Namaku Rina, 16 tahun, siswi baru di SMA negeri favorit di kota ini. Hari pertama masuk sekolah, aku ikut MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) selama tiga hari. Semua siswa baru pakai seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi, tas ransel baru, dan wajah yang masih penuh kegugupan.Aku gugup sekali. Sekolah ini besar, banyak kelas, banyak senior, dan aku tidak kenal siapa-siapa. Pagi pertama kami dikumpulkan di lapangan upacara. Panitia MPLS yang memimpin adalah kakak-kakak OSIS. Dan yang paling mencolok di antara mereka adalah Kak Reza, ketua OSIS kelas 12.Kak Reza tinggi sekitar 180 cm, badan atletis dari tim basket sekolah, kulit sawo matang, rambut cepak rapi, dan senyumnya tegas tapi menawan. Suaranya dalam dan berwibawa saat memberi instruksi. Semua siswa baru langsung hormat padanya. Cewek-cewek di kelompokku berbisik-bisik, “Kak Reza ganteng banget ya…”Aku hanya diam, tapi diam-diam aku juga sering mencuri pandang ke arahnya.Hari pertama penuh kegiatan: senam pagi, perkenalan guru dan tata tertib sekolah, tour keliling gedung, dan ice-breaking. Kak Reza jadi pembina kelompokku. Setiap kali dia mendekat untuk menjelaskan sesuatu, aku merasa jantungku berdegup lebih cepat. Bau parfum maskulinnya campur keringat setelah senam membuat kepalaku sedikit pusing.Sore hari kedua, hujan deras turun mendadak setelah acara outdoor. Semua siswa baru buru-buru lari ke gedung utama. Aku ketinggalan karena tali sepatuku lepas. Saat aku berlari sendirian di lapangan yang sudah basah, Kak Reza tiba-tiba muncul dengan jaketnya yang dilepas dan dipakai sebagai payung.“Rina, ayo ikut Kakak!” katanya sambil memegang pundakku pelan dan menarikku ke bawah jaketnya.Kami berlari bersama ke gedung OSIS di lantai dua. Ruangan itu sepi karena jam sudah sore dan hujan deras membuat semua orang buru-buru pulang. Kak Reza menutup pintu di belakang kami.“Kamu basah semua,” katanya sambil mengambil handuk kecil dari lemari. Dia mendekat dan mengelap bahu serta rambutku pelan. Saat handuk itu menyentuh leherku, aku merasa getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh.“Kak… terima kasih,” kataku pelan, suaraku agak bergetar.Kak Reza tidak langsung menjauh. Matanya menatapku dalam. “Rina… kamu cantik ya. Dari kemarin Kakak perhatiin kamu. Pendiam, tapi kelihatan manis.”Aku tersipu, pipiku panas. “Kak… jangan gitu… aku siswi baru…”Dia tersenyum tipis, lalu tiba-tiba tangannya naik ke pipiku, mengusap pelan. “Kamu takut sama Kakak?”Aku menggeleng kecil. Tapi saat itu, Kak Reza menarik aku pelan ke pelukannya. Badannya hangat meski jaketnya basah. Aku merasakan dada bidangnya yang keras menekan payudaraku. Bau parfum dan keringat lelaki dewasa langsung membuat kepalaku pusing.“Kak… ini… kita di sekolah…” bisikku, tapi suaraku lemah.Dia tidak jawab dengan kata-kata. Bibirnya langsung menyentuh leherku, cium pelan lalu gigit kecil. Aku mendesah tanpa sadar. “Ahh… Kak…”Tangan Kak Reza naik ke dada, meremas payudaraku dari luar seragam basah. Putingku langsung mengeras menusuk kain. Dia buka kancing seragamku satu per satu dengan pelan. Bra putih polos terbuka. Dia lepas bra-ku, payudara terbebas.“Cantik…” bisiknya sambil memandang lama. Lalu dia jongkok sedikit dan hisap puting kiriku dalam-dalam. Lidahnya muter pelan di sekitar areola, gigit kecil, lalu tarik kuat. Aku melengkung, tanganku pegang kepalanya.“Ahhh… Kak… enak… hisap lagi… lebih dalam… hhh… putingku sensitif… ahh… jangan berhenti…”Kak Reza hisap bergantian lama sekali. Lidahnya main-main di kedua putingku sambil tangan kanannya turun, angkat rok seragamku. Jemarinya menyentuh celana dalamku yang sudah basah.“Kamu sudah basah banget, Rina…” bisiknya sambil geser celana dalam ke samping. Dua jarinya masuk pelan ke memekku yang licin.“Ahhh… Kak… jari Kakak… lebih dalam… hhh… gerak pelan dulu… ahh… enak sekali…”Dia gerak maju mundur pelan, jempolnya muter klitorisku dengan ritme yang membuat aku menggelinjang. Aku orgasme pertama dengan cepat, badanku gemetar hebat, cairanku netes ke lantai ruang OSIS.Kak Reza tarik aku ke sofa panjang di ruangan itu. Dia buka celananya. Kontolnya besar, tebal, urat menonjol, kepala merah mengkilap. Aku pegang dengan tangan gemetar.“Masukin ke mulutmu dulu,” perintahnya pelan.Aku jongkok di depannya, isap kepalanya pelan. Lidahku muter di sekitar, lalu masuk lebih dalam. Kak Reza mendesah berat, tangannya pegang kepalaku dorong pelan. “Bagus… isap lebih dalam… ahh… lidah kamu enak… ya… seperti itu… dalam lagi…”Aku isap lama sambil tangan naik-turun batangnya. Setelah cukup basah, Kak Reza angkat aku ke pangkuannya. Aku duduk menghadap dia, kontolnya masuk pelan ke memekku.“Ahhh… Kak… gede banget… hhh… pelan dulu… penuh sekali… nyentuh rahimku… ahh… enak…”Kak Reza gerak naik-turun pelan dulu, lalu semakin cepat. Payudaraku bergoyang di depan mukanya. Dia remas dan hisap putingku bergantian sambil sodok lebih dalam.“Memek kamu sempit banget… enak… nyedot kontol Kakak terus… kamu suka diginiin ketua OSIS ya?” bisiknya sambil sodok kuat.“Iya Kak… ahhh… lebih keras… hhh… aku mau keluar lagi… Kak… ahhhhh!!”Aku orgasme kedua dengan hebat, memekku berdenyut kuat memerah kontolnya. Kak Reza ikut keluar di dalamku, cairannya hangat memenuhi rahimku sampai netes ke sofa.Kami diam, napas ngos-ngosan. Kak Reza cium keningku pelan. “Ini rahasia kita ya, Rina. Besok hari terakhir MPLS… malamnya kita lanjut di sini lagi.”Aku angguk lemas, badanku masih bergetar. “Iya Kak… aku mau lagi…”Hari ketiga MPLS, aku tidak bisa fokus sama sekali. Setiap kali Kak Reza lewat di lapangan atau memberikan instruksi, memekku langsung basah mengingat malam kemarin. Aku sering mencuri pandang ke arahnya, dan dia selalu balas dengan senyum tipis yang membuat lututku lemas.Malam harinya, setelah acara penutupan MPLS, aku sengaja tinggal di sekolah dengan alasan membantu membereskan barang. Kak Reza sudah menunggu di ruang OSIS. Kali ini dia lebih berani. Begitu aku masuk, dia langsung tarik aku ke meja, angkat rokku, dan geser celana dalamku ke samping.“Kamu sudah basah dari sore ya?” bisiknya sambil jarinya menyentuh memekku yang licin.“Iya Kak… seharian mikirin Kakak… ahh… jari Kakak… lebih dalam…”Dia masukkan dua jari, gerak cepat sambil hisap putingku. Aku orgasme pertama di meja itu dengan tubuh gemetar. Lalu dia buka celananya, kontolnya sudah tegang keras.Dia sodok aku dari belakang di meja itu. Gerakannya kuat dan dalam. “Ahhh… Kak… lebih keras… hhh… entot aku… aku suka… ahh… lebih dalam…”Kami melanjutkan di sofa, di lantai, dan bahkan di kursi ketua OSIS. Aku orgasme berkali-kali, desahanku ditahan supaya tidak kedengaran penjaga sekolah yang masih berkeliling. Kak Reza keluar di dalamku dua kali malam itu, penuh dan hangat.Sejak MPLS itu, hubungan kami berlanjut diam-diam di sekolah. Setiap ada kesempatan sepi — istirahat panjang, sore hari setelah ekstrakurikuler, atau malam saat ada kegiatan OSIS — Kak Reza selalu memanggilku ke ruang OSIS atau gudang belakang.Aku tahu ini berbahaya. Dia ketua OSIS, aku siswi baru. Kalau ketahuan, kami berdua bisa kena masalah besar. Tapi setiap kali dia peluk aku dari belakang, setiap kali kontolnya masuk ke memekku, semua pikiran itu lenyap. Aku sudah ketagihan sensasi dikuasai oleh ketua OSIS yang tegas di depan umum, tapi liar di balik pintu tertutup.Kak Reza adalah ketua OSIS yang disegani semua orang.
Tapi di ruang OSIS yang sepi, dia adalah laki-laki yang rutin ngentot siswi barunya dengan ganas dan penuh nafsu.Dan aku… siswi baru yang sejak MPLS pertama sudah jadi budak nafsunya.