Sore tanggal 31 Desember. Langit di Kecamatan Tumbang Titi tiba-tiba berubah gelap gulita, lalu hujan deras turun membasahi setiap sudut jalan dan halaman rumah. Suara rintiknya yang keras bergema di mana-mana, seolah ingin mengatakan bahwa malam pergantian tahun ini akan terasa berbeda dari biasanya.
Bagi Alexa, hujan ini bukan sekadar turunnya air dari langit—ini adalah kekhawatiran yang turun begitu saja. Sudah tiga hari dia resmi berpacaran dengan Kenzo, pemuda yang membuat hatinya berdebar kencang sejak pertama kali bertemu. Mereka sudah berjanji untuk merayakan malam istimewa ini bersama-sama, dan Alexa sudah menyiapkan segalanya dengan hati yang penuh harapan.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 18.17. Alexa berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya. Kulit putihnya tampak makin bersih dan bersinar diterangi cahaya lampu, bibirnya yang berwarna merah alami terlihat manis sekali, ditambah dengan pipi chubby nya yang sedikit memerah karena gugup. Dia tampak begitu cantik dan menggemaskan, sampai-sampai dia sendiri tersenyum malu melihat penampilannya.
Namun senyum itu perlahan memudar seiring makin derasnya hujan yang turun. Kenzo belum juga datang menjemputnya. Alexa berjalan mondar-mandir di teras rumah, sesekali melirik ke jalan yang tergenang air.
"Dia pasti terjebak hujan ya? Atau mungkin jalannya licin dan dia harus hati-hati?" gumamnya dalam hati, sambil sesekali menghela napas panjang.
Setiap kali ada suara kendaraan lewat, matanya langsung berbinar berharap itu adalah Kenzo, tapi setiap kali pula harapannya pupus. Waktu terus berjalan, hingga jarum jam menunjukkan pukul 21.00. Alexa mulai merasa sedih, khawatir kalau-kalau rencana mereka batal begitu saja.
Namun tiba-tiba, dari kejauhan terlihat sepeda motor melaju perlahan menerobos hujan, dan yang mengendarainya adalah sosok yang dia nantikan Kenzo! Pakaiannya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi senyumnya yang lebar tak pernah hilang dari wajahnya.
Alexa langsung berlari kecil menghampirinya, lalu menyambutnya dengan senyum terindah yang dia miliki.
"Kamu ini kenapa sih? Kok basah semua? Aku kan khawatir banget, takut kamu kenapa-napa di jalan," ujar Alexa sambil memukul pelan lengan Kenzo, suaranya terdengar bercampur antara marah halus dan lega.
Kenzo tertawa renyah, lalu mengusap rambutnya yang basah seadanya.
"Maaf ya, Sayang. Jalanan banjir parah, motor susah jalan, aku harus berhenti dan dorong beberapa kali. Aku sempat pikir bakal telat sampai tengah malam lho. Tapi lihat deh, aku tetap datang kan? Kalau nggak, ntar kamu nangis semalaman, terus aku dibilang pacar yang nggak bertanggung jawab dong," jawabnya sambil tersenyum menggoda.
Alexa mendengus kecil, tapi matanya berbinar bahagia. "Dasar kamu ini! Aku nggak akan nangis kok... paling cuma sedih sedikit, terus tidur aja. Hahaha."
Kenzo mendekat, lalu memegang kedua tangan Alexa yang terasa sedikit dingin. "Tapi aku nggak mau bikin kamu sedih sedikit pun. Makanya aku berusaha sekuat tenaga buat datang. Lagian, mana mungkin aku mau melewatkan momen pertama kita rayakan tahun baru bareng, Itu dosa besar lho di hati aku."
Kata-kata itu membuat pipi Alexa makin memerah. "Kamu ini, ngomongnya manis banget. Awas aja ntar gula di mulut kamu lumer dan bikin jalanan makin licin, lho! Nanti motor kamu malah oleng deh!"
Keduanya tertawa lepas. Tanpa ragu lagi, Kenzo mengajak Alexa naik ke atas motor, lalu mereka berjalan menerobos hujan. Meski tubuh mereka perlahan ikut basah kuyup, tapi rasa hangat di hati jauh lebih terasa. Dari kejauhan, suara letusan kembang api mulai terdengar, dan langit malam dihiasi dengan cahaya warna-warni yang indah sekali.
Mereka berhenti di tempat yang agak lapang, mematikan mesin motor, lalu duduk sebentar sambil menatap langit yang berkilauan. Air hujan terus membasahi wajah dan tubuh mereka, tapi rasanya tak ada yang lebih indah dari saat itu.
"Kamu nggak kedinginan, Lex? Badan kamu kok terasa dingin banget," tanya Kenzo sambil mendekatkan tubuhnya agar bisa menghangatkan Alexa.
Alexa menggeleng cepat, lalu tersenyum. "Enggak kok. Malah rasanya seru banget. Selama ini aku kira merayakan tahun baru harus di tempat yang mewah atau kering, tapi ternyata di bawah hujan begini rasanya lebih spesial. Kayak... hujan ini jadi saksi kalau cinta kita juga kuat, nggak takut sama apa pun, bahkan sama jalanan yang banjir sekalipun."
Kenzo tertawa kecil, lalu menyentuh ujung hidung Alexa dengan jari telunjuknya. "Wah, puitis banget pacarku ini. Tapi aku setuju banget. Kalau besok hujan lagi, aku malah senang. Berarti kita bisa ingat-ingat momen ini terus. Lagian, kalau nggak ada hujan, mana aku bisa lihat kamu makin cantik begini? Air hujan tuh kayak air suci yang bikin kamu makin mempesona, lho. Bahkan basah kuyup begini pun kamu tetep jadi orang tercantik yang pernah aku lihat."
"Dasar kamu, omongannya nggak ada habisnya bikin aku senyum-senyum sendiri," jawab Alexa sambil menunduk malu.
"Kenapa nunduk? Aku kan ngomong yang bener. Kalau kamu terus-terusan malu begini, nanti aku malah makin sayang sama kamu, terus nggak mau lepas dari kamu selamanya. Siapa yang tanggung jawab coba? Apalagi nanti kita mau jalan jauh naik motor, kalau aku nggak konsentrasi bawa motor karena terus-terusan lihat kamu, nanti kita malah nyemplung ke selokan dong," goda Kenzo lagi.
Alexa mengangkat wajahnya, lalu menatap mata Kenzo dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Kalau begitu, aku yang mau tanggung jawab. Aku juga nggak mau lepas dari kamu, Kenzo. Mulai malam ini, tahun-tahun ke depan, aku mau kita selalu bersama-sama, apa pun yang terjadi. Bahkan kalau kita harus jalan naik motor berhari-hari pun aku ikut saja."
Suara kembang api yang terakhir meletus tepat saat kata-kata itu keluar dari mulut Alexa, seolah menjadi tanda bahwa janji mereka itu akan selalu abadi. Bagi mereka berdua, hujan yang turun malam itu bukanlah penghalang, tapi justru bumbu yang membuat momen itu terasa makin romantis dan tak terlupakan.
Keesokan harinya, sesuai janji yang sudah mereka sepakati, keduanya berangkat menuju Kalimantan Tengah. Tujuan mereka adalah salah satu tempat wisata terkenal di sana, yaitu Sungai Setongah. Mereka menaiki sepeda motor kesayangan Kenzo, berangkat pagi-pagi sekali agar bisa menikmati perjalanan dengan tenang.
Perjalanan yang harus mereka tempuh memakan waktu berjam-jam. Tapi rasanya waktu berjalan begitu cepat. Mereka tak merasa lelah sama sekali—bahkan, mereka berharap waktu bisa berhenti sejenak supaya kebahagiaan yang mereka rasakan itu tak pernah berakhir.
Sepanjang perjalanan, mereka tak berhenti bercanda dan tertawa. Alexa duduk di belakang, memeluk pinggang Kenzo dengan erat, kepalanya bersandar di punggung kekasihnya itu.
"Kenzo, lihat deh pemandangannya bagus banget! Pepohonan, langitnya biru, udaranya segar sekali," seru Alexa sambil menunjuk ke arah samping jalan.
Kenzo sedikit menoleh sambil tetap mengemudi dengan hati-hati. "Iya dong, Sayang. Apalagi yang duduk di belakang aku juga cantik banget, jadi pemandangan di depan mata aku malah lebih bagus dari apa pun yang ada di pinggir jalan ini."
Alexa menepuk pelan bahu Kenzo. "Kamu ini ya... aku mau bicara soal pemandangan alam, tapi kamu malah memuji aku terus. Nanti kamu malah salah jalan lho!"
"Enggak bakal salah jalan kok, aku kan punya kompas hati yang selalu menunjuk ke arah kamu. Mana mungkin aku nyasar kalau tujuannya selalu kamu," jawab Kenzo dengan nada serius tapi tetap terdengar manis. "Lagian, naik motor begini kan enak banget. Angin berhembus, aku bisa rasakan eratnya pelukan kamu, rasanya dunia ini cuma milik kita berdua aja."
"Kamu ini pintar banget cari alasan ya," ujar Alexa sambil tersenyum malu, tapi pelukan tangannya makin erat saja.
Sesampainya di Sungai Setongah, mereka langsung terpesona dengan keindahan alamnya. Air sungai yang jernih, dengan bebatuan membuat suasana terasa damai dan menyegarkan. Mereka memarkirkan motor di tempat yang aman, lalu berjalan beriringan di sepanjang tepi sungai, sesekali berhenti untuk berfoto dengan gaya-gaya yang lucu dan menggemaskan.
"Kita foto gaya apa lagi nih, Lex?" tanya Kenzo sambil memegang kamera ponselnya.
"Kita foto gaya kayak orang yang baru nikah aja ya? Aku mau berdiri di belakang kamu, lalu aku peluk kamu dari belakang," usul Alexa dengan semangat.
Kenzo langsung menurut, tapi saat Alexa sudah memeluknya, dia tiba-tiba berbalik arah dan membuat posisi mereka berubah.
"Lho, kenapa berbalik?" tanya Alexa bingung.
"Karena aku yang mau melindungi kamu, Sayang. Kalau aku yang di depan, aku bisa menjaga kamu dari apa pun. Apalagi nanti kalau kita pulang naik motor lagi, aku yang di depan ya, supaya anginnya kena aku saja, kamu tetep nyaman di belakang. Lagian, aku juga mau memeluk kamu lebih erat, kan lebih nyaman begitu?" jawab Kenzo sambil tersenyum nakal.
Alexa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. "Kamu ini... tapi aku suka kok. Aku senang kamu selalu memikirkan aku."
Kemesraan yang mereka tunjukkan sepanjang hari itu membuat orang-orang yang lewat pun ikut tersenyum. Ada yang sampai berhenti sebentar dan berbisik, "Wah, romantis banget ya pasangan itu.Bikin iri dan ikut senyum-senyum sendiri lihatnya."
Setelah lelah berjalan dan berfoto, mereka duduk bersebelahan di atas batu besar di tepi sungai, dengan sepeda motor mereka terparkir rapi tak jauh dari tempat duduk mereka. Angin yang berhembus terasa sejuk, membawa suara aliran air sungai yang menenangkan.
"Lex," panggil Kenzo pelan.
"Iya, Ken?"
"Terima kasih ya udah mau jalan jauh-jauh naik motor bareng aku. Aku tahu perjalanannya jauh dan kadang jalannya nggak enak, tapi kamu tetap semangat dan tersenyum terus. Aku nggak nyangka, awalnya cuma chatan, sekarang aku bisa bawa kamu keliling tempat indah begini sambil berpegangan tangan sama kamu. Rasanya aku orang paling beruntung di dunia ini," ujar Kenzo sambil menatap mata Alexa dalam-dalam.
Alexa memegang tangan Kenzo erat-erat, lalu menatapnya balik dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Terima kasih juga, Kenzo. Kamu udah bikin hari-hari aku jadi penuh warna. Setiap kali aku sama kamu, rasanya semua kelelahan hilang begitu saja. Aku harap kita bisa terus begini, sampai tua nanti kita masih bisa naik motor berdua, jalan-jalan ke tempat-tempat indah, tertawa bareng, dan merayakan setiap momen indah bersama-sama."
Kenzo tersenyum lebar, lalu mengusap kepala Alexa dengan lembut. "Pasti dong. Nanti kalau kita sudah tua, rambut kita sudah mulai memutih, motor kita mungkin sudah tua juga, tapi aku masih akan tetap bawa kamu jalan-jalan. Aku masih akan tetap memuji kamu sebagai wanita tercantik di dunia, dan kamu masih akan tetap marah-marah kecil karena aku terlalu manis ngomongnya. Kita akan tetap jadi pasangan yang bikin orang lain iri dan ikut bahagia melihat kita."
Keduanya tertawa bersama, dan suara tawa itu bercampur dengan suara aliran air sungai, menjadi lagu kenangan yang akan selalu tersimpan rapi di dalam hati mereka berdua. Hari itu bukan sekadar perjalanan liburan, tapi awal dari banyak kisah indah yang akan mereka lalui bersama, dengan cinta yang tumbuh makin kuat setiap harinya.