Autralia begitu buas, angin musim gugur di Adelaide berhembus kencang, menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih dingin daripada hati Dania Salsabila malam itu. Di tangannya, sebuah ponsel pintar yang menjadi sumber pundi-pundi kekayaannya sebagai beauty influencer sekaligus chef kenamaan, kini justru menjadi saksi bisu kehancurannya.
Ada foto di sana. Foto Adrian Hawk, suaminya yang gagah dan atletis, dengan rahang tegas dan mata biru yang dulu dianggap Dania sebagai oase, dengan tiga kancing baju yang terlepas, sedang memeluk Amelie di sebuah kafe tersembunyi di sudut Paris. Nampak mesra! Amelie, wanita Prancis dengan kecantikan klasik yang merupakan mantan kekasih Adrian, tampak begitu posesif merangkul lengan suaminya. Mereka jalan lagi berdua? Dania terisak. Ini bukan yang pertama. Bukan juga yang kedua. Ini adalah kali ketiga! Keparat! Keduanya layak masuk Neraka jahanam! Dania makin menjadi-jadi dengan memecahkan barang-barang di sekitarnya! Tetiba tangan dan telapak kakinya tergores kaca, awwww!!!
---
Dania Salsabila adalah definisi sukses modern. Di Instagram, ia adalah ratu kecantikan dengan jutaan pengikut. Di dapur, ia adalah maestro yang mengubah bahan sederhana menjadi mahakarya kuliner. Tubuhnya body goals, hasil dari disiplin yang ketat. Namun, di balik semua kemilau itu, dunia Dania merasa seperti bangunan megah yang pondasinya sudah keropos dimakan rayap.
Keputusannya sepuluh tahun lalu kembali menghantuinya. Demi Adrian sang pria rupawan itu, Dania nekat meninggalkan akidahnya. Ia murtad, melawan restu Ayah dan Ibunya yang merupakan tokoh agama di kampung halaman.
"Dania, cinta itu buta, tapi Allah SWT tidak pernah tidur," kata Ayahnya kala itu dengan suara bergetar dan jiwa berguncang hebat.
Dania muda dengan penampilan modisnya seperti halnya perempuan pemuja liberalisme yang pintar dan seksi, terlihat egois dan hanya tersenyum kecut. Ia merasa modernitas dan feminisme berarti kebebasan memilih pasangan, melampaui batas dogma agama. Ia menganggap poligami yang dijalani Ayahnya—meski adem ayem dan adil—sebagai bentuk penindasan terhadap wanita. Ia mencari kebahagiaan di pelukan pria Barat yang ia pikir akan menghargai kesetaraan.
"Andai kau tak ku izinkan dulu membuka hijab dan kuliah di Amerika... " Ayahnya menyesal sekali.
"Andai ibu tak diam saja saat kau mencintai Adrian! " Ibu tertegun.
---
Perselingkuhan pertama Adrian terjadi saat mereka baru memiliki anak pertama di Australia. Namanya Erina. Seorang wanita lokal yang membuat Adrian lupa jalan pulang selama berbulan-bulan. Dania, dengan sisa-sisa harga dirinya, memaafkan. Ia menyalahkan dirinya sendiri; mungkin ia terlalu sibuk dengan konten, mungkin ia kurang memperhatikan kebutuhan biologis suaminya yang memang memiliki libido tinggi dan senang dipuja. Adrian yang penyuka semua olahraga, dari lari sampai gym, paralayang sampai balapan mobil.
Lalu datanglah "badai" kedua dan ketiga. dengan puncaknya adalah Amelie, yang kepergok susah move on untuk tak berhenti melupakan!
Adrian tidak hanya berselingkuh. Ia mulai "kumpul kebo" dengan Amelie di sela-sela perjalanan bisnisnya ke Eropa sebagai pengusaha properti dan perhiasan. Adrian merasa berhak karena ia tampan, kaya, dan merasa tidak terikat oleh aturan moral manapun. Baginya, Dania adalah trofi yang sudah ia dapatkan, sementara wanita lain adalah tantangan yang harus ditaklukkan.
"Aku mencintaimu, Dania. Tapi Amelie... dia memahamiku dengan cara yang berbeda," ucap Adrian tanpa dosa saat Dania melabraknya lewat panggilan video.
Dania terhenyak. Di mana feminisme yang ia agungkan? Di mana kemandirian finansial yang katanya bisa menyelamatkan wanita? Nyatanya, meski ia mapan dan cantik, ia tetap menjadi budak cinta (bucin) dari seorang pria pengkhianat.
---
Malam itu, di apartemen mewahnya yang terasa seperti penjara kaca, Dania menatap botol obat tidur di atas meja marmer. Pikirannya kalut. Ia telah berada di titik nadir. Ia malu. Malu pada dunia yang melihatnya sebagai wanita sempurna, namun nyatanya ia dicampakkan. Ia malu pada orang tuanya karena "karma" seolah sedang menertawakannya.
"Untuk apa aku hidup? Aku sudah kehilangan Tuhan, kini aku kehilangan lelaki yang kepadanya aku menyerahkan segalanya," bisiknya parau.
Dania melangkah ke arah balkon. Angin Melbourne bertiup kencang, seolah memanggilnya untuk terjun dan mengakhiri semua rasa sakit ini. Namun, sebuah notifikasi di ponselnya muncul. Foto dua anaknya, hasil pernikahan yang kini ia sesali, sedang tertidur lelap di kamar sebelah.
Suara tangis anak bungsunya tiba-tiba pecah, memecah kesunyian malam dan niat gelap di hatinya.
---
Dua minggu kemudian, dengan sisa keberanian yang ada, Dania pulang ke Indonesia. Ia tidak membawa koper penuh kemewahan, ia hanya membawa luka yang menganga.
Di depan pintu rumah orang tuanya, Dania bersimpuh. Ia mengira akan diusir, atau setidaknya diceramahi habis-habisan. Namun, yang ia terima adalah dekapan hangat Ibunya dan usapan lembut tangan Ayahnya di kepalanya.
"Ayah... Dania berdosa. Dania kualat. Dania membenci poligami Ayah, tapi Dania justru hancur dalam monogami yang penuh dusta," tangisnya pecah.
Ayahnya, pria tua yang tetap tenang itu, berbisik, "Kembalilah, Nak. Pintu Allah selalu terbuka lebih lebar daripada pintu rumah ini. Modernitas bukan berarti meninggalkan akar. Kesetaraan bukan berarti membiarkan dirimu diinjak-injak atas nama cinta."
Dania dipeluk oleh sebuah ketulusan dan kehangatan. kasih sayang dan cinta tanpa syarat. Oleh kedua orangtuanya yang telah renta.
---
Dania mulai menata hidupnya kembali. Ia memutuskan untuk bercerai secara resmi dari Adrian, menghentikan segala akses komunikasi, dan menutup lembar hitam di Australia. Ia kembali mengucapkan kalimat syahadat dengan air mata yang membanjiri pipi—kali ini bukan karena paksaan, tapi karena kesadaran bahwa ia butuh tempat bersandar yang tidak akan pernah mengkhianatinya.
Ia menyadari satu hal tentang feminisme dan rumah tangga dalam Islam. Islam tidak melarang wanita berkarier atau menjadi hebat seperti dirinya, namun Islam memberikan batasan untuk melindungi martabat wanita. Ia dulu membenci poligami Ayahnya, namun kini ia melihat bahwa dalam ketundukan pada syariat, ada keadilan yang jauh lebih terhormat daripada kebebasan tanpa batas milik Adrian yang justru merendahkan wanita sebagai objek pemuas nafsu.
Dania Salsabila tetap seorang influencer dan chef. Namun kini, kontennya bukan lagi sekadar pamer kemewahan. Ia bicara tentang kekuatan hati, tentang hidayah, dan tentang bagaimana seorang wanita harus memiliki harga diri di hadapan lelaki.
---
Di sebuah sore yang cerah di Jakarta, Dania melihat kedua anaknya bermain di taman bersama kakek-neneknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tidak ada lagi Adrian, tidak ada lagi Amelie, tidak ada lagi bayang-bayang murtad yang menghantuinya.
Ia telah belajar bahwa cinta yang paling hakiki adalah yang membawanya mendekat kepada Sang Pencipta, bukan yang menjauhkannya. Kali ketiga bukan lagi tentang perselingkuhan Adrian, melainkan tentang kesempatan ketiga yang diberikan Tuhan kepadanya untuk menjadi manusia yang lebih mulia.
Dania tersenyum. Langitnya tidak lagi runtuh, ia baru saja mendapatkan langit yang baru, yang jauh lebih luas dan penuh berkah. Sebuah cahaya baru tempat ia kembali dari nol melangkah!