Jeritan melengking nan heboh membuat diriku refleks melompat ke belakang, untungnya tidak terjungkal. Setelah melakukan terapi pernapasan agar jantungku normal seperti sedia kala, mataku menatap ke arah sumber jeritan menyebalkan tadi.
Tampak para siswa sedang mengerubungi papan mading berukuran lima kali lipat lebih besar dari tubuhku. Awalnya aku tidak begitu memperdulikan apa yang sedang mereka lihat sampai ada seorang siswi berteriak kegirangan sambil berkata bahwa peringkatnya naik.
Sontak, kedua kaki ku melangkah dengan sendirinya masuk ke dalam kerumunan itu. Dengan gerakan gesit, aku berhasil menerobos lautan manusia penuh keringat itu karena tubuhku yang berukuran mini.
Disini lah aku, berdiri tepat di depan papan yang akan memberi jawaban atas semua usaha yang ku lakukan hingga hari ini. Kedua manik indahku bergerak cepat, mencari-cari inisial huruf "R"-inisial namaku sendiri.
"Congrats Kanade! Hebat banget deh kamu bisa nempatin posisi pertama di angkatan kita!" seru seseorang yang tak jauh dariku.
"Jelaslah, dia kan anak paling pintar di sekolah ini. Apalagi guru-guru sudah pada tau kalo Kanade itu anak jenius, mustahil lah kalo dia ngga dapet ranking satu," jelas siswi lainnya.
Mataku melirik ke arah mereka yang saat ini sedang menggoda salah satu teman mereka yang katanya adalah siswi terpintar di SMA Astra Nova ini. Yang digoda tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan anggun, persis seperti putri kerajaan di dongeng-dongeng yang biasa dibacakan oleh ibuku saat kecil dulu.
"Ah, kalian berlebihan banget dehhh.... Aku ngga sejenius itu tau," jawabnya sedikit merendah.
Namanya Amane Shiori Kanade, blesteran Jepang-Indonesia. Hanya satu kata yang bisa menjelaskan dirinya secara keseluruhan: sempurna. Kanade terlalu sempurna untuk kujadikan saingan di sekolah. Sampai kapanpun aku tak akan bisa menang melawannya.
Tak ingin berlama-lama di dekat sang jenius, aku memutuskan untuk angkat kaki dari sana. Rasa iri yang samar perlahan mulai menggerogoti hatiku.
Aku iri dengan kepandaian yang dimiliki Kanade. Aku iri dengan Kanade yang multitalenta. Aku ingin menjadi sepertinya. Aku ingin menjadi Kanade. Suara serak milik seorang siswa seketika membuyarkan pikiranku.
"Raven, daijoubu?" tanya Ryuu dengan logat khas Jepangnya yang kental. Dia adalah teman dekatku. Sama seperti Kanade, Ryuu adalah hasil perpaduan dari Indonesia dan Jepang.
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ryuu menyipitkan matanya, mengamati diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu ngga kelihatan baik-baik aja," ujarnya masih mengamatiku yang langsung ku balas dengan helaan napas berat.
"Ngga usah sok tau."
Aku melengos pergi melewati tubuh jangkung Ryuu. Anak blesteran Jepang-Indonesia itu hanya menggelengkan kepalanya maklum, seolah sudah terbiasa dengan sikap kekanak-kanakanku ini.
Ryuu segera berlari kecil, mengikuti kemana aku pergi. Langkahku sedikit kupercepat setelah menyadari ada yang mengikuti. Ryuu juga memperbesar langkahnya, mengikis jarak diantara kami. Anak itu memang batu.
Aku segera mendudukkan diri begitu sampai di sebuah tempat yang biasa kugunakan untuk mengeluarkan segala keluh kesah. Ryuu meniruku. Ia ikut duduk di sebelahku. Matanya lagi-lagi menatapku dalam, kali ini dibumbui dengan sedikit rasa iba.
"Kamu ngga perlu mikirin peringkat itu sampai berlarut-larut, Ven."
"Orang pinter kayak kamu tau apa? Kamu ngga ngerasain apa yang aku rasa, Ryuu. Kamu ngga akan pernah tau gimana perasaan orang-orang yang kepintarannya dibawah kamu," tukasku sambil menjambak-jambak rambut dengan frustasi.
Lelaki di sampingku hanya diam, memberiku waktu untuk meluapkan emosi yang sudah tertahan sejak tadi.
Setelah beberapa saat, aku merasa sedikit lega walau amarah dan kekecewaanku belum sepenuhnya reda.
"Raven, aku paham kalo kamu merasa tertekan. Aku disini bukan mau membandingkan dirimu sama diriku. Aku cuma mau kamu tau, kalo aku peduli sama kamu."
Suara Ryuu memang lembut. Dari sekian banyaknya lelaki yang kutemui, hanya Ryuu yang memiliki suara bak melodi lembut yang mampu menembus dinding emosional yang kubangun.
"Mungkin aku memang ngga bisa sepenuhnya memahami perasaanmu, tapi aku mau berusaha," lanjutnya, masih dengan suara yang lembut.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tidak ingin Ryuu tahu betapa rapuhnya aku saat ini. Aku mengambil napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Usahaku ternyata masih kurang buat bawa aku masuk ke peringkat sepuluh besar, Ryuu. Aku merasa gagal lagi," tuturku nyaris berbisik, membuat Ryuu menghela napas pelan. Lelaki itu kemudian meletakkan tangan besarnya dibahuku.
"Raven... kamu tau, kan, kalo kegagalan itu bukan akhir dari segalanya? Kamu sudah berusaha keras dan itu sudah hebat."
Aku menggeleng lemah. "Tapi rasanya semua usahaku sia-sia kalo hasilnya gini, Ryuu. Orang lain bisa dengan mudah ada di peringkat atas, sedangkan aku...."
"Raven listen to me. Jalan orang itu beda-beda. Prosesnya juga ngga bakal sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. Jadi ja-"
"Jangan bandingin diriku sama orang lain, kan? Aku paham, Ryuu. Aku sangat paham. Cuma... Aku ngga bisa ngga bandingin aku sama orang lain," ucapku tanpa memandang lelaki di sebelahku.
Suasana pun menjadi hening karena kami sama-sama diam. Aku sibuk bergelut dengan pikiranku sementara Ryuu seperti sedang meratapi sesuatu entah apa.
"Why you so obsessed with intelligence, Raven? Bagiku, kepintaran ngga ada artinya kalo ngga bisa bermanfaat bagi orang lain," cetus Ryuu sambil menatapku dengan sorot mata serius yang jarang terlihat.
Aku membuang napas kasar, siap mengeluarkan rasa frustasiku yang membuncah.
"Tapi jaman sekarang orang bakal dihormati kalo dia pintar, Ryuu! Orang bodoh kayak aku bakal disepelein!" Dadaku naik turun akibat napasku yang sedikit tersengal-sengal.
"Orang pintar kayak kamu emang ngga paham apa-apa," lanjutku seraya bangkit dari tempat aku duduk. Aku segera pergi menjauh dari Ryuu. Aku perlu waktu untuk sendiri.
Setelah berjalan beberapa saat, aku tiba di sebuah tempat menarik. Segerombol Cervus elaphus di hadapanku benar-benar menarik perhatianku. Aku memutuskan untuk duduk di bangku kayu tua tepat di bawah pohon maple dan menatap hewan di depanku dengan senyum tipis.
Mereka tampak tenang, sesekali menundukkan kepala untuk merumput seolah tak peduli dengan kehadiranku. Melihat mereka bergerak dengan anggun, rasa frustasi yang memenuhi rongga dadaku perlahan mereda.
Ada sesuatu yang menenangkan saat menyaksikan makhluk-makhluk ini hidup tanpa beban. Tapi meski begitu, pertanyaan Ryuu masih terngiang di benakku. "Why you so obsessed with intelligence, Raven?"
Aku meremas rambutku saat pertanyaan itu kembali berbisik di pikiranku. Saat aku merenung, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Kepalaku tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
"Maaf kalo kata-kataku tadi bikin kamu kesal," ucapnya pelan nyaris berbisik.
Aku terdiam, tanpa ada niatan untuk menjawab atau sekedar menatap anak laki-laki blesteran Jepang-Indonesia itu. Tanpa permisi, Ryuu mendudukkan dirinya di sampingku dengan menyisakan jarak agar aku tetap merasa nyaman.
Suasana kembali hening. Aku menarik napas panjang. Sebenarnya aku sangat ingin membuka pembicaraan ini, tapi keinginanku tertahan oleh rasa gengsi yang jauh lebih besar.
"Kamu lihat rusa-rusa itu?" tanyanya sambil menunjuk ke arah segerombol Cervus elaphus atau rusa merah yang sedang merumput di dekat pohon.
"Mereka kelihatan sangat damai, kan?" imbuhnya, dan langsung kujawab dengan anggukan pelan.
"Aku suka melihat mereka."
Aku mengikuti arah pandangnya, memperhatikan gerakan lembut Cervus elaphus itu. Ada ketenangan yang terpancar dari mereka, seolah mengajarkan arti kesederhanaan.
"Mungkin kita bisa belajar sesuatu dari mereka," tambahnya. "Kita terlalu sering terjebak dalam ambisi dan ekspektasi. Terkadang, kita lupa untuk menikmati momen yang ada."
Perkataan Ryuu membawa pikiranku melayang. Aku teringat pada semua tekanan yang kurasakan untuk mencapai standar yang sudah ku targetkan, yang seolah selalu membayangiku dan menghalangi kebahagiaanku.
"Kadang, aku merasa seperti berlari tanpa tujuan," ujarku pelan, lebih kepada diriku sendiri daripada Ryuu.
"Itu wajar, Raven. Kita semua pasti pernah merasa begitu. Tapi ingat, ngga ada salahnya kamu memperlambat langkah dan menikmati perjalananmu," ujar Ryuu sambil menatapku dengan tatapan penuh pengertian.
"Tapi bagaimana kalo aku ngga mencapai targetku? Rasanya kayak semua usaha ini sia-sia," jawabku putus asa.
"Target itu memang penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menjalani prosesnya. Jangan sampai tekanan itu merampas kebahagiaanmu." Ryuu menjelaskan dengan nada lembut.
"Bahkan Cervus elaphus itu ngga terburu-buru. Mereka hanya hidup dalam momen itu."
Kata-kata Ryuu mulai meresap ke dalam pikiranku. Aku menatap rusa-rusa itu.
Melihat betapa mereka tampak menikmati momen-momen sederhana.
"Mungkin aku perlu mengubah cara pandangku," lirihku.
"Mulailah dari hal kecil," saran Ryuu.
"Cobalah untuk menemukan kebahagiaan dalam setiap langkah, ngga cuma saat mencapai garis finish."
Kata-kata Ryuu bagai cahaya yang menerangi sudut gelap dalam pikiranku. Aku mulai membayangkan betapa indahnya jika aku bisa melihat setiap langkahku sebagai bagian dari perjalanan, bukan hanya sebagai beban yang harus ditanggung.
"Kayak Cervus elaphus itu, ya?" tanyaku memastikan. Ryuu tersenyum dan mengangguk.
"Persis. Mereka ngga peduli dengan seberapa cepat mereka berlari. Mereka hanya hidup disaat ini, menikmati rumput hijau dan sinar matahari." Aku langsung mengangguk cepat.
"Mungkin aku bisa mulai dengan hal-hal kecil, seperti lebih menikmati waktu saat bersama teman-teman atau menghargai momen saat belajar," jelasku dengan semangat. Ryuu tersenyum lebar.
"Cobalah untuk mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hasil akhir. Setiap momen berharga, bahkan saat kita merasa terpuruk sekalipun."
Kami berdua terdiam sejenak, menikmati pemandangan ciptaan Tuhan yang tidak pernah gagal. Cervus elaphus itu bergerak kesana kemari dengan anggun, seolah tahu sedang diperhatikan oleh kami. Dalam ketenangan itu, aku merasa beban dipundakku mulai berkurang sedikit demi sedikit.
"Thanks, Ryuu. Kau selalu bisa membuatku melihat segalanya dalam sudut pandang yang berbeda," kataku tulus.
"No problem, Raven. Aku selalu disisimu kapanmu kamu membutuhkanku," jawabnya dengan senyuman hangat yang menenangkan.
Kami melanjutkan menikmati pemandangan rusa-rusa merah yang saat ini tengah berlari-lari kecil dengan lincah, mereka sedang bermain bersama. Beberapa diantaranya terlihat sedang menggoyangkan kepala mereka, menjelajahi area sekitar dengan penasaran.
Ada juga yang menjilati kaki mereka. Dalam sekejap, aku merasakan kehadiran Ryuu seperti payung yang melindungiku dari hujan. Dia ada disini, mendengarkan dan tidak menghakimi.
***
Bel berbunyi, menandakan bahwa waktu mengerjakan telah habis. Para siswa langsung cepat-cepat mengumpulkan lembar jawab dan keluar dari kelas. Dengan langkah ragu, aku keluar dari ruang ujian. Kedua netraku mendapati sosok Ryuu yang sudah menungguku di depan kelas.
"Raven!" serunya ceria sambil mendekatiku.
"Gimana ujianmu? Ngga susah, kan?" Aku menghela napas, berusaha menyusun kata-kata yang tepat.
"Rasa-rasanya aku ngga bisa ngasih yang terbaik, Ryuu. Soal-soalnya susah semua." Ryuu mengangguk, wajahnya menunjukkan empati.
"Ujian emang bisa jadi menakutkan, tapi ingat, ini hanya salah satu dari banyak langkah yang harus kita jalani. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga."
Aku menggeleng pelan. "Tapi kadang, aku merasa semua usaha itu sia-sia. Gimana kalo aku ngga bisa dapat hasil yang baik?"
"Raven, ingatlah apa yang selalu kita bicarakan. Hasil bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah proses dan bagaimana kamu menghadapinya," jawab Ryuu sambil menatapku serius.
"Setiap kegagalan adalah pelajaran berharga. Jangan biarkan ketakutan menghalangi langkahmu." Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata mutiara dari Ryuu.
Ryuu menatapku sebentar lalu matanya mendadak berbinar. "Sini punggungmu."
Aku tersentak ketika Ryuu memutar tubuhku dan dia menulis sesuatu di cardigan berwarna baby blue yang sedang aku kenakan.
"Ryuu! Kamu apain punggungku?!"
Goresan spidol masih terasa di punggung bagian atas. Ntah apa yang Ryuu tulis tapi sepertinya cukup panjang kalimatnya. "Nahh sudah selesai!"
Aku segera menjauh lalu cepat-cepat mencopot cardiganku, ingin tau apa yang Ryuu tulis disana. Alisku berkerut ketika membaca kalimatnya. Kanji. Aku tidak bisa membaca kanji.
"Ini dibacanya apa, Ryuu?"
"Cari tau aja sendiri, tapi ingat ya dibacanya pas malam hari, biar lebih ngena gitu," jelasnya sambil tersenyum lebar hingga matanya hampir tidak terlihat.
Aku menghela napas lalu memakai kembali cardigan itu. "Puas kamu nyoret-nyoret cardiganku? Kayak ngga ada alas lain aja buat dicoret-coret," sindirku sembari meninggalkan Ryuu.
"Kamu mau kemana, Ven?"
"Makan di tempat kayak biasanya."
"Tunggu aku ya disana! Aku mau ke gedung ngambil handphone dulu!" seru Ryuu yang langsung ngibrit ke gedung sekolah kami.
Aku duduk di bangku taman sekolah dengan tujuan untuk menenangkan pikiran dan menunggu Ryuu mengambil handphonenya. Suara sirene tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. Sekolah dipenuhi dengan kerumunan siswa yang panik, mereka berlarian menuju pintu keluar.
"Ada kebakaran!" teriak seseorang, wajahnya pucat pasi.
Hatiku berdebar kencang. Aku segera mencari Ryuu di antara kerumunan. Dia selalu ada di sisiku dalam situasi sulit, aku sangat membutuhkan kehadirannya sekarang.
Namun, saat aku melangkah lebih dalam ke kerumunan, aku tidak melihatnya di mana pun.
"Ryuu!" teriakku, namun suaraku tenggelam dalam kebisingan.
Setelah berusaha mencari dengan panik, aku menemukan seorang guru yang mengarahkan siswa-siswi untuk berkumpul di halaman depan. Hatiku terasa semakin berat saat melihat banyak siswa yang tampak cemas. Dalam kebisingan itu, aku menyadari bahwa Ryuu belum muncul.
Apakah dia masih di gedung?
Dalam keputusasaan, aku mencoba menghubungi Ryuu. Namun handphone ku hanya menyala tanpa balasan. Dengan rasa cemas yang terus menggelayuti, aku berlari ke arah gedung.
Saat aku memasuki lobi, pemandangan yang mengejutkan menyambutku. Api berkobar di sana-sini, suara jeritan serta tangisan memenuhi udara.
"Ryuuu!!!"
Aku terus memanggil namanya. Semakin aku masuk ke dalam gedung, semakin banyak api yang berkobar. Napasku sudah tidak kuat, tapi aku harus menemukan Ryuu. Dia satu-satunya sahabat yang kupunya. Dia satu-satunya manusia yang paling mengerti diriku. Dan dia satu-satunya lelaki yang bisa menerimaku apa adanya.
Aku berlari sekuat tenaga, terengah-engah dalam kepanikan. Asap hitam mengepul di sekelilingku, mengaburkan pandangan dan menyengat hidungku. Dalam kebisingan yang menakutkan, telingaku menangkap suara langkah kaki dari belakang.
"Raven!" panggil Ryuu sedikit berteriak. Lelaki yang kucari muncul begitu saja di sampingku. Mataku sedikit berkaca-kaca.
Sebelum aku menjawab, Ryuu menarik kuat lenganku, memaksaku melangkah lebih cepat menuju pintu keluar. "Cepat, kita ngga punya banyak waktu."
Aku dan Ryuu berlari secepat yang kami bisa ke pintu keluar. Kami menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru. Aku hampir tergelincir jika Ryuu tidak memegangiku. Pintu keluar sudah terlihat. Aku dan Ryuu mempercepat langkah kami.
Saat aku sudah terlalu senang karena kami akan keluar dari gedung ini, suatu hal tak terduga terjadi. Sebuah tiang penyangga sebelah pintu ambruk ke arah kami, Ryuu dengan sigap menahannya.
"Ryuu!"
"Jangan pikirin aku!" Ryuu berteriak, suaranya teredam oleh raungan api yang semakin mendekat.
"Kau harus pergi! Aku bisa menahannya!" Air mata mulai mengalir di pipiku, perasaan campur aduk menyelimuti hatiku.
"Ryuu, kita bisa keluar sama-sama!"
"Ngga, Raven!" Ryuu menatapku serius, matanya penuh keyakinan. "Kamu lebih penting! Aku ngga bisa kehilangan kamu. Sekarang, pergi!"
Dengan satu dorongan terakhir, Ryuu mendorongku ke arah pintu keluar. Di saat itu, dia merasa kekuatan mengalir dalam dirinya. Aku tersentak, lalu berbalik menatap Ryuu seolah berharap dia akan mengikutiku.
"Ryuu!" Aku berteriak, tetapi suaraku tertelan oleh suara ledakan yang seketika muncul di belakang Ryuu. Lelaki itu hanya tersenyum lembut, wajahnya bersinar dengan berani.
"Hiduplah dalam momen, Raven. Ingatlah aku."
***
Cardigan baby blue ditanganku berbau sangit, ada beberapa bagian yang gosong. Untungnya, tulisan tangan itu masih utuh– nyaris utuh.
'Tsuki ga kirei desu ne?'
Kanji yang ditulis berbunyi begitu. Butuh waktu cukup lama aku memahami artinya hingga saat aku mengetahui, emosi yang aku tahan di dalam dadaku meledak begitu saja.
Kedua tanganku naik menutupi wajah, tapi itu tidak cukup. Bahuku naik turun dengan cepat, seperti berusaha mengejar sesuatu yang jauh. Setiap tarikan napasku sangat kacau. Aku meringkuk dengan meremas cardigan itu dengan sangat kuat.
"Dari sekian banyaknya manusia di bumi ini... kenapa harus kamu yang Tuhan ambil, Ryuu?"
The End.