Bagiku, mistis bukanlah sekadar cerita pengantar tidur; ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam darahku. Sebagai gadis berusia 18 tahun, aku sudah terbiasa dengan "tetamu" yang tak terlihat. Namun, perjalanan studi tur kelas 12 ke Bali kali ini memberikan rasa yang berbeda. Ada sesuatu yang menunggu, sesuatu yang mengenali bau darah leluhurku.
Perjalanan dimulai dengan tawa. Di dalam bus yang melaju menuju timur, aku dan Ines, sahabatku, masih sempat menertawakan suara sumbang teman-teman laki-laki yang berkaraoke.
"Bising kali anjir!" keluh Ines sambil menutup telinga dengan bantal leher.
"Iya kan? Suaranya kayak mau nelen bumi!" balasku terbahak. Aku sempat menyesap es teh plastiku, merasa normal, merasa menjadi remaja biasa.
Namun, normalitas itu hancur saat bus memasuki wilayah Pasuruan.
Tiba-tiba, perutku seperti diremas oleh tangan raksasa yang dingin. Rasa sakitnya menjalar ke bahu, menekan tengkukku hingga aku merasa kepalaku seberat beton. Aku membisu. Keringat dingin mulai membanjiri dahi. Aku pura-pura tidur, meringkuk menghadap jendela agar Ines tidak melihat wajahku yang pucat pasi.
Saat bus berhenti di rest area, aku berlari ke toilet. Aku memuntahkan segalanya, tapi yang keluar hanyalah cairan bening. Hambar. "Hanya mabuk perjalanan," bisikku pada cermin yang buram. Tapi jauh di dalam lubuk hati, aku tahu itu bohong.
Bus kembali melaju. Aku mencoba memejamkan mata, berharap kegelapan akan membawaku pergi dari rasa sakit ini. Namun, dalam heningnya malam, sebuah suara menyelinap.
Hmmmm... mmm-mmm-hmmm..."
(Nada naik sedikit lalu turun perlahan)
"Lir-ilir... kadyo angin ing wengi..."
"Hmmmm... mmm-mmm..."
Sebuah senandung wanita. Sangat merdu, namun terdengar sangat dekat, tepat di lubang telinga kananku. Aku tersentak bangun, mataku membelalak. Aku menoleh ke kanan. Hanya ada Ines yang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Ia bersandar pada kaca bus. Aku bangkit sedikit, memutar tubuh untuk melihat barisan kursi di belakang. Semua teman-temanku terlelap dalam balutan selimut.
Aku melirik ponsel. Pukul 23:30. Google Maps menunjukkan posisi kami di tengah hutan Banyuwangi.
Seketika, suhu di dalam bus anjlok secara tidak masuk akal. Tubuhku bergetar hebat hingga kursiku ikut berguncang. Ines terbangun karena getaran itu.
"Nai? Kamu kenapa? Kok menggigil banget?" tanya Ines panik. Ia langsung menyampirkan selimutnya ke tubuhku. Kini aku memakai dua selimut tebal, tapi tulang-tulangku tetap terasa seperti dicelupkan ke air es.
Ines mengusap-usap tanganku yang kaku. "Merem, Nai. Tidur aja, bentar lagi sampai pelabuhan."
Aku memejamkan mata, tapi senandung itu kembali lagi. Kali ini lebih keras, lebih menuntut, diikuti rasa pusing yang hebat seolah otakku diputar-putar. Aku menutup telinga dengan tangan, meringkuk seperti janin, hingga akhirnya bus memasuki kapal di Gilimanuk. Anehnya, begitu roda bus menyentuh tanah Bali, semua rasa sakit itu hilang tak berbekas. Aku kembali bugar, seolah badai tadi hanyalah mimpi buruk yang lewat.
Malam kedua di Bali. Hotel kami memiliki arsitektur tradisional yang kental, dengan banyak ukiran kayu dan koridor yang remang. Ines dan teman-teman lainnya turun ke lantai bawah untuk makan malam. Aku memilih tinggal. Badanku terasa berat, seolah-olah energi yang tadi pagi pulih kini diserap kembali oleh tanah ini.
Aku merebahkan diri di kasur, lalu melakukan panggilan video dengan Ines yang sedang tertawa-tawa di ruang makan.
"Nai, aku bawain nasi kotak ya? Kamu beneran nggak mau turun?" tanya Ines melalui layar ponsel.
"Nggak kuat jalan, Nes. Lemas banget," jawabku.
Beberapa menit kemudian, Ines berkata di layar, "Oke, ini aku baru selesai. Aku otw ke kamar ya, tungguin!"
Hanya dalam hitungan detik setelah ia menutup telepon, bel kamar berbunyi. Berkali-kali. Ting-nong! Ting-nong! Ting-nong! Bunyinya cepat dan tidak sabaran.
"Apaan sih, Nes! Sabar lah!" teriakku sambil bangkit dengan gusar. Aku melangkah ke pintu dan menyentakkannya hingga terbuka lebar.
Kosong.
Lorong hotel yang panjang itu sunyi senyap. Hanya ada lampu kuning yang berkedip di kejauhan. Tak ada suara langkah kaki, tak ada siapa pun. Aku mematung, menatap kekosongan itu dengan jantung berdegup kencang. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ines memanggil kembali.
"Nai? Kok bengong di depan pintu? Aku lihat di layar kamu tadi buka pintu," ucap Ines di video call.
"Bukannya kamu tadi bilang mau ke kamar? Ini siapa yang mencet bel?" tanyaku dengan suara bergetar.
Wajah Ines di layar berubah pias.
"Aku... aku baru mau naik lift, Nai. Ini masih di lantai bawah sama anak-anak."
Ines langsung berlari menuju kamar. Saat ia sampai, ia menemukanku duduk mematung di pinggir kasur. Kami tak banyak bicara tentang "siapa" yang memencet bel itu. Kami berusaha rasional. Mungkin lain yang iseng, pikir kami.
Namun, Bali punya cara sendiri untuk mengingatkanku bahwa aku berbeda.
Ines masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku berdiri di balkon, menghirup udara malam yang lembap. Saat giliran aku mandi, aku mencoba untuk rileks di bawah kucuran shower. Di sudut atas kamar mandi, ada gantungan untuk kimono mandi tebal milik Ines.
Tiba-tiba, kimono itu bergoyang hebat. Maju-mundur, seolah-olah ada seseorang di dalamnya yang sedang berusaha keluar, atau ada angin kencang yang meniupnya. Padahal, kamar mandi itu tertutup rapat, tanpa ventilasi yang memungkinkan angin masuk sebesar itu.
Aku mematung di bawah guyuran air. Mataku terpaku pada kain tebal yang bergerak-gerak itu. Tanpa suara, tanpa henti. Aku buru-buru membilas sabun dan keluar dengan jantung yang nyaris melompat dari dada.
Perjalanan pulang dimulai. Kami melewati jalur pegunungan Bedugul yang curam. Di luar, kabut turun menyelimuti tebing-tebing hijau. Saat itulah, serangan itu kembali.
Tubuhku bergetar lebih hebat dari saat di Banyuwangi. Rasa dingin yang menusuk tulang membuatku tidak bisa bicara.
"Nai, kamu demam ya? Panas banget ini badanmu!" seru Ines sambil memegang dahiku.
"Aku... d-dingin, Nes..." gigiku beradu.
Seorang teman laki-laki di belakangku mengulurkan koyo. "Nih, tempel di tengkuk, biar anget."
Tapi pemberian itu tak pernah sampai ke tanganku. Tiba-tiba, dunia menjadi sunyi. Benar-benar sunyi. Telingaku mendengung hebat, lalu semuanya lenyap. Aku menjadi tuli seketika.
"Nes? Aku budek! Aku nggak bisa dengar apa-apa!" teriakku panik. Aku bisa melihat mulut Ines bergerak, ia berteriak memanggil guru, tapi tak ada suara yang masuk ke telingaku.
Sekitar lima belas menit aku terjebak dalam kesunyian yang mengerikan itu. Hingga kemudian, rasa hangat merembes keluar dari telinga kananku. Aku menyentuhnya dengan jari. Merah. Darah segar mengucur dari lubang telingaku, menetes ke bahu seragamku.
Seketika itu juga, pendengaranku kembali. Namun, sebuah fenomena ganjil terjadi. Seluruh penumpang bus—Ines, teman-teman laki-laki di belakang, bahkan sopir bus—mendadak memegang telinga mereka.
"Aduh! Kok nggak kedengeran?"
"Eh, kamu ngomong apa? Telingaku budek!"
Suasana bus menjadi kacau. Mereka semua mengalami tuli massal tepat saat darahku berhenti mengalir. Seolah-olah beban mistis yang kupikul tadi meledak dan memancar ke semua orang di sekitarku karena aku tak lagi kuat menampungnya.
Saat bus memasuki kapal feri untuk menyeberang kembali ke Jawa, aku berdiri di dek kapal. Angin laut yang liar mengibas rambutku. Aku menatap kegelapan Selat Bali. Di sana, di antara gulungan ombak yang hitam, aku merasa ada ribuan pasang mata yang menatapku.
Ada sebuah bisikan yang terbawa angin, bukan lagi senandung, melainkan sebuah perintah: “Wali... Wali... Kembali...”
Ada sesuatu dari diriku yang tertinggal di pulau itu. Sesuatu yang terikat oleh darah dewata yang mengalir di nadiku. Aku pulang ke rumah, namun aku tahu, sebagian dari jiwaku masih terjebak di kamar mandi hotel itu, di tebing Bedugul, dan di hutan Banyuwangi.
Perjalanan ini belum benar-benar berakhir. Bali tidak pernah benar-benar melepaskan mereka yang memiliki "darah" seperti aku.