nurma memeluk tubuh suaminya cemas untuk beberapa saat, sebelum netranya tertuju pada ranjang.
"Mas. Intan mana? Di-dia ...." Nurma tidak melanjutkan ucapannya, kakinya dengan cepat menuruni ranjang, berlari keluar dari kamar, bahkan mulutnya terus berteriak memanggil Intan.
Husain kembali terpukul, menangis dalam diam, bergegas menyusul Nurma yang tengah berteriak hingga di luar rumah.
Husain memeluk tubuh Nurma, membimbingnya sabar masuk dalam rumah.
"Nurma, sssttt ... jangan berteriak lagi ya? Intan, Intan kita ...." Husain terdiam, menatap Nurma yang mulai memberontak.
"Mas, ayo. Kita cari Intan, kasihan Intan Mas. Intan pasti kedinginan, jam segini Intan belum makan, kasihan Intan Mas, pasti dia lapar," cerocos Nurma memberontak.
Ambang kesabaran Husain sudah habis, tangannya mencengkeram lengan Nurma, sikap kasar yang tidak pernah ia tunjukkan pada istrinya.
"Mas ...." Mas Nurma menghentak tangan suaminya keras, menatap tidak suka ke arah Husain dengan wajah marah.
"Mas, marah karena aku peduli pada Intan? Sejak kapan Mas bersikap seperti ini!" protes Nurma kesal.
"Nurma sadar! Intan anak kita. Dia ...."
"Dia kenapa Mas, semalam aku masih memeluknya Mas."
Husain terdiam, menilik wajah Nurma serius. "Nurma itu hanya ilusi, Intan kita sudah tiada, dia sudah meninggal dan ini hampir satu bulan kepergian Intan, sadar Nurma, Intan kita sudah lebih dulu Allah panggil."
Nurma membeku, tubuhnya bergetar hebat setelah mendengar penjelasan suaminya. "Tidak mungkin, Intan masih hidup, dia terus bersamaku Mas, semalam dan malam-malam sebelumnya dia juga tidur bersamaku," jelas Nurma, memegang kepalanya dengan tatapan liar keseluruhan penjuru rumah.
"Intan, ini Ibu Nak, Intan sembunyi di mana? Intan mengajak Ibu main petak umpet ya ...." Nurma berdiri berjalan mengendap-endap seolah mencari Intan di tempat persembunyiannya.
Husain kembali menjerit dalam hatinya, menyaksikan istrinya yang belum bisa melepaskan kepergian Intan. "Intan,apa yang harus aku lakukan agar bisa menyadarkan mu.
Lamunan Husain terberai saat mendengar Nurma berteriak keras dan terus memanggil nama Intan. Husain berlari memburu sumber teriakan hingga langkah Husain terhenti di halaman belakang halaman yang hanya berjarak lima ratus meter dari sungai kecil di belakang rumahnya.
"Intan, tunggu Ibu Nak, Ibu akan menolongmu!" teriak Nurma berlari cepat menuju arah sungai.
Husain langsung mendekap tubuh Nurma, mencegahnya lari menuju sungai. "Nurma sadar!" teriak Husain menampar Nurma agar tersadar dari ilusinya.
Nurma membeku menatap Husain terkejut,"Intan Mas, dia di sungai, badannya basah Mas, Intan, di-dia ...." Nurma menghentikan teriakannya tubuhnya luruh di tanah kering dengan tangis penyesalan.
Husain hanya diam, menunggu hingga tangis Nurma mereda dan sadar dengan apa yang telah terjadi.
Satu Minggu kemudian, Nurma sudah banyak mengalami perubahan, meskipun sesekali masih terlihat menangis dan melamun.
"Nurma," sapa Husain memeluk istrinya.
"Ya," timpal Nurma dengan helaan napas panjang.
"Sebaiknya kita pindah dari rumah ini dan membuka suasana baru, aku hanya tidak ingin kau terus larut dalam kesedihan," terang Husain hati-hati.
Nurma sontak melepas pelukan suaminya, duduk menjauh, menatap Husain marah.
"Pindah? Tidak Mas, Intan ada di rumah ini. Aku tidak mau, jika Mas ingin pergi silahkan, aku akan menunggu Intan Mas," tolak Nurma jujur.
"Nurma, dengarkan dulu."
"Aku tidak mau Mas!" teriak Nurma keras.
"Baik! Jika itu mau mu, tetapi apa? Pernah kau menanyakan perasaanku, rasa sakitku dan gilanya aku. Aku sama seperti mu Nurma, aku sakit, aku gila dan aku sedih karena kematian anak kita. Kematian Intan karena kelalaian kita berdua, sekarang kau paham apa yang aku rasakan?" Husain memeluk paksa tubuh Nurma, tergugu penuh penyesalan.
Nurma terdiam, membeku dalam pelukan suaminya, air matanya sudah membasahi bahu suaminya, tangisan penyesalan, tangisan duka yang terus memburu hatinya.
"Mas ...." Nurma dengan tangisnya yang tidak kunjung mereda.
Husain melepas pelukannya, menatap Nurma dengan lekat. "Nurma, ayo kita sama-sama berjuang untuk bisa melepaskan kepergian Intan, kita ikhlaskan dia, meskipun itu berat."
Nurma tidak menjawab hanya mengikis netranya yang sembab, menatap Husain penuh tanya.
"Mas, ada satu hal yang ingin aku tanyakan ini tentang Intan," lirih Nurma bersandar di bahu suaminya.
"Mas, hampir satu bulan ini dan setiap malam, apa? Mas selalu melihat Intan bermain dan ...." Nurma menghentikan ucapannya, netranya langsung melihat ke arah kamar kecil milik Intan.
"Aku juga sama sepertimu Nurma, aku menggila, bahkan membiarkan ilusi itu terus berkembang di jiwa dan penglihatanku, tetapi aku sadar jika dunia kita sudah berbeda, perlahan aku mencoba waras dan mengikhlaskan, karena Intan adalah anak kita," terang Husain lirih, mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Nurma menarik kepalanya dari bahu Husain, menatap kosong ke arah kamar Intan.
"Mas, Nurma. Nurma minta maaf, andaikan Nurma datang cepat mungkin Intan masih bisa di selamatkan dan sekarang ...." Helaan napas panjang terdengar kemudian berganti dengan senyum tipis.
"Aku tidak akan melupakan Intan Mas, tetapi aku akan belajar menerima dan mengikhlaskan, temani aku Mas dan aku butuh Mas Husain," jawab Nurma membuat Husain terkejut, "setelah genap satu bulan kepergian Intan, aku siap pindah," putus Nurma akhirnya.
Genap satu bulan kepergian Intan, Nurma terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu, bahkan beberapa baju Intan serta mainan miliknya sengaja Nurma sumbangkan ke Panti Asuhan.
"Mas, ini malam terakhir kita tinggal di rumah ini. Sebelum pergi boleh kan aku melihat Intan seperti malam-malam sebelumnya?"
Husain tersenyum," boleh kita lihat bersama-sama untuk terakhir kalinya dan semoga Intan tenang di alam sana," jawab Husain dengan tatapan lurus ke depan.
Pukul satu dini hari, di tempat yang sama mereka berdua duduk, bibir mereka berdua tersenyum melihat Intan kecil bermain, bersenandung lirih memutari kamar dengan senangnya, hingga gerakan intan kecil terhenti menatap ke arah mereka berdua, tatapan penuh arti.
Nurma sontak merentangkan tangannya, menyambut tubuh mungil yang berlari menuju ke arahnya, kali ini Nurma memeluknya hangat, menatapnya lembut, mengecup kening Intan penuh kasih.
"Intan, Ibu ikhlas, Ibu rela pulanglah dengan tenang, Ibu tidak akan mencegahmu," lirih Nurma merenggangkan pelukannya, melepas cinta abadinya.
Intan perlahan menjauh, menatap tenang ke arah Husain dan Nurma, bibirnya tersenyum manis, sebelum semua bayangannya menghilang bersama udara dingin yang berhembus lembut menyapu tubuh mereka.
"Selamat jalan Nak, Ibu ikhlas melepasmu dengan doa."
Tamat