Di sebuah sudut kafe remang-remang di pusat kota, Lucanne Roughven menatap gelas kopinya yang sudah dingin. Dunianya seakan berhenti berputar sejak setahun lalu—sebuah perpisahan pahit yang meninggalkan lubang menganga di dadanya. Lucanne adalah pria yang percaya pada keabadian, namun realita mengajarkannya tentang kehilangan yang mutlak.
Baginya, cinta adalah porselen mahal yang sekali pecah takkan bisa direkatkan kembali.
"Permisi, apakah kursi ini kosong?"
Suara itu lembut, seperti denting lonceng di pagi hari. Lucanne mendongak dan menemukan seorang wanita berdiri dengan sebuah pot kecil berisi tanaman sukulen di tangannya. Namanya Anne Fiore.
"Kosong," jawab Lucanne singkat, kembali menekuni kesedihannya.
Anne duduk, namun ia tidak langsung memesan. Ia justru sibuk menata daun-daun layu dari tanaman yang dibawanya. "Dia hampir mati minggu lalu," gumam Anne, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Tapi lihat, tunas barunya mulai muncul di sisi kiri."
Lucanne melirik tanaman itu. "Kenapa repot-repot? Kalau sudah layu, buang saja. Memperbaiki yang rusak hanya membuang waktu."
Anne tersenyum tipis, matanya beradu dengan mata kelam Lucanne. "Kamu tahu, Lucanne? Alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan. Yang patah akan tumbuh lagi, dan yang hilang pasti akan berganti dengan bentuk yang berbeda, mungkin lebih kuat."
Nama pria itu disebut dengan begitu akrab, meski mereka baru bertemu. Hari-hari berikutnya, Anne Fiore menjadi kehadiran yang tak terelakkan dalam hidup Lucanne. Anne adalah personifikasi dari lirik lagu Banda Neira yang sering ia dengar namun tak pernah ia resapi.
Suatu sore di taman kota, Lucanne menceritakan tentang 'pecahan porselennya'. Tentang bagaimana ia merasa tidak akan pernah bisa mencintai lagi karena hatinya sudah habis dibawa pergi.
Anne menggenggam tangan Lucanne, jari-jarinya hangat. "Kehilangan itu bukan akhir, Lucanne. Itu adalah ruang kosong yang sengaja diciptakan agar sesuatu yang baru bisa masuk. Jangan paksa dirimu untuk menjadi utuh seperti dulu. Jadilah baru."
Perlahan, Lucanne mulai melihat dunia melalui mata Anne. Ia mulai memahami bahwa duka adalah pupuk bagi kedewasaan. Anne Fiore, dengan segala kesederhanaan dan keyakinannya pada siklus kehidupan, perlahan menambal lubang di hati Lucanne bukan dengan lem, melainkan dengan benih-benih harapan baru.
Lucanne menyadari bahwa ia tidak lagi mencari potongan yang hilang. Ia sedang menumbuhkan dahan yang baru. Di bawah langit senja, Lucanne akhirnya berbisik, "Kau benar, Anne. Ternyata aku masih bisa tumbuh."
Mereka tidak menjanjikan keabadian yang kaku, melainkan sebuah janji untuk saling menemani dalam setiap musim—saat gugur maupun saat bersemi kembali.
----------
Harapan adalah hal paling berbahaya bagi seseorang yang baru saja mulai sembuh. Lucanne Roughven mulai percaya pada keajaiban itu, hingga suatu malam di pengujung musim hujan, dunianya kembali dirampas dengan cara yang lebih kejam.
Malam itu, Lucanne menunggu di bawah lampu jalan dengan sebuah buket bunga tulip putih—bunga yang kata Anne melambangkan awal yang baru. Anne sedang dalam perjalanan menemuinya, membawa kabar tentang pameran botani pertamanya.
Namun, pesan singkat terakhir dari Anne hanya berisi: "Aku hampir sampai, Lucanne. Lihatlah ke arah persimpangan."
Lucanne menoleh, namun bukan senyuman Anne yang ia dapati.
Suara decit ban yang memekakkan telinga disusul hantaman logam yang keras menghancurkan sunyinya malam. Sebuah truk yang kehilangan kendali menghantam mobil kecil milik Anne tepat di depan mata Lucanne. Bunga tulip di tangan Lucanne jatuh ke aspal, terinjak oleh kerumunan orang yang mulai berlarian.
Di rumah sakit, aroma disinfektan terasa mencekik. Lucanne duduk mematung di depan ruang operasi, namun ia sudah tahu. Ia bisa merasakan kehangatan yang selama ini diberikan Anne perlahan menguap dari udara di sekitarnya.
Ketika dokter keluar dengan gelengan kepala yang pelan, Lucanne tidak menangis. Ia hanya merasa jiwanya baru saja dicabut paksa untuk kedua kalinya.
Ia masuk ke dalam ruangan itu untuk terakhir kalinya. Anne Fiore tampak seperti sedang tidur di antara hamparan seprai putih, namun pucatnya kulit wanita itu menandakan bahwa tak akan ada lagi tunas baru yang tumbuh darinya.
Lucanne menggenggam tangan Anne yang mulai mendingin. Ia teringat kata-kata Anne: "Yang patah tumbuh, yang hilang berganti."
"Kau bohong, Anne," bisik Lucanne dengan suara pecah. "Ada hal-hal yang jika hilang, akan membawa seluruh dunia ikut pergi bersamanya. Ada patah yang terlalu hancur untuk bisa tumbuh lagi."
Lucanne keluar dari rumah sakit saat fajar menyingsing. Ia berjalan melewati taman tempat mereka biasa duduk, namun kini tempat itu terasa seperti kuburan. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit— siklus alam mungkin memang menyembuhkan, tetapi bagi beberapa manusia, kehilangan yang bertubi-tubi hanyalah sebuah cara semesta untuk mengatakan bahwa mereka memang ditakdirkan untuk tetap sunyi.
Anne Fiore telah pergi, dan kali ini, Lucanne Roughven tidak hanya kehilangan cintanya, ia kehilangan keyakinannya bahwa hidup akan baik-baik saja. Di bangku taman itu, hanya tertinggal satu pot sukulen milik Anne yang mulai layu, seolah ikut mati meratapi pemiliknya yang takkan pernah kembali.
---------
Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam di persimpangan itu. Lucanne Roughven kini menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah kaca kecil di pinggiran kota. Ia bukan lagi pria yang sinis terhadap dunia, namun ia juga bukan pria yang penuh tawa. Ia adalah seseorang yang hidup dalam keheningan yang damai.
Di tengah rumah kaca itu, terdapat satu sudut yang paling rimbun. Di sana tumbuh berbagai jenis bunga Fiore—nama yang ia berikan untuk varietas bunga yang ia kembangkan sendiri demi mengenang Anne.
Setiap pagi, Lucanne menyiram tanaman-tanaman itu, berbicara pelan seolah Anne sedang mendengarkan di balik helai daun. Ia akhirnya mengerti apa yang dimaksud Anne dulu. Patah hati itu memang tidak pernah benar-benar hilang, dan lubang di jiwanya tetap ada. Namun, di dalam lubang gelap itulah ia menanam kenangan.
Ia tidak mencari pengganti Anne. Baginya, "yang hilang berganti" bukan berarti mengganti orangnya, melainkan mengganti rasa sakit menjadi sesuatu yang bermanfaat. Lucanne kini menjadi seorang botanikus yang membantu orang-orang menyembuhkan tanaman mereka yang hampir mati—persis seperti yang dilakukan Anne padanya dulu.
Suatu hari, seorang anak kecil datang membawa pot bunga yang pecah dan tanaman yang layu. "Bisakah ini tumbuh lagi, Tuan?" tanya anak itu dengan mata berkaca-kaca.
Lucanne berlutut, mengambil tanah, dan memindahkan tanaman itu ke pot yang baru dengan sangat hati-hati. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang butuh waktu satu dekade untuk muncul kembali.
"Bisa," jawab Lucanne mantap. "Dia hanya butuh tempat baru untuk memulai. Seperti kita, terkadang kita harus hancur dulu agar bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih kuat."
Saat anak itu pergi, angin berhembus pelan masuk ke rumah kaca, menggoyangkan lonceng angin di pintu. Lucanne memejamkan mata, merasakan kehadiran samar aroma parfum melati milik Anne di udara. Ia sadar, Anne tidak pernah benar-benar pergi. Anne telah menjadi akar yang menyangga hidupnya dari bawah tanah, memastikan Lucanne tetap berdiri meski badai berkali-kali datang.
Yang patah telah tumbuh dengan cara yang berbeda. Yang hilang telah berganti menjadi sebuah keabadian di dalam karya.
.
.
.
.
.
"Sebab kehilangan bukan hanya tentang ruang yang kosong, melainkan tentang cara kita menanam rindu di sela-selanya. Anne adalah musim semi yang singkat, namun Lucanne adalah tanah yang selamanya menyimpan jejak wanginya. Karena pada akhirnya, yang patah tidak selalu kembali utuh, tapi ia belajar untuk tetap tumbuh meski dengan dahan yang tak lagi sama."
--------
TBC
Original ide by Nattadecoco!!!!
Don't copy my writee!!!
(sarannn!! : bacanyaa sambil ndengerin lagu "Yang patah tumbuh, yang hilang berganti" biar kerasa vibesnyaa!!!! Karena aku terinspirasi dari lagu itu eheheh!!)