Perjalanan Panjang Pulang Kampung
Mobil melaju membelah jalanan raya menuju Karachi, Pakistan. Di balik kaca jendela, pemandangan kota mulai berubah dari hiruk pikuk modern menjadi suasana yang lebih tenang namun menyimpan banyak kenangan. Di kursi belakang, duduk seorang pria tampan yang tak lain adalah Junaid Amir, seorang mantan artis TikTok yang sangat populer. Namun, senyum ceria yang dulu menghiasi wajahnya kini tergantikan oleh tatapan kosong dan bingung.
Junaid sedang menderita Amnesia Berat. Ia sering lupa siapa dirinya, lupa di mana ia berada, dan bahkan sering tidak mengenali orang-orang terdekatnya.
Di sampingnya duduk wanita cantik yang setia memegang tangannya erat-erat. Itu adalah Lea Ziva, istrinya. Air mata sering kali menggenang di mata Lea, namun ia selalu berusaha tegar.
"Sayang, kita mau ke mana tahu tidak?" tanya Lea lembut, mencoba memancing ingatan suaminya.
Junaid menggeleng pelan, matanya menatap jauh ke depan. "Entah... rasanya hati ini berat, Lea. Seperti ada sesuatu yang hilang atau seseorang yang sangat aku rindukan tapi aku tidak ingat siapa."
Di kursi depan, duduk dua keponakan kesayangan Junaid yang ikut menemani perjalanan ini. Raka, si cowok yang tangguh dan dewasa, serta Nina, si cewek manis yang selalu ceria namun menyimpan kesedihan di hati.
"Paman, kita mau ziarah ke makam Eyang dan Om ya. Paman janji mau membawa bunga-bunga indah buat mereka," kata Nina dengan suara lembut, mencoba mengingatkan.
Junaid hanya mengangguk pelan. Meski ingatannya hilang, naluri cintanya pada orang tua masih tersimpan jauh di sudut hatinya.
Kedatangan di Area Pemakaman
Akhirnya mereka sampai di area pemakaman keluarga besar di Karachi. Suasana di sana sangat hening dan damal, hanya terdengar desiran angin yang berhembus membelai dedaunan.
Junaid turun dari mobil dengan dibantu Raka dan Lea. Tubuhnya terasa lemah, langkahnya pun tertatih. Namun, saat kakinya menginjak tanah itu, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Perasaan sedih yang mendalam, seolah ia tahu bahwa di sini lah tempat peristirahatan terakhir orang yang sangat ia cintai.
Lea Ziva mengeluarkan barang-barang yang sudah disiapkan dari dalam tas.
"Sayang, ini bawaannya ya. Kita mau membersihkan dan menghormati makam Ayah dan Ibu," kata Lea.
Junaid menerima benda-benda itu satu per satu. Ia membawa seikat bunga mawar merah yang indah sebagai simbol cinta abadi. Ia juga membawa air mawar wangi, bunga kenanga dan melati yang harum semerbak khas tradisi, serta potongan daun pandan segar yang dipercaya membawa ketenangan.
Ia memegang semua itu dengan sangat hati-hati, seolah memegang sesuatu yang sangat berharga. Meski otaknya lupa, tangannya seolah tahu apa yang harus dilakukan.
Air Mata di Atas Tanah Pusara
Mereka berjalan perlahan mendekati dua gundukan tanah yang bersebelahan. Itu adalah makam kedua orang tua Junaid Amir. Sang Ayah baru saja meninggal dunia beberapa waktu lalu, menyusul Ibu yang sudah lebih dulu pergi. Kini mereka sudah berkumpul di sana, dalam keabadian.
Saat melihat nisan bertuliskan nama ayahnya, Junaid tiba-tiba terdiam. Dadanya terasa sesak. Tanpa sadar, air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Ayah... Ibu..." bisiknya pelan. Suaranya bergetar. "Maafkan Junaid... Junaid lupa banyak hal... tapi Junaid sayang Ayah Ibu..."
Lea Ziva memeluk bahu suaminya, ikut menangis. Raka dan Nina pun menunduk menghormati dan mendoakan.
Junaid dengan telaten menaburkan bunga mawar, kenanga, dan melati di atas makam. Ia memercikkan air mawar dan meletakkan daun pandan. Wangi bunga-bunga itu bercampur dengan aroma tanah membuat suasana semakin haru.
"Semoga Ayah dan Ibu tenang di sana... Doakan Paman bisa ingat lagi ya..." bisik Nina sambil mengusap air mata.
Panggilan Darurat Dokter Lyla
Di tengah kesunyian dan doa, tiba-tiba telepon genggam Lea Ziva berdering nyaring. Nomor yang tertera di layar membuat hati Lea berdegup kencang. Itu adalah Dokter Lyla, dokter spesialis yang selama ini menangani kesehatan Junaid.
Lea segera menjauh sedikit untuk mengangkat telepon tersebut, sementara Junaid masih duduk termenung di depan makam.
"Halo, Dokter Lyla..." sapa Lea dengan suara parau.
"Assalamualaikum, Lea. Bagaimana kondisi Junaid saat ini? Saya cek dari laporan terakhir dan pantauannya, kondisi amnesianya mengalami penurunan atau bertambah parah lagi," suara Dokter Lyla terdengar serius dari seberang.
Lea menghela napas panjang, menahan isak tangis. "Iya Dok... Hari ini kami pulang kampung ziarah. Junaid terlihat sangat sedih, tapi dia berusaha kuat. Tapi memang benar Dok, dia makin sering lupa. Kadang dia tanya siapa saya, siapa dirinya sendiri."
Dokter Lyla menghembuskan napas. "Begini Lea, saya harus jujur. Kondisi amnesia fungsional yang dialami Junaid ini kondisinya bertambah lagi. Memori jangka panjangnya makin sulit diakses, dan orientasinya terhadap waktu dan tempat makin menurun. Ini sangat mengkhawatirkan. Kamu harus jaga dia benar-benar ekstra. Jangan biarkan dia stres berlebihan, tapi lingkungan yang tenang justru mungkin bisa membantu sedikit memicu ingatannya."
"Baik Dokter, terima kasih infonya. Kami akan segera istirahat setelah ini," jawab Lea lemah sebelum menutup telepon.
Lea kembali menghampiri Junaid. Ia tahu perjuangan melawan penyakit ini masih sangat panjang dan berat.
Rasa Sakit yang Menghantui
Setelah selesai berdoa dan membersihkan makam, Junaid tiba-tiba memegang kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya berubah pucat dan kesakitan.
"Aduh... kepalaku... sakit sekali..." erang Junaid.
"Sayang! Kenapa?! Ya Allah..." Lea segera memeluknya panik. Raka dan Nina langsung sigap membantu mengangkat tubuh pamannya.
"Sakit... rasanya seperti pecah... banyak bayangan... tapi gelap... aku tidak bisa melihat apa-apa..." keluh Junaid.
Ini adalah efek samping dari penyakitnya. Serangan sakit kepala hebat sering datang tiba-tiba, terutama saat ia berusaha keras mengingat sesuatu atau saat emosinya sedang naik, seperti saat berziarah ini.
"Pelan-pelan ya Sayang, tarik napas... Jangan dipaksakan ingat... Istirahat saja dulu," bujuk Lea sambil mengelus kepala suaminya.
Raka segera membuka botol air minum, "Minum dulu ya Paman, biar tenang."
Nina mengusap punggung pamannya dengan sayang. "Sabar ya Paman Junaid, Nina sama Kak Raka selalu ada buat Paman sama Tante Lea."
Rasa sakit itu membuat Junaid lemas sekali. Ia sadar bahwa penyakit yang ia derita ini tidak main-main. Kondisinya benar-benar sedang dalam titik terlemah.
Menuju Pantai Karachi untuk Menenangkan Hati
Setelah rasa sakit di kepala Junaid sedikit mereda, mereka memutuskan untuk tidak langsung pulang. Lea tahu betul, dulu sebelum sakit, Junaid sangat suka sekali pergi ke pantai. Suara ombak dan angin laut adalah obat terbaik baginya.
Maka, rombongan kecil itu pun bergerak menuju salah satu pantai indah di Karachi.
Saat mereka sampai, pemandangan laut lepas yang biru membentang luas. Matahari mulai condong ke barat, menyinari air laut dengan warna keemasan. Angin laut berhembus kencang namun sejuk, menerbangkan helai rambut Junaid.
Junaid turun dari mobil dan berjalan perlahan mendekati bibir pantai. Kakinya menginjak pasir putih yang halus.
"Wah... indah sekali..." gumam Junaid. Matanya yang tadinya kosong, kini tampak sedikit berbinar.
Ia duduk di atas pasir, ditemani Lea di sebelah kanan dan kedua keponakannya di sebelah kiri.
"Paman suka kan pantai? Dulu Paman sering banget main air di sini," kata Raka mencoba bercerita.
Junaid tersenyum tipis. "Rasanya... aku merasa tenang di sini. Suara ombaknya... seolah berbicara padaku."
Lea Ziva tersenyum melihat senyum kecil itu. Meskipun ingatannya hilang, jiwa dan perasaannya tetap sama. Junaid Amir yang mencintai kebebasan dan keindahan laut masih ada di sana.
Kenangan yang Tersimpan di Dasar Laut
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di pantai. Junaid tampak lebih rileks. Sesekali ia tertawa kecil melihat Nina dan Raka bermain air. Lea memandikan wajah suaminya dengan air laut yang segar, berharap bisa menyegarkan pikirannya.
"Sayang," Lea memulai pembicaraan, "Kamu tahu nggak? Di sini dulu kita sering jalan-jalan berdua. Kamu pernah janji, mau membawa aku keliling dunia."
Junaid menatap wajah istrinya lama. Ia mencoba mengingat, namun yang muncul hanya kabut putih tebal di kepalanya.
"Lea..." panggil Junaid pelan.
"Iya Sayang, aku di sini."
"Kamu cantik... dan kamu terlihat sangat baik padaku. Aku pasti orang yang sangat beruntung punya kamu, kan?" ucap Junaid tulus.
Hati Lea hancur mendengarnya. Suami nya tidak ingat, tapi ia masih bisa merasakan cinta.
"Paman Junaid pahlawan buat kita lho!" seru Nina. "Dulu Paman sering bikin video lucu, banyak orang suka Paman."
Junaid hanya tersenyum mendengarnya. Ia tidak ingat masa kejayaannya, tidak ingat sebagai artis TikTok. Yang ia tahu saat ini hanyalah rasa sakit, rasa rindu pada orang tua yang sudah tiada, dan rasa nyaman berada di dekat keluarga kecilnya di tepi pantai Karachi ini.
Harapan di Ujung Senja
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Langit berubah warna menjadi oranye keunguan. Suasana pantai mulai sepi dan dingin.
Junaid berdiri dibantu Lea. Ia memandang laut luas sekali lagi.
"Ayah, Ibu... Paman janji akan berusaha sembuh. Paman akan berusaha ingat lagi," bisik Junaid perlahan namun tegas.
Meskipun Dokter Lyla bilang kondisinya bertambah parah, meskipun rasa sakit sering menyerang, dan meskipun ingatannya masih banyak yang hilang, Junaid tidak mau menyerah.
"Kita pulang ya?" ajak Lea.
"Iya..." jawab Junaid. Ia menggenggam tangan istrinya sangat erat, lalu menggenggam tangan Raka dan Nina.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan pantai. Bayangan mereka memanjang di atas pasir. Perjalanan Junaid Amir untuk memulihkan ingatannya masih sangat jauh dan berat. Namun selama ada cinta dari Lea Ziva, dukungan dari Raka dan Nina, serta perawatan dari Dokter Lyla, ia yakin suatu hari nanti, ia bisa kembali menjadi Junaid Amir yang utuh, dan bisa kembali tertawa lepas di pantai tercintanya, Karachi.
TAMAT