Lampu strobo berwarna merah dan ungu berkedip liar, membelah asap fog machine yang memenuhi panggung klub malam di jantung Jakarta. Di atas sana, Fairuz Abadi berdiri dengan jaket kulit sintetis mengkilap yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan kalung rantai perak yang memantulkan cahaya. Ia memegang mikrofon dengan jemari yang gemetar tipis, namun suaranya harus terdengar lantang, serak-serak basah, dan menggoda. Di bawah panggung, ratusan orang bergoyang mengikuti dentuman bas yang konstan—aliran "hopdut" remix DJ yang sedang naik daun, sebuah perpaduan antara hip-hop, dangdut, dan beat elektronik yang memacu adrenalin.
Setiap kali Fairuz menyanyikan lirik-lirik yang "mancing"—kata-kata yang bermain di batas ambiguitas tentang gairah malam dan kontak fisik—sorakan penonton semakin pecah. Gerakan tubuhnya harus terlihat nakal, lincah, dan penuh provokasi, sesuai permintaan manajer agar engagement di media sosial tetap tinggi. Namun, di balik lensa kontak berwarna abu-abu yang dipakainya, mata Fairuz sebenarnya menatap hampa. Di kepalanya, suara dentuman musik itu sering kali bertabrakan dengan gema hafalan bait-bait kitab kuning yang pernah ia tekuni bertahun-tahun di sebuah pondok pesantren di pelosok Jawa Timur.
Fairuz adalah seorang santri yang tersesat di rimba hiburan ibu kota. Ia yang dulu terbiasa bangun sebelum subuh untuk mendaras Al-Qur’an, kini baru pulang ke apartemen sempitnya saat matahari hampir terbit, dengan bau asap rokok dan parfum murah yang menempel di baju panggungnya. Dilema itu adalah duri yang setiap hari menusuk batinnya, membuatnya tak pernah benar-benar merasa tenang meski namanya mulai dikenal sebagai vokalis band "aliran tentu" yang musiknya asyik dan kekinian.
Pernah suatu malam, usai manggung di sebuah festival outdoor, Fairuz duduk sendirian di belakang panggung. Ia menatap tangannya yang tadi digunakan untuk melambai-lambai nakal ke arah penonton. Tangan itu dulunya sering mencium tangan kyai dengan penuh takzim. Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongannya. Ia merasa seperti pengkhianat. Pengkhianat bagi almamaternya, bagi nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya, dan bagi dirinya sendiri. Ia merasa sedang menjual martabatnya demi sebuah tren musik yang sebenarnya jauh dari kepribadian aslinya.
Namun, setiap kali niat untuk berhenti muncul, layar ponselnya akan menyala. Ada notifikasi m-banking yang menunjukkan sisa saldo yang menipis, atau pesan WhatsApp dari ibunya di kampung. Ibunya tidak pernah tahu jenis musik apa yang dinyanyikan Fairuz secara detail. Beliau hanya tahu anaknya adalah "artis" di Jakarta yang rajin mengirimkan uang setiap bulan untuk pengobatan ayah yang sakit-sakitan dan biaya sekolah kedua adiknya yang masih kecil.
"Mas Fairuz, uangnya sudah sampai. Terima kasih ya, Nak. Berkat kamu, adikmu bisa beli buku baru dan bapak bisa kontrol ke rumah sakit," begitu bunyi pesan dari ibunya yang selalu membuat pertahanan batin Fairuz runtuh.
Demi uang itu, Fairuz bersedia memakai topeng. Demi senyum adik-adiknya, ia rela dicap "aneh" dan "liat" oleh orang-orang yang mengenalnya dulu. Di Jakarta, biaya hidup tidak mengenal kata belas kasihan. Sewa tempat tinggal, transportasi, kostum panggung, hingga potongan manajemen memakan sebagian besar penghasilannya. Jika ia tidak tampil total, jika ia tidak mengikuti selera pasar yang meminta lirik-lirik nakal dan musik remix yang memancing goyang, ia akan tergilas. Bandnya akan sepi job, dan aliran dana ke kampung akan terhenti.
Perang batin ini sering kali memuncak saat ia sedang berada di studio rekaman. Pencipta lagunya sering meminta Fairuz untuk memberi desahan atau penekanan kata yang lebih "berani" agar lagu mereka viral di aplikasi video pendek. "Ayo, Ruz! Kurang nakal dikit suaranya! Ini yang bikin penonton nempel!" teriak sang produser dari balik kaca. Fairuz akan memejamkan mata, beristighfar dalam hati, lalu menarik napas panjang untuk mengeluarkan suara yang diminta. Ia merasa jiwanya perlahan terkikis, menjadi hampa, hanya menyisakan raga yang berfungsi sebagai mesin pencetak uang.
Teman-teman bandnya melihat Fairuz sebagai sosok yang pendiam tapi profesional. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam sebelum tidur, Fairuz selalu duduk di tepi ranjang, menatap sajadahnya yang lebih sering terlipat daripada terbentang. Ia merasa kotor. Ia merasa tak pantas menghadap Sang Pencipta dengan penampilan dan pekerjaan yang ia jalani sekarang. Namun, ia juga bertanya-tanya, apakah membiarkan keluarganya kelaparan adalah hal yang lebih mulia? Apakah membiarkan ayahnya menderita tanpa obat adalah bentuk kesalehan?
Konflik ini membuatnya menjadi sosok yang asing bagi dirinya sendiri. Di atas panggung, ia adalah sang idola yang lincah dan menggoda. Di dunia nyata, ia adalah pria yang selalu menunduk saat berjalan, menghindari kontak mata dengan orang-orang yang mungkin mengenali latar belakang pesantrennya. Ia terjebak dalam sebuah ironi besar: ia dipuja karena "kenakalannya" di panggung, padahal hatinya menangis karena kerinduan akan ketenangan spiritual.
Pernah suatu kali, seorang penggemar mendatanginya setelah konser dan bertanya, "Bang Fairuz, kok liriknya bisa pas banget sih buat suasana dugem? Abang emang nakal ya aslinya?" Fairuz hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangguk pelan, sebuah kebohongan yang ia telan bulat-bulat. Di dalam hati, ia ingin berteriak bahwa ia lebih hafal Alfiyah Ibnu Malik daripada lirik-lirik remix yang ia nyanyikan setiap malam.
Pencarian materi yang melimpah menjadi satu-satunya pembenaran yang bisa ia pegang. Ia menargetkan dalam dua atau tiga tahun ke depan, setelah utang keluarga lunas dan adik-adiknya lulus sekolah, ia akan berhenti. Ia ingin membuka usaha kecil di kampung, kembali ke masjid, dan menghapus semua jejak "Fairuz sang vokalis hopdut" dari jejak digital dunia. Namun, ia tahu itu tidak mudah. Dunia hiburan adalah rawa yang dalam; semakin kau berontak untuk keluar, semakin dalam kau terperosok oleh tuntutan kontrak dan gaya hidup.
Kehidupan di ibu kota telah mengubah prioritasnya secara paksa. Ia belajar bahwa terkadang, untuk menjadi pahlawan bagi orang lain, seseorang harus bersedia menjadi "pendosa" dalam penilaian dirinya sendiri. Ia menganggap ini adalah "jihad" dalam bentuk yang paling gelap dan menyakitkan. Sebuah pengorbanan batin yang tak terlihat oleh siapa pun, bahkan oleh orang-orang yang ia bantu.
Setiap kali ia menerima amplop honor atau transferan besar, ia selalu menyisihkan sebagian untuk disedekahkan secara sembunyi-sembunyi, berharap itu bisa menjadi penawar bagi rasa bersalahnya. Ia ingin menyucikan hartanya, meski ia sendiri tidak yakin apakah harta yang didapat dari lirik-lirik yang "mancing nafsu" itu bisa benar-benar suci. Ketidakpastian itu membuatnya terus terjaga di malam-malam Jakarta yang bising.
Kini, Fairuz Abadi kembali bersiap di balik tirai. Musik intro remix yang berisik mulai terdengar. Ia merapikan rambutnya yang diberi gel kaku, memoles wajahnya agar terlihat segar, dan memasang senyum nakal andalannya. Saat tirai terbuka dan ribuan lampu menyorotnya, ia membisikkan satu kalimat pendek yang hanya didengar oleh dirinya sendiri: "Maafkan aku, Tuhan. Sebentar lagi saja. Tolong, jaga bapak dan ibu di kampung."
Lalu, ia melompat ke tengah panggung, mulai bergoyang, dan mengeluarkan suara serak-serak basahnya. Di bawah kilatan lampu, Fairuz Abadi tampil begitu perkasa dan tak terkalahkan, seolah-olah ia tidak memiliki beban apa pun di dunia ini. Padahal, di balik setiap lirik nakal yang ia lantunkan, ada sepotong hati yang hancur dan sedang memohon jalan pulang. Ia tetap bertahan, karena baginya, kebahagiaan adik-adiknya adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di tengah kegelapan panggung yang ia jalani.