Lampu ring light itu memantul di bola mata Kania Sundari, menciptakan lingkaran cahaya yang membuatnya tampak seperti malaikat yang turun langsung dari algoritma media sosial. Di depan kamera, ia adalah ratu kecantikan tanpa cela. Jari-jarinya yang lentik menari lincah menyapukan blush on ke tulang pipi, sementara suaranya yang lembut menyapa jutaan pengikutnya. "Ingat ya, Glow Squad, cantik itu bukan cuma soal apa yang kita poles di wajah, tapi soal ketenangan yang ada di dalam hati."
Kania tersenyum manis ke arah lensa. Namun, begitu tombol stop ditekan, senyum itu luruh seperti bedak murah yang tersiram air hujan. Di balik dinding studio kedap suara itu, dunianya tidak sedang baik-baik saja. Wangi parfum mawar yang mahal di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan, bercampur dengan debu imajiner dari rumah impiannya yang tak kunjung usai dibangun.
Ia keluar dari studio, melewati tumpukan kardus barang-barang endorsement yang belum dibuka. Di ruang tengah, Arsena Kusuma sedang duduk dengan laptop di pangkuannya. Lelaki itu tampak kusut, kemejanya berkerut, dan ada gurat kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik kacamata berbingkai hitamnya. Kania memandangnya dengan rasa iba yang mulai terkikis oleh kecurigaan.
"Mas, kontraktor bilang pengerjaan lantai dua berhenti lagi. Katanya materialnya belum dibayar," suara Kania memecah hening.
Arsena tidak mendongak. Jemarinya masih sibuk di atas keyboard. "Ada kendala administrasi di vendor, Kan. Aku sudah urus. Minggu depan jalan lagi."
"Minggu depan? Kamu bilang begitu bulan lalu, Mas. Dan bulan sebelumnya lagi. Ini sudah setahun lebih sejak groundbreaking. Kita tinggal di apartemen ini sementara, tapi sementara kita sudah hampir habis kontraknya," Kania mendekat, berdiri tepat di samping suaminya.
"Aku bilang sedang diurus, Kania! Kamu pikir mengelola bisnis dan proyek rumah sebesar itu gampang?" Suara Arsena mendadak meninggi, sebuah pertahanan diri yang klasik.
Kania terdiam. Ia adalah wanita yang membangun kerajaan bisnis kosmetiknya dari nol. Ia tahu persis bagaimana rasanya mengelola uang miliaran. Namun, demi menjaga harga diri suaminya, ia menyerahkan seluruh urusan pembangunan rumah mereka dan manajemen keuangan perusahaan keluarga yang mereka bangun bersama kepada Arsena. Kania adalah wajahnya, Arsena adalah otaknya—begitu perjanjian tidak tertulis mereka.
Malam itu, saat Arsena tertidur karena kelelahan, ponsel lelaki itu bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Bukan pesan mesra dari selingkuhan yang Kania temukan, melainkan sebuah lampiran dokumen PDF bertajuk "Laporan Audit Internal PT Kusuma Mandiri".
Tangan Kania gemetar saat membukanya. Halaman demi halaman mengungkapkan kenyataan yang lebih pahit dari perselingkuhan fisik. Ada aliran dana sebesar tiga miliar rupiah yang ditarik secara bertahap dari rekening pembangunan rumah dan kas operasional perusahaan. Dana itu mengalir ke sebuah rekening atas nama sebuah firma hukum untuk penyelesaian utang piutang bisnis atas nama ayah Arsena.
Kania merasa jantungnya diremas. Ia teringat bagaimana ibu mertuanya selalu membanggakan kejayaan bisnis properti keluarga mereka yang sebenarnya sudah lama keropos dan terlilit utang di mana-mana. Rupanya, Arsena selama ini menjadi tumbal—atau lebih tepatnya, menjadikan Kania sebagai sapi perah untuk menutupi lubang hitam keluarganya.
Esok paginya, rumah itu terasa dingin meski matahari bersinar terik. Kania tidak membuat konten. Ia duduk di meja makan, menunggu Arsena bangun. Di atas meja, ia meletakkan print-out laporan audit yang ia temukan semalam.
Arsena muncul dengan wajah mengantuk, tapi langsung pucat pasi saat melihat kertas-kertas di meja. Keheningan yang menyiksa terjadi selama beberapa menit.
"Kenapa, Mas?" suara Kania sangat rendah, hampir seperti bisikan. "Kenapa kamu nggak bicara kalau butuh uang banyak? Kenapa harus korupsi dari uang perusahaan kita sendiri? Kenapa harus mempermainkan rumah kita?"
Arsena mencoba meraih tangan Kania, tapi wanita itu menariknya dengan jijik. "Keluargaku terdesak, Kan. Ayah terancam penjara karena gagal bayar proyek di Kalimantan. Aku nggak punya pilihan."
"Nggak punya pilihan?" Kania tertawa getir, air mata mulai mengalir merusak riasan tipis di wajahnya. "Kamu punya aku! Padahal kamu tinggal diam saja, Mas! Aku yang berikan uang, aku yang kerja banting tulang dari pagi sampai pagi lagi di depan kamera. Aku yang menyediakan semuanya! Aku nggak akan keberatan bantu ayahmu kalau kamu bicara jujur. Tapi kamu malah mencuri! Kamu biarkan rumah kita jadi rongsokan semen yang nggak jadi-jadi hanya supaya keluargamu bisa tetap terlihat kaya di mata orang lain!"
"Kamu nggak mengerti posisi sebagai laki-laki di keluargaku, Kania! Aku malu kalau harus mengemis terus padamu!" teriak Arsena.
"Jadi mencuri itu lebih terhormat daripada jujur pada istri sendiri?" Kania berdiri, matanya menyalang. "Ekonomi kita stabil karena namaku, Mas. Bukan karena bisnis properti keluargamu yang sudah bangkrut itu. Aku mencintaimu sebagai suamiku, bukan sebagai pahlawan bagi keluarga toksikmu!"
Kekecewaan Kania memuncak bukan hanya karena uangnya hilang, tapi karena kepercayaan yang ia bangun setinggi menara kini runtuh dalam semalam. Baginya, ini adalah pengkhianatan yang lebih kejam daripada wanita lain. Arsena telah membunuh masa depan yang mereka rancang bersama demi menyelamatkan masa lalu keluarganya yang busuk.
Minggu-minggu berikutnya adalah neraka yang tertutup rapat. Di depan layar, Kania tetap menjadi "The Beauty Queen". Ia masih membuat tutorial makeup pernikahan, seolah-olah ia tidak sedang berada di ambang perceraian. Namun, di balik itu, pengacaranya sedang bekerja keras.
Kania memutuskan untuk mengunjungi lokasi rumah mereka yang belum jadi di pinggiran Jakarta Selatan. Bangunan itu berdiri gagah namun sunyi, seperti kerangka raksasa yang kehilangan nyawa. Dinding-dindingnya masih bata ekspos, lantai-lantainya masih semen kasar. Di sana, ia bertemu dengan kepala tukang yang selama ini bekerja.
"Bu Kania," sapa pria tua itu dengan sopan. "Maaf, sebenarnya saya ingin bicara sejak lama."
Kania mengernyit. "Soal material yang belum dibayar?"
"Bukan cuma itu, Bu. Pak Arsena sering datang ke sini malam-malam. Tapi dia tidak melihat pembangunan. Dia sering membawa orang-orang berpakaian rapi, seperti orang bank. Dan ada satu hal lagi... ini mungkin Ibu perlu lihat."
Pria tua itu membawa Kania ke bagian belakang rumah, area yang seharusnya menjadi taman luas dengan kolam renang. Di sana, pengerjaannya tampak jauh lebih maju daripada bagian depan. Bahkan sudah ada dinding kedap suara yang terpasang di sebuah ruangan bawah tanah yang luas.
"Pak Arsena bilang ini kejutan untuk Ibu. Ruangan ini tidak ada di denah awal yang Ibu pegang," kata tukang itu.
Kania masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang dingin itu. Di dalamnya, terdapat rak-rak kaca yang sangat banyak, pencahayaan yang sempurna, dan meja marmer yang luas. Itu adalah sebuah laboratorium mini lengkap dengan peralatan canggih untuk riset kosmetik. Di sudut ruangan, ada sebuah brankas besar yang terbuka sedikit.
Kania mendekat dan membuka brankas itu. Di dalamnya tidak ada uang. Hanya ada tumpukan surat, proposal, dan sertifikat paten.
Kania membaca surat-surat itu satu per satu. Napasnya tercekat. Surat-surat itu bukan tentang utang ayah Arsena. Itu adalah surat penolakan dari berbagai lembaga keuangan karena Arsena mencoba meminjam dana untuk "Proyek Rahasia Kania".
Sertifikat paten itu adalah paten atas nama Kania Sundari untuk sebuah formula skincare organik yang pernah Kania impikan namun selalu ia keluhkan karena biayanya terlalu mahal untuk riset. Arsena tidak memberikan uang itu pada keluarganya. Laporan audit yang dilihat Kania adalah laporan palsu yang sengaja dibuat oleh adik perempuan Arsena yang iri pada Kania, untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Arsena memang menarik uang itu, tapi bukan untuk utang. Ia membangun laboratorium impian Kania di bawah rumah mereka, membeli peralatan riset secara ilegal karena ia tahu Kania terlalu berhati-hati jika menggunakan jalur resmi perusahaan. Arsena ingin memberikan Kania kemandirian penuh—sebuah pabrik dan laboratorium sendiri agar Kania tidak perlu bergantung pada kontrak-kontrak vendor luar lagi.
Namun, di tengah jalan, Arsena terjebak. Uang yang ia "korupsi" dari perusahaan mereka ternyata masuk ke kantong kontraktor bodong yang ternyata adalah kenalan ayahnya. Arsena ditipu habis-habisan saat mencoba berbuat baik secara sembunyi-sembunyi. Ia terlalu malu untuk mengaku bahwa ia telah gagal menjadi "penyedia" bagi istrinya yang sudah sukses.
Kania jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada kebohongan. Arsena memang bersalah karena tidak jujur, tapi ia melakukan kejahatan demi cinta yang keliru.
Tiba-tiba, ponsel Kania berbunyi. Pesan dari pengacaranya: "Gugatan cerai sudah didaftarkan, Kania. Dan pihak kepolisian sudah menerima laporan penggelapan dana atas nama Arsena sesuai permintaanmu."
Kania ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia melihat ke sekeliling laboratorium yang sunyi itu. Tempat ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya, namun sekarang justru terasa seperti makam bagi pernikahan mereka.
Di ambang pintu, Arsena berdiri. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Ia melihat Kania memegang sertifikat paten itu.
"Aku cuma ingin kamu punya sesuatu yang benar-benar milikmu, Kan. Bukan milik pengikutmu, bukan milik sponsor, tapi milikmu," kata Arsena lirih. "Tapi aku memang bodoh. Aku pikir aku bisa mengatasi semuanya sendiri."
Kania berdiri, menatap suaminya dengan mata yang sembab. "Kamu menghancurkan kita untuk membangun ini, Mas? Kamu membuatku membencimu hanya untuk sebuah kejutan?"
Arsena tersenyum tipis, senyum paling sedih yang pernah Kania lihat. "Aku sudah menandatangani surat cerainya. Dan aku akan menyerahkan diri ke polisi sore ini. Uang itu memang hilang, Kan. Dan aku yang bertanggung jawab."
Saat Arsena berbalik pergi, Kania menyadari satu hal yang paling menyakitkan dari semua ini. Di dunia yang penuh dengan polesan dan filter kecantikan, mereka berdua telah gagal melihat wajah asli satu sama lain di balik topeng yang mereka ciptakan sendiri.
Rumah itu tetap tidak akan pernah jadi. Karena sebuah rumah membutuhkan fondasi kejujuran, sementara mereka hanya sibuk membangun dinding-dinding kebanggaan yang akhirnya runtuh menimpa mereka sendiri. Kania Sundari, sang ratu kecantikan, kini berdiri di tengah puing-puing impiannya, menyadari bahwa beberapa noda di hati tidak akan pernah bisa ditutupi oleh concealer termahal sekalipun.