Angin malam di pinggiran New Delhi yang gersang tidak pernah cukup dingin untuk memadamkan api yang membakar dada Anjeli Varma. Wanita itu duduk mematung di depan meja riasnya yang terbuat dari kayu jati berukir, menatap pantulan wajahnya sendiri yang dibingkai oleh sari sutra berwarna merah marun. Anjeli masih sangat cantik; matanya besar dengan bulu mata lentik, kulitnya sewarna madu, dan hidungnya yang mancung dihiasi sebuah cincin emas kecil yang berkilau. Namun, di balik kemewahan perhiasan yang melilit leher dan pergelangan tangannya, ada sebuah lubang besar yang menganga. Lubang itu bernama kehampaan.
Tujuh tahun pernikahan mereka seharusnya menjadi dongeng yang sempurna. Suaminya, Vikramaditya Singh, adalah potret pria idaman setiap wanita di India Utara. Tubuhnya tinggi tegap dengan otot-otot yang terbentuk sempurna hasil latihan disiplin di gym pribadi mereka. Rahangnya tegas, dilapisi jambang tipis yang selalu dicukur rapi, dan matanya memiliki binar predator yang memikat sekaligus mengintimidasi. Vikramaditya adalah seorang pengusaha sukses di bidang logistik, pria yang memiliki segalanya, kecuali kesetiaan dan seorang pewaris.
Pintu kamar terbuka dengan debuman keras. Bau alkohol dan parfum wanita asing menyeruak masuk, mendahului langkah gontai Vikramaditya. Ia melepas jasnya, melemparkannya ke lantai begitu saja, lalu menatap Anjeli melalui cermin dengan tatapan merendahkan.
"Kenapa belum tidur? Menunggu untuk menangisi rahimmu yang mati itu lagi?" suara Vikramaditya serak, penuh racun yang sudah biasa Anjeli telan setiap harinya.
Anjeli tidak menjawab. Ia hanya terus menyisir rambut hitamnya yang panjang. Keheningan itu justru memancing amarah Vikramaditya. Pria itu mendekat, meremas bahu Anjeli dengan tangan besarnya yang kuat. Vikramaditya memiliki sisi gelap di balik ketampanannya; ia adalah pria yang terobsesi dengan dominasi. Di atas ranjang, ia bukan lagi suami yang membelai, melainkan seorang penakluk yang menuntut gaya-gaya aneh, keras, dan sering kali menyakitkan, seolah ingin menghukum Anjeli atas ketidakmampuannya memberikan keturunan.
"Kau tahu, Anjeli, tadi sekretaris baruku sangat... produktif," bisik Vikramaditya tepat di telinganya, sengaja membandingkan kesuburan wanita lain dengan "kemandulan" istrinya. "Wanita sepertimu hanya pajangan. Tidak berguna. Kalau bukan karena nama besar keluarga kita, sudah lama kubuang kau ke sungai Gangga."
Anjeli memejamkan mata. Rasa sakit itu bukan lagi berupa air mata, melainkan kristal dendam yang mengeras. Ia sudah tahu semua perselingkuhan suaminya. Ia tahu bagaimana Vikramaditya sering "memangsa" asisten rumah tangga mereka yang lama, menggoda mereka di dapur, atau memaksa mereka masuk ke kamar tamu saat Anjeli sedang pergi arisan. Vikramaditya merasa dirinya adalah raja yang tak tersentuh hukum karena kegagahannya dan hartanya.
Malam itu, setelah Vikramaditya tertidur lelap dengan dengkur yang sombong, Anjeli mengambil sebuah keputusan. Sebuah rencana gila yang ia susun setelah mengunjungi sebuah klinik kecil di pinggiran kota yang kumuh. Ia tidak ingin bercerai; di lingkungannya, janda adalah aib. Ia ingin sesuatu yang lebih permanen. Ia ingin Vikramaditya hancur dari dalam, tanpa pria itu menyadari siapa yang menarik pelatuknya.
Dua hari kemudian, seorang wanita muda berdiri di depan gerbang megah kediaman Singh. Namanya adalah Meenakshi Iyer. Penampilannya sangat kontras dengan statusnya sebagai pelamar asisten rumah tangga. Meenakshi mengenakan kurti ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sintal. Wajahnya eksotis dengan bibir penuh yang dipulas gincu merah menyala. Ia tampak seperti bintang Bollywood yang sedang menyamar. Namun, di balik kecantikannya yang mematikan, Meenakshi membawa rahasia yang sangat berat di dalam darahnya: ia adalah pengidap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang sedang berada di stadium yang tampak sehat namun memiliki muatan virus yang aktif.
Anjeli telah bertemu Meenakshi di sebuah pusat rehabilitasi sosial. Ia menawarkan kesepakatan: Meenakshi akan bekerja di rumahnya dengan gaji sepuluh kali lipat, asalkan Meenakshi "menyerah" jika suaminya mulai menggoda. Meenakshi, yang sudah merasa hidupnya tidak lama lagi dan butuh uang untuk menyekolahkan adiknya di desa, menyetujui kontrak berdarah itu.
"Dia pria yang sangat haus, Meenakshi," kata Anjeli saat sesi wawancara pribadi di ruang tengah yang sepi. "Jangan menolak. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau. Dia suka gaya yang aneh, dia suka merasa berkuasa. Berikan dia panggung itu."
Meenakshi mengangguk paham. "Dan nyonya... nyonya tidak takut?"
Anjeli tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es di puncak Himalaya. "Aku sudah lama mati, Meenakshi. Aku hanya sedang menunggu teman untuk menemani perjalananku ke neraka."
Rencana itu berjalan lebih mulus dari yang dibayangkan. Vikramaditya, sang predator, langsung terpikat pada pandangan pertama saat melihat Meenakshi mengepel lantai dengan gerakan yang sengaja dibuat menggoda. Baginya, Meenakshi adalah mangsa baru yang lebih segar dari istri "pajangannya". Ia mulai sering pulang lebih awal, membawakan hadiah-hadiah kecil untuk sang ART, dan menatap Meenakshi dengan mata lapar setiap kali Anjeli membelakangi mereka.
Anjeli sengaja memberikan ruang. Ia sering beralasan pergi ke kuil atau mengunjungi kerabatnya di luar kota. Di dalam rumah yang sunyi itu, Vikramaditya mulai melancarkan aksinya. Berawal dari sentuhan di dapur, hingga akhirnya ia menyeret Meenakshi ke kamar tamu. Di sana, Vikramaditya melampiaskan segala obsesi seksualnya yang ganjil dan kasar—tanpa pengaman, tanpa keraguan. Ia merasa sangat perkasa, merasa bahwa ia sedang menaklukkan dunia melalui tubuh wanita kasta rendah itu.
Bulan demi bulan berlalu. Vikramaditya tampak semakin bersemangat, namun secara perlahan, keperkasaannya mulai menunjukkan celah. Ia sering merasa lelah yang luar biasa. Luka kecil di tangannya saat mencukur tidak kunjung sembuh, dan ia sering mengalami demam di malam hari. Namun, kesombongannya membuatnya mengabaikan semua itu. Ia berpikir itu hanya efek karena ia "terlalu aktif" bermain dengan Meenakshi.
Suatu sore, Anjeli duduk di taman belakang, menyesap teh masala sambil melihat Vikramaditya yang tampak agak pucat sedang mencoba berolahraga di tepi kolam renang. Anjeli memanggilnya dengan lembut.
"Vikram, kau tampak tidak sehat. Aku sudah menjadwalkan pemeriksaan kesehatan lengkap untuk kita berdua. Termasuk tes kesuburan lagi, siapa tahu ada keajaiban," kata Anjeli dengan nada penuh perhatian yang palsu.
Vikramaditya mendengus. "Tes kesuburan? Aku sudah membuktikannya pada pelayan itu, Anjeli. Dia hamil. Dia baru saja memberitahuku tadi pagi."
Anjeli tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena sedih. Ia hampir ingin tertawa terbahak-bahak. Hamil? Meenakshi hamil? Itu adalah bonus yang tidak ia duga dalam skenarionya.
"Oh, benarkah? Itu berita luar biasa, Sayang! Kalau begitu, kita harus segera ke dokter untuk memastikan kesehatan kalian semua," ujar Anjeli sambil bangkit dan memeluk suaminya. Vikramaditya tidak tahu bahwa dalam pelukan itu, Anjeli sedang membayangkan nisan yang indah untuk suaminya.
Hari pemeriksaan tiba. Mereka pergi ke sebuah rumah sakit swasta elit. Vikramaditya dengan gaya angkuhnya meminta fasilitas VVIP. Meenakshi juga dibawa serta dengan dalih "pemeriksaan kehamilan asisten kesayangan".
Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar. Dokter meminta bertemu dengan mereka secara pribadi di ruangan tertutup. Wajah dokter itu tampak sangat serius, seolah membawa beban dunia di pundaknya.
"Tuan Singh," dokter itu memulai, menatap laporan di tangannya. "Saya harus menyampaikan ini dengan hati-hati. Anda dinyatakan positif HIV. Dan melihat jumlah CD4 Anda, virus ini sudah mulai menyerang sistem kekebalan tubuh Anda dengan cukup agresif."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Vikramaditya. Wajahnya yang gagah mendadak layu, berubah menjadi abu-abu. "Apa? Tidak mungkin! Itu pasti kesalahan! Aku pria sehat! Aku atletis!"
"Dan nyonya Anjeli," lanjut dokter itu, beralih ke Anjeli. "Hasil tes Anda negatif. Anda bersih sepenuhnya."
Vikramaditya menoleh ke arah Anjeli dengan tatapan liar dan penuh amarah. "Kau! Ini pasti gara-gara kau! Kau membawa sial!"
Namun, Anjeli tetap tenang. Ia tidak menangis. Ia justru menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Bukan aku, Vikram. Tapi asisten rumah tangga kesayanganmu, Meenakshi. Aku tahu dia sakit sejak awal. Aku yang membawanya masuk ke rumah ini agar kau punya 'mainan' baru yang selevel dengan moralitasmu," suara Anjeli kini tajam dan penuh kemenangan.
Vikramaditya berdiri, hendak menerjang Anjeli, namun tubuhnya yang melemah membuatnya limbung. "Kau sengaja? Kau meracuniku?"
"Aku tidak meracunimu, Vikram. Kau sendiri yang meminum racun itu dengan rakus setiap malam di kamar tamu. Kau yang memilih untuk tidak menggunakan pengaman karena kau merasa terlalu 'jantan' untuk itu. Kau yang memilih untuk mengkhianatiku berkali-kali," Anjeli berdiri, mendekati wajah suaminya yang kini basah oleh keringat dingin. "Sekarang, kau akan mati perlahan. Seluruh New Delhi akan tahu bahwa pengusaha besar Vikramaditya Singh hancur bukan karena persaingan bisnis, tapi karena nafsu kotornya sendiri."
Namun, dokter itu berdehem, memotong drama mengerikan tersebut.
"Tunggu dulu, Tuan Singh. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan mengenai kehamilan Meenakshi Iyer," kata dokter itu.
Anjeli menatap dokter dengan penuh kemenangan. "Ya, katakan padanya bahwa anak itu juga akan lahir dengan penyakit yang sama."
Dokter itu menggeleng pelan. "Bukan itu. Meenakshi Iyer memang hamil, tapi... secara biologis, mustahil Tuan Vikramaditya adalah ayahnya. Berdasarkan hasil tes DNA awal yang kami lakukan secara paralel karena kecurigaan medis, janin itu tidak memiliki kecocokan dengan Tuan Singh."
Ruangan itu mendadak senyap. Anjeli mengernyit. "Lalu siapa?"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Meenakshi masuk, namun tidak dengan pakaian pelayan. Ia mengenakan sari yang sangat mewah, pemberian Anjeli, namun wajahnya tampak tenang tanpa rasa takut. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya yang sangat dikenal oleh Anjeli dan Vikramaditya. Dia adalah pengacara keluarga mereka, pria yang memegang seluruh akta aset dan surat wasiat mereka.
"Dia hamil anakku, Anjeli," suara pengacara itu terdengar berat namun pasti.
Plot twist yang sesungguhnya menghantam Anjeli tepat di ulu hati. Meenakshi ternyata bukan sekadar wanita yang pasrah pada nasib. Selama bekerja di sana, Meenakshi menjalin hubungan rahasia dengan sang pengacara yang memang sudah lama mengincar harta keluarga Singh. Meenakshi telah menceritakan seluruh rencana Anjeli kepada sang pengacara.
Meenakshi menatap Anjeli dengan tatapan dingin. "Nyonya pikir nyonya yang paling pintar? Nyonya menggunakan saya sebagai senjata, tapi nyonya lupa bahwa senjata bisa berbalik arah. Saya memang sakit, tapi pengacara ini mencintai saya dan dia telah mengalihkan sebagian besar aset perusahaan suamimu ke atas nama saya dan calon anak saya sebagai jaminan hidup kami sebelum suamimu bangkrut karena biaya pengobatan dan tuntutan hukum."
Vikramaditya pingsan di lantai. Anjeli berdiri mematung, menyadari bahwa dalam usahanya membalas dendam, ia telah menyerahkan seluruh hartanya kepada orang yang ia anggap remeh. Ia memang berhasil membuat suaminya jera dan hancur, namun ia sendiri kini berakhir tanpa apa-apa—seorang janda tanpa harta, di tengah kota New Delhi yang tidak pernah memaafkan kesalahan.
Anjeli keluar dari rumah sakit itu sendirian. Di bawah terik matahari, ia melihat bayangannya di kaca spion mobil. Ia tetap cantik, namun kini ia benar-benar hampa. Dendam telah memberinya kepuasan sesaat, namun mengkhianatinya di akhir cerita. Ia telah membakar rumahnya sendiri hanya untuk memastikan suaminya ikut terbakar di dalamnya. Kini, yang tersisa hanyalah abu yang beterbangan di langit India yang kelabu.