Langit di atas Gampong Lhok Timon, Aceh Jaya, tampak seperti lukisan cat air yang tumpah—jingga, ungu, dan kelabu beradu di ufuk Barat. Namun, bagi Teuku Malikusaleh, keindahan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka-luka lama tanah rencong. Malik, begitu ia disapa, berdiri di depan sebuah bangunan panggung kayu yang sudah miring. Bangunan itu adalah "Rumah Belajar Nurul Ilmi", sebuah nama agung untuk sebuah gubuk yang dindingnya dipenuhi bercak lumpur kering sisa banjir bandang tahun lalu.
Malik adalah seorang lelaki yang usianya mungkin belum genap kepala empat, namun gurat di wajahnya menceritakan kisah yang jauh lebih tua. Ia adalah penyintas. Tahun 2004, saat raksasa hitam bernama Tsunami menyapu pesisir Aceh, Malik kehilangan segalanya. Ayahnya, ibunya, dan adik-adiknya hilang ditelan ombak yang tak kenal ampun. Ia selamat karena tersangkut di dahan pohon kelapa, mendekap erat sebuah mushaf kecil yang terbungkus plastik. Sejak hari itu, ia bersumpah: jika Tuhan membiarkannya hidup, maka hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik umat.
Kini, dua dekade setelah bencana itu, Malik masih berjuang. Bukan lagi melawan ombak, melainkan melawan arus ketidaktahuan. Setiap sore, setelah lelah bekerja serabutan sebagai buruh tani, ia membersihkan tangannya, mengenakan baju koko lusuh yang selalu rapi, dan berdiri di depan teras rumahnya yang ia sulap menjadi tempat belajar.
"A-Ba-Ta... ayo, suaranya lebih keras lagi!" seru Malik kepada belasan anak kecil yang duduk melingkar di atas tikar pandan.
Anak-anak itu datang bukan hanya untuk mengaji. Di Rumah Belajar itu, Malik membantu mereka mengerjakan PR matematika yang rumit, mengajar membaca bagi yang belum lancar, hingga calistung bagi anak-anak usia dini yang tak mampu masuk TK. Tidak hanya itu, Malik juga mengadakan kursus olahraga sederhana—memanah dan pencak silat—yang diikuti tidak hanya oleh anak-anak, tapi juga pemuda, orang tua, hingga para lansia di kampung itu. Ia ingin fisik mereka kuat, sekuat iman mereka.
Namun, di balik semangatnya yang membara untuk membangun Aceh kembali, Malik adalah manusia biasa yang hatinya bisa bergetar hebat oleh rasa takut. Seringkali, saat malam telah larut dan suara jangkrik bersahut-sahutan, Malik duduk terpekur di sudut ruangan. Ia menatap tiga anaknya yang tidur berhimpitan di kamar sebelah. Istrinya, Cut Syarifah, baru saja terlelap setelah seharian membantu tetangga mencuci pakaian demi upah sepuluh ribu rupiah.
Ekonomi keluarga mereka sedang berada di titik nadir. Banjir bandang tahun lalu bukan hanya merusak Rumah Belajar, tapi juga menghanyutkan kebun lada yang menjadi satu-satunya harapan ekonomi Malik. Sekarang, ia harus berjuang membiayai sekolah ketiga anaknya yang semuanya butuh biaya besar. Si sulung akan masuk madrasah aliyah, dan biaya seragam serta buku-buku adalah beban yang seolah gunung di pundaknya.
"Kenapa aku terus melakukan ini?" bisiknya pada diri sendiri. Suaranya bergetar, hampir hilang ditelan angin malam. "Diriku sendiri masih kekurangan. Aku ingin bermanfaat bagi warga, tapi anak-anakku sendiri terkadang harus berbagi satu butir telur untuk bertiga. Apakah aku sedang mendzalimi keluargaku sendiri?"
Konflik batin itu menyiksanya. Ia merasa seperti seorang prajurit yang berperang di dua front: front pengabdian untuk umat dan front tanggung jawab untuk keluarga. Terkadang ia merasa sangat terpuruk. Hatinya hancur saat melihat sepatu anaknya yang sudah bolong namun belum bisa ia ganti. Ia teringat akan sebuah pepatah yang pahit: ia seperti sebuah lilin.
"Aku seperti lilin yang berusaha menerangi sekitar, tapi membiarkan diriku sendiri hancur perlahan dimakan api," isaknya pelan. Air mata jatuh ke atas tangannya yang kasar.
Namun, di tengah kehancuran hati itu, Malik selalu kembali kepada sumber kekuatannya. Ia membuka kembali catatan kecilnya yang berisi hadits Nabi Muhammad SAW yang menjadi kompas hidupnya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata baginya, melainkan ruh yang menghidupkan kembali sel-sel jiwanya yang hampir mati.
Ia teringat betapa sulitnya membangun Aceh setelah tsunami. Ia tak ingin Aceh hanya bangkit secara fisik, tapi juga secara intelektual dan spiritual. Jika ia menyerah sekarang, maka banjir bandang dan tsunami itu benar-benar telah menang atasnya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Setiap kali rasa lelah menyergap, ia segera beristighfar. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, "Ya Allah, luruskan niat hamba. Ikhlaskan hati hamba. Engkaulah yang membolak-balikkan hati, maka tetapkanlah hati ini di jalan-Mu. Tolonglah derap langkah hamba dan lancarkan segala urusan hamba, baik jiwa hamba agar tetap kuat, maupun ekonomi hamba agar hamba bisa terus memberi."
Keikhlasan Malik membuahkan hasil yang tak kasat mata namun sangat terasa. Warga Gampong Lhok Timon tahu betapa keras perjuangan guru mereka. Suatu pagi, setelah shalat Subuh di meunasah, seorang kakek tua menghampirinya.
"Tengku Malik," ujar sang kakek sambil menyerahkan sebungkus kecil uang receh yang dibungkus kain sarung tua. "Ini hasil jualan kelapa saya minggu ini. Jangan ditolak. Saya mau cucu-cucu saya tetap bisa belajar di tempat Tengku. Saya ingin mereka bisa membaca Al-Qur'an dan pintar matematika seperti anak-anak di kota."
Malik tercekat. Tenggorokannya seolah tersumbat. Ia memandang wajah keriput sang kakek yang penuh harap. Di titik itulah ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar hancur seperti lilin. Cahaya yang ia berikan ternyata memantul kembali padanya, menerangi kegelapan hatinya sendiri. Ia tidak sedang memberikan bantuan; ia sedang menanam benih peradaban di tanah Aceh yang mulia.
Semangatnya kembali meledak. Ia tidak peduli lagi jika gajinya sebagai guru sukarela hanyalah ucapan terima kasih. Baginya, setiap huruf yang berhasil dieja oleh muridnya, setiap angka yang berhasil dihitung oleh anak yatim di kampungnya, adalah tabungan abadi yang nilainya jauh melampaui gaji guru-guru di negeri jiran manapun.
Malik terus melangkah dengan derap yang lebih tegap. Ia adalah perwujudan dari semangat Aceh yang tak pernah menyerah pada bencana. Di tangannya, pena dan kapur tulis menjadi senjata yang lebih tajam dari rencong manapun untuk membelah kebodohan. Ia adalah pelita Serambi Mekkah, yang meski badai banjir datang menerjang dan ekonomi menjepit lehernya, cahayanya akan terus menyala hingga ke ujung dunia. Karena ia tahu, di akhir setiap langkah yang tulus, Allah SWT selalu punya cara untuk menolong hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Aceh akan bangkit, bukan hanya karena gedung-gedungnya kembali berdiri, tapi karena ada orang-orang seperti Malik yang memilih untuk tetap menjadi lilin, menerangi masa depan generasinya dengan api cinta dan keikhlasan yang tak kunjung padam.
SELESAI