Lampu-lampu kafe remang-remang di sudut Jakarta Selatan itu seolah ikut menahan napas. Aku duduk di kursi kayu yang paling pojok, mengenakan topi cap yang kutarik dalam-dalam hingga menutupi dahi. Jantungku berdegup seperti genderang perang yang tak beraturan. Di hadapanku, sebuah meja bundar kecil menjadi saksi bisu penantian dua puluh tahun. Hari ini, melalui seorang perantara yang paling tepercaya, aku memberanikan diri untuk muncul. Aku tidak ingin uang, aku tidak ingin ketenaran; aku hanya ingin melihat mata itu sekali saja sebelum mataku sendiri tertutup selamanya.
Pintu kafe berdenting. Sosok wanita tinggi dengan syal yang melilit lehernya masuk, diikuti seorang pria muda yang tegap. Syarifa. Putri kecilku yang dulu kutinggalkan saat demam di malam hujan itu, kini berdiri hanya lima meter dariku. Di sampingnya, Sulaiman Akbar memegang tangannya dengan protektif. Mereka berjalan mendekat ke arah meja tempatku berada. Setiap langkah mereka terasa seperti dentuman godam yang menghantam dadaku. Ketika mereka sampai di hadapanku, dunia seolah berhenti berputar. Udara di sekitarku mendadak hilang.
"Bapa?" Suara itu kecil, bergetar, dan penuh dengan keraguan yang menyayat.
Aku perlahan mengangkat wajahku, melepas topi yang sejak tadi menjadi perisaiku. Saat mataku bertemu dengan matanya, bendungan yang kubangun selama dua dekade runtuh seketika. Syarifa menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak, dan air mata langsung menggenang di sana. Ia tidak melihat seorang ayah yang gagah, ia melihat seorang lelaki tua yang ringkih, dengan kerutan yang dalam di wajah dan tangan yang kasar karena kerja paksa bertahun-tahun.
"Salju..." Hanya itu yang sanggup keluar dari tenggorokanku yang tercekat. Panggilan masa kecil itu menjadi kunci yang membuka semua kotak kesedihan yang tersimpan rapi.
Syarifa jatuh terduduk di kursi, bahunya berguncang hebat. Isak tangisnya pecah, suara yang begitu pilu hingga beberapa pengunjung kafe menoleh, namun Sulaiman segera memberi isyarat agar mereka diberikan ruang. Sulaiman sendiri tampak terpaku; ia melihat pria yang selama ini hanya menjadi hantu dalam cerita-cerita sedih istrinya, kini ada di depan mata.
"Kenapa, Bapa? Kenapa baru sekarang?" Syarifa bicara di sela tangisnya yang sesak. "Dua puluh tahun aku mencari wajah Bapa di setiap kerumunan. Di setiap panggung saat aku menerima penghargaan, aku selalu berharap Bapa ada di barisan paling belakang untuk bilang kalau Bapa bangga padaku. Kenapa Bapa biarkan aku tumbuh sendirian dengan lubang besar di hati?"
Aku meraih tangannya yang halus—tangan seorang bintang yang tak pernah lagi menyentuh debu, sangat kontras dengan tanganku yang pecah-pecah. "Maafkan Bapa, Nak. Maafkan Bapa yang pengecut," bisikku sambil terisak. Air mataku jatuh membasahi punggung tangannya. "Bapa pergi karena Bapa merasa gagal. Bapa tidak sanggup melihatmu lapar, Bapa tidak sanggup melihatmu sakit dan Bapa tidak bisa membeli obat. Bapa pikir, dengan Bapa pergi, kamu punya kesempatan untuk hidup lebih baik bersama Ibumu tanpa beban seorang pecundang seperti Bapa."
Syarifa menggeleng kuat-kuat, air matanya membasahi meja. "Aku tidak butuh obat yang mahal, Bapa! Aku hanya butuh Bapa ada di sana memegang tanganku saat aku takut. Aku rela lapar, aku rela hidup di jalanan, asal ada Bapa. Bapa pikir uang dan kesuksesan ini bisa menutup rasa sakit saat aku ditanya di mana ayahku dan aku hanya bisa diam karena aku sendiri tidak tahu?"
Mendengar itu, dadaku terasa sesak luar biasa. Penyesalan itu datang menghantam kembali, lebih keras dari sebelumnya. Aku menyadari bahwa pengorbanan yang kupikir benar, ternyata adalah luka paling dalam bagi putriku. Aku melihat ke arah Sulaiman, yang sejak tadi terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Nak Sulaiman," kataku dengan suara serak, "Terima kasih sudah menjaga putriku. Terima kasih sudah menjadi rumah yang tidak bisa kuberikan padanya. Aku melihat berita kalian, aku melihat bagaimana kamu melindunginya. Jangan pernah tinggalkan dia, jangan pernah biarkan dia merasa sendirian seperti yang kulakukan."
Sulaiman Akbar menunduk, lalu ia melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ia berpindah tempat duduk, berlutut di samping kursiku, dan memegang bahuku yang gemetar. "Bapa," katanya dengan nada rendah yang penuh hormat, "Aku tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah yang sempurna karena kasus-kasus lama itu. Aku tahu rasanya kehilangan arah. Tapi hari ini, melihat Bapa di sini, aku tahu bahwa Syarifa tidak pernah benar-benar kehilangan ayahnya. Bapa selalu ada dalam doa-doanya yang paling rahasia. Jangan sebut diri Bapa pecundang. Seorang pecundang tidak akan berani menanggung malu selama dua puluh tahun demi melihat anaknya sukses dari kejauhan."
Pertemuan itu menjadi campur aduk antara amarah yang memudar dan rindu yang membuncah. Syarifa akhirnya berpindah, ia memelukku. Pelukan yang kurindukan selama tujuh ribu malam lebih. Aroma rambutnya, hangat tubuhnya, semuanya mengingatkanku pada bocah enam tahun yang dulu sering tertidur di pundakku. Kami menangis bersama di sudut kafe itu, melepaskan semua beban yang selama ini menghimpit napas.
"Bapa jangan pergi lagi," isaknya di dadaku. "Aku sudah punya segalanya, tapi aku belum punya bapa untuk menemaniku di masa depan. Tolong, jangan menghilang lagi."
Aku mengusap kepalanya, mencium ubun-ubunnya dengan takzim. Di tengah isak tangis yang menyesakkan itu, aku menyadari satu hal: bapa sejati mungkin bisa melakukan kesalahan fatal, tapi cinta sejati akan selalu menemukan jalan pulang, meski harus melewati duri penyesalan yang paling tajam. Sore itu, di bawah temaram lampu kafe, bukan hanya Syarifa yang menemukan ayahnya kembali, tapi aku juga menemukan kembali harga diriku yang sempat hilang ditelan malam hujan dua puluh tahun silam. Kami pulang bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai keluarga yang sedang mencoba menjahit kembali kain yang telah robek, satu jahitan air mata pada satu waktu.
TAMAT