Malam itu aku sulit tidur. Kepalaku penuh dengan berbagai pikiran, membuat hatiku gelisah. Aku terus teringat kejadian tadi siang, ketika aku bertengkar dan dimarahi habis-habisan oleh pamanku.
Tanpa sadar, air mataku kembali mengalir. Aku menangis dalam diam, hanya ditemani bantal kesayanganku. Saat tangisku perlahan mereda, aku mengecek ponselku...
jam menunjukkan pukul 01.43 malam.
Aku mencoba untuk tidur, tetapi semakin kupaksa, bayangan siang itu terus menerus menghantui pikiran. Akhirnya, aku mencoba membaca doa sebelum tidur dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Aku tak meminta banyak. Harapanku hanya ingin malam ini aku bisa memimpikan sesuatu yang indah.
Dan ternyata, doaku terkabul...
Aku medapati diriku berada di situasi yang aneh. Kota tempat kami menghilang... Meski tidak sepenuhnya, hanya sebagian saja yang hilang.
Aku, orang tuaku, saudara-saudaraku dan orang-orang lain yang memiliki tempat tinggal di kota itu berbondong-bondong untuk mencarinya. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang menaiki angkot berharap bisa menemukan bagian kota yang hilang tersebut.
Namun di tengah pencarian, aku terpisah dari mereka.
Entah bagaimana, aku mendapati diriku berdiri sendiri di jalan berbatu yang sunyi, bahkan aku pun tidak tahu dimana itu. Tanah di sekitaku tandus, seperti bekas galian konstruksi. Di sana masih ada alat berat, sebuah excavator yang diam tak bergerak. Tidak ada siapa pun disana selain aku.
Meski begitu, aku memberanikan diri untuk terus menyusuri jalanan yang sepi mengikuti kata hatiku.
Dan kemudian... Aku menemukannya.
Kota hilang yang dicari semua orang berada tidak jauh di depanku. Namun kota itu ditutupi kabut tebal, membuat suasananya terasa menyeramkan, aku tidak berani masuk ke sana.
Tapi ada sesuatu yang membuatku takjub.
Di luar gerbang masuk kota, terdapat dua kolam air. Kolam pertama disebelah kanan berukuran kecil namun sedikit memanjang, sedangkan kolam kedua di sebelah kiri lebih besar, seperti kolam renang.
Yang membuaku terpukau adalah kolam pertama.
Airnya sangat jernih. Warnanya seperti pelangi, namun di dominasi oleh warna hijau hutan. Air itu terlihat begitu indah, begitu murni, sulit di ungkapkan hanya dengan kata-kata, seakan bukan berasal dari dunia biasa. Aku hanya bisa memandangnya, tanpa berani menyentuhnya.
Karena tak ingin berlama-lama dan ingin menyampaikan kabar baik itu kepada semua orang, akhirnya aku kembali ke tempat mereka. Mereka masih sibuk keliling mencari kota yang hilang.
Aku segera memanggil sepupu laki-lakiku dan memberitahunya bahwa aku sudah menemukan kota tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyampaikan kabar baik itu kepada semua orang.
Akhirnya, aku menaiki angkot, dan dibawah arahanku, kami menuju kota yang hilang itu.
Namun saat kami sampai, sama sepertku, tidak ada yang berani masuk ke kota itu. Tiba-tiba, di tengah kerumunan, seseorang berteriak bahwa kota itu telah dihuni oleh monster bayangan dan perlu dibersihkan terlebih dahulu.
Akhirnya, karena tidak ada solusi lain, kami semua sepakat untuk menunggu di luar sampai kota itu di bersihkan.
Sambil menunggu, aku, kakekku, dan beberapa orang lain memutuskan untuk berendam di kolam kedua.
Saat sedang berendam, mungkin karena didorong rasa penasaran, aku akhirnya mencoba meminum sedikit air itu.
Rasanya ternyata enak dan menyegarkan. Saat air itu perlahan mengalir ke tenggorokanku, seluruh tubuhku, baik dari dalam maupun luar, mulai merasakan rileks dan ketenangan yang luar biasa. Seolah semua beban dalam diriku terangkat, perasaanku menjadi ringan dan damai.
Tiba-tiba terdengar suara di sampingku, saat aku menoleh terlihat seorang pemuda duduk di dekatku. Ia juga sedang memperhatikanku. Wajahnya buram, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, meski begitu aku merasa bahwa pemuda itu sangat-sangat tampan.
Tiba-tiba ia bertanya, "Gimana, udah tenang?"
Karena kurasa pertanyaan itu ditujukan kepadaku, aku pun menjawab, "Iya, udah tenang."
Ia lalu berkata bahwa kota tempat tinggalku sudah tidak bisa di tinggali atau pun di bersihkan lagi karena telah menjadi tempat tinggal para monster. Sambil berbicara, pandangannya tak pernah lepas dariku. Aku merasa seolah dia hanya menatapku seorang. Mungkin karena takjub pada suaranya yang merdu, aku hanya menganggukkan kepala mendengar ucapannya.
Kemudian ia mengangkat tangannya dan menunjuk sesuatu, pandanganku mengikuti arah yang di tunjuknya, dan ternyata yang ia tunjuk adalah kolam pertama. Aku melihat banyak orang mengelilingi kolam itu, tetapi tak ada yang berani mendekat atau pun menyentuhnya, seolah kolam itu memiliki penghalang tak terlihat yang menghalangi siapa pun untuk mendekat.
Pemuda itu berkata bahwa air pertama jauh lebih murni dan lebih enak daripada air kedua. Namun sayangnya, air itu tidak boleh disentuh oleh siapa pun, karena itu adalah air yang penuh misteri dan suci.
Aku tidak percaya ucapannya.
Saat aku hendak bertanya lebih lanjut, pemuda itu malah menghilang, seolah-olah sejak awal, kehadirannya memang tidak pernah ada di sampingku.
Aku tidak merasa takut ataupun bertanya-tanya kemana dia pergi. Aku hanya terkejut.
Aku mengabaikan ucapannya tadi dan mungkin karena diliputi rasa penasaran aku akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju kolam pertama, berniat untuk menyentuh dan meminum airnya.
Seolah air itu memang menungguku, perjalananku menuju kolam itu terasa lancar. Bahkan orang-orang yang sebelumnya ingin mendekat hanya bisa melihatku dari belakang.
Saat aku sampai di tepi kolam, sekali lagi aku dibuat terpukau olehnya. Pemandangan air itu dari dekat bahkan lebih indah daripada saat aku melihatnya di kejauhan.
Perlahan, aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh permukaan air itu.
Sedikit lagi...
Sedikit lagi aku akan menyentuhnya...
Tiba-tiba....
Aku malah terbagun, bahkan sebelum sempat menyentuh air itu.
Saat aku terbagun, yang kudengar adalah suara azan yang berkumandang seolah membangunkanku dari mimpi panjang itu.
Setelah nyawaku mulai terkumpul, aku meraih ponselku dan menyalakannya. Betapa terkejutnya aku ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Tapi anehnya, saat aku bangun, pikiranku terasa sangat tenang dan damai. Seolah semua beban yang semalam kurasakan menghilang begitu saja, meninggalkan mimpi yang masih terasa jelas di ingatan.