Ada kalanya manusia merasa ingin kembali ke sebuah kenangan yang pernah mereka kunjungi di masa lampau, meskipun hal itu tidak akan memberi kebahagiaan sebagai buah tangan untuk dibawa ke masa depan. Pemuda itu merasa ada yang berbeda dengannya kali ini. Sejak awal pikirannya sudah memberontak. Jangankan melihat, mengingatnya pun ia merasa enggan. Namun tanpa perlu angin yang kuat, perasaan dan langkahnya berhasil menyetir tubuhnya ke tempat itu.
Jenan mendongak, mempelajari rupa sebuah bangunan yang sekarang tak lagi ia kenali. Belasan tahun lalu, pohon besar yang menghadang gerbang utama hanyalah seonggok tunas yang rapuh. Kini gelanggang olahraga renang itu terlihat jauh lebih megah di bawah langit sore. Bangunan tempat Jenan menghabiskan sebagian masa kecilnya telah berkembang. Tidak seperti dirinya. Medali-medali bergengsi dari perlombaan renang yang telah berhasil direbut, sekarang serupa angin lalu. Mereka hanyalah bagian dari sebuah fase dalam hidupnya yang tidak bisa terulang dan tidak terlalu menyenangkan untuk terus dikenang.
Jenan membuang napas beratnya. Menatap dari kejauhan sepertinya sudah lebih dari sebuah cukup. Ini saatnya putar balik sebelum bangunan itu menunjukkan sesuatu yang akan menggores hatinya lagi.
Pemuda itu mulai berjalan menjauh. Pepohonan rindang memayungi raganya. Bayangannya tak lagi bergerak untuk berlomba lebih cepat. Hanya sebatas itu, sampai netra Jenan mengkap presisi seseorang. Ia menoleh, mendapati seorang remaja laki-laki tengah bersedih di sebuah sudut jalan. Remaja itu tampak familier. Ia masih menggendong ransel biru berlogo Klub Renang Akuatik di bahunya yang lemah.
Remaja itu adalah orang yang sama dengan orang yang Jenan lihat di toko tempatnya bekerja. Bukan bekerja, lebih tepatnya Jenan hanya membantu sepupunya Kala, Diar, dan Sean, di sela-sela kegiatan kuliahnya. Toko itu adalah bangunan kecil yang dibangun sebelum kakek mereka meninggal dua tahun yang lalu. Mendiang kakeknya ingin Jenan bisa mengelola toko itu bersama dengan para sepupunya yang jumlahnya tidak kurang dari dua belas orang. Lima dari mereka sudah bekerja dan tiga lainnya masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Sementara Jenan dan tiga sepupunya sudah setengah jalan menempuh perkuliahan.
Perlahan, Jenan membawa langkahnya mendekati remaja laki-laki itu. Bisa Jenan lihat air mukanya tampak keruh. Namun langkah Jenan terhenti ketika remaja itu langsung bangkit dan menjauh tanpa sempat ia ajak bicara.
Jenan yang menatap heran kepergian remaja itu memilih untuk segera pulang. Sepanjang jalan Jenan bisa mendengar percakapan anak-anak yang baru saja menyelesaikan latihannya. Mereka terus berucap tentang kompetisi nasional yang akan dilaksanakan minggu depan. Jenan berusaha menggali informasi lebih dalam. Ada satu nama yang dapat ia tangkap: Aksa. Pikiran Jenan kembali tertuju pada remaja laki-laki yang tadi dilihatnya.
Hari berikutnya Jenan gunakan untuk menghabiskan waktu di toko bersama keempat sepupunya. Jemarinya mulai memencet tombol-tombol pada kalkulator, menyelesaikan antrean pelanggan satu demi satu.
Di tengah-tengah kegiatannya, fokus Jenan beralih menuju belanjaan orang terakhir dalam antrean. "Satu susu kotak. Totalnya jadi lima ribu rupiah," ujar Jenan sambil mengamati rupa pelanggan di hadapannya. Seorang remaja laki-laki, dengan postur yang tampak sedikit lemah karena kondisi bahu. Ia juga menggendong ransel biru.
"Aksa, kan?!" Jenan terperangah.
Kepala remaja itu terangkat perlahan. "Kakak tahu namaku?"
"Juga tahu tentang kompetisi renang minggu depan." Jenan tersenyum, berlagak mengakrabkan diri, tetapi lawan bicaranya justru kebingungan dan menjauh. Dengan mulut terkunci rapat, Aksa mengambil uang dari saku celananya lalu menyerahkannya ke pada Jenan.
"Eh, maaf... Kakak nggak berniat jahat," Jenan mengklarifikasi.
"Kakak bisa tahu karena pernah nggak sengaja ketemu kamu di jalan, juga di Klub Renang Akuatik. Kalau tentang lomba renang minggu depan... siapa, sih. yang nggak tau?" la terkekeh canggung.
"Kakak ada perlu apa di Klub Renang Akuatik? Kamu perenang juga?" balas Aksa.
"Dia justru pelatihnya!" entah datang dari mana, Diar tiba-tiba menyahut. Lebih seperti menyindir.
"Waah! Iya, kah?" mendadak Aksa takjub.
"Bukan," jawab Jenan singkat. "Jadi gimana? Kamu ikut lomba minggu depan?"
Aksa mengangguk. "Iya, tapi sejujurnya aku masih bingung,"
"Kenapa?" Jenan mengerutkan alisnya.
"Karena itu lomba nasional..."
Kedua manusia itu lantas mengambil duduk di teras toko, tempat terbaik untuk berteduh.
"Itu lomba nasional pertamaku. Aku akan ketemu lawan-lawan yang nggak pernah kukenal sebelumnya. Bisa jadi mereka lebih berpengalaman di kejuaraan sebesar itu. Bisa jadi mereka lebih jago dari-"
"Mundur aja, Sa" Jenan menyela. "Dengan mental begitu sudah pasti kamu kalah! Percuma kalau dipaksa,"
Aksa menatap Jenan tajam. "Nggak bisa, Kak! Aku selalu lolos di setiap seleksinya. Aku nggak bisa mundur karena Aku cuma bingung, bukan nyerah!"
"Asal kamu tahu, nyerah juga diawali sama kebingungan itu sendiri! Kamu bingung kenapa, sih? Siap yang bikin kamu bingung?" Jenan memainkan intonasinya sambil menatap Aksa tak kalah sinis, seakan ia tidak pernah tahu apa saja yang sudah Aksa lewati sejauh ini.
Aksa memeluk bahunya dengan sedih. "Bahuku lemah, Kak. Risiko cederanya jauh lebih tinggi dibandingkan bahu perenang lain. Kemampuan gaya kupu-kupuku juga bisa dibilang buruk saat latihan. Punya penampilan kayak gini nyatanya cuma bisa bikin orang-orang nggak percaya sama aku, Kak."
"Kalau menurutmu memang seburuk itu, kenapa nggak mundur?" tanya Jenan penasaran.
Aksa menelan ludahnya. "Karena ini mimpiku! Aku nggak dibesarkan di keluarga atlet, tapi sejak dahulu aku ingin jadi perenang. Ini kesempatan yang kutunggu-tunggu, makanya aku nggak mundur." Ia menjeda sebentar kalimatnya.
"Sejujurnya bukan cuma itu yang bikin aku ragu..."
Lanjut Aksa.
"Memangnya apa lagi?" Tanya Jenan dengan rasa penasaran yang sudah di puncak.
Kali ini Aksa perlu waktu untuk menjawab. "Aku takut hidupku bakal berakhir kayak dia, Kak...."
"Dia siapa? Musuh mu?" Jenan menerka-nerka.
Aksa menggeleng. "Kakak tau cerita legendaris di Klub? semua temanku tau tentang anak yang hidupnya gagal itu. Katanya, dia pernah dikenal hebat di kejuaraan renang, ternama di Klub sampai akhirnya dia pergi tanpa alasan dan hidupnya berujung suram karena nggak ada yang peduli sama dia. Bahkan keluarganya sendiri." Jenan terdiam seribu bahasa.
"Aku takut hidupku bakal seperti dia. Apa lagi kalau aku gagal minggu depan. Aku nggak tau nama anak itu, tapi dari ceritanya, aku tau dia hebat. Bahkan, orang sehebat dia aja bisa hancur, apalagi aku. Tapi yang aku denger sekarang, dia jadi orang yang nggak berguna."
Jenan menatap Aksa lamat-lamat. "Apa lagi yang kamu tahu tentang dia? Cuma itu?"
Aksa mengangguk. "Iya, kudengar dari kakak pelatih dan teman-teman. Beberapa waktu lalu, aku sempat menggali informasi tapi yang kudapat cuma: ada satu medali perak yang dia tinggal di lemari kaca Klub Renang. Penjaga kolam bilang, itu medali kesembilannya. Setelah itu, dia pergi sambil memakai topi birunya ke mana-mana,"
"Kalau menurut Kakak, kenapa anak itu nggak pernah kembali? Apa dia menyerah dan malu karena kegagalannya?" tanya Aksa sambil menatap wajah Jenan lekat-lekat.
Jenan tersenyum simpul sambil menatap lurus ke depan. "Nggak ada yang bisa menyimpulkan kisah hidupnya semudah itu kecuali dirinya sendiri. Jawabannya simpel, kok. Anak itu nggak kembali karena dia nyari jalan hidupnya di tempat lain. Prestasinya cuma sampai tingkat provinsi dan kejuaraan nasional belum pernah digenggam tangannya. Dia nggak pernah merasa cukup. Anak itu pergi karena belum ketemu pelatih yang cocok buat dia,"
"Kakak juga tahu tentang dia? " Aksa tercengang mendengar jawaban Jenan.
Pemuda itu mengangguk pelan. "Kamu tahu siapa pelatih terbaiknya? "
Aksa menggeleng. "Siapa? "
"Pengalamannya," jawab Jenan sambil tersenyum, sementara Aksa hanya menatap tidak mengerti.
Jenan kemudian melanjutkan. "Ikut lombanya, Aksa. Semangat! Soal menang, kalah, ataupun cedera, itu urusan belakangan. Kamu boleh takut, tapi selama kamu percaya sama calon pengalaman yang bakal jadi gurumu kelak, kamu nggak akan menyesal,"
Aksa sempat termenung cukup lama sebelum akhirnya menjawab. "Iya, pasti, Kak! Kali ini aku yakin! Terima kasih,"
Sebelum beranjak pergi, Aksa kembali menoleh ke arah Jenan. "Tapi, kak... Sebenarnya kamu tahu tentang semua itu dari mana?"
"Dari mana, ya?" Jenan balik bertanya sambil terkekeh.
"Oh, iya. Topi anak itu juga bukan warna biru, tapi merah. Saking seringnya dipakai warna bagian atasnya sampai kelewatan pucat" Jenan menabahkan. Lagi-lagi Aksa hanya bisa terpenganga mendengar ucapan pemuda itu.
Hari-hari dengan warna yang monoton berjalan seperti biasa. Bedanya, hari ini senja membentang lebih cepat dari biasanya. Jenan memilih berhenti sejenak sambil duduk di teras toko bersama dengan lambaian angin yang menerbangkan sebagian surai hitamnya. Bagi Jenan semuanya tetaplah sama, tidak ada yang berubah. Pikirannya masih tersangkut pada tempat di mana ia menghabiskan sebagian masa kecilnya.
"Masih mikirin tentang itu?" Tanya Kala yang entah datang dari mana.
Jenan menoleh seraya membuang napasnya berat. "Ya, kurang lebih begitu," balas Jenan mengangkat bahunya.
Kala merangkul sepupunya erat-erat. "Kejadian itu cuma setitik kecil dari keseluruhan hidup lo, Nan. Sesuatu yang bikin sakit itu nggak seharusnya lama-lama dikenang,"
Jenan menatap Kala dengan tanda tanya besar yang tercetak di wajahnya. Sejak kapan sepupunya ini menjadi bijak?
"Mungkin... Berita ini bisa jadi hal yang paling lo butuhin sekarang, " ujar Kala menyerahkan koran yang sedari tadi dibawanya sebelum kembali masuk ke dalam toko.
Jenan menoleh bingung sontak mengambil dan memindai isi halaman yang tersaji di depannya. Halaman itu menyuarakan nama Aksa besar-besar. Remaja itu berhasil meraih medali emas pertamanya di kejuaraan nasional. Sudut bibir Jenan membusur sempurna sebelum ia kembali masuk ke dalam toko sambil membenarkan posisi topi merah pucat yang menutupi hampir setengah wajahnya.