Matahari sore itu merona merah, persis seperti luka yang dipaksa mengering namun berdenyut kembali saat tersenggol ingatan. Aku duduk di bangku taman yang kayu-kayunya mulai melapuk, menatap sepasang merpati yang saling mematuk mesra di dahan kamboja. Lucu, ya? Bahkan burung pun tahu ke mana harus pulang, sementara aku adalah pengelana yang baru saja kehilangan peta, kompas, dan tujuan hidup setelah sembilan tahun lamanya. Sembilan tahun. Itu bukan sekadar angka yang meluncur dari bibir, tapi deretan hari, ribuan jam, dan jutaan doa yang kupanjat ke langit demi satu nama yang kini lebih asing daripada orang asing yang baru kutemui di halte bus.
Pada akhirnya, aku harus melepaskannya. Kalimat itu terasa seperti menelan kerikil tajam yang menggores kerongkonganku. Aku melepaskannya bukan karena rasa cintaku telah menguap seperti embun di bawah terik, bukan pula karena aku bosan merayu rindu. Aku melepaskannya karena aku harus mengikhlaskannya demi kebahagiaan yang ia temukan saat ini. Kebahagiaan yang ternyata tidak ada hubungannya denganku. Jika kau bertanya padaku, "Gema, apakah kau menyesal?" Aku akan menatap matamu dalam-dalam dan menjawab dengan suara parau yang bergetar: Ya, aku menyesal. Aku menyesal telah memilihnya. Bukan karena dia jahat, tapi karena aku telah melakukan kesalahan fatal seorang petani: aku menanam terlalu banyak benih kehidupan dalam satu kebun yang ternyata tanahnya bukan milikku.
Kebun itu adalah dirinya. Sembilan tahun aku membawa cangkul kesabaran, menyiramnya dengan air mata doa, dan memupuknya dengan kemuliaan yang bisa kuberikan sebagai seorang pria. Aku menjaganya dari ulat-ulat kepedihan, membimbing ranting-rantingnya agar tumbuh lurus ke arah cahaya, dan berharap suatu hari nanti, pohon itu akan mekar dan kami akan berteduh di bawah naungannya bersama. Aku telah memberikan seluruh musimku hanya untuk memastikan dia tetap hijau, tanpa sadar bahwa akarku sendiri mulai kering karena terlalu sibuk merawatnya. Namun, di saat bunga-bunga itu mulai kuncup dan siap untuk merekah indah, dia justru memilih untuk dipetik oleh tangan lain. Pahlawannya, katanya. Sosok yang baru datang di musim terakhir, tapi mendapatkan seluruh hasil panen yang kutanami dengan keringat dan darah selama hampir satu dekade.
Sakit? Tidak, kata "sakit" terlalu sederhana untuk menggambarkan rasa sesak yang membuat paru-paruku seolah terhimpit beton. Rasanya seperti mati berkali-kali namun tetap dipaksa bernapas. Namun, anehnya, di balik sesal yang menghujam itu, ada satu sudut kecil di hatiku yang tetap tegak. Aku tidak menyesal telah mencintainya sedalam itu. Mengapa? Karena nyatanya, aku adalah orang yang sedari awal mengusahakannya. Aku yang menjaganya saat dunia ingin mematahkannya. Aku yang selalu merawat dan memuliakannya saat dia merasa dirinya tidak berharga. Ternyata, aku sanggup melakukan hal sehebat itu. Aku sanggup menjadi pria yang mencintai tanpa jeda, yang memberi tanpa menagih, dan yang bertahan meski badai datang bertubi-tubi. Jika hari ini dia memilih pergi, itu bukan karena usahaku kurang, tapi karena kapasitas hatinya mungkin memang tak sanggup menampung luasnya kasihku.
Aku teringat malam itu, saat dia mengembalikan cincin yang dulu kupilih dengan tabungan hasil lembur berbulan-bulan. Tangannya gemetar, tapi tatapannya pasti. Dia tidak bicara banyak, hanya air mata yang jatuh tanpa suara. Dan di detik itu, aku menyadari bahwa doa-doaku di sepertiga malam telah dijawab Tuhan dengan cara yang paling perih: dengan menjauhkanku dari apa yang sangat kuinginkan. Aku tidak percaya pada hukum karma yang sering digembar-gemborkan orang sebagai ajang balas dendam, tapi aku percaya pada janji Allah. Bukankah apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai? Jika aku menanam keikhlasan, mungkinkah aku akan menuai kedamaian yang lebih besar suatu hari nanti?
Aku tidak meminta lebih pada Tuhan Jalla Jalaluhu. Aku hanya seorang hamba yang lemah, yang terduduk lemas di sajadah sambil meratapi kehancuran duniaku. Namun, ada satu bisikan liar yang tak sanggup kubendung. Apakah aku berdosa, ya Allah, jika aku selalu melangitkan sebuah kalimat yang mungkin terdengar egois? "Semoga kamu merasakan apa yang saya rasakan." Bukan, aku bukan ingin dia hancur seperti aku. Aku hanya ingin dia merasakan bagaimana rasanya memberikan sembilan tahun hidupnya untuk seseorang, hanya untuk ditinggalkan di garis finis. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi petani yang kehilangan kebunnya tepat saat panen tiba. Hanya agar dia mengerti, bahwa luka yang dia torehkan bukan sekadar goresan, tapi sebuah lubang yang menganga luas.
Kini, aku berdiri di persimpangan. Aku melihatnya dari jauh, tersenyum cerah di samping pria itu—pahlawannya yang baru. Dia terlihat lebih cantik dengan binar mata yang tak pernah kulihat saat bersamaku. Mungkin benar, aku hanyalah perantara bagi kebahagiaannya yang sesungguhnya. Aku hanyalah kurir yang bertugas menjaganya sampai dia bertemu dengan pemilik aslinya. Sembilan tahun itu adalah sekolah bagiku, sekolah tentang bagaimana cara menjadi pria yang lebih baik lagi untuk "kebun" yang sesungguhnya nanti. Kelak, di kebun yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfudz bersamaku nanti, aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih berusaha lagi. Aku akan memuliakan kebun itu dengan sisa-sisa hati yang telah kupungut kembali.
Aku menarik napas panjang, mencoba menghirup udara yang masih terasa sesak oleh aroma kenangannya. Setiap sudut kota ini adalah penjara yang menyimpan bayangannya. Kafe tempat kami pertama kali bertemu, jalanan yang kami lalui saat kehujanan, hingga toko buku tempat kami menghabiskan sore-sore yang tenang. Semuanya kini menjadi duri yang menusuk tiap kali aku melangkah. Tapi aku harus melangkah. Aku tidak boleh mati di dalam kebun yang sudah bukan milikku lagi. Aku harus pergi, mencari lahan baru yang benar-benar siap untuk kutanami benih-benih baru.
Terima kasih untuk sembilan tahun ini. Terima kasih untuk setiap tawa yang pernah kau pinjamkan, untuk setiap pelukan yang pernah membuatku merasa pulang, dan bahkan untuk pengkhianatan yang kini membuatku belajar tentang arti melepaskan yang sesungguhnya. Kau telah mengajarkanku bahwa cinta tak selamanya berakhir dengan memiliki, tapi cinta selalu berakhir dengan kedewasaan jika kita mampu memandangnya dengan kacamata iman.
Selamat tinggal, masa laluku. Ku doakan kau bahagia selamanya bersama pahlawanmu itu. Jangan pernah menoleh ke belakang, karena di sini sudah tidak ada lagi pria yang akan membukakan pintu atau mengejar air matamu. Aku telah menutup pagar kebun itu rapat-rapat. Kunci-kuncinya telah kubuang ke dasar laut terdalam. Mulai hari ini, detik ini, jadilah asing sedalam-dalamnya. Jangan pernah kembali, jangan pernah menyapa, bahkan jangan pernah muncul dalam mimpi. Biarlah cerita kita terkubur di bawah rimbunnya pohon-pohon yang dulu kurawat, dan biarlah waktu yang menjadi penghapus tinta emas yang pernah kutuliskan untukmu. Asinglah selamanya, karena hanya dengan begitu, aku bisa mulai bernapas kembali tanpa bayang-bayang sesak yang menghimpit dada. Aku pergi, bukan karena aku berhenti mencinta, tapi karena aku mulai mencintai diriku sendiri lebih dari aku mencintaimu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan kebunku layu lagi.
Langkahku kini terasa lebih berat, namun pasti. Di ujung jalan, cahaya senja mulai meredup, menyisakan kegelapan yang tenang. Aku tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang dengan bantal yang basah. Tapi aku juga tahu, esok pagi matahari akan tetap terbit, membawa harapan baru bagi seorang petani yang pernah patah hati. Aku akan belajar mencangkul lagi, menanam lagi, dan berdoa lagi. Dan kali ini, aku akan memastikan bahwa kebun yang kurawat adalah kebun yang benar-benar Allah siapkan untukku hingga ke surga-Nya. Asinglah selamanya, sayangku. Biarlah nama kita hanya menjadi catatan kecil di pinggir takdir yang tak sempat disatukan.