Hujan baru saja reda. Udara terasa sejuk, bercampur dengan aroma tanah basah yang khas. Di Halte 17, Arka duduk mematung. Matanya menatap jalanan yang masih basah, meski bus yang biasa ia tumpangi sudah lewat tiga kali. Ia tak peduli. Yang penting baginya sekarang adalah satu hal: menunggu.
"Masih nungguin?"
Suara itu lembut, sedikit bergetar, namun berhasil memecah lamunan Arka. Ia menoleh cepat dan mendapati Nara berdiri di sana, rambutnya dikuncir dua, seragamnya rapi, dan wajahnya yang sedikit memerah karena habis berjalan cepat.
"Iya, Ra. Kamu kok belum pulang?" tanya Arka, berusaha terdengar santai padahal jantungnya sudah berdegup kencang.
"Habis piket kelas. Terus tadi hujan deras jadi nungguin reda dulu. Eh, lihat kamu masih di sini," jawab Nara sambil duduk di ujung bangku halte, menjaga jarak sopan dari Arka.
"Beneran nunggu hujan reda?" tanya Nara lagi, seolah bisa membaca pikiran Arka.
Arka tersenyum kecut. "Iya... sedikit bohong sih. Sebenernya aku sengaja nungguin kamu lewat."
Nara tertawa kecil, suara yang selalu berhasil membuat suasana jadi lebih ringan. Mereka berdua adalah teman sekelas sejak kelas satu SMA. Awalnya hanya sebatas teman biasa, sampai tugas kelompok membuat mereka semakin dekat. Namun bagi Arka, perasaan itu sudah berubah jauh sebelum Nara sadari. Nara adalah alasan ia bersemangat berangkat sekolah.
"Kakiku capek banget hari ini," keluh Nara sambil menggerak-gerakkan kakinya. "Habis latihan baris-berbaris keliling lapangan."
"Ya makanya jangan lari kencang-kencang kayak dikejar hantu," canda Arka.
"Ah, kamu sih! Bu Guru kan bilang harus semangat!" Nara memukul pelan lengan baju Arka.
Tawa mereka pecah. Di saat seperti ini, Arka merasa dunia hanya milik mereka berdua. Tak ada guru, tak ada PR, hanya ada suara kendaraan yang berlalu lalang dan obrolan ringan mereka.
"Ka," panggil Nara pelan. Wajahnya kini lebih serius, matanya menatap genangan air di depan halte. "Kamu ingat nggak pertama kali kita ke sini bareng? Waktu itu kamu panik banget karena dompet ketinggalan."
Arka mengangguk, tersenyum mengingat kenangan itu. "Ingat banget. Terus kamu yang pinjemin uang buat naik angkot. Sampai sekarang aku belum ganti lho."
"Ah, gak usah diganti. Anggap aja traktiran," kata Nara sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu berhasil membuat pipi Arka memanas.
Arka menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, tapi karena ada kata-kata yang sudah terlalu lama ia simpan di dalam hati. Ini saatnya. Tidak boleh ada lagi rasa takut.
"Nara..."
"Hmm?" Nara menoleh, menatap mata Arka lekat-lekat.
"Aku ada sesuatu mau bilang."
"Apa?"
Waktu seolah berhenti. Matahari mulai turun, memancarkan cahaya oranye keemasan yang menerangi wajah Nara, membuatnya terlihat semakin cantik. Arka tahu, tidak akan ada momen yang lebih indah dari ini.
"Aku suka sama kamu, Ra. Bukan suka sebagai teman biasa, tapi lebih dari itu," ucap Arka lancar, seolah kata-kata itu meluncur sendiri. "Aku suka cara kamu ketawa, cara kamu perhatiin temen, bahkan cara kamu ngambek pun aku suka. Aku nyaman banget setiap ada di sebelah kamu."
Arka menunduk setelahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang, seakan ingin melompat keluar dari dada. Ia takut. Takut jika setelah ini mereka jadi canggung, takut jika persahabatan mereka hancur.
Hening. Hanya terdengar suara klakson di kejauhan.
Tiba-tiba, Arka merasakan sentuhan hangat di tangannya. Jari-jari lentik itu perlahan menggenggam tangannya yang dingin dan berkeringat dingin.
Arka mendongak kaget.
Nara tersenyum. Bukan senyum biasa, tapi senyum paling manis yang pernah Arka lihat. Matanya berbinar-binar memantulkan cahaya senja.
"Aku juga, Ka," bisik Nara pelan. "Aku juga nunggu kamu bilang gitu dari lama."
Arka terpaku. Otaknya seakan berhenti bekerja beberapa detik sebelum akhirnya mencerna arti kata-kata itu. Dia juga suka?
"Serius?" tanya Arka memastikan, takut ini hanya mimpi.
"Iya serius! Kamu itu lambat banget sih sadarnya. Aku kira kamu nggak bakal pernah nembak-nembak aku," Nara tertawa renyah melihat ekspresi Arka yang terlihat kaku namun bahagia.
Arka tertawa lepas. Bebas. Segala rasa cemas yang tadi menumpuk lenyap seketika, digantikan oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Ia menggenggam tangan Nara lebih erat, tak ingin melepaskannya. Rasanya hangat. Rasanya benar.
"Maaf ya aku lambat. Aku takut kamu ilfeel," kata Arka.
"Enggak kok. Justru aku suka kamu karena kamu sabar dan perhatian," jawab Nara tulus.
Mereka kembali terdiam, namun kali ini keheningan itu terasa manis. Tak ada lagi tembok pemisah di antara mereka. Hanya ada dua hati yang akhirnya saling mengakui.
"Ka?"
"Hmm?"
"Bus kamu lewat tuh," tunjuk Nara ke arah bus warna biru yang melaju.
Arka melirik sekilas, lalu menggeleng. "Biarin aja. Nanti aja yang berikutnya."
Nara tertawa. "Maksud kamu mau nungguin aku naik bus duluan kan?"
"Pintar juga ya kamu," Arka mengedipkan sebelah matanya.
Mereka menghabiskan waktu lebih lama lagi di halte itu. Mengobrol tentang rencana liburan, cita-cita, dan janji untuk saling mendukung. Arka merasa menjadi orang paling beruntung di dunia saat itu.
Saat bus kota yang ditumpangi Nara akhirnya datang, Nara berdiri dan membereskan bajunya.
"Aku naik ya?"
"Hati-hati, Ra. Kabarin kalau udah sampai rumah," pesan Arka.
"Iya, sayang."
Panggilan itu membuat jantung Arka berdegup lagi. Sayang.
Sebelum naik, Nara berhenti sejenak. Ia mengambil pulpen dari sakunya, lalu membalikkan telapak tangan Arka. Dengan hati-hati, ia menuliskan deretan angka di sana.
"Itu nomor WA aku. Yang khusus buat kamu," bisiknya lalu berlari kecil naik ke atas bus.
Arka menatap angka-angka itu di telapak tangannya, lalu menatap bus yang perlahan menjauh hingga hilang ditelan jalanan. Ia tersenyum lebar menatap langit yang kini mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan.
Halte 17 bukan lagi sekadar tempat menunggu bus. Hari ini, halte itu menjadi saksi bisu awal dari sebuah cerita cinta yang indah. Cinta remaja yang sederhana, tulus, dan murni.
Arka berdiri, merapikan seragamnya, dan berjalan menuju halte busnya sendiri dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Ia tahu, besok pagi ia akan kembali ke sekolah dengan perasaan yang berbeda.
Karena sekarang, ia tidak sendirian lagi.
Selesai