25 November 2025
Suara notifikasi Messenger memecah keheningan sore itu. Jariku dengan malas mengusap layar HP, namun detik itu juga dunia seakan berhenti berputar saat membaca pesan yang masuk.
"Hai Aunty... masih ingat aku nggak?"
Jantungku berdegup aneh. Siapa yang memanggilku dengan sebutan Aunty? Itu panggilan kesayangan yang sudah lama terkubur dalam ingatan.
"Ini siapa ya?" balasku cepat, jantung berdegup lebih kencang.
Tak lama balasan muncul, hanya dua huruf yang mampu membuat pipiku memanas.
"Ini aku, El."
Tanganku seolah memiliki keinginan sendiri, langsung menekan foto profilnya. Wajah itu... benar itu Elias. Teman masa kecilku, sahabat yang selalu memanggilku Aunty dengan nada bercanda namun penuh sayang. Kami terpisah sejak kelas 2 SMP, saat ia harus pergi mengikuti pamannya dan bibinya meninggalkan kampung halaman. Bertahun-tahun hilang tanpa kabar, dan kini ia hadir kembali seperti sebuah keajaiban.
Sejak hari itu, hari-hariku penuh warna. Kami tak pernah kehabisan topik untuk mengobrol. Dari sekadar chattingan, berlanjut ke teleponan hingga larut malam. Setiap malam aku menyempatkan diri membuka profilnya, menatap fotonya berulang-ulang. Ada getaran aneh yang menjalar di dada, sebuah rasa damai dan tenang yang belum pernah kurasakan dengan siapapun sebelumnya. Rasanya seperti pulang ke rumah yang paling nyaman.
29 Desember 2025
"Ve, besok musim durian lagi nih di sini. Kebun kakekku banyak yang matang sempurna. Mau aku ajak piknik ke sana nggak?" suara El di seberang telepon terdengar ceria.
"Oke! Aku mau!" jawabku tanpa ragu sedikitpun.
Padahal, besok paginya aku punya janji penting. Janji temu pertama dengan pacar onlinenku. Pertemuan yang seharusnya sangat dinanti. Tapi entah kenapa, saat El mengajak, rasanya semua hal lain menjadi tidak penting. Aku bahkan dengan mudahnya membatalkan janji itu, dan di hari yang sama, aku memutuskan hubungan dengannya tanpa alasan yang jelas. Hatiku seolah berteriak bahwa ada hal yang jauh lebih benar yang sedang menungguku.
Namun, rencana berubah secepat kilat. Malam itu juga, El menelepon lagi.
"Aunty, ayo sekarang aja yuk. Malam-malam gini enak lho nyari durian, biasanya yang udah matang sempurna itu jatuhnya malem hari. Wanginya semerbak sampai ke jalan," ajaknya penuh semangat.
"Yah, malem-malem gini? Jalanannya kan nggak biasa, El. Licin, banyak batu, harus nyebrang sungai juga kan?" tanyaku ragu.
"Tenang aja, Aunty. Kita jalan kaki aja. Jalanannya emang ekstrem, tapi aku pastiin kamu aman. Aku bawa senter paling terang, bawa minum, sama cemilan juga. Aku jemput sekarang ya?" suaranya lembut, tak bisa kutolak.
"Ya udah deh... aku siapin dulu," jawabku sambil menyembunyikan senyum.
Tak lama kemudian, El sudah berdiri di depan pagar rumah. Ia membawa tas punggung, dua buah senter besar, dan senyum yang selalu bisa menenangkanku.
"Mari, Aunty. Petualangan dimulai!" katanya sambil mengulurkan tangan.
Kami berjalan beriringan. Awalnya jalan masih mulus, namun lama-kelamaan berubah menjadi jalan setapak yang licin karena embun malam, berbatu-batu tajam, hingga kami harus berhati-hati menyeberangi sungai kecil yang airnya dingin menyentuh telapak kaki.
"Hati-hati ya Ve, injakannya di batu yang besar," kata El waspada.
Di tengah jalan yang sulit itu, tanpa kata, tangannya perlahan menggenggam tanganku erat.
"Tangan Aunty dingin banget, sini angetin. Nanti kalau terpeleset, kamu pegang aku kuat-kuat ya. Aku nggak bakal lepasin tangan kamu," bisiknya lembut di telingaku.
Saat kulit kami bersentuhan, seluruh tubuhku terasa meleleh. Hangat. Aman. Damai. Di tengah gelapnya malam dan sulitnya jalan yang kami lalui, justru rasa itu semakin nyata. Rasanya aku ingin waktu berhenti tepat di detik itu, berjalan bersamanya selamanya.
Akhirnya, kami sampai di sebuah pondok di tengah kebun durian yang luas. Di bawah cahaya senter dan rembulan, kami duduk bersandar pada batang pohon yang besar. Kami bercerita tentang segalanya—tentang masa kecil yang nakal, tentang kehidupan setelah berpisah, tentang mimpi, hingga soal musik.
"Eh, tau nggak Ve? Ternyata kita beda banget ya soal selera musik," kata El sambil tertawa kecil. "Kamu kan suka yang keras-keras, rock dan metal yang energik banget, sedangkan aku lebih senang yang santai, pop indie yang liriknya dalem dan bikin tenang.
Aku ikut tersenyum. "Iya ya, El. Aku suka yang beat-nya kenceng, yang bikin semangat. Tapi anehnya, meskipun musik kita beda, cara kita ngerasain musiknya sama. Kita sama-sama cinta sama nada dan lirik."
El menatapku dalam, matanya berbinar. "Justru itu yang bikin indah, Ve. Kita kayak dua nada yang beda, tapi pas disatukan malah jadi harmoni yang sempurna. Kamu api yang semangat, aku angin yang tenang. Kita saling melengkapi."
El tersenyum, lalu menggeser duduknya sedikit lebih dekat, membuat jarak kami tinggal beberapa senti saja.
"Ve... Aunty..." panggilnya lembut. Suaranya berubah lebih serius dan dalam. "Selama kita ngobrol ini, aku ngerasa sesuatu yang beda. Dari kecil aku emang sayang sama kamu, tapi sekarang rasanya beda banget. Lebih dalam."
Aku menelan ludah, menahan detak jantung yang mau copot.
"Apa yang kamu rasakan El?" tanyaku berbisik.
"Aku ngerasa damai. Aku ngerasa lengkap. Selama ini aku cari-cari kebahagiaan, ternyata jawabannya ada di depan mata aku dari dulu. Venita," ia menggenggam kedua tanganku, menatap lurus ke manik mataku. "Will you be mine? Bukan cuma sebagai teman masa kecil, tapi jadi orang yang bakal aku jagain selamanya. Mau kan jadi pendamping aku, nemenin aku jalanin hidup sampai nanti? Biar kita bisa dengerin lagu kita masing-masing, bareng-bareng selamanya."
Dunia serasa berhenti. Di antara bau tanah basah, wangi durian yang harum, dan suara jangkrik, aku mengangguk pelan, air mata bahagia hampir menetes.
"Aku mau, El. Aku juga ngerasa hal yang sama. Aku sayang kamu. Meskipun musik kita beda, tapi hati kita satu."
El menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, pelukan rumah.
Malam itu, di tengah hutan dan perjalanan yang sulit, kami tidak hanya mengumpulkan buah durian yang manis, tapi juga memanen cinta yang telah lama tertanam, kini tumbuh subur dan indah.
Sampai hari ini, hubungan kami semakin erat dan langgeng. Dan aku yakin, cerita manis ini tidak akan berhenti di sini, tapi akan terus berlanjut hingga ke pelaminan sebagai tempat terakhir kita pulang bersama.