Bayangkan sebuah desa bernama Desa Sunyi, yang saking sunyinya, suara kentut semut saja bisa memicu rapat RT. Di desa inilah, sebuah drama bermula. Namanya Mahendra, CEO dari perusahaan fintech raksasa yang valuasinya lebih tinggi dari cita-cita anak magang. Tapi hari ini, dia tidak memakai jas Armani. Dia memakai kaos singlet yang sudah menguning di bagian ketiak dan handuk kecil yang melingkar di leher seperti ular sanca yang sedang depresi.
Mahendra sedang menyamar jadi tukang ketoprak. Kenapa? Karena dia sedang ikut tren "CEO Mencari Jati Diri" yang viral di TikTok. Strategi bisnisnya? "Kalau mau menguasai pasar, kamu harus tahu rasa bumbu kacang di level akar rumput." Cringe, kan? Banget.
Hujan turun tanpa suara. Ini serius. Bukan hujan gerimis yang romantis ala drakor, tapi hujan yang turunnya kayak pakai mode silent di iPhone. Tiba-tiba saja tanah basah, tapi nggak ada suara tik-tik-tik di atas genting. Mahendra berdiri di samping gerobak ketopraknya yang diberi nama "Ketoprak Eksekutif: Valuasi Rasa 10T".
"Bang, ketoprak satu. Bumbunya dipisah, kacangnya jangan di-roasting kelamaan, dan tolong jangan pakai bawang goreng kalau nggak punya sertifikasi organik," kata seorang gadis lokal bernama Siska.
Siska ini adalah representasi Gen Z Desa Sunyi yang kerjaannya scrolling LinkedIn cuma buat ngetawain hustle culture. Dia tahu Mahendra itu bukan tukang ketoprak asli. Tukang ketoprak mana yang motong lontong pakai teknik surgical precision dan nanya, "Kamu mau bayar pakai QRIS atau mau saya pitching dulu soal keunggulan tahu kami?"
Mahendra menatap Siska dengan tatapan "CEO yang terluka". "Nona, tahukah kamu bahwa luka memiliki ingatan? Hujan tanpa suara ini mengingatkan saya pada hari di mana investor saya menarik diri karena saya lupa pakai dasi saat Zoom," katanya dengan nada puitis yang sangat tidak masuk akal di depan gerobak.
Siska memutar matanya sampai hampir melihat otaknya sendiri. "Bang, mending abang ulek itu cabai daripada bahas masa lalu yang nggak bisa di-refund. Ini Desa Sunyi, Bang. Di sini, kalau luka punya ingatan, dia bakal minum ginkgo biloba biar cepat lupa."
Tiba-tiba, lonceng desa berbunyi. Teng... Teng... Teng...
"Ayo, Bang! Ritual terakhir dimulai!" Siska menarik tangan Mahendra.
Mahendra panik. "Ritual apa? Saya belum bikin laporan manajemen untuk kuartal ini!"
"Ritual Melepas Luka!" seru Siska.
Mereka sampai di balai desa. Di sana, warga desa sudah berkumpul. Ritualnya sangat aneh. Bukan bakar kemenyan atau nari-nari mistis, tapi warga desa berdiri melingkar sambil memegang barang yang paling bikin mereka sakit hati. Ada yang bawa HP mantan, ada yang bawa ijazah yang nggak kepakai, bahkan ada yang bawa print out tagihan PayLater.
Kepala Desa Sunyi, seorang kakek gaul yang pakai hoodie "Anti-Social Social Club", maju ke depan. "Anak-anakku, hari ini hujan tanpa suara, artinya semesta lagi nggak mau dengerin curhat kita. Jadi, kita lakukan ritual terakhir. Buang semua trauma kalian ke dalam Lubang Masa Lalu ini!"
Lubang Masa Lalu itu ternyata cuma tempat sampah besar yang dikasih stiker estetik.
Mahendra maju. Dia membawa... ulekan ketopraknya. "Saya ingin membuang luka saya! Luka karena dikhianati oleh asisten pribadi yang ternyata mata-mata perusahaan sebelah! Luka karena kopi di kantor saya kurang creamy!"
Warga desa menatap Mahendra. Hening. Siska berbisik, "Bang, privilege abang terlalu tinggi buat ritual ini. Itu mah bukan luka, itu *first world problems."
Mahendra tidak peduli. Dia berteriak, "SAYA ADALAH CEO! SAYA ADALAH PENGUASA EKOSISTEM DIGITAL!"
Tiba-tiba, hujan yang tadinya silent berubah jadi full volume. Duar! Petir menyambar gerobak ketoprak Mahendra. Bumbu kacangnya muncrat ke mana-mana, mengenai wajah Kepala Desa.
Mahendra kaget. Dia langsung sujud. "Maaf, Pak Kades! Saya akan ganti rugi! Saya kasih saham preferen!"
Pak Kades mengelap bumbu kacang di pipinya, lalu menjilatnya sedikit. "Hm, kurang kencur. Tapi aftertaste-nya lumayan. Kamu, CEO tukang ketoprak, dengar ya. Luka itu nggak punya ingatan kalau kamu nggak kasih dia nutrisi berupa rasa kasih kasihan pada diri sendiri yang berlebihan. Penyamaran kamu payah. Wangi parfum kamu masih bau 'duit hasil eksploitasi', bukan bau keringat pejuang jalanan."
Warga desa tertawa. Siska merekam semuanya buat konten POV: Ketika CEO jadi tukang ketoprak tapi malah kena musibah bumbu kacang. Konten itu langsung masuk FYP dan dapat 10 juta views dalam sejam.
Mahendra sadar, di Desa Sunyi ini, jabatan CEO-nya nggak lebih berharga dari kerupuk yang sudah melempem. Dia pun tertawa. Dia memeluk gerobaknya yang gosong. Ternyata, ritual terakhir itu bukan buat buang barang, tapi buat buang harga diri yang ketinggian.
"Oke, oke, saya menyerah!" teriak Mahendra. "Besok saya nggak bakal jualan ketoprak lagi. Saya bakal jualan kopi cold brew tapi pakai air hujan tanpa suara ini!"
Siska menepuk bahu Mahendra. "Nah, gitu dong. Tetap kapitalis meski lagi krisis identitas. Itu baru namanya Gen Z energy."
Hujan berhenti sesunyi saat dia datang. Mahendra pulang ke Jakarta bukan membawa jati diri, tapi membawa resep bumbu kacang yang sedikit gosong dan sebuah kesadaran: bahwa luka memang punya ingatan, tapi ketoprak punya kekuatan untuk membuat trauma jadi bahan komedi yang bisa di-monetize.
Dan begitulah, sang CEO kembali ke kantornya, masih pakai kaos singlet kuning, sambil memimpin rapat besar. Saat ditanya sekretarisnya kenapa penampilannya begitu, dia cuma menjawab, "Ini gaya distressed fashion terbaru. Harganya 50 juta. Kamu nggak akan paham, ini puitis."
Desa Sunyi kembali sunyi, menyisakan bau kencur dan tawa yang masih menggantung di udara, membuktikan bahwa sesedih apa pun luka, kalau sudah kena satir, rasanya bakal lebih renyah dari kerupuk ketoprak paling gurih sedunia.