Matahari baru saja menyembul dari balik Gunung Sirung di Pulau Alor, menyapu permukaan laut Sawu dengan gradasi warna ungu dan keemasan yang mistis. Di pesisir pantai Desa Wolwal, di mana nyiur melambai seolah menyapa semesta, seorang lelaki bernama Barnabas—biasa dipanggil Bapa Nana—berdiri terpaku di depan gubuknya yang hampir rebah. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma amis laut dan tanah basah memenuhi paru-parunya yang mulai menua.
Bapa Nana bukan siapa-siapa di mata hukum negara. Ia tak punya NIP, tak punya tunjangan sertifikasi, apalagi asuransi kesehatan. Ia hanyalah seorang lelaki dengan sepasang mata yang dalam dan tangan yang kasar karena terlalu sering membelah kayu bakar. Namun, di kampung yang jauh dari jangkauan sinyal internet ini, ia adalah satu-satunya pelita.
Teras rumahnya adalah sebuah "Rumah Belajar" yang ia dirikan dengan peluh dan air mata. Hanya ada tiga baris bangku kayu panjang yang kakinya mulai digerogoti rayap. Di sana, setiap pagi, anak-anak dengan rambut keriting dan kulit legam datang membawa mimpi yang seringkali dianggap terlalu mewah untuk anak pesisir.
"Bapa Nana! Lihat sa su bisa tulis nama 'M-A-R-T-I-N'!" seru seorang bocah kecil dengan ingus mengering di hidungnya, sambil memamerkan batu tulis yang permukaannya sudah retak.
Bapa Nana tersenyum, meski di balik senyum itu, perutnya melilit karena hanya diisi segelas air putih sejak semalam. "Puji Tuhan, Martin. Besok ko harus bisa tulis nama lengkap, biar kalau ko jadi menteri, ko tra bingung tanda tangan dokumen negara," jawab Bapa Nana dengan logat Alor yang kental.
Namun, di balik semangat yang ia tularkan, batin Barnabas adalah sebuah medan perang. Keadaan ekonominya berada di titik nadir. Ia memiliki tiga orang anak. Si sulung, Yohanes, kini sedang berjuang di tahun terakhir SMA di kota kabupaten. Minggu lalu, Yohanes mengirim pesan melalui kerabat yang lewat, mengatakan ia butuh biaya ujian dan sewa kost yang sudah nunggak tiga bulan.
Maria, istri Barnabas, duduk di ambang pintu dapur dengan mata sembab. Di depannya hanya ada tiga buah singkong rebus yang mulai dingin. "Bapa, uang sekolah Yohanes tra bisa tunda lagi. Pemilik kost su bilang kalau minggu depan tra bayar, dia harus keluar. Katong mau cari di mana lagi?" bisik Maria, suaranya parau menahan tangis. Katong mau cari di mana lagi? (Kita mau cari di mana lagi?)
Barnabas terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Kemarin, ia baru saja merogoh kocek terakhirnya untuk membeli dua kotak kapur tulis dan beberapa buku bacaan bekas agar anak-anak kampung bisa belajar calistung (baca, tulis, hitung). Ia merasa seperti sebuah lilin—persis seperti perasaannya yang sering ia tulis dalam buku harian. Ia menerangi sekitar, memberi cahaya bagi anak-anak yang ingin sekolah, namun api itu perlahan-lahan menghancurkan dirinya sendiri.
"Maria, sabar sedikit. Sa akan coba cari pinjaman ke pasar besok," ujar Barnabas, meski ia tahu itu mustahil. Siapa yang mau meminjamkan uang kepada guru sukarela tanpa jaminan?
Malam itu, Barnabas tak bisa memejamkan mata. Di bawah temaram lampu minyak, ia membuka sebuah koran bekas yang ia temukan di pelabuhan. Di sana ada artikel tentang kesejahteraan guru di negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Ia membaca dengan mata berkaca-kaca. Di sana, guru-guru dihormati dengan gaji yang setara dengan manajer perusahaan. Mereka bisa menyekolahkan anak ke luar negeri, memiliki mobil, dan hidup tanpa bayang-bayang kelaparan.
"Tuhan," isaknya pecah di tengah kesunyian malam. "Kenapa sa punya jalan begini berat? Sa cuma mau dorang tra bodoh macam sa. Kenapa pengabdian harus dibayar dengan air mata anak istri sa? Apakah sa salah kalau sa mau menyerah?"
Ia merasa hancur. Ia merasa egois karena mendahulukan anak-anak orang lain sementara anaknya sendiri terancam putus sekolah. Ia merasa sedang berperang antara perintah Tuhan untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan kewajibannya sebagai seorang ayah. "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain," bisiknya lirih, mencoba menguatkan hati yang sudah retak seribu.
Keesokan harinya, Barnabas memutuskan untuk pergi ke dermaga, berniat mencari pekerjaan kasar sebagai kuli panggul demi menutupi biaya Yohanes. Namun, saat ia hendak mengunci pagar "Rumah Belajar"-nya, langkahnya terhenti.
Puluhan orang tua murid sudah berdiri di depan rumahnya. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Ada yang membawa noken berisi jagung titi, ada yang menjinjing ikan cakalang segar, bahkan ada seorang nenek tua yang membawa bungkusan kain berisi uang recehan yang lusuh.
"Bapa Nana," ujar seorang bapak, pemimpin adat di sana. "Katong dengar Yohanes mau ujian. Katong tra punya banyak, tapi ini hasil katong punya kebun dan laut. Tolong terima, Bapa. Jangan tutup ini sekolah. Katong punya anak-anak baru tahu huruf gara-gara Bapa."
Barnabas jatuh luruh ke tanah. Tangisnya pecah sejadi-jadinya di hadapan warga. Ia menyadari satu hal yang tak dimiliki oleh guru-guru bergaji besar di negara tetangga: ia memiliki cinta yang murni dari sebuah kaum yang ia selamatkan dari kegelapan. Uang recehan dan hasil bumi itu mungkin tak seberapa secara nilai, tapi itu adalah simbol dari nyawa yang kembali tumbuh.
Ia mengusap air matanya, berdiri dengan derap langkah yang kembali teguh. Ia masuk ke dalam gubuk, mengambil kapur tulisnya, dan menulis di papan bopeng itu dengan huruf kapital: PENDIDIKAN ADALAH JALAN PULANG.
Barnabas tetap menjadi lilin. Meski apinya perih membakar sumbu hidupnya, ia tak akan membiarkan pesisir Alor kembali gelap. Karena baginya, saat satu anak kampung bisa mengeja kata "Merdeka", di situlah gajinya dibayar lunas oleh semesta.
TAMAT